HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
PROSES PENYEMBUHAN


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, namun Scoth masih juga belum membukan matanya membuat Red Moon Pack diselimuti kesedihan.


“ Bagaimana perkembangan anakku ?....”, tanya Elena sedih.


Dokter Lupe hanya bisa menggeleng pelan dengan wajah menunduk. Elena yang sudah bisa menebak jawaban tersebut langsung berjalan lemas kembali kedalam istana.


Isabella yang masih setia berada disamping Scoth tiba – tiba kedua matanya bercahaya waktu dia ingat sesuatu.


Diapun segera menusuk jarinya dan membuka sedikit mulut Scoth agar darahnya bisa masuk dan tertelan tunangannya itu.


Saat ini Isabella hanya bisa berharap jika darahnya masih memiliki khasiat untuk menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang yang sudah mati.


Darah yang Isabella berikan kedalam tubuh Scoth berlahan mulai menjalar keseluruh tubuh lelaki itu.


Membaur menjadi satu dengan darah sang pemilik tubuh dan menyebar cepat ke masing – masing saluran yang ada.


Isabella masih terus menunggu keajaiban sambil mengenggam tangan calon suaminya itu dengan wajah tegang.


Begitu kedua mata Scoth perlahan terbuka, Isabella tak bisa lagi menyembunyikan perasaan bahagianya hingga tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipi.


“ Kenapa kamu menangis ?....”


“ Aku tidak apa – apa sayang….”, ucap Scoth tersenyum lembut.


Jemari Scoth pun mengusap air mata yang menetes dipipi Isabella dengan lembut sambil menatap hangat wajah calon istrinya itu.


Isabella terlihat beberapa kali mengecup punggung tangan Scoth sambil menangis haru melihat tunangannya itu sudah sadar dan berhasil melewati masa kritisnya.


“ Aku akan memanggil dokter Lupe untuk memeriksa kondisimu….”, ucap Isabella sambil melepaskan genggaman tangan Scoth.


Dokter Lupe langsung berlari cepat begitu Isabella mengatakan jika Scoth telah sadar dan langsung memeriksanya.


“ Semuanya normal….”


“ Dua hari lagi Alpha sudah bisa kembali beraktivitas….”, ucap dokter Lupe bersemangat.


Sekilas dia melirik kearah Isabella, dia merasa jika kesadaran Alphanya ini kembali setelah kondisi kritis yang sangat parah pasti ada hubungannya dengan luna nya itu.


“ Jangan tanyakan apapun padanya….”


“ Yang pasti, berkat dia aku bisa kembali bersama kalian….”, batin Scoth meminlink Lupe.


“ Tenang saja….”


“ Aku tak sebodoh itu….”, batin Lupe mencemoh.


“ Sekarang pergilah !!!....”


“ Aku ingin berdua saja dengan lunaku….”, Scoth mengusir Lupe secara halus.


“ Cihhh….”


“ Dasar tak tahu berterimakasih….”, batin Lupe sebal.


Setelah berbasi – basi sejenak, dokter Lupe pun pamit undur diri karena masih banyak pasien yang memerlukan kehadiran dirinya.


“ Sayang….”

__ADS_1


“ Bisakah kita kembali ke istana sekarang…”


“ Aku tidak suka berada disini….”, ucap Scoth merajuk.


“ Tidak !!!....”


“ Lukamu masih belum sembuh benar dan aku tak mau mengambil resiko….”, tolak Isabella tegas.


“ Yang aku butuhkan hanya kamu….”


“ Nanti Lupe bisa memeriksaku di istana….”, Scoth masih terus saja merajuk hingga membuat Isabella pada akhirnya mulai merasa luluh.


Sebenarnya Isabella juga tak terlalu suka bau rumah sakit yang penuh dengan obat – obatan tapi dia juga takut luka Scoth akan semakin parah jika dia banyak bergerak.


Scoth yang melihat Isabella sedikit ragu dan ada kegelisahan didalam hatinya diam – diam tersenyum.


“ Jadi bagaimana sayang….”


“ Kamu akan membawaku kembali ke istana kan ?....”, tanya Scoth dengan pupy eyes nya.


Membuat Isabella tak lagi bisa berkata apa – apa dan hanya bisa mengangguk pasrah. Scoth yang mendapatkan respon seperti itu langsung menarik pinggang Isabella dan menciumnya.


Cup…


Cup…


“ Terimakasih sayang….”


“ Kamu memang paling mengerti aku….”, ucap Scoth penuh kemenangan.


Elena yang mendengar kabar jika Scoth sudah sadar segera berlari menuju tempat perawatan dengan tergesa – gesa.


“ Dimana dia ?....”, ucap Elena panik waktu mendapati ranjang Scoth telah kosong.


“ Lupe….”


“ Dimana Scoth ?....”, tanya Elena penuh kekhawatiran.


“ Alpha ada di….”, ucapan Lupe terhenti waktu menyadari jika ranjang Scoth telah kosong.


“ Scothhhhh…..”, batin Lupe geram.


Tak ingin Elena cemas diapun mulai menjelaskan jika Scoth kemungkinan telah kembali ke istana bersama Isabella.


Melihat nada bicara Lupe yang sedikit tak enak, Elena sangat yakin jika putranya itu pasti ingin berduaan dengan Isabella sekarang.


“ Dasar anak muda….”


“ Baru saja siuman sudah bertingkah…”, batin Elena berdecak kesal.


Akhirnya Elena kembali keistana sambil menghembuskan nafas secara kasar mengingat bagaimana kelakuan putranya yang bucin setengah mati terhadap Isabella.


Sementara itu didalam kamar, Isabella dibuat geram karena Scoth terus saja mendekapnya dengan erat sambil menempelkan bibirnya dibagian tubuhnya yang bisa lelaki itu jangkau.


“ Scoth….”


“ Kamu baru saja siuman…”

__ADS_1


“ Lukamu juga belum kering betul jadi jangan banyak tingkah….”, omel Isabella dengan kedua mata melotot tajam.


“ Tapi sayang….”


“ Aku kangen….”


“ Lagian kamu sudah janji jika setelah pertempuran besar ini kamu mau menikah dan melakukan penyatuan denganku….”, ucap Scoth merajuk.


“ Iya….”


“ Tapi tidak sekarang…”


“ Tunggu kamu benar – benar sembuh….”, ucap Isabella masih berusaha keluar dari cengkeraman Scoth yang mengukung tubuh munggilnya diatas ranjang.


“ Aku sudah sembuh sayang….”


“ Lihat….”


“ Aku sudah ku….”, belum juga Scoth selesai berbicara sambil membusungkan dadanya tiba – tiba luka diperutnya kembali terbuka dan berdarah.


“ Tuh kan…”


“ Berdarah lagi….”, Isabella terlihat panik dan mencari kasa dan alkohol untuk membersihkan luka diperut Scoth.


Scoth hanya bisa pasrah waktu Isabella menyuruhnya berbaring sambil menahan sakit yang teramat sangat.


Entah racun apa yang dipakai Henry hingga lukanya tak bisa sembuh dengan cepat. Seolah racun tersebut memperlambat proses regenerasi kulitnya.


Isabella pun kembali meneteskan darahnya dibagian luka yang ada diperut Scoth setelah membersihkannya dengan kasa dan alcohol tadi.


Cessss….


Luka Scoth seperti terbakar dan membuat lelaki itu menutup mata sambil mengeram kesakitan namun dia tak berani berteriak karena malu dan hanya bisa mengertakkan giginya.


Bau daging terbakar pun mulai tercium seiring luka tersebut menutup dengan sempurna dan hanya meninggalkan garis hitam panjang.


Isabella beberapa kali mengusap peluh dikening Scoth. Dia sangat tahu jika calon suaminya itu sekarang sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat akibat proses tersebut.


“ Minumlah ini….”, ucap Isabella sambil memberikan Scoth sebotol cairan bening berwarna merah.


Begitu Scoth meminum ramuan tersebut, tubuhnya yang tadi lemas kini sudah kembali bertenaga penuh dan nafasnya juga sudah mulai teratur.


“ Terimakasih sayang….”, ucap Scoth tulus.


“ Sekarang istirahat….”


“ Jangan membantah lagi….”, perintah Isabella tegas.


Scoth hanya bisa menurut karena dia juga masih merasa proses penyembuhan luka dari dalam masih berlangsung meski rasanya tak sesakit tadi.


Melihat Scoth patuh, Isabella yang telah menyelimuti tubuh calon suaminya dengan selimut langsung memeluknya dengan erat.


“ Tidurlah….”


“ Aku akan menemanimu disini….”, ucap Isabella sambil mengecup pelipis Scoth dengan lembut.


Mendapat perlakukan manis seperti itu, Scoth pun tersenyum lebar dan perlahan kedua matanya kembali tertutup dalam dekapan Isabella.

__ADS_1


__ADS_2