
Pagi harinya, Scoth mendapatkan laporan dari Morgan jika mereka tak mendapatkan petunjuk apapun tentang penyusup yang masuk kedalam wilayah mereka.
Dan tanda – tanda keberadaan dua vampire yang melarikan diri juga sama sekali tak terlihat. Hal itu tentu saja membuat Scoth semakin waspada.
“ Tingkatkan terus penjagaan dan jangan sampai lengah….”, perintah Scoth tegas
Morganpun mengangguk dan mulai menjalankan perintah tersebut. Sejak peristiwa penculikan terhadap luna mereka, Scoth semakin memperketat penjagaan terutama disekitar istana.
Dia sama sekali tak mengijinkan Isabella untuk keluar dari kawasan sejengkalpun dan harus berada dalam pantauannya.
Kali ini tetua Otsana tak lagi mengajak Isabella untuk latihan fisik dan memilih untuk melatih tenaga dalam gadis tersebut.
Mengingat dalam pelatihan kemarin, meski sudah dibuat pagar pelindung disekeliling area tempat pelatihan.
Namun kenyataannya tenaga yang dikeluarkan oleh Isabella masih cukup besar hingga membuat lapisan pelindung robek dan menarik perhatian bangsa immortal lainnya.
Setelah setengah hari berlatih tenaga dalam, Isabella yang baru saja menyelesaikan makan siangnya kembali berlatih di ruang tertutup bersama tetua Otsana untuk mencoba kemampuannya yang lain.
“ Bagaimana kalau kita mencoba telepotrtasi?....”, ucap Otsana menawarkan.
Meskipun Isabella terlihat tak yakin, tapi dia akhirnya membuat keputusan untuk mencobanya.
Setidaknya, jika dia bisa menguasai kekuatan teleportasi tersebut, dia akan mudah untuk melarikan diri dalam kondisi terdesak.
Isabella terlihat berkonsentrasi penuh untuk melakukan teleportasi sesuai dengan arahan yang diberikan oleh tetua Otsana kepadanya.
Clingggg….
Isabella hanya berpindah beberapa kaki dari tempatnya berdiri tadi. Namun tetua Otsana segera memberinya semangat waktu melihat raut kecewa diwajahnya.
Beberapakali Isabella mencoba, hasilnya masih sama. Dia hanya berpindah – pindah dalam ruangan tersebut tanpa ada kemajuan yang berarti.
“ Bagaimana jika kita istirahat sebentar….”, ucap Isabella dengan nafas tersenggal – senggal.
Dia sama sekali tak menyangka jika melakukan teleportasi akan membuatnya kelelahan dan kehabisan tenaga seperti itu.
Tetua Otsana yang melihat hal tersebut hanya bisa terkekeh dan duduk disamping Isabella sambil memberikan sepotong kue yang disimpan dibalik saku bajunya.
“ Habiskan biar tenagamu segera pulih kembali….”, ucap tetua Otsana sambil tersenyum.
Isabella yang perutnya segera berbunyi langsung menyantap habis kue yang ada ditangannya dengan gembira.
Seumur hidup Isabella baru merasakan kue selezat ini dan yang paling penting sangat mengenyangkan dan bisa membuat pulih tenaganya dalam waktu singkat.
__ADS_1
“ Kurasa ini bukan kue biasa….”, batin Isabella penuh makna.
Dunia yang ditinggalinya saja sudah sangat amazing banget baginya. Yang pada awalnya Isabella merasa tak mungkin dunia mistis seperti ini ada.
Tapi waktu menyadari jika dirinya memiliki kemampuan yang tak lazim dimiliki oleh manusia normal pada umumnya, Isabella sempat syok dan tak mempercayai hal tersebut hingga nenek Vely perlahan mulai menyadarkannya jika kekuatan yang dimiliki adalah turun temurun dalam keluarganya.
Dan sekarang dia terdampar di dunia immortal yang selama ini hanya ada dalam dongeng membuatnya tak lagi terkejut jika makanan, minuman dan segala sesuatu di tempat ini tak biasa dan tak senormal manusia pada umumnya.
“ Jika tenagamu sudah pulih, ayo kita latihan lagi….”, ucap tetua Otsana sambil menepuk bahu Isabella pelan.
Kesadaran Isabella pun langsung kembali begitu ada tangan menyentuh pundaknya. Setelah meminum seteguk air dari dalam botolnya, diapun kembali berlatih.
Kali ini Isabella terlihat mulai berkonsentrasi penuh dan membayangkan tempat yang ingin ditujunya. Dan tiba – tiba saja tubuhnya menghilang dan langsung muncul didapur.
Krompyanggg…..
“ Maaf Luna, saya tidak tahu jika anda ada dibelakang saya….”, ucap salah satu omega yang ada didapur dengan tubuh bergetar.
“ Tidak apa…akulah yang seharusnya minta maaf karena telah membuatmu terkejut….”, ucap Isabella sambil berlutut dan mengambilkan baskom kosong yang tadi sempat dijatuhkan oleh omega yang ada dihadapannya tersebut.
Mendengar Lunanya meminta maaf, wajah omega tersebut semakin pucat pasi. Dia pasti akan dihukum berat jika samapi Alpha Scoth mendengarnya.
Setelah memberikan baskom aluminium tersebut, Isabella pun berjalan meninggalkan dapur menuju meja makan.
“ Ti…tidak tahu. Luna hanya tersenyum dan langsung pergi….”, ucap omega tersebut masih dengan tubuh bergetar ketakutan waktu melihat tiba – tiba saja Isabella sudah hilang dari hadapannya.
Gadis muda tersebut hampir saja pingsan jika tidak ada satu pelayan yang ada disampingnya dan langsung memegangi tubuhnya.
“ Kenapa Luna bisa menghilang seperti itu ?...itu bukan setan kan ?...”, batin omega tersebut ketakutan.
Isabella yang baru saja kembali kedalam ruang latihan merasa sangat bersalah terhadap omega yang terlihat ketakutan tadi.
Tapi dia juga tidak bisa berlama – lama didapur karena nantinya akan membuat tetua Otsana khawatir kepadanya.
Padahal tadi Isabella berniat teleportasi kedalam kamarnya, tapi waktu mencium aroma lezat dari arah dapur tiba – tiba saja dia kepikiran untuk menuju kesana.
Tetua Otsana tersenyum sangat puas waktu mengetahui jika Isabella sudah berhasil teleportasi kedapur istana.
Meski belum terlalu jauh, tapi itu adalah perkembangan yang cukup bagus bagi gadis tersebut saat ini. Setidaknya dia sudah bisa memfokuskan pikirannya untuk berpindah tempat.
Tapi karena menguras tenaga cukup banyak, maka dia harus meningkatkan kembali daya tahan tubuhnya agar bisa berteleportasi lebih jauh lagi dari sekarang.
“ Saya rasa, latihan untuk hari ini sudah cukup. Kita bertemu lagi besok pagi….”, ucap tetua Otsana sebelum meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Isabella yang ingin memberikan kejutan kepada Scoth segera menutup mata dan fokus pada ruangan yang ingin dia tuju.
Clinggg....Brukk....
Isabella mendarat sempurna dipangkuan Scoth.
Scoth yang sedang rapat diruang kerjanya sangat terkejut ketika Isabella tiba – tiba muncul dipangkuannya.
Bukan hanya Scoth, semua orang yang ada dalam ruangan tersebut sama terkejutnya dengan sang Alpha hingga mereka semua membulatkan kedua mata dengan mulut setengah terbuka.
Isabella yang malu karena datang disaat tidak tepat segera menelusupkan wajahnya didada bidang Scoth, tak berani menatap semua orang yang saat ini sedang menatap kepadanya.
“ Rapat untuk hari ini kita akhiri disini. Apa yang sudah kita diskusikan bersama, segera jalankan….”, ucap Scoth dengan nada datar.
Semua orang segera pergi karena tahu pasti sang Alpha ingin menghabiskan waktu bersama Lunanya.
Meski mereka masih penasaran tentang bagaimana Isabella bisa muncul secara tiba - tiba dipangkuan sang Alpha, tapi pertanyaan tersebut mereka buang jauh - jauh dan fokus pada tugas masing – masing yang baru saja mereka terima.
Isabella masih tetap menyembunyikan wajahnya di dada bidang Scoth. Dia takut kena amarah lelaki tersebut karena muncul disaat yang salah.
“ Apa kamu tak ingin melihatku ?....”, tanya Scoth sambil mengelus kepala Isabella dengan lembut.
“ Maaf….aku tidak tahu jika kamu sedang rapat. Aku hanya ingin mengejutkanmu….”, cicit Isabella dengan wajah bersalah.
“ Aku justru senang kamu membuat kejutan seperti ini untukku….”, ucap Scoth sambil mengusap pipi Isabella dengan lembut.
Melihat Scoth tak marah, Isabella segera mengecup satu pipi matenya tersebut sambil berkata “ Terimakasih….”.
Tubuh Scot langsung membeku seketika. Bahkan Melvin sudah berteriak kegirangan karena sama sekali tak menyangka jika Isabella akan mencium pipinya.
Ciuman pertama dari Isabella untuknya, meski Scoth sering menciumi Isabella saat gadis itu sedang tertidur.
Tapi hal itu tak masuk hitungan karena semua dilakukan tanpa ada persetujuan dari kedua belah pihak.
Scoth ingin sekali berteriak keras karena bahagia, tapi dia masih memiliki harga diri dan tentunya Isabella akan menganggapnya orang aneh jika dia nekat melakukan hal tersebut.
Melihat Scoth terdiam dengan wajah tegang membuat nyali Isabella langsung menciut. Diapun menatap nanar kepada Scot sambil berkata “ Apa kamu masih marah…”.
“ Kenapa kamu diam saja dan menatapku seperti itu ?....”, tanya Isabella dengan kedua mata berkaca – kaca.
Melihat gadis kecilnya hendak menangis, Scoth pun langsung menangkup wajah munggil yang ada dihadapannya itu dengan kedua tangan kekarnya.
“ Hey…aku sama sekali tidak marah. Aku hanya sedikit terkejut tadi karena kamu tiba – tiba menciumku….”, ucap Scoth jujur.
__ADS_1
Meski agak sedikit binggung dengan ucapan Scoth, tapi Isabella cukup senang karena lelaki tersebut tak marah karena perbuatannya.