HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
MATE


__ADS_3

Vely yang sudah merasakan firasat jika jiwa Isabella sudah kembali lagi keasalnya segera memberikan kabar tersebut kepada Marie, sang adik melalui telepati sihirnya yang dapat mengurangi usianya selama lima tahun didunia jika dilakukan.


Namun hal tersebut tetap Vely lakukan karena tidak ingin cucu yang sudah dia besarkan selama ini mendapatkan masalah.


Marie yang mendapatkan kabar tersebut segera memberi tahu Anggela dan Athur yang sejak semalam sibuk mencari keberadaan Isabella yang tiba – tiba menghilang dari istana.


Anggela yang mendapatkan tanda dari sang ibu segera bergegas kembali kedalam istana. Diapun segera masuk kedalam ruang kerja Marie dengan wajah cemas.


“ Apa yang ibu katakan tadi  benar ?...”, ucap Anggela penasaran.


“ Dia sudah kembali. Kamu harus secepatnya menemukan keberadaannya sebelum ada yang mendahului…”, ucap Marie tajam.


Mendengar hal itu, dengan wajah panik Anggela pun bergegas mencari keberadaan putrinya mengandalkan aura yang terpancar dari gelang yang dipakai oleh putrinya itu.


Athur yang baru saja hendak masuk kedalam istana langsung diseret oleh sang istri untuk menemaninya mencari sang putri.


“ Ada apa ?...”, tanya Athur cemas waktu mendapati wajah Angeela sangat tegang.


“ Temani aku ke danau kematian…”, ucap Anggela tajam.


Athur yang diseret paksa oleh sang istri hanya bisa pasrah mengikuti. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Jenny.


Dia yang secara tidak sadar mendengar jika bibinya itu mengucapkan danau kematian, tubuhnya langsung menegang.


Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat hingga mengeluarkan darah. Dengan wajah cemas dia segera berlari masuk untuk mencari Roland, sang kakak.


Brakkk…..


Jennie masuk kedalam ruangan Roland tanpa permisi hingga membuat seorang guru yang sedang mengajar sang kakak terkejut.


Dengan satu gerakan tangan, lelaki tua berkacamata tebal tersebut keluar dari dalam ruangan cucu ratu Equestria yang digadang – gadang menjadi  satu – satunya kandidat yang layak untuk mengantikan posisi ratu Marie.


“ Mana sopan santunmu ?...”, tegur Roland tajam.


Jennie tak menghiraukan teguran sang kakak dan berjalan maju dan mulai menggoyang – goyangkan lengan Roland.


“ Kak…bagaimana ini ?…”


“ Bibi Anggela sudah tahu tentang keberadaan Isabella !!!…”

__ADS_1


“ Bagiamana jika Isabella selamat dan mengatakan semuanya…”


Jennie terus meracau ketakutan membuat Roland langsung memutar bola matanya dengan malas menanggapi kepanikan adiknya yang tak memiliki dasar tersebut.


“ Hey kau bodoh atau apa !!!...tidak akan ada yang bisa selamat setelah terjun kedanau kematian. Apalagi sampah seperti Isabella !!!...tenanglah !!!!....”, Roland pun menguncang badan sang adik beberapa kali agar tenang.


“ Tapi…”, belum sempat Jennie menyelesaikan ucapannya, Roland sudah menyuruhnya untuk segera keluar dari dalam ruangannya.


Bagaimanapun, setelah ini dia masih ada kelas pertahanan sihir yang wajib dia ikuti. Dia tidak ingin kebodohan Jennie menganggu konsentrasinya nanti.


Melihat kakaknya melotot tajam, Jennie yang tidak mau mendapatkan amarah dari Roland dengan berat hati meninggalkan ruangan sang kakak sambil menggigit jemari tangannya.


Setidaknya ini yang bisa dia lakukan untuk sementara waktu guna meredam kecemasan yang melanda hatinya.


Sementara itu, Anggela yang mengikuti dimana letak gelang Isabella langsung terduduk lemas waktu mengetahui posisi gelang tersebut berada didalam danau kematian.


Athur yang melihat istrinya menangis berurai air mata sambil terduduk lemas hanya bisa memeluknya erat untuk menguatkannya.


“ Hey…tenanglah…bukankan ibunda bilang jika separuh jiwa Isabella sudah kembali. Itu artinya putri kita masih hidup… ”, ucap Athur tenang.


Mendengar ucapan sang suami, Anggela pun mulai bergegas bangkit dari duduknya dan mengawasi sekitar area danau.


Keduanya sepakat untuk berpencar guna menghemat waktu dan kembali berkumpul di tempat semula mereka datang.


Melihat ada beberapa lelaki berbadan kekar sedang berjaga disekitar area perbatasan, Isabella pun terlihat mulai waspada.


Saat para warrior yang berjaga di wilayah Red Moon pack sedikit lengah, Isabella pun mulai berjalan mengendap – endap masuk seperti seorang pencuri.


Saat melihat kondisi sudah aman, Isabella segera berlari kencang memasuki kawasan kerajaan warewolf terbesar di dunia itu.


Isabella terus berlari hingga masuk kedalam hutan terdalam, dia baru menghentikan langkahnya dan beristirahat setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.


“ Huffft….aman….”, ucap Isabella sambil mengusap peluh yang ada didahinya.


Diapun segera duduk diatas rumput sambil menyandarkan tubuhnya dibatang pohon yang rindang. Dari tas pinggangnya dia mengeluarkan sebotol air minum dan meneguknya hingga tandas.


Sementara itu Scoth yang sedari tadi berusaha untuk mencari keberadaan matenya terlihat mengernyitkan hidungnya waktu kembali mencium aroma yang sangat memabukkan itu.


Aroma vanilla white musk yang hangat dan menenangkan menguar di udara, membuat Scoth kembali menajamkan indera penciumanya dan mulai bergerak kearah dimana aroma memabukkan tersebut berada.

__ADS_1


Kali ini aroma tersebut sangat kuat menyerang indera penciumannya. Semakin lama aromanya semakin terasa seiring langkah kaki Scoth melangkah.


“ Mate…”, batin Melvin kegirangan.


Melvin adalah serigala berbulu hitam pekat yang ada dalam diri Scoth. Sudah seratus tahun lamanya dia menanti kehadiran pasangan jiwa yang biasa disebut sebagai mate kaum warewolf.


Dari balik pohon, dapat Scot lihat duduk seorang gadis kecil cantik dengan rambut coklat muda yang diikat ekor kuda sedang beristirahat disana sambil sesekali menyeka keringat yang ada didahinya.


“ Sangat cantik…”, ucap Melvin memuji.


Scoth langsung terdiam membeku waktu menyadari jika mate nya tersebut masih bocah berusia sepuluh tahun.


“ Apa ini ?...apa takdir mencoba mempermainkanku !!!….”, batin Scoth geram.


Tanpa sadar kedua tangan Scoth mengepal kuat dengan rahang mulai mengeras dan sorot mata sudah berubah warna menjadi merah menyala.


Rasa kecewa dan amarah tak dapat dia bendung lagi. Dia merasa jika takdir sangat tak adil baginya dan coba mempermainkannya.


Disaat semua temannya dengan mudahnya mendapatkan pasangan dan membina hubungan rumah tangga, dirinya masih harus bersabar lagi.


Setelah menunggu sekian lama untuk bisa bertemu dengan pasangan hidupnya. Saat sudah menemukannya, Scoth masih harus menunggu hingga gadis kecil tersebut tumbuh dewasa baru bisa menikahinya.


Scoth yang hanya berdiri mematung dibalik pohon rindang yang menutupi tubuhnya membuat Melvin tak sabar dan mulai bersuara.


“ Apa yang kau lakukan ?...cepat hampiri dia !!!...”, ucap Melvin antusias.


“ Apa kamu tak lihat jika mate kita hanyalah seorang bocah…”, Scoth pun mengeram marah.


“ Tak masalah, kita tinggal menunggunya menjadi remaja dan langsung menikahinya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang lama….”, ucap Melvin enteng.


Melvin hampir mengambil alih tubuh Scoth waktu dia mendengar jika lelaki itu berpikir untuk meriject matenya.


“ Aku tak akan membiarkanmu meriject mate ku begitu saja !!!...apa kamu mau kita berdua mati karena kehilangan mate kita !!!....”, ucap Melvin marah.


Untuk sesaat Scoth mulai menyadari pikiran konyolnya itu. Meski begitu api amarh dalam dirinya masih belum juga padam.


Satu tepukan pelan di bahu membuat amarah didalam hati Scoth perlahan mulai mereda. Morgan yang sedikit peka segera mengikuti arah pandangan mata sang Alpha.


“ Mate mu ?...”, tanya Morgan dengan mata berbinar.

__ADS_1


Morgan merasa sangat bahagia waktu sang Alpha menganggukan kepala menjawab pertanyaannya.


" Akhirnya, penantian panjang tersebut ada hasilnya....", batin Morgan lega.


__ADS_2