
Ratu Evanora menyambut baik keingginan Alatariel untuk menggunakan bola kristal miliknya guna memanggil arwah Gullveig.
Setelah rencananya berkoalisi dengan klan vampire dan sekelompok rogue gagal maka jalan satu – satunya adalah dengan membantu dark elf tersebut untuk segera mengaktivkan death sword.
Tak ingin membuang banyak waktu, malam ini juga Alatariel berniat untuk melakukan ritual pemanggilan arwah kakek moyangnya tersebut.
Karena hanya keturunan asli Gullveig sendiri yang bisa melakukannya, maka Alatariel menggunakan kemampuannya sendiri untuk memulai ritual.
Setelah lingkaran dengan berbagai mantra sihir dibuat, dia juga menaburi sekeliling lingkaran tersebut dengan beberap ramuan yang khusus dibuat untuk ritual.
Selanjutnya, bersama dengan bola kristal hitam milik Ratu Evanora, Alatariel mulai duduk bersila di tengah – tengah lingkaran dan berkonsentrasi melakukan panggilan.
Dengan kedua tangan berada diatas bola kristal hitam, Alatariel pun segera membaca mantra yang dia gunakan untuk memanggil arwah kakek moyangnya itu.
Pada saat ritual sedang berlangsung tiba – tiba angin kencang datang dan mulai mengusik konsentrasinya.
Wush….wush…wush….
Alatariel berusaha untuk tetap fokus dan sama sekali tak terpengaruh dengan angin yang bertiup semakin lama semakin kencang, berusaha menerbangkan tubuhnya yang munggil itu.
Angin yang berhembus dengan kencang itu lama kelamaan berubah menjadi pusaran yang semakin lama semakin lebar dan menerbangkan apa saja yang dilaluinya.
Namun Alatariel sama sekali tak goyah akan serangan yang terus menerus menimpahnya secara bertubi – tubi itu.
Dia tetap duduk tegak dengan mulut komat – kamit membaca mantra dengan kedua tangan masih berada diatas bola kristal hitam.
Pusaran angin yang pada awalnya berwarna putih sekarang sudah berganti menjadi gelap seperti awan mendung yang mengandung petir.
Ctarrr….ctarrrr…ctarrr…..
Petir yang keluar dari dalam pusaran angin gelap tersebut terlihat beberapa kali menyambar tubuh kecil Alatariel.
Namun lagi – lagi serangan tersebut sama sekali tak mempengaruhi konsentrasi dark elf tersebut yang masih tetap kokoh duduk ditempatnya.
Satu persatu halang rintang yang terjadi selama ritual berlangsung berhasil dilalui oleh Alatariel dengan baik hingga pada akhirnya asap putih mengumpal ada dihadapannya.
“ Untuk apa kamu memanggilku ?....”, ucapnya dengan suara serat dan berat.
Mendengar suara tersebut, Alatariel pun perlahan membuka kedua matanya. Dihadapannya sekarang telah berdiri seorang elf seperti dirinya dengan wajah tegas.
“ Apakah kamu Gullveig, kakek moyangku ?.....”, tanya Alatariel memastikan.
__ADS_1
“ Apa maumu ?....”, bukannya menjawab pertanyaan Alatariel, Gullveig malah balik bertanya dengan wajah tak senang.
Jujur saja, ritual pemanggilan arwah seperti ini cukup merepotkan baginya karena tak mudah untuk bisa memunculkan sosoknya dihadapan orang hidup seperti ini.
Gullveig juga harus berjuang ekstra keras, untuk itulah muncul berbagai macam halang rintang yang tadi mendera Alatariel selama proses ritual berlangsung.
Melihat kakek moyangnya tak suka berbasa – basi maka Alatariel pun langsung masuk kedalam inti permasalahan yang ada.
Gullveig tampak mendengarkan dengan seksama semua cerita keturunannya tersebut dengan wajah datar.
Hingga cerita selesai tampaknya lelaki tua yang ada dihadapannya itu sama sekali tak ingin membuka mulutnya, membuat Alatarile sedikit frustasi dibuatnya.
Tapi Alatariel tak kehilangan akal, dia berusha keras untuk membujuk kakek moyangnya itu dengan berbagai cara.
“ Ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi agar death sword bisa aktif….”, ucap Gullveig melunak.
Melihat jika kakeknya sudah sedikit melunak dan mau berbagi dengannya, Alatariel pun terlihat bersemangat untuk mengetahuinya.
“ Apa itu ?....”, tanyanya antusias.
“ Pertama, kamu harus melakukan ritual perendaman death sword menggunakan tujuh darah gadis perawan yang lahir dibulan purnama…”
“ Kedua, ritual hanya bisa dilakukan dimana death sword berada (lembah kematian) dan dilakukan pada sepertiga malam bulan purnama….”
“ Semua itu kamu lakukan pada waktu sepertiga bulan purnama….”, ucap Gullveig menjelaskan.
Untuk semua syarat yang disebutkan oleh kakek moyangnya itu Alatariel masih memenuhi tapi ada satu syarat yang cukup menganjal dihatinya.
“ Darah gadis murni ?….”, guman Alatariel sedikit binggung.
Melihat anak keturunannya sedikit binggung, Gullveig pun berusaha untuk menjelaskannya agar ritual bisa segera dilaksanakan.
“ Kamu cukup beruntung, gadis berdarah murni telah muncul beberapa tahun yang lalu. Hanya dengan darahnya lah death sword bisa aktiv dan kamu gunakan dengan maksimal….”, ucap Gulllveig datar.
“ Lalu…dimana aku bisa mendapatkannya ?....”, tanya Alatariel penasaran.
“ Itu tugasmu…aku tak bisa memberikan gambaran secara spesifiknya. Yang jelas, gadis berdarah murni sangat tangguh dan kuat. Dia juga tak bisa mengeluarkan darah dengan mudah meski kamu memenggal kepalanya sekalipun….”, Gullveig kembali menjelaskan dengan seksama.
Dia teringat kembali waktu gagal mendapatkan darah gadis murni beberapa ratus tahun yang lalu hingga death sord diambil alih dan jiwanya terkurung cukup lama dalam kegelapan.
“ Maksudmu gadis itu tidak bisa mati ?....”, tanya Alatariel penuh selidik.
__ADS_1
“ Bukan…”
“ Setelah gadis ini menyeempurnakan kekuatannya, darah dalam tubuhnya tak akan bisa keluar jika sang pemilik tak mengijinkan…”
“ Bahkan goresan dan sayatan pisau hanya bisa membuatnya terluka tanpa mengeluarkan darah sedikitpun….”
“ Karena darahnya cukup special dan berharga….”, Gullveig menjelaskan sambil menerawang jauh kedepan.
Untuk beberapa saat, suasana hening mulai tercipta. Keduanya terlihat berkutat pada pemikiran masing – masing.
“ Jika kamu bisa menemukannya maka kamu juga bisa menghancurkan bunga gloxinia karena bungga itu ada padanya….”, ucap Gullveig sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mata Alatariel.
Setelah kepergian Gullveig, Alatariel masih berdiam diri ditempatnya sambil memikirkan semua syarat yang harus dia dapatkan sebelum bulan purnama berlangsung.
Dan itu artinya hanya tinggal tujuh hari dia harus mendapatkan semua syarat tersebut, jika tidak maka dia tak akan pernah bisa mengaktivkan death sword dan hanya bisa menngunakannya sebagai pedang biasa tanpa mendapatkan kekuatannya.
Jika Alatariel sedang kebinggungan mengaktivkan pedang hitam yang didapatkannya lain halnya dengan Isabella.
Pedang cahaya yang didapatkannya sudah dia aktivkan dan pergunakan dengan maksimal. Maka dari itu diapun merasa sangat siap kapanpun peperangan akan terjadi, sesuai dengan apa yang diramalkan oleh Tiffany.
Ditengah - tengan aula tempat Isabella latihan datang lelaki bertubuh tegap dan tampan berjalan cepat dan lengasung memeluk gadis itu dari belakang, membuat kedua mata Isabella melotot seketika.
“ Sayang…kangen….”, renggek Scoth manja.
Melihat kekasihnya beristirahat setelah beberapa hari berlatih keras, Scoth yang kembali terabaikan menggunakan waktu yang ada untuk menempel pada Luna nya itu.
Tetua Otsana hanya bisa mendengus kesal melihat kelakuan Alphanya itu. Jika saja lelaki tampan yang ada dihadapannya itu bukan pemimpinnya, mungkin sudah dia lempar jauh hingga ke planet lain.
Tak ingin membuat suasana menjadi canggung, Isabella pun segera berteleportasi kedalam kamar untuk menenangkan bayi besarnya itu.
“ Scoth….bukankah kamu masih memiliki banyak tugas….”, ucap Isabella sambil mengelus kepala sang kekasih yang masih setia berada di ceruk lehernya itu.
“ Semuanya sudah diurus Morgan….jadi kamu tenang saja….”, ucap Scoth ringan.
Diapun kembali melanjutkan aktivitasnya, bermanja – manja dengan sang kekasih yang sangat sibuk itu.
Meski Isabella tinggal di red moon pack tapi kedatangan tetua Otsana menyusulnya kemari membuat waktunya untuk bermesraan dengan sang kekasih terbatas.
Karena gadis tersebut mulai sibuk berlatih setiap saat. Meski dia tahu semua itu dilakukan demi mempersiapkan perang yang entah kapan akan berlangsung, tapi tetap saja hal itu membuat Scoth sangat kesal.
“ Sayang…janji ya…setelah perang usai kita langsung menikah…”, ucap Scoth penuh harap.
__ADS_1
Melihat Isabella mengangguk sambil tersenyum, Scoth merasa sangat bahagia. Dia sudah tak sabar untuk segera membina rumah tangga bahagia dengan sang kekasih.