HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
BERUSAHA KERAS


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Belatrix, Alatariel pun segera pergi menuju kerajaan Azerbazam untuk bertemu dengan Ratu Evanora.


Tak ingin membuang banyak waktu keduanya segera melakukan teleportasi agar bisa cepat sampai.


Sesampainya dikerajaan Azerbazam, Alatariel disambut hangat oleh sang ratu yang langsung membawanya masuk kedalam istana untuk beristirahat.


“ Kurasa kamu letih setelah menyelesaikan misi tersebut….”, ucap ratu Evanora dengan senyum merekah diwajahnya.


Berbagai macam hidangan tersedia di meja makan membuat perut Alatariel spontan berbunyi dengan keras.


“ Maaf….”, ucap Alatariel dengan wajah meroh merona menahan malu.


“ Tidak apa…aku mengerti selama perjalanan kamu pasti tidak makan dengan benar. Semua hidangan ini kami siapkan untuk menyambutmu. Habiskan….”, ucap ratu Evanora hangat.


Alatariel yang pada awalnya masih malu lama kelamaan mulai tak sungkan lagi. Dengan lahap diapun mulai menghabiskan satu persatu hidangan yang ada diatas meja.


Setelah kenyang, Alatariel dibawa kedalam kamar yang telah disiapkan untuknya agar bisa beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


“ Istarahatlah…besok kita baru akan memulai latihan dengan pedang hitam agar kamu bisa menggunakannya dengan maksimal…..”, ucap Belatrix sambil tersenyum.


“ Jika perlu sesuatu, kamu bisa memanggil pelayan yang ada didepan kamar….”, ucap Belatrix sebelum beranjak keluar dari kamar Alatariel.


Alatariel segera menghempaskan tubuhnya diatas kasur yang empuk sambil berguman pelan “ Akhirnya…aku bisa hidup normal kembali….”.


Dark Elf tersebut mempergunakan dengan baik waktu istirahatnya hari ini agar esok hari dia bisa berlatih dengan maksimal.


Sementara itu, diruang pribadinya Ratu Evanora terlihat sedang berdiskusi dengan Belatrix mengenai apa saja yang akan wanita tersebut berikan untuk melatih kekuatan Alatariel.

__ADS_1


“ Pastikan dia bisa menguasai semuanya secepatnya. Kita tak ada waktu lagi….”, ucap ratu Evanora tajam.


Sementara Belatrix sedang merancang materi apa saja yang akan dia berikan kepada Alatariel selama pelatihan, ratu Evanora terlihat mulai menghubungi semua orang yang bisa dia ajak untuk bekerja sama menyerang kerajaan Epes dan mendapatkan bunga Gloxinia.


Untuk meyakinkan sekutunya, ratu Evanora segera mengadakan pertemuan dengan para vampire sebagai langkah awal.


“ Bagaimana kamu bisa yakin akan memenangkan pertempuran ini, bukannya banyak pasukanmu yang sudah kehilangan kekuatannya setelah serangan terakhir….”, ucap salah satu perwakilan vampire dengan nada mencemoh.


“ Benar…bahkan pasukan kami pun banyak yang terluka….”, ucap rekannya menimpali.


Para vampire pun memilih untuk mundur dan tak ingin bergabung dengan ratu Evanora demi menyelamatkan klan mereka dari kepunahan.


Sebagai kaum abadi, mereka sama sekali tak menyangka jika efek yang ditimbulkan oleh bunga Gloxinia cukup dalam.


Bahkan luka yang diakibatkan oleh ekstrax bunga tersebut sampai saat ini masih belum bisa menutup sempurna.


“ Kalian tidak perlu khawatir, keturunan gullveigh ada di pihak kita. Hanya dialah yang bisa menghancurkan bunga gloxinia untuk selama – lamanya….”, ucap ratu Evanora menjelaskan.


Meski sudah mengatakan semuanya, tapi klan vampire masih tidak percaya sebelum ada bukti langsung mengenai kekuatan keturunan gullveigh yang sudah emnghilang puluhan tahun yang lalu.


Setelah gagal dengan klan vampire, ratu Evanora tak patah semangat. Diapun segera menuju ke sekelompok warewolf liar atau biasa disebuat sebagai rogue.


Kali ini, kerjasama yang ditawarkan oleh ratu Evanora juga kembali ditolak dengan alasan hal tersebut tak menguntungkan bagi kelompok mereka.


Saat ini para rogue lebih fokus menyerang berbagai pack dengan ukuran kecil untuk mereka kuasai dan ambil sumber daya yang ada disana.


Jadi, menyerang kerajaan Epes bukan lagi menjadi tujuan utama mereka setelah para rogue kehilangan beberapa anggota penting pada waktu penyerangan beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Ratu Evanora terlihat pulang ke kerajaannya dengan geram karena dua klan yang diharapkannya tak ingin bekerja sama dengannya.


Maka dari itu, diapun mulai menyusun strategi dengan mengandalkan kekuatan dari kerajaannya sendiri dan menunggu kekuatan Alatariel menjadi sempurna.


Alatariel yang berlatih bersama Belatrix terlihat mengalami perkembangan yang pesat dari hari ke hari.


Tapi entah kenapa death sword masih belum bisa dia pergunakan dengan maksimal, padahal semua ilmu sudah hampir dia kuasai dengan sempurna.


“ Tidak ada wacana yang jelas bagaimana cara mengaktivkan death sword. Yang aku tahu, kita harus menguasai beberapa ilmu penyihir kegelapan seperti milik kakek moyangmu, gullveig….”, ucap Belatrix menjelaskan.


Alatariel terlihat berpikir keras, mengingat jika death sword memiliki kekuatan yang istimewa, tidak mungkin baginya jika hanya menggunakan ilmu yang dipelajarinya untuk mengaktivkannya.


“ Aku yakin, cara mengaktivkan death sword tidak smeudah itu….”, guman Alatariel menatap tajam kedepan.


Jika mengambil death sword sangat sulit, selain harus merupakan keturunan murni Gullveig juga tak bisa asal ambil.


Itulah pengalaman yang Alatariel dapatkan selama berada di lembah kematian dimana dia hampir putus asa mengambil pedang hitam tersebut.


Keduanya terlihat terdiam memikirkan bagaimana cara mengaktivkan death word sebelum mereka kembali berlatih.


“ Bagaimana jika kamu memanggil arwah kakek moyangmu. Mungkin dari dia kita bisa mendapatkan titik terang permasalahn ini….”, ucap Belatrix bersemangat.


Alatariel pun menyambut baik usulan yang diberikan oleh Belatrix tersebut. Keduanya pun segera mencari apa saja yang akan dipergunakan untuk memanggil arwah gullveig.


“ Kurasa kita harus meminjam kekuatan bola kristal ratu Evanora, jika tidak maka kita harus menunggu waktu purnama untuk melakukan ritual ini….”, ucap Belatrix memberi saran.


“ Baiklah, aku akan berbicara dengan ratu begitu dia kembali….”, ucap Alatariel sambil mengumpulkan beberapa bahan yang akan mereka gunakan dalam melakukan ritual pemanggilan arwah.

__ADS_1


__ADS_2