HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
MALU


__ADS_3

Saat semua orang mengerubungi Isabella, Scoth hanya terdiam membeku di tempatnya sambil menatap tajam kedepan.


Scoth hanya bisa mencium aroma vanilla musk white yang terpancar dari tubuh  Isabella tanpa bisa merengkuhnya.


Dia masih tak percaya gadis kecilnya tumbuh menjadi gadis muda belia hanya dalam waktu sekejap mata. Scoth tak tahu harus bahagia atau sedih akan hal tersebut.


“ Kenapa kamu diam saja, cepat datangi mate kita….”, ucap Melvin tak sabar.


Carmin yang melihat kakaknya berdiri mematung ditempatnya timbul niatan untuk menjailinya. Diapun segera mendekat kepada Isabella dan berbisik sambil terkikik.


Scoth langsung melayangkan tatapan membunuh yang dibalas dengan cibiran dari sang adik. Melihat amarah diwajah sang kakak, Carmin langsung berlari kebelakang tubuh suaminya untuk bersembunyi.


Bangsa warewolf memiliki indera penciuman dan pendengaran yang tajam. Meski Carmin berbisik dengan suara yang sangat lirih, Scoth masih bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan sang adik kepada matenya.


Dari balik tubuh suaminya, terlihat beberapakali Carmin menjulurkan lidah dengan senyum mengejek, membuat kedua mata Scoth hampir keluar karena kesal.


Melihat jika tak lama lagi pertengkaran dua saudara tersebut akan segera meledak, Atares pun segera mengajak istrinya untuk keluar ruangan.


“ Sebaiknya kita memberi ruangan buat kakak ipar untuk melepas rindu dengan kekasihnya….”, ucap Atares menggoda.


Semua orang pun terlihat meninggalkan dua sejoli tersebut sendirian sambil terkekeh. Wajah Scoth berubah menjadi merah padam begitu Isabella berjalan menuju kearahnya sambil tersenyum manis.


“ Jika bukan adikku…sudah kucincang habis tubuhnya !!!....”, guman Scoth geram waktu kembali melihat adiknya masih menjulurkan lidah mengejek kepadanya.


Isabella yang melihat Scoth tak menatapnya terlihat sedikit sedih. Padahal tadi dia pikir laki – laki tersebut akan langsung menghampiri dan memeluknya seperti biasanya.


“ Kenapa diam saja ?...apa kamu tak merindukanku ?....”, ucap Isabella dengan nada sedikit kecewa.


Kesadaran Scoth langsung kembali begitu suara merdu Isabella mendobrak masuk kedalam gendang telinganya.


“ Ten…tentu saja aku sangat merindukanmu sayang….”, ucap Scoth terbata.


Melihat ucapan Scoth yang tak setulus hati, Isabella merasa sangat kecewa. Dia sedikit menghindar waktu kekasihnya itu hendak memeluk tubuhnya.


Tanpa menghiraukan jejak keterkejutan diwajah Scoth, Isabella segera berlalu dari ruangan menuju kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Dia tak tahu kenapa dirinya menjadi sensitive seperti ini setelah dia berubah wujud menjadi gadis muda belia yang beranjak dewasa.


“ Apa ini karena adanya perubahan hormon dalam tubuhku sehingga aku menjadi sensitive seperti ini ?....”, batin Isabella penuh tanda tanya.


Tak ingin memikirkan semuanya terlalu dalam, Isabella yang benar – benar merindukan kasurnya yang empuk dan lembut melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera sampai kedalam kamar.


Dibelakang, Scoth mengikuti kemana langkah Isabella pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun hingga tubuh gadis tersebut menghilang dibalik pintu.


“ Apa yang kau lakukan ?...cepat masuk !!!....”, ucap Melvin menggerutu.

__ADS_1


Sejak Isabella menghindar untuk dipeluk oleh Scoth, Melvin terus saja mengoceh dan memarahinya tanpa henti.


Wolfnya  mengatakan Isabella berbuat seperti itu karena kecewa terhadapnya yang tak segera menghampiri begitu gadis tersebut datang.


“ Aku akan masuk !!!...Tenanglah !!!....”, Geram Scoth dengan suara rendah waktu Melvin berupaya untuk mengambil alih tubuhnya.


Begitu Scoth memutar kenop pintu kamar, Melvin mulai tenang dan tak berisik lagi.


Diedarkannya padangan matanya menyapu seluruh ruangan, namun sosok Isabella tak juga dia dapatkan hingga suara gemericik air didalam kamar mandi membuatnya tenang.


Sambil menunggu gadisnya mandi, Scoth duduk dengan manis diatas sofa yang menghadap kearah jendela kamar.


Isabella yang tak menyadari jika ada seseorang didalam kamarnya. Diapun keluar dari kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk kecil yang hanya mampu menutupi sebagian dadad dan pahanya.


Dia masih belum menganti handuk yang ada didalam kamar mandi karena pertumbuhan tubuhnya yang cukup pesat dalam waktu singkat hingga handuk tersebut terasa kekecilan untuk tubuhnya.


Scoth terlihat sedikit kesulitan menelan ludah melihat lekuk indah tubuh Isabella yang terbalut handuk mandi tersebut.


Fantasinya sudah kemana – mana, bahkan Melvin terus berteriak kegirangan melihat pemandangan yang sangat indah tersebut.


Isabella yang merasa jika ada sosok yang sedari tadi mengawasinya segera berbalik dan langsung berteriak begitu dia melihat Scoth duduk manis sambil menatapnya dengan tajam.


Karena terkejut, handuk Isabella terjatuh dan tubuh polosnya hampir saja membuat Scoth gelap mata dan menerkamnya.


Untung saja dia memiliki pengendalian diri yang kuat hingga masih bisa menahan hasrat dalam dirinya yang sudah merontah – ronta ingin keluar.


Begitu Scoth menutup mata, Isabellapun segera menyambar handuk yang terjatuh dilantai dan segera berlari masuk kedalam kamar mandi lagi.


Brakkkk….


Pintu kamar mandi di tutup dengan keras, membuat Scoth langsung membuka mata dan menghirup nafas sebanyak – banyaknya.


Tadi waktu tubuh polos Isabella terekspos, Scoth berusaha menahan nafasnya agar aroma tubuh matenya tak semakin membuatnya gila dan kehilangana akal sehat.


“ Sial !!!...kenapa tubuhnya bisa sesempurna itu !!!....”, maki Scoth dalam hati.


Sementara itu, didalam kamar mandi Isabella terus saja meruntuki kebodohannya bagaimana bisa handuknya lepas begitu saja.


“ Ohhh….”


“ Aku harus bagaimana sekarang ?...”


“ Dia pasti sudah melihat semuanya….”


“ Ahhh !!!!....”

__ADS_1


“ Bodoh…bodoh kamu Isabel….”


Dibalik pintu kamar mandi Isabella terus saja meracau tak karuan sambil membenamkan wajahnya diantara kedua kakinya.


Dia merasa sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Scoth. Bayangan kekasihnya itu menatapnya lapar masih tergambar jelas diingatannya.


Scoth terlihat sangat cemas waktu Isabella tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi. Di terlihat beberapa kali menatap pintu bercat putih tersebut, berharap gadisnya keluar dari sana.


Setelah menatap satu stel pakaian yang dibawa oleh pelayan dan diletakkan diatas ranjang, diapun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tok tok tok….


Scoth tampak mengetuk pintu beberapa kali dengan hati cemas. Sampai akhirnya pada ketukan kelima, namu masih tetap tak ada respon.


Dalam hati Scoth bertekad jika kali ini tak ada respon maka dia akan langsung mendobrak pintu tersebut. Baru saja dia melakukan ancang – ancang tiba – tiba pintu kamar mandi terbuka sedikit.


“ Bajumu sudah disiapkan diatas ranjang. Jika ada kesulitan, kamu bisa memanggilku. Aku ada diluar kamar….”, ucap Scoth sebelum berlalu keluar dari dalam kamar Isabella.


Begitu mendengar suara pintu ditutup dari luar, Isabella segera keluar dari dalam mandi dan langsung memakai pakaian yang telah disiapkan untuknya.


“ Bagaimana ini…aku masih belum sanggup untuk bertemu dengannya….”, guman Isabella panik.


Dia terlihat mengingit bibir bawahnya sambil berjalan mondar – mandir didalam kamar dengan resah.


Scoth yang masih berada di depan kamar Isabella hanya tersenyum geli mendengar gumanan yang dikeluarkan oleh matenya tersebut.


“ Cepat masuk dan tenangkan dia !!!....”, teriak Melvin berang.


“ Iya…iya…aku akan masuk sekarang. Dasar bawel…”, ucap Scoth menggerutu.


Tubuh Isabella langsung membeku begitu melihat Scoth masuk dan menatap wajahnya dengan hangat.


Scoth langsung menarik tangan Isabella dan langsung memeluknya dengan erat begitu gadis tersebut hendak pergi.


“ Tetaplah disini…aku sangat merindukanmu….”, ucap Scoth dengan suara parau.


Kepala Scoth langsung menelusup keceruk leher sang kekasih dan menghirup aroma tubuh Isabella dengan rakusnya.


Aroma vanilla white musk yang memabukkan dan membuatnya hampir gila dibuatnya dalam waktu seminggu ini.


“ Apakah sekarang aku sudah bisa menandaimu ?....”, ucap Scoth dengan suara rendah dan bergetar.


Mendengar ucapan Scoth, alarm dalam tubuh Isabella langsung berbunyi dan tubuhnya berubah menjadi kaku.


“ Ak…aku rasa kita masih harus menunggu beberapa saat lagi…”, ucap Isabella gugup.

__ADS_1


Diapun segera menarik tubuhnya dari dekapan Scoth, tapi kekasihnya tersebut kembali memeluk tubuh Isabella dengan possesif.


Tak ingin gadisnya kembali menghindar\, Scothpun langsung m*****t habis bibir munggil Isabella dengan rakus\, seolah tak ada waktu esok hari.


__ADS_2