HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
FENOMENA


__ADS_3

Sejak kembali dari dunia manusia, Alatariel yang mulai mempelajari ilmu sihir yang diwarisinya secara otodidak dan sembunyi - sembunyi  semakin membuat dirinya  merasa takjub akan kekuatan yang dimilikinya.


Meski sihir sudah tak asing dalam kehidupannya sehari – hari, namun entah kenapa Alatariel merasa jika sihir hitam yang dia warisi dari kakek moyangnya ini berbeda dengan sihir yang dimiliki bangsa Dokkalfar.


Selain belajar otodidak melalui buku yang diberikan oleh Belatrix kepadanya, komunikasi Alatariel dengan wanita tersebut juga semakin intens.


Belatrix sangat senang mengetahui perkembangan Alatariel yang begitu pesat. Bukan karena ramuan sihir yang diberikannya membuat lelaki itu cepat mempelajari ilmu sihir.


Tapi karena kekuatan Gullveig yang diturunkan kepadanya juga darah bangsa Dokkalfar yang mengalir ditubuhnya membuat kekuatan yang dihasilkannya lebih besar dari yang dimiliki oleh kakek moyangnya jika bisa dipergunakan dengan maksimal.


“ Alaxemutatum….”, ucap Alatariel sambil mengcungkan tongkat sihirnya kearah batu yang ada dihadapannya.


Kwokkk….kwokkk…kwokkk….


Seketika batu tersebut berubah menjadi katak yang langsung melompat pergi, membuat Alatariel senang atas kemajuan yang di perolehnya hingga saat ini.


Diapun kembali mengubah beberapa batu kecil menjadi sekelompok pasukan katak yang selanjutnya akan dipakainya untuk bertarung.


“ Impetumthesi…..”, ucap Alatariel dengan lantang.


Seketika, kerikil tajam yang tadinya berserakan disegala arah tiba – tiba saja sudah terbang menyerbu pasukan katak tersebut.


Membuatnya menjadi kocar – kacir, bahkan tak sedikit dari pasukan katak yang diciptakan oleh  Alatariel tersebut terluka dan mati.


Bukannya bersedih, Alatariel justru sangat bergembira waktu kerikil - kerikil tajam tersebut menyerang pasukan katak ciptaannya tanpa henti.


Puas dengan ekperimen kecilnya itu, Alatarielpun mencoba kemampuan sihirnya ke object yang lebih besar lagi.


Kedua matanya berbinar cerah waktu mendapati jika sihir yang dilakukannya kembali menuai keberhasilan dengan cemerlang.


Puas dengan hasil latihannya beberapa hari terakhir ini, Alatariel sekarang tinggal menunggu waktu untuk bisa pergi ke lembah kematian untuk mencari keberadaan Death Sword yang sangat diyakini hanya dirinyalah yang bisa mengambilnya.


“ Alasan apa yang akan aku pakai untuk bisa keluar dari Dark Land, mencari Death Sword….”, guman Alatariel pening.


Cukup lama Alatariel diam termenung, berusaha untuk mencari alasan tepat yang akan di berikan kepada keluarganya.


Namun, tak ada satupun alasan yang melintas dikepalanya bisa diberikan kepada kedua orang tuanya tanpa menimbulkan kecurigaan.


Tak ingin ada yang curiga dengan apa yang sedang dilakukannya, Alatariel pun segera keluar dari tempat latihannya dan kembali beraktivitas seperti biasa sambil memikirkan cara untuk bisa ke lembah kematian secepatnya.

__ADS_1


Sementara itu di sisi dunia yang lain, ada sesuatu yang aneh pada Schneewald hari ini. Langit yang biasa mendung tanpa pernah gelap atau terang tiba – tiba berwarna merah kekuningan membuat langit terihat hidup dan lebih berwarna.


Bukan hanya langit saja yang berubah,  suhu udara disekitarnya juga mengalami perubahan yang cukup signifikan.


Schneewald yang biasanya selalu dingin tiba - tiba terasa lebih hangat daripada biasanya. Fenomena tersebut tentu saja membuat banyak penghuni Schneewald merasa tak nyaman dan mulai meningkatkan kewaspadaan diri.


Isabella dan Sweetie yang kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju inti hutan salju tersebut  terpaksa menghentikan langkah kaki mereka begitu menyadari ada sesuatu tak lazim sedang terjadi.


“ Fenomena apa ini?....”, guman Sweetie tertegun.


Selama seratus tahun lamanya dia hidup di Schneewald, ini baru pertama kalinya kelinci putih gemuk tersebut melihat fenomena aneh seperti ini.


Melihat sahabatnya terdiam sambil menatap kearah langit, Isabella yang baru saja datang setelah memetik buah apel liar yang ditemuinya segera meletakkan beberapa buah apel disamping tubuh Sweetie.


“ Kamu sedang melihat apa ?....”, tanya Isabella penasaran.


Isabella kemudian ikut mendongakkan kepalanya menuju arah mata Sweetie memandang. Dia tak dapat menutup rona bahagia diwajahnya waktu melihat warna langit yang begitu indah.


Langit yang selama ini hanya berwarna putih monoton, sekarang ada semburat merah dan kuning membuat suasananya menjadi lebih hidup.


“ Apakah itu pelangi ?....”, tanya Isabella antusias.


“ Tidak…itu bukan pelangi….”, ucap Sweetie dengan nada resah yang seakan ditutupi.


“ Jika bukan pelangi, lalu apa ?....”, tanya Isabella lagi.


“ Entahlah….aku juga baru pertama kali lihat hal seperti ini….”, ucap Sweetie lesu.


Melihat sahabatnya tersebut menjawab asal dan terlihat tak bersemangat serta raut kegelisahan yang tertangkap dari nada suaranya, membuat Isabella menautkan kedua laisnya heran.


“ Ada apa dengannya ?....apa dia sakit ?....”, batin Isabella mulai resah.


Jujur saja, selama berkelana bersama Sweetie di Schneewald. Ini pertama kalinya Isabella melihat kelinci putih tersebut lesu dan tak bersemangat seperti itu.


“ Ini adalah pertanda buruk….”, guman Sweetie sambil menghela nafas panjang.


“ Seberapa buruk ?.....”, tanya Isabella penuh selidik.


“ Aku juga tak tahu seberapa buruk….namun yang pasti, fenomena ini merupakan petanda akan terjadinya hal besar yang mampu mengubah kehidupan semua makhluk di Schneewald….”, ucap Sweetie menjelaskan.

__ADS_1


Keduanya kemudian terdiam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing – masing. Berharap apapun yang akan terjadi nantinya tak sampai membuat dunia menjadi kacau.


Sementara itu dikerajaan Epes, Scoth terlihat bahagia waktu mendapati tubuh Isabella perlahan mulai menghangat.


Fenomena aneh yang terjadi di Schneewald dan berpengaruh pada suhu yang ada membuat tubuh Isabella otomatis tidak sedingin sebelumnya.


Tiffany yang memeriksa kondisi terbaru Isabella tanpa sadar tersenyum tipis waktu mengetahui jika tak lama lagi gadis itu akan bisa kembali setelah misi yang diembannya selesai.


" Jangan khawatir, dia akan segera sadar....", ucap Tiffany sambil tersenyum.


Tiffany yang melihat kening Isabella sedikit berkerut, perlahan mulai menutup mata sambil memegang dahi gadis tersebut dengan telunjuknya.


Dia terlihat sedang berkonsentrasi, sinar putih yang keluar dari telunjuk Tiffany sebagai bukti jika dia ingin berkomunikasi dengan Isabella dimanapun gadis itu berada.


“ Ikuti kata hatimu. Berjalanlah menuju cahaya terang yang ada dihadapanmu….”, Tiffany berusaha untuk memberi pesan kepada Isabella yang saat ini entah berada di dunia mana.


Setelah mengirimkan pesannya beberapa kali sambil memegang kening Isabella, Tiffanypun perlahan membuka kedua matanya dan berkata “ Semoga saja pesanku sampai kepadanya….”.


Scoth yang menegar semua ucapan Tiffany merasa sedikit lega. Artinya, kondisi kritis yang dialamai oleh Isabella dalam beberapa hari kemarin telah berlalu.


Sekarang yang dia harapkan adalah kekasihnya itu bisa segera menyelesaikan misinya dan kembali lagi kedunia nyata, berkumpul bersama dengannya.


Sementara itu, Isabella yang baru saja terlelap setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang bersama Sweetie terbangun waktu mendengar suara seseorang wanita masuk kedalam indera pendengarannya.


“ Tiffany…..”, batin Isabella menebak.


Isabella terlihat berusaha cukup keras untuk kembali mengingat pesan apa yang telah disampaikan oleh tetua suku elf cahaya tersebut kepadanya.


*“ Pesan ini....apa ini semua ada hubungannya dengan fenomena aneh yang tadi aku lihat berasam Sweetie*?....”, batin Isabella penuh tanda tanya.


Dalam diam, Isabella berusaha untuk mencerna semua kejadian yang telah dilaluinya di Schneewald selama ini.


“ Apa tujuan sebenarnya aku berada disini ?....”, Isabella terus berupaya untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang menganggu pikirannya itu setelah suara Tiffany masuk kedalam indera pendengarannya.


Cukup lama Isabella termenung memikirkan semua hal hingga sebuah kata yang sempat tetua Otsana ucapkan kembali ternginga di telinganya.


" God Light Sword.....apakah disini tempatnya ?...." , batin Isabella bermonolog.


Diapun akan mencoba untuk mencari informasi mengenai keberadaan pedang putih tersebut yang konon keberadaannya masih menjadi misteri hingga sekarang.

__ADS_1


__ADS_2