
Malam ini, setelah memberikan beberapa tugas kepada betanya dan berkeliling untuk mengontrol kinerja seluruh warrior yang berjaga di wilayah perbatasan, Scoth pun mulai menjalankan rencananya.
Begitu meninggalkan hutan, diapun langsung berganti shift menjadi Melvin agar bisa berlari dengan kencang.
Menyatu dalam kegelapan malam, Melvin yang memiliki bulu hitam terlihat seperti bayangan yang melesat cepat menuju kerajaan Eternita berada.
Sementara itu, di kerajaan Eternita, didalam sebuah laboratorium pribadi terlihat seorang gadis kecil sedang sibuk berkutat dengan tabung – tabung kecil yang ada dihadapanya.
Crashhh….
Terlihat beberapa kali awan putih melesat keluar dari dalam tabung begitu di tetesi cairan kimia yang ada dihadapannya.
Isabella terlihat kecewa saat kesekian kalinya percobaan yang dilakukannya gagal kembali. Entah kenapa pikirannya malam ini tak bisa fokus.
Seperti ada sesuatu yang menyita pikirannya saat ini, tapi dia tak sadar akan hal tersebut. Sementara itu, Melvin terus berlari tanpa henti seolah ingin berpacu dengan waktu.
Dia ingin, sebelum matahari terbit sudah sampai di istana Eternita agar tidak ada yang mencurigai kedatangannya.
Edward yang baru saja tiba dari bekerja dan melihat ruangan kosong segera mencari keberadaan Isabella di perpustakaan, tempat dimana gadis tersebut biasanya berada.
Cukup lama Edward berkeliling ruangan namun tak menemukan keberadaan Isabella membuat raja Vampir tersebut menanyakan keberadaan gadis kecil tersebut kepada pelayan yang berpapasan dengannya.
Setelah mengetahui dimana gadisnya berada, Edward pun langsung melesat pergi ke laboratorium pribadi milik Isabella.
“ Jangan terlalu dipikirkan…lanjutkan besok saja….”, ucap Edward sambil membelai rambut Isabella dengan lembut.
Mendengar ucapan Edward, Isabellapun segera merapikan tabung eksperimen miliknya serta melepaskan jas putih yang dipakainya dan mengantung nya dialmari yang ada didalam laboratorium.
“ Kamu sudah makan ?...”, tanya Edward penuh perhatian.
Melihat gadis kecilnya menggelengkan kepala, secepat kilat Edward langsung mengendong Isabella dan membawanya ke meja makan.
Isabella duduk manis sambil memperhatikan Edward memasak makanan dari bahan – bahan yang ada didalam kulkas.
Gerakan Edward yang gesit dan lincah dalam mengolah makanan membuat kedua mata Isabella berbinar antusias.
__ADS_1
Melihat gadis kecilnya tertarik dengan kegiatan memasaknya, Edwardpun semakin memamerkan keahlian memasaknya hingga membuat Isabella beberapakali berdecak kagum.
“ Wow…kamu hebat sekali…”, puji Isabella dengan kedua mata berbinar.
Mencium bau harum dan penampilan yang sangat menggugah selera, Isabella pun langsung melahap habis hidangan yang tersaji dihadapannya itu.
“ Apakah itu sangat lezat ?....”, tanya Edward penasaran waktu melihat gadis kecilnya itu makan dengan sangat lahap.
“ Sangat lezat….”, ucap Isabella dengan kedua mata berbinar terang.
Dia sangat kagum dengan bakat yang dimiliki oleh Edward. Meski lelaki tampan itu tak bisa merasakan masakan tersebut, tapi bumbu – bumbu yang dimasukkannya sangat pas di lidah.
“ Aku penasaran bagaimana kamu bisa memasak seenak ini padahal kamu bilang jika semua makanan manusia itu hambar dan tidak berasa ?.....”, tanya Isabella sambil menatap Edward dengan jiwa keinggintahuan yang tinggi.
“ Aku hanya melihat para koki di televise memasak dan menghafalkan bumbu apa saja yang dimasukkan kedalam makanannya…”, ucap Edward santai.
“ Kurasa, kamu bisa menjadi koki professional jika mau. Atau kamu bisa membuka sebuah restoran, dengan kemampuanmu seperti itu aku rasa bisnismu akan berjalan dengan sangat baik….”, ucap Isabella memberi saran.
Mendenagr pujian dari gadis kecilnya itu, Edward hanya terkekeh dan kembali menatap Isabella dengan hangat.
“ Tidak…aku hanya punya bakat makan saja. Kalau untuk memasak, itu suatu hal yang buruk bagiku…”,ucap Isabella sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Selanjutnya mereka pun memulai obrolan ringan seperti biasanya sambil menunggu makanan yang ada dalam perut Isabella turun.
Sementara itu, di luar kerajaan Eternita, Melvin yang baru saja sampai terlihat berdiri gagah di tepi hutan yang tepat berada di depan kerajaan vampire tersebut berada.
Hutan tersebut sangat putih karena tertutup salju sepanjang tahun sehingga sangat kontras dengan bulunya yang hitam pekat.
Membuat Melvin memilih bersembunyi dibalik bayang – bayang pohon agar keberadaannya tersamarkan.
“ Bagaimana, apakah kau sudah merasakan keberadaan mate kita ?....”, tanya Scoth cemas.
“ Meski samar, tapi aku bisa mencium aromanya dari sini….”, ucap Melvin sambil menatap tajam kearah istana yang menjulang tinggi tersebut.
Seperti saran tetua Otsana, Scoth mengingatkan kepada Melvin agar tidak gegabah dalam bertindak dan sebisa mungkin berusaha untuk mengirimkan sinyal kepada mate mereka.
__ADS_1
Didalam kamarnya, Isabella terlihat membolak – balikkan badannya tak tenang. Entah kenapa seharian ini hatinya merasa sangat gelisah.
Bahkan dia tak fokus mengerjakan apapun hingga menyebabkan banyak kesalahan yang dibuatnya hari ini.
Tak bisa tidur, Isabella pun berjalan menuju kearah jendela menatap kearah langit yang terlihat gelap gulita.
Entah kenapa tiba – tiba pandangannya mengarah ke hutan gelap yang tak jauh dari istana Eternita berada, Isabella merasa seperti ada seseorang yang sedang menunggunya disana.
“ Kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku saat ini…”, batin Isabella gelisah.
Karena penasaran, Isabella pun hendak membuka jendela dan mencoba menembus kegelapan malam untuk mengetahui siapa sosok yang terlihat sedanga mengamatinya itu.
Edward yang sedang bersantai didalam ruangannya tiba - tiba saja bangkit dan langsung melesat menuju kamar Isabella waktu merasa jika ada wolf sedang menatap lurus dimana gadis kecilnya itu sedang beristirahat.
Belum sempat jendela terbuka, tangan dingin Edward sudah menghentikan pergerakan Isabella dan langsung mengankat tubuh gadis kecil tersebut dan membaringkannya diatas ranjang.
“ Jangan sekali – kali membuka jendela karena aku tak bisa menjamin keselamatanmu….”, ucap Edward tajam.
Isabella sedikit merinding waktu Edward memperingatinya secara keras seperti itu. Ini baru pertama kalinya dia melihat lelaki tersebut marah kepadanya.
“ Maaf, aku tak ingin membuatmu ketakutan. Hanya saja, aku khawatir ada vampire yang langsung menyerangmu begitu kamu membuka jendela…”, ucap Edward dengan nada penuh kekhawatiran.
Melihat jika Edward merasa tak enak hati karena telah berkata dingin kepadanya, Isabella pun meminta maaf karena dia telah membuat lelaki tersebut khawatir.
Selanjutnya, Edwardpun segera memegang kening gadis kecilnya itu dan meniupnya beberapa kali.
Tak lama kemudian, Isabellapun terlelap menuju alam mimpi. Begitu gadis kecilnya tertidur, Edward segera pergi untuk menemui warewolf yang berada di hutan tak jauh dari istananya.
Melvin yang merasakan ada vampire yang berusaha mendekat kearahnya bergegas pergi menjauh karena tak ingin menimbulkan masalah.
Untuk sementara waktu dia memilih untuk menghindar dan tidak ingin menimbulkan konfortasi dulu hingga akan membuat rencana yang sudah disusunnya dengan matang ini gagal.
Edward yang baru saja tiba terlihat sangat geram waktu menyadari warewolf yang tadi di lihatnya sudah pergi menghilang.
Merasa jika warewolf tadi mengincar gadis kecilnya, Edward pun berencana untuk memindahkan gadis kecilnya kesuatu tempat karena merasa jika istana Eternita tidak aman untuk Isabella tinggal saat ini.
__ADS_1
“ Apa aku menempatkannya di dunia manusia saja ya hingga dia dewasa agar aman….”, batin Edward tersenyum lebar.