HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
BELAJAR SIHIR


__ADS_3

Tak terasa matahari sudah muncul kembali, namun tubuh Isabella sama sekali tak menunjukkan perubahan yang berarti.


Namun, Scoth masih setia memeluk tubuh sang kekasih yang masih dingin tersebut sambil sesekali mengecup pucuk kepala Isabella dengan lembut.


“ Sayang…kenapa kamu masih belum bangun juga ?....apa kamu tidak merindukanku ?....”, Scoth berkata sambil beruarai air mata.


Disela isak tangisnya yang tertahan, Scoth merasakan aroma tubuh sang mate semakin tajam dan telapak tangannya yang membelai kepala Isabella berubah warna menjadi merah.


“ Darah !!!....”, guman Scoth terkejut.


Untuk memastikannya, diapun segera melihat kepala Isabella bagian belakang yang penuh dengan darah hingga membuat rambutnya lepek dan mengumpal.


Tetua Otsana yang baru saja di mindlink oleh sang Alpha segera menuju kamar Isabella bersama Tiffany dengan wajah panik.


Tiffany yang melihat leher dan gaun bagian atas Isabella penuh dengan noda darah segera memeriksa kondisi gadis itu.


Semua orang melihat Tiffany menggunakan kekuatannya untuk menutup luka yang ada dikepala Isabella bagian belakang hingga tak berbekas.


Setelah mengobati Isabella, Tiffany terlihat terdiam cukup lama sambil sesekali menghembuskan nafas secara kasar.


Hal tersebut tentunya membuat semua orang yang berada dikamar Isabella mulai bertanya – tanya “ Apa kondisi Isabella seburuk itu?….”.


Sebelum ada yang bersuara, Tiffany yang baru saja mendapatkan penglihatan segera menjelaskansemuanya kepada semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.


“ Dia sedang menjalankan misi saat ini. Jadi aku harap, kamu tetap menjaga kondisi tubuhnya agar tetap hangat….”, ucap Tiffany sambil menatap Scoth sedih.


Jderrrr.....


Scoth merasa ada petir yang menyambarnya pagi ini. Dengan perasaan berkecamuk, diapun memberanikan diri untuk bertanya kepada Tiffany mengenai hal buruk yang saat ini memenuhi pikirannya.


“ Jangan bilang jika jiwa Isabella tidak berada disini sekarang ?....”, tanya Scoth syok.


“ Benar, jiwanya sedang berkelana saat ini. Dan kondisinya yang sekarang sangat rentan jika tidak dijaga dengan baik. Sekecil apapun perubahan yang ada di tubuhnya, segera beritahu aku, agar aku bisa mengobatinya dengan segera. Itu akan sangat membantu perjalanan perjalanan panjangnya menjalankan misi disana….”, ucap Tiffany menjelaskan.


Meski Scoth sudah bisa memprediksi jawaban yang akan diberikan oleh Tiffany, namun nyatanya hati dan tubuhnya masih belum siap menerima fakta tersebut.


Melihat Scoth langsung terduduk lunglai, Tiffany pun berjalan menghampiri kekasih Isabella tersebut dan memberikan semua hal yang harus dia lakukan selama menjaga tubuh kekasihnya itu sampai jiwanya kembali.


Setelah mendengar semua penuturan Tiffany, Scothpun segera memerintahkan tetua Otsana agar memberikan pelindung ektra dikamar Isabella.


Hal ini dilakukan sebagai antisipasi ada pihak jahat yang ingin menghancurkan tubuh Isabella sebelum jiwanya kembali menyatu.


Sementara itu, Isabella yang baru saja terhantam dengan kuat ke sebuah pohon perlahan mulai sadarkan diri.

__ADS_1


Dia berjalan sempoyongan untuk kembali kedalam gua tempat dimana Sweetie berada sambil memegangi bagian belakang kepalanya yang terasa sangat sakit.


Sweetie yang baru saja bangun terlihat terkejut waktu Isabella datang dengan baju penuh dengan noda darah.


Bahkan dileher gadis tersebut juga ada bekas darah yang terlihat sudah mengering, menandakan jika darah tersebut sudah lama menetes disana.


“ Kamu kenapa ?....”, tanya Sweetie khawatir.


Diapun segera mengecek kepala Isabella yang penuh dengan darah. Namun anehnya, dia sama sekali tak mendapati ada luka di kepala gadis tersebut.


“ Kenapa banyak darah dikepalamu namun aku sama sekali tak menemukan ada luka disana ?....”, tanya Sweetie penasaran.


Tanpa diminta, Sweetie yang sudah naik diatas bahu Isabella terlihat  berusaha untuk membersihkan darah yang membuat rambut Isabella mengumpal dengan salju yang berhasil dikumpulkannya.


“ Entahlah…yang aku ingat. Saat hendak mendekati sumber cahaya, tiba – tiba saja tubuhku terpental jauh dan menabrak pohon. Selanjutnya, aku tak ingat lagi apa yang sebenarnya terjadi karena aku pingsan….”, ucap Isabella sambil berusaha kembali mengingat hal sebelum dirinya jatuh pingsan.


Mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh Isabella kepadanya, tanpa sadar tiba – tiba tubuh Sweetie membeku di tempat.


Meski belum pernah melihat secara langsung, namun dia banyak mendengar dari hewan yang tak sengaja ditemuinya diperjalanan selama menjelajah di Schneewald jika kita bertemu dengan sinar terang yang menyilaukan mata, itu bukanlah sesuatu hal yang baik.


“ Jika kamu kembali melihat sinar terang seperti itu, sebaiknya kamu segera pergi menjauh jika tak ingin celaka seperti ini….”, Sweetie berusaha untuk menasehati Isabella.


Meski Isabella tak terlalu memahami kenapa Sweetie memberi peringatan seperti itu, tapi setelah terluka seperti sekarang diapun berupaya untuk mengingat perkataan teman barunya itu.


Sweetie merasa lega waktu Isabella memberikan respon positif terhadap peringatan yang diberikannya.


Namun, sudah dua hari lamanya berkeliling dia masih belum menemukan tempat yang cocok untuk menjadi tempatnya berlatih.


“ Apa aku berlatih dikamar saja ya….”, batin Alatariel bermonolog.


Baru saja Alatariel memasuki rumah, tanpa sengaja kedua matanya menatap ruangan kecil yang ada di bawah tangga.


Ruangan tersebut pada awalnya digunakan sebagai gudang. Namun karena banyaknya tikus liar yang menyelinap masuk hingga merusak barang yang ada akhirnya ruangan tersebut dibiarkan terbengkalai begitu saja.


Alatariel terlihat melirik kekanan dan kekiri, memandang kondisi rumahnya untuk memastikan bahwa tak ada yang sedang mengamatinya saat ini.


Setelah merasa aman, diapun berjalan mengendap – endap menuju ruangan dibawah tangga tersebut dan memasukinya.


“ Lumayan juga jika aku gunakan latihan disini….”, guman Alatariel senang.


Diapun segera mengeluarkan bungkusan kain yang diberikan oleh Belatrix kepadanya waktu berada didunia manusia beberapa saat yang lalu.


Selanjutnya, diapun mulai menaburkan serbuk hijau tersebut hingga mengelilingi semua ujung ruangan yang akan dia gunakan untuk berlatih.

__ADS_1


Setelah semuanya selesai, diapun mulai berkomat – kamit membaca mantra sederhana yang berhasil dikuasainya dibuku.


Blesssh…..


Tiba – tiba saja tubuh Alatariel sudah berpindah tempat dan sekarang dirinya sudah berada disebuah padang rumput yang sangat luas.


Setelah mengamati keadaan sekitarnya, Alatariel pun segera berjalan menuju ke sebuah pohon besar untuk berteduh sambil membuka buku besar bersampul coklat tua tersebut untuk dipelajari.


Setelah kembali membaca dan memahami dengan seksama apa yang tertulis dalam buku,  Alatariel pun mulai mempraktekkan beberapa ilmu sihir dasar yang ada dalam buku pemberian Belatrix tersebut.


Diapun segera mengeluarkan tongkat sihir dari balik bajunya yang semapt dia beli sebelum kembali ke Dark Land.


“ Ignisiusfotia….”, ucap Alatariel lantang.


Dari tongkat sihirnya keluar percikan api yang hanya terlihat sesaat. Mengetahui jika [ercobaan pertamanya gagal membuat Alatariel kembali mengayunkan tongkat sihirnya sambil mengucapkan mantra tersebut dengan keras.


Setelah berusaha beberapa kali, akhirnya keluar api dari tongkat sihirnya meski tak terlalu besar namun sudah bisa membuat Alatariel merasa puas.


“ Ternyata belajar sihir cukup menguras tenaga dan pikiran….”, guman Alatariel sambil beristirahat dibawah pohon.


Setelah cukup beristirahat, Alatarielpun kembali mencoba beberapa mantra yang berhasil dikuasainya dalam buku.


“ Neuroqua….”, teriak Alatariel dengan keras.


Kali ini dari tongkat sihirnya langsung mengeluarkan semburan air yang cukup kuat membuat senyum merekah di bibir Alatariel.


Diapun sangat bersemangat setelah mantra kedua yang berhasil dieksekusinya tanpa kendala apapun seperti mantra yang pertama.


“ Anemosventus….”, teriak Alatariel lantang.


Tak lama kemudian muncullah pusaran angin yang tak terlalu besar dihadapannya. Membuat hati Alatariel senang karena telah berhasil menerapkan tiga mantra yang ada dalam buku.


Merasa jika dirinya sudah terlalu lama berada dalam ruang latihannya, perlahan Alatariel mulai memejamkan kedua matanya sambil berkomat – kamit agar bisa kembali ke ruangan dibawah tangga.


Wushhh….


Buk…buk…bukkkk…..


Alatariel yang baru saja kembali keruangan dibawah tangga mendengar suara orang naik dan turun tangga dari tempatnya berdiri sekarang.


Dia menunggu hingga suara – suara tersebut hilang baru keluar dari dalam ruangan agar tak menimbulkan kecurigaan pada keluarganya.


“ Kau disini ternyata…cepat kemeja makan, semua orang sudah menunggumu dari tadi….”, ucap Cirda ketus.

__ADS_1


Keluarga Alatariel segera memulai makan malam  bersama setelah anak sulungnya tersebut berada diatas kursinya.


Alatariel terlihat sangat bersemangat menyantap makan malamnya karena energinya sudah habis terkuras untuk berlatih sihir tadi.


__ADS_2