
Isabella yang baru saja sadar dari pingsannya terlihat menahan rasa sakit sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Perlahan kedua matanya tampak menyesuaikan sinar terang yang menyambutnya sebelum akhirnya terbuka lebar.
“ Dimana ini ?...”, batin Isabella binggung.
Ini sudah ketiga kalinya Isabella tersadar dan berada ditempat yang tampak asing dan berbeda. Isabellapun mulai mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan yang berwarna putih tersebut.
Lord Edward yang sedang sibuk menyelesaikan berkas yang ada ditangannya langsung melesat menuju kamar yang telah disiapkan untuk ratunya megitu merasakan pergerakan gadisnya.
“ Ratuku…akhirnya kamu sadar juga…”, ucap Edward dengan suara lembut.
Bulu kudu Isabella seketika berdiri waktu lelaki berwajah rupawan tersebut memanggilnya. Sejenak gadis kecil itu terdiam, terpesona oleh ketampanan lelaki yang ada dihadapannya yang sekarang sudah berjalan mendekat kearahnya.
“ Oh my god….apakah ini nyata. Wajahnya sangat tampan dan putih mulus tanpa cela. Dia terlihat seperti patung jika dibandingkan dengan manusia….”, guman Isabella sambil membelai wajah Edward dengan lembut.
Isabella terus menggerakkan tangannya, menyentuh tiap inci wajah tampan yang ada dihadapannya itu sambil terus mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.
Edward terlihat memejamkan kedua matanya sambil menikmati setiap sentuhan lembut gadisnya dan menghirup aroma wangi tubuh Isabella yang sudah menjadi candunya itu.
Saat kedua mata mereka saling bertatapan, ada jejak kerinduan yang sangat dalam dari mata topas yang berada dihadapannya itu.
Membuat hati Isabella menjadi luluh seketika. Dia seakan ikut merasakan rasa sakit dan kesepian dari laki - laki dihadapannya itu.
Sudah cukup lama Edward menunggu kehadiran sang Ratu dan hampir saja dia kehilangan gadisnya itu jika takdir tak kembali mempertemukan mereka.
Dan sekarang, gadis itu sudah berada dalam istananya. Maka dia pastikan tidak akan ada lagi orang yang bisa merebut Isabella darinya.
“ Tunggu !!!....”, Isabella langsung menjauhkan tangannya dan langsung memegangi kepalanya yang mulai terasa berdenyut.
Ingatan tentang dirinya yang jatuh terpeleset kesungai kembali hadir. Namun selanjutnya dia tidak dapat mengingat apa – apa lagi, seberapa kerasnya dia berusaha untuk mengingat hingga kepalanya terasa semakin berdenyut.
Edward yang melihat gadisnya kesakitan segera memeluknya dengan erat. Mencoba untuk menenangkan dan meringankan rasa sakit yang ada.
Perlahan rasa sakit yang tadi melanda berangsur – angsur mulai hilang seiring pelukan yang diberikan lelaki asing itu kepadanya.
__ADS_1
Setelah tenang, Isabella segera melepaskan pelukan laki – laki tersebut dan mulai mengamati. Isabella yang marasa bahwa lelaki yang ada dihadapannya itu tak membahayakannya segera menurunkan kewaspadaan dirinya.
“ Aku Isabella…kamu ?...”, Isabellapun mulai memperkenalkan dirinya.
“ Edward…salam kenal gadis cantik…”, ucap Edward ramah.
“ Apa kamu yang menolongku ?...dan dimana aku sekarang ? apa ini rumahmu ?...”, tanya Isabella penasaran.
“ Kamu berada di dalam istanaku sekarang, kerajaan Eternita…”, ucap Edward sambil menjabat tangan munggil Isabella dengan erat.
“ Aku melihatmu pingsan…jadi aku bawa kesini….”, ucap Edward sambil tersenyum lebar.
Edward tak sepenuhnya berbohong, karena setelah melihat gadisnya pingsan karena terlalu bernafsunya dia menghisap darah gadis itu dengan panik dia langsung berteleportasi kedalam istananya.
Meskipun Isabella kehilangan banyak darah akibat dia hisap, namun entah kenapa dokter istana mengatakan jika gadis tersebut pingsan karena syok.
Bukan karena kehabisan darah seperti manusia pada umunya yang dia hisap darahnya untuk kelangsungan hidupnya.
Tidak ingin mengambil resiko, Edwardpun segera menghapus ingatan Isabella. Namun kekuatan Edward hanya mampu menghapus ingatan Isabella di dunia imoortal, bukan ingatannya selam berada didunia modern.
Untuk kejadian selanjutnya yang tenggelam di danau kematian, bertemu keluarganya dan juga tentang Scoth, para warewolf dan lain – lain, Isabella tidak bisa mengingatnya.
Sementara itu, Vladimir dan Salvator saat ini sudah berada didalam ruang penyiksaan tanpa tahu apa kesalahan yang mereka perbuat.
Berapa kali alpha Scoth bertanya kepada keduanya, namun mereka seakan tutup mulut tak memberikan informasi apapun yang dibutuhkannya.
Setelah melihat keduanya kembali pingsan, Scothpun segera membuang cambuknya dan melesat keluar ruang penyiksaan.
“ Pastikan mereka berbicara…jangan bunuh sebelum mendapatkan informasi apapun…”, ucap Scoth tajam.
Masih belum puas menyiksa dua tahanannya, Scoth langsung berganti wujud dengan wolfnya untuk menghajar para rogue yang berani menerobos wilayah kekuasaannya.
Para warrior bergidik ngeri waktu melihat alpha mereka mencabik – cabik tubuh para rogue dengan sadis hingga hancur.
Scoth benar – benar melampiaskan amarahnya karena kehilangan sang mate.
__ADS_1
Sementara itu, Anggelo dan John masih berada di ruang perawatan akibat pukulan yang dilayangkan sang alpha kepada keduanya karena lalai menjaga luna mereka sehingga hilang.
Dan sampai sekarang keberadaan Lunanya itu masih belum diketemukan, meski Scoth sudah menyebar para wariornya didunia manusia.
Elana dan Otsana yang melihat Scoth berjalan lunglai dengan darah yang mengering di telapak tangannya tak bisa berbuat banyak.
Mereka harus kembali menunggu alpha mereka kembali tenang. Otsana yang melihat jika Elena sangat merasa bersalah berusaha untuk membesarkan hatinya.
Otsana sama sekali tak menyangka jika bangsa vampire lebih dulu tahu mengenai keberadaan sang terpilih.
Dirinya saja baru tahu setelah Lupe memberinya sample darah Isabella. Jika tidak, bisa dipastikan hingga detik ini dia juga tidak mengetahui dimana keberadaan holy blood girl setelah fenomena aneh malam tersebut.
Scoth mengurung diri didalam kamarnya seharian. Bayang – bayang Isabella terus hadir dalam benaknya membuat hatinya terasa sangat sakit.
Diapun meraba lehernya, itu adalah pertanda terakhir yang diberikan matenya sebelum hilang dari jangkauannya.
Scoth terus saja meruntuki kebodohannya yang tak kuasa mencegah kepergian sang mate bersama ibundanya tadi untuk datag kedunia manusia.
Seharusnya dia terus menahan gadis itu agar selalu berada dalam packnya. Hanya disinilah tempat teraman bagi gadis itu, yaitu disamping dirinya.
Sementara itu, Isabella yang sudah mengetahui jika Edward adalah seorang vampire pada awalnya terlihat sedikit syok.
Namun, melihat jika lelaki itu tidak menyakitinya dan memperlakukannya dengan baik diapun mulai merasa tenang.
“ Bagaimana kamu yakin jika aku adalah pasanganmu ?...”, tanya Isabella tajam.
“ Aroma darahmu…”, ucap Edward santai.
Melihat gadisnya memberikan ekspresi binggung, Edward yang merasa gemas segera mengacak – acak rambut Isabella yang panjang hingga membuat gadis itu cemberut karena kesal.
“ Aroma darahmu berbeda dari manusia pada umunya. Ini seperti, darahmu adalah merk tersendiri bagiku….” , ucap Edward berusaha menjelaskan.
“ Jadi maksudmu, tapi orang memilih pasangan berdasarkan aroma darah sesuai selera mereka masing – masing….”, Isabella berkata sambil menautkan alisnya cukup dalam.
“ Betul sekali sayang…jadi, jika bagiku darahmu sungguh harum dan menggoda namun hal itu tidak berlaku bagi vampire yang lainnya…”, ucap Edward kembali menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Isabella pun terlihat menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai respon dia telah paham penjelasan yang diucapkan oleh Edward.