
Seharian ini Alatariel terus memikirkan kejadian aneh yang baru pertama kali dia temui. Wajah seorang wanita yang tiba – tiba muncul didalam air dan berbicara dengannya membuatnya cukup terkejut.
Wajah wanita tersebut terus muncul entah itu pada saat dia hendak membasuh muka, minum atau melakukan apapun asalkan ada air wajah wanita tersebut selalu muncul dan berusaha untuk mengajaknya berbicara.
Dan anehnya, hanya dia yang bisa melihat hal itu. Bahkan kedua adiknya terlihat menatapnya heran dan mengatakan jika dia mungkin sudah gila karena berbicara sendiri dari tadi.
Alatariel terus termenung memikirkan semua peristiwa tersebut dan mulai menghubungkan dengan mimpi – mimpi aneh yang belakang ini mendatanginya.
“ Apa ini yang namanya sihir ?...”, batin Alatariel penuh tanda tanya besar.
Sejak dia mengetahui jika dirinya mewarisi kekuatan milik leluhurnya Gullveig, satu persatu peristiwa aneh mulai menyapanya.
Kali ini dia akan memberanikan diri untuk menyapa wanita aneh berpakaian hitam tersebut untuk menuntaskan rasa penasarannya.
Alatariel segera mengambil sebaskom air dan membawanya masuk kedalam kamar dan menguncinya agar tak ada orang yang bisa melihat apa yang sedang dilakukannya itu.
Diapun segera menatap air yang ada dalam baskom tersebut sambil menanti wajah wanita aneh tersebut muncul.
Tiba – tiba, wanita yang ditunggu oleh Alatariel datang juga. Tanpa basa – basi wanita tersebut segera mengajaknya berkenalan.
“ Aku Belatrix, dari kerajaan Azerbazam. Salam kenal….”, ucap Belatrix memperkenalkan diri.
“ Aku Alatariel, dari kota Dark Land. Salam kenal juga….”, ucap Alatariel sedikit kikuk.
“ Apakah kamu salah satu keturunan Gullveig ?...”, Belatrix langsung bertanya to the point karena tak ingin membuang waktu secara sia – sia.
“ Ya, benar….”, ucap Alatariel singkat.
“ Aku ingin bertemu denganmu karena banyak hal yang ingin aku sampaikan secara langsung….”, ucapan Belatrix terputus karena tiba – tiba Alatariel memotong perkataannya.
“ Aku akan meneruskannya nanti….”, ucap Alatariel sambil meletakkan baskom berisi air tersebut diatas nakas yang ada disamping ranjangnya.
Mendengar ibundanya terus mengedor pintu sambil berteriak menyuruhnya agar segera makan malam membuat Alatariel langsung menuju pintu dan mengikuti langkah sang ibu menuju meja makan.
“ Apa yang sedang kau lakukan hingga tak mendengar panggilan ibu ?....”, tanya Geraldin dengan tatapan curiga.
“ Aku tadi terlelap sebentar dan baru bangun setelah mendengar suara teriakan ibu tadi….”, ucap Alatariel berbohong.
Meski Geraldin tak sepenuhnya percaya dengan perkataan putra sulungnya itu, tapi dia juga tak ingin memperpanjang masalah tersebut dan segera menyuruh Alatariel untuk duduk dan menyantap makan malam yang telah disiapkannya bersama adik – adiknya yang sudah tiba lebih dulu disana.
Di dalam rongga pohon tempat mereka berteduh malam ini, Belatrix tersenyum puas waktu dia melihat komunikasinya dengan Alatariel berhasil.
Sekarang, Belatrix hanya perlu menunggu laki – laki tersebut kembali menghubunginya malam ini.
Dia harus bisa bertemu dengan keturunan Gullveig tersebut di luar wilayah Dark Land agar bisa menariknya untuk membantu kerajaannya.
“ Apakah kau akan menggunakna sihir dan ramuanmu ketika bertemu dengannya nanti ?....”, tanya Hilda penasaran.
__ADS_1
“ Tentu saja….jika tidak, bagaimana aku bisa membuatnya untuk bergabung membantu kita….”, ucap Belatrix dengan smirk devilnya.
Belatrix sangat tahu jika Alatariel tak akan bisa dengan mudahnya dia bujuk. Karena dia tak memiliki waktu banyak, maka sihir dan ramuan adalah cara tercepat dan terampuh yang bisa dia gunakan saat ini.
Hilda hanya bisa mengangguk – anggukan kepalanya melihat Belatrix sudah mempersiapkan semua rencananya dengan sangat matang.
“ Pantas saja dia selalu lebih unggul di klan, ternyata pikirannya memang sudah jauh kedepan….”, batin Hilda penuh pujian.
Dimeja makan, terlihat Geraldin beberapa kali melirik kearah anak sulungnya itu dan berkata “ Apa ada hal yang mengganggumu ?...”
Mendengar pertanyaan sang ibu Alatariel langsung melirik kedua adiknya yang langsung memasang wajah bodoh mereka seakan tak tahu menahu tentang hal yang ibunda mereka tanyakan.
“ Kamu harus fokus, dua hari lagi misi khususmu akan dijalankan. Kali ini kamu harus benar – benar fokus karena targetmu tidaklah mudah….”, ucap Geraldin mengingatkan.
“ Baik bu….”, ucap Alatariel tenang.
Diapun segera menghabiskan makan malam yang ada dalam piringnya dan langsung masuk kedalam kamar begitu makanan tersebut telah habis.
“ Lihatlah bu !!!...seharian ini kakak bertingkah aneh dan beberapa kali terlihat sedang berbicara sendiri….”, ucap Cirda sang adik mengadu.
Geraldin sangat tahu jika hari ini akan terjadi pada saat dia mengetahui jika Alatariel mewarisi kekuatan hitam milik leluhur mereka.
“ Habiskan makanan kalian dan segeralah tidur….”, ucap Geraldine mengalihkan topik pembicaraan.
Didalam kamar, Alatariel segera mengambil baskom berisi air tersebut untuk melanjutkan komunikasi dengan wanita yang mengaku bernama Belatrix tadi.
Cukup lama Alatariel memandang air jernih tersebut, namun Belatrix sama sekali tak terlihat disana.
Sementara itu, saat ini Belatrix yang sudah ditunggu oleh Alatariel sedang sibuk mengusir tikus liar yang entah datang dari mana bersama kedua teman penyihir wanitanya.
Ketiganya terus berperang melawan tikus – tikus hutan yang menyerang mereka secara liar dan ganas.
Sudah banyak tikus hutan yang mereka bunuh, namun jumlah mereka seakan tak berkurang sedikitpun.
Malah semakin lama semakin bertambah banyak karena tikus tersebut terus berdatangan dari segala arah tanpa henti.
Membuat ketiganya sedikit kewalahan dan akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut dan mencari tinggal baru untuk beristirahat malam ini.
Dua orang kurcaci hitam yang mendalangi serangan tikus tersebut tertawa terpingkal – pingkal waktu mengetahui tiga penyihir wanita tersebut lari terbirit – birit oleh kejaran tikus hutan yang sudah mereka cuci otaknya hingga menyerang ketiga wanita itu secara membabi buta.
Setelah menemukan tempat yang tenang dan tak jauh dari hutan dimana Dark Land berada, Belatrix pun mulai mengeluarkan kualinya dan segera merapalkan mantra.
Cukup lama dia melihat air dalam kuali tersebut, namun sosok lelaki yang ditunggunya sama sekali tak kelihatan batang hidungnya.
“ Apa dia sudah tidur ?....”, guman Belatrix berusaha sabar menunggu.
Satu jam…dua jam….hingga sudah hampir tengah malam, namun sosok yang ditunggunya tak kunjung juga terlihat membuat Belatrix sedikit frustasi.
__ADS_1
“ Arhhhh……gara – gara tikus sialan itu tampakanya aku telah melewatkan komunikasi penting dengan Alatariel !!!...”,teriak Belatrix geram.
Diapun memutuskan untuk beristirahat dan akan mencobanya lagi ke esokan harinya untuk membuat janji bertemu dengan Alatariel.
“ Semakin cepat keluar dari tempat ini akan semakin baik….”, guman Belatrix sambil membaringkan tubuhnya disamping kedua sahabatnya yang sudah terlelap.
Sementara itu, di Red Moon Pack dua pasangan sejoli yang sudah lama tak bertemu tersebut terlihat mesar dan saling melepas rindu bersama.
“ Apakah kamu tak akan dapat masalah jika menginap disini malam ini ?....”, tanya Scoth khawatir.
Mendengar ucapan kekasihnya, Isabella langsung mencebikkan bibirnya dengan raut wajah tak senang.
“ Apa kau mengusirku ?...”, Isabella berkata dengan nada ketus.
Melihat nada suara Isabella mulai meninggi, Scothpun terlihat panik, takut kekasihnya itu akan marah dan pergi meninggalkannya malam ini juga.
*“ Bukan…maksudku bukan begitu sayang….aku justru senang jika kamu menginap disini malam in*i…”, ucap Scoth merajuk.
Scoth pun segera menyelinapkan kepalanya ke ceruk leher jenajng Isabella dan menghirup aroma memabukkan itu dalam - dalam.
Dan jika sudah begini, Isabella hanya bisa terdiam dan pasrah menghadapi sikap manja Scoth kepadanya.
“ Apa kamu membuat kekacauan selama aku tak ada disini ?....”, tanya Isabella sambil mengacak – acak rambut kekasihnya.
“ Apa Morgan mengadu kepadamu ?...”, Scoth mengeram rendah.
Sambil terus menghirup aroma tubuh matenya itu dalam – dalam, karena besok pagi kekasihnya itu sudah harus kembali ke kerajaan Epes.
“ Jangan menyalahkan betamu, dia cuma khawatir terhadapmu….”, ucap Isabella sambil membelai kepala kekasihnya itu dengan lembut.
“ Kenapa kamu selalu membelanya dan memojokkanku seperti itu ?...”, ucap Scoth tak senang.
“ Kekasihmu itu aku, bukan dia….”, Scoth kembali merajuk sambil menelusupkan kepalanya kedada Isabella agar gadisnya itu membelai lembut kepalanya.
“ Apa kau cemburu ?...”, tanya Isabella sambil terkekeh.
“ Aku tidak suka kamu membela laki – laki lain dihadapanku….”, ucap Scot masih dalam posisi merajuk.
Isabella hanya terkekeh menghadapi tingkah laku kekanak – kanakan Scoth saat ini. Bagaimana bisa seorang Alpha yang terkenal garang dan bengis akan langsung menjadi anak anjing yang lucu dan mengemaskan seperti ini saat bersama dengannya.
Scoth tak perduli dengan anggapan Isabella tentang dirinya itu. Saat ini yang dia perlukan hanyalah bermanja – manja dengan kekasihnya itu sepanjang malam.
Jika bisa, Scoth akan menghentikan waktu agar dia bisa lebih lama lagi bersama sang kekasih.
Sementara itu, orang yang sedang dua sejoli tersebut perbincangkan sedang melakukan patroli di kawasan Red Moon Pack untuk memastikan tidak ada Rogue yang menyelinap masuk dan membuat kekacauan.
Morgan yang malam ini fokus berpatroli tiba – tiba merasa merinding, seperti ada seseorang yang sedang membicarakannya dibelakangnya.
__ADS_1
“ Kenapa punggung terasa dingin seperti ini ?....”, batin Morgan bergidik ngeri.
Diapaun segera meneruskan berpatroli sambil berlari – lari kecil agar tubuhnya kembali hangat. Padahal tanpa dia berlari tubuh warewolf bisa menahan hawa dingin separah apapun karen tubuh mereka yang panas.