HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
JANJI BERTEMU


__ADS_3

Meski sudah seharian menghabiskan waktu bersama melepas rindu, nyata hal itu masih belum cukup.


Pagi ini, Scoth masih terus saja menempel ke Isabella seperti enggan untuk melepaskan kekasihnya itu kembali ke kerajaan Epes.


“ Sayang….apa kamu tak bisa tinggal disini beberapa hari lagi?....”, Scoth masih terus saja merajuk tak ingin di tinggal.


Isabella sudah kesekian kalinya membujuk kekasihnya itu agar melepaskannya, tapi Scoth sama sekali tak menghiraukan dan semakin mempererat pelukannya ke tubuh sang kekasih.


“ Sayang…aku harus kembali sekarang sebelum tetua Otsana mengetahui jika aku kabur kesini menemuimu….”, ucap Isabella sambil mengangkat wajah Scoth agar menghadap kearahnya.


“ Kamu ingin tetua Otsana menghukumku dan melarangku bertemu denganmu !!!...hmmmm….”, ucap  Isabella tajam.


Dengan berat hati, Scothpun segera melepaskan tubuh kekasihnya itu dan membiarkan Isabella pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum kembali.


“ Jika tak menghormati mendiang ayah, sudah aku tendang sejak dulu pak tua itu dari sini !!!....”, guman Scoth dengan muka ditekuk.


Begitu suara gemericik angin mulai terdengar, Scoth segera pergi kebawah untuk mengambilkan sarapan pagi buat kekasihnya itu.


Begitu dia naik, Isabella sudah berpakaian rapi dan siap untuk kembali ke kerajaan Epes meneruskan pelatihannya.


“ Sarapan dulu sebelum pergi agar perutmu tidak kosong…”, ucap Scoth langsung meletakkan nampan diatas meja.


Melihat Isabella masih belum juga menyentuh makanannnya, Scoth pun segera mengambil piring yang ada diatas nampan dan mulai menyuapi kekasihnya itu.


“ Aku bisa sendiri sayang….”, ucap Isabella menolak.


Namun Scoth mengacuhkan ucapan kekasihnya dan sudah memotongkan daging panggang yang ada dipiring Isabella dan mulai menyuapinya.


“ Ayo, buka mulutmu…”, ucap Scoth sambil menyodorkan satu irisan daging panggang ke mulut Isabella.


Melihat Isabella makan dengan lahap, Scoth pun tersenyum lebar. Dia begitu menikmati moment kebersamaan pagi ini sebelum keduanya kembali berpisah untuk jangka waktu yang cukup lama.


Keduanya pun menikmati makan pagi ini sambil bercengkerama hangat dan sekali – kali tertawa jika ada moment yang lucu.


“ Kapan kamu akan berkelana mencari god light sword ?....”, tanya Scoth serius.


“ Setelah kekuatanku sempurna, dan sepertinya itu tak lama lagi. Kata tetua Otsana aku tinggal menyelesaikan dua level terakhir ini….”, ucap Isabella dengan mulut penuh makanan.

__ADS_1


“ Apa aku tak bisa menemanimu menjalankan misi itu ?....”, Scoth bertanya dengan raut wajah sedih.


“ Tidak….semua ini harus aku jalani sendiri karena itu sudah peraturannya….”, ucap Isabella sambil mengusap pipi kekasihnya dengan lembut.


Melihat kekasihnya masih cemas, Isabellapun langsung mengenggam kedua tangan kekasihnya itu dengan erat, mencoba untuk menenangkan hati Scoth.


“ Kamu tenang saja, dengan kekuatanku sekarang. Aku bisa menjaga diriku sendiri dengan baik….”, Isabella sambil menatap hangat sang kekasih.


Berusaha untuk menyalurkan seluruh perasaan yang ada dalam dirinya kepada sang kekasih. Mendengar hal itu, Scoth hanya bisa mendesah kasar.


Bagaimanapun juga dia sebenarnya sangat tahu jika  misi tersebut  memang harus dijalankan oleh Isabella sendiri.


Seandainya dia memaksa untuk ikut, pasti di tengah perjalanan dia akan terpisah juga dengan sang kekasih karena hanya sang terpilih saja yang bisa memasuki kawasan tersebut seorang diri.


Setelah Isabella menghabiskan makanannya, Scoth beranjak dari tempat duduknya dan mulai membuka laci yang ada dalam almari pakaiannya.


“ Karena aku tak bisa menandaimu sekarang, maka kamu bisa memakai ini untuk mewakiliku….”, ucap Scoth sambil mengalungkan batu safir merah dileher Isabella.


Batu safir merah berbentuk hati yang dikelilingi berlian kecil tersebut tampak indah dipandang mata.


“ Cantik…..”, ucap Isabella sambil tersenyum.


“ Sangat cantik….”, ucap Scoth sambil mengecup pipi Isabella dan memeluknya dengan erat dari belakang.


“ Anggap saja kalung ini mewakili kehadiranku disisimu…”, ucap Scoth dengan tatapan penuh cinta.


Keduanya segera berciuman dengan mesra sebelum Isabella akhirnya menghilang dan kembali ke kekerajaan Epes.


Sementara itu, di depan gerbang Dark Land, Belatrix terlihat cemas karena mulai pagi hingga menjelang siang dia masih belum bisa berkomunikasi dengan Alatariel.


Beberapa kali dia melihat air yang ada didalam kuali yang ada dihadapannya itu. Namun, sosok yang ditunggunya tak kunjung juga muncul.


Bisanya, setelah merapalkan mantra kedalam air sosok yang dicarinya itu akan segera muncul dipermukaan.


Tapi sekarang, bukan hanya tak muncul. Bahkan tanda – tanda kehadirannya saja tak terasa. Belatrix mulai cemas jika komunikasinya lewat air ini ada yang mengetahui dan memblokirnya.


“ Apa mungkin jaraknya yang terlalu jauh sehingga komunikasimu terputus ?...”, ucap Emerlda berpendapat.

__ADS_1


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Belatrix pun mencoba untuk berjalan mendekat kearah gerbang kota Dark Land.


Saat berada didepan pohon besar yang kemarin mereka tempati sebelum para tikus hutan menyerang.


Belatrix memutuskan untuk naik keatas pohon dan meletakkan kuali miliknya diantara cabang pohon yang terlihat besar dan kuat.


Diapun segera memasukkan air kedalam kuali dan mulai berkomat – kamit untuk merapalkan mantra.


“ Berhasil….”, batin Belatrix senang.


Alatariel yang hendak minum segera menghentikan kegiatannya waktu dia melihat wajah Belatrix ada disana.


Setelah menoleh kekanan dan kekiri, memastikan kondisi aman Alatariel pun segera berbicara dengan Belatrix.


“ Dua hari lagi, carnaby street 37A jam tujuh malam….”, ucap Alatariel singkat.


Selanjutnya diapun segera meneguk habis isi air dalam gelasnya dan segera berlalu. Geraldin yang tak sengaja mendengar Alatariel mengucapkan alamat tempat misi yang akan dikerjakannya dua hari lagi kepada orang lain sedikit menautkan kedua alisnya merasa curiga.


“ Sepertinya, ada yang tidak beres….”, ucap Geraldin dan langsung meninggalkan rumah menuju tempat dimana suaminya berada.


Geraldin ingin membahas hal ini dengan suaminya terlebih dahulu. Dia sangat khawatir jika tindakan yang dilakukan oleh Alatariel akan membuat Spataur marah.


Amires yang sudah mengetahui jika para penyihir hitam sedang mencari keturunan Gullveig untuk membalaskan dendam setelah dipermalukan di kerajaan Epes beberap saat yang lalu.


Waktu menjalankan misi di dunia manusia itu juga Emires mendapatkan informasi jika bunga Gloxinia yang hilang ribuan tahun yang lalu muncul kembali di kerajaan Elf Cahaya.


Tentu saja keberadaan bunga Gloxinia ini akan mengancam eksistensi dari para penyihir hitam di dunia immortal.


Untuk itu Emires sangat yakin jika mereka akan terus berupaya untuk mempengaruhi Alatariel sebagai satu – satunya pewaris kekuatan milik Gullveig untuk kembali ke kerajaan Azerbazam.


“ Kamu tenang saja. Aku akan mengikutinya menjalankan misi di dunia manusia. Aku tak ingin seluruh keluarga besar kita mendapatkan imbas dari tindakan implusif yang diambil oleh  Alatariel ….”, ucap Amires tajam.


Geraldin terlihat bernafas lega waktu mengetahui jika suaminya sudah memiliki inisiatif kearah sana.


Sementara itu, setelah mendapatkan pesan singkat dari Alatariel Belatrix dan dua orang temannya bergegas pergi meninggalkan Dark Land untuk kembali ke kerajaan Azerbazam guna melaporkan semuanya.


Dua hari adalah waktu yang singkat baginya, untuk itu dia tak boleh membuang – buang waktu lagi dan menyiapkan semuanya agar semual hal bisa berjalan dengan lancar.

__ADS_1


__ADS_2