
Untuk beberapa saat suasana didalam kamar terasa sedikit canggung. Isabella yang tidak menyukai hal tersebut pun mulai berinisiatif untuk bicara.
“ Scoth, bolehkan aku bertanya sesuatu ?....”, ucap Isabella sedikit ragu.
Ughh...., tidak biasanya Isabella gugup saat berhadapan dengan orang lain. Biasanya dia bisa dengan lugas berbicara dengan siapapun tanpa pandang umur ataupun gender.
Meski kadang sikapnya tidak terlalu ramah, namun jantung Isabella tidak pernah berdebar hebat seperti ini.
Bahkan dalam menghadapi ujian nasional saja tidak tidak merasa gugup sama sekali. Tapi, berhadapan dengan lelaki dewasa dihadapannya itu, entah kenapa dia menjadi salah tingkah dan selalu berdebar.
“ Apa yang ingin kau tanyakan ?...”, jawab Scoth lembut.
“ Aku sekarang ada dimana?...maksudku ini daerah atau kota apa namanya ?...”, tanya Isabella gugup.
“ Kamu ada didalam istanaku dan saat ini kamu berada di kerajaan Red Mood…”, ucap Scoth santai.
“ Lalu kamu ?....maksudku kamu siapa ?...kamu tahu kan jika sebelum aku pingsan aku sempat melihat ada serigala besar bertarung dengan lelaki berwajah pucat yang membawaku terbang…”, Isabella berusaha untuk menggambarkan apa yang dilihatnya sebelum jatuh pingsan.
Scoth terdiam untuk sesaat, dia mulai berpikir bagaimana menjelaskan semuanya pada gadis kecil yang ada dihadapannya itu agar tidak terkejut.
“ Apa kamu pernah mendengar cerita tentang penyihir, vampir, manusia serigala, peri dan lainnya – lainnya. Mungkin orang tuamu pernah berdongeng tentang semua itu sebelum kamu tidur…”, ucap Scoth sebagai pembukaan.
“ Orang tua ?...”, ucap Isabella sambil menghela nafas berat.
“ Aku belum pernah bertemu dengan kedua orang tuaku. Selama ini hanya nenek yang membesarkanku. Untuk yang kamu bicarakan tadi, aku pernah mendengar sedikit cerita tersebut dari nenek….”, ucap Isabella sedih.
Mendengar ucapan gadis kecil yang ada dihadapannya, seketika Scoth ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
Sama seperti yang dirasakan oleh Isabella saat ini. Inilah salah satu kelebihan system mate, saat pasangannya merasa sedih, marah atau bahagia maka dia bisa merasakan hal yang sama.
“ Maaf, aku tidak tahu jika kedua orang tuamu sudah meninggal…”, ucap Scoth bersimpati.
“ Mereka masih hidup hanya saja aku belum pernah bertemu dengan mereka sampai saudara kembarku meninggal, baru aku ada disini ?...”, ucap Isabella sedih.
Scoth sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh gadis kecil yang ada dihadapannya itu. Isabella yang melihat kebinggungan diwajah Scoth berusaha untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Isabella merasa jika lelaki asing yang ada dihadapannya tersebut bisa dipercaya.
Dan dirinya juga merasa aman dan nyaman berbicara dengannya, untuk itu diapun mulai menyampaikan semuanya berharap laki – laki asing tersebut bisa membantunya.
Meski banyak pertanyaan ingin Scoth utarakan saat ini, namun untuk menghargai gadis kecil dihadapannya dia hanya menyimak dengan serius hingga Isabella selesai bercerita.
“ Namaku Isabella Glucksburg, tapi disini sekarang aku akan menjadi Isabella Adams. Dan kamu bisa memanggilku Isabella atau Bella....”, Isabellapun akhirnya memberitahukan siapa namanya diakhir ceritanya.
Meski pada awalnya banyak hal yang ingin Scoth tanyakan, namun waktu mengetahui jika gadis kecilnya bukan berada di dunia ini, dia menjadi terdiam untuk sesaat.
“ Kamu bukan berada dari sini ?...maksudmu kamu tinggal didunia manusia begitu kan…”, ucap Scoth penuh selidik.
“ Aku memang tinggal didunia manusia, tapi dijaman modern…maksudku dari masa depan….”, Isabella sedikkit kebingungan menjelaskan semuanya.
Melihat Scot hanya memandangnya dengan wajah kebinggungan, Isabella pun berusaha untuk menjelaskan semuanya.
Meski tidak terlalu paham, namun Scoth berusaha untuk menerima semua hal itu.
Jika dipikir lagi, kondisi dirinya juga sama dengan Isabella yang merupakan kaum immortal yang mungkin keberadaannya dianggap sebagai mitos oleh manusia biasa.
“ Kamu ingin pergi kekerajaan Equestria ?...kenapa ?....”, tanya Scoth penasaran.
Sekali lagi Scoth cukup terkejut dengan ucapan Isabella. Siapa didunia immortal yang tidak mengetahui kerajaan Equestria.
Kerajaan sihir terbesar dan terkuat di dunia immortal. Jika diingat lagi, Ratu Marie tidak memiliki anak sekecil ini, apa mungkin gadis kecil ini adalah cucunya.
“ Jadi, kamu adalah penyihir ?...”, tanya Scoth sambil memicingkan satu matanya curiga.
“ Maksudmu ini….dan ini….”, Isabella pun terlihat mengeluarkan api dari tangannya dan membekukan air yang ada dalam gelas.
Aksinya tersebut tentu saja membuat Scoth terbelalak. Diapun kemudian mulai mengendus – endus tubuh Isabella dan mengamatinya secara intens.
“ Hey…apa yang kamu lakukan….”, ucap Isabella sambil berusaha untuk menjauhkan kepala Scoth yang tiba – tiba saja mengendus lehernya.
“ Hentikan Scoth…geli…kenapa kau mirip sekali dengan anjing….”, ucap Isabella sambil terkekeh.
__ADS_1
Waktu gadis kecinya menyebut “ anjing ”, tubuh Scoth langsung membeku ditempat. Isabella yang menyadari hal tersebut pun terlihat menautkan kedua alisnya binggung.
“ Apa yang tadi kamu bilang ?...”, tanya Scoth berusaha untuk memperjelas.
Isabella yang merasa jika lelaki yang ada dihadapannya itu tersinggung berusaha untuk meluruskan kesalah pahaman yang ada.
“ Maaf, aku tak bermaksud mengataimu tadi…”, ucap Isabella sambil menunduk.
Scoth sadar jika dia sudah membuat gadis kecilnya tersebut ketakutan dan hampir menangis.
Setelah menutup kedua matanya sesaat dan menghembuskan nafas secara perlahan, diapun mulai menangkup wajah munggil Isabella dan mengangkatnya hingga kedua mata keduanya bertemu.
“ Coba katakana lagi…”, perintah Scoth lembut.
“ An…anjing. Maaf, aku tak bermaksud memakimu tadi…”, cicit Isabella dengan mata nanar.
Melihat gadis kecilnya hendak menangis, Scothpun langsung memeluk tubuh munggil Isabella dan mendekapnya dengan erat.
Scot mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Isabella dan menghirup dengan rakus aroma vanilla white musk yang menguar dari tubuh matenya sambil memberi kecupan – kecupan kecil disana hingga membuat Isabella kegelian.
“ Jika aku memang anjing, apa kamu suka ?....”, tanya Scot gugup.
Untuk sesaat Isabella terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam sambil bersendekap dan menatap intens laki –laki tampan yang ada dihadapannya itu.
“ Aku suka anjing, hanya saja aku tidak suka yang memiliki bulu hitam karena terlihat ngeri…”, Isabella bergidik ngeri waktu kembali mengingat serigala besar berbulu hitam pekat dihutan tempo hari.
Jderrr…..
Rasanya bagai disambar petir, hati Scoth terasa sangat sakit terutama Melvin serigalanya yang berbulu hitam legam saat matenya mengatakan satu kalimat yang menimbulkan gejolak dalam hatinya.
Api dalam tubuhnya bergejolak hebat, baru saja dia berunding dengan Melvin, wolf dalam tubuhnya mengenai apakah dia akan mengatakan yang sesungguhnya kepada gadisnya itu.
Namun sebelum dia mengatakan, matenya secara terang – terangan mengatakan jika dia membenci bulu hitamnya.
Hal tersebut sama saja dengan menolak dirinya secara tidak langsung. Hati Scoth sangat sakit saat mengetahui hal tersebut.
__ADS_1
Diapun berjalan gontai keluar dari dalam kamar dan melangkah memasuki ruang pribadinya, meninggalkan Isabella yang terdiam dengan raut wajah binggung.
“ Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ?....”, guman Isabella binggung.