HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
LEGA


__ADS_3

Udara dingin yang masuk melalui jendela kamar membuat Isabella kembali menelusupkan tubuh munggilnya kedalam dekapan Scoth.


Scoth yang terusik oleh pergerakan Isabella mulai terbangun. Senyum merekah diwajah tampannya waktu melihat gadis kecilnya meringkuk seperti anak kucing dalam dekapannya.


“ Sangat munggil dan rapuh…”, batin Scoth bahagia.


Bukan hanya Scoth yang pagi ini merasa sangat bahagia, Melvin pun juga merasakan hal yang sama.


Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa kembali menghirup aroma vanilla white musk yang menenangkan ini kembali.


Namun, ketenangan Scoth tak bertahan lama. Pembicaraan yang dilakukan sang adik dan ibundanya menganggu waktu istirahatnya bersama sang kekasih.


“ Berisik sekali mereka….”, Scoth berguman tak senang dan langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Diapun segera menyelimuti tubuh munggil Isabella dengan kain yang tebal dan memastikan bahwa matenya itu cukup beristirahat.


“ Jaga disini !!!   segera layani jika luna sudah bangun !!!...”, perintah Scoth tegas.


Dua omega yang berjaga di depan pintu hanya bisa mengangguk. Mereka akan menunggu hingga luna Red Moon pack tersebut bangun dan mulai menjalankan tugasnya.


Carmin langsung melotot dengan kedua mata berbinar waktu mendengar suara langkah kaki turun dari tangga.


Namun itu hanya sementara, sedetik kemudian senyuman tersebut pudar dan berganti dengan wajah cemberut waktu melihat hanya sang kakak yang turun kebawah untuk sarapan.


“ Jika urusanmu sudah selesai, cepat kembali !!!….”, ucap Scoth dengan nada datardan dingin.


Elena hanya bisa menggelengkan kepalanya waktu kembali melihat kedua anaknya bertengkar seperti itu.


Sedangkan Carmin hanya mencibir mendengar ucapan kasar sang kakak. Tapi dia tak akan kembali ke kediamannya sebelum misinya untuk bertemu kakak iparnya tercapai.


“ Hari ini aku berencana akan mengajak kakak ipar jalan – jalan. Jadi, kamu tak bisa melarangku….”, ucap Carmin tak mau kalah.


“ TIDAK !!!....”, Scoth berbicara dengan nada rendah hingga suara giginya bergemelatuk.


Semua orang langsung menghentikan aktivitasnya begitu mendengar suara geraman marah tersebut.


Carmin yang tidak tahu tentang apa yang terjadi terus saja berbicara tanpa perduli dengan sang kakak yang wajahnya sudah merah padam penuh amarah


Brakkk !!!....


“ Sebaiknya kamu cepat pergi sebelum aku melemparmu kembali ke rumahmu !!!....”, ancam Scot sambil mengebrak meja makan dengan keras.


Tanpa memperdulikan tatapan ibundanya, Scoth langsung melenggang pergi untuk naik kedalam kamarnya.

__ADS_1


Dia perlu menenangkan diri dengan berada disamping matenya saat ini. Hanya dengan mendekap erat Isabella dan mencium aroma tubuhnya maka amarah yang ada dalam dirinya bisa mereda.


Didepan meja makan Carmin beberapa kali mengedipkan kedua matanya beberapa kali dengan wajah binggung waktu melihat ekpresi semua orang yang menunduk dengan raut muka sedih.


“ Ada apa ini ?....bukankah sudah biasa aku dan kakak bertengkar seperti ini. Kenapa wajah kalian sedih seperti itu ?...”, ucap Carmin heran.


Diapun langsung bangun dari tempat duduknya menuju ke tempat dimana sang ibunda duduk terdiam sambil menunduk.


Carmin langsung mengenggam tangan ibundanya, berusaha untuk menghiburnya. Dia mengira jika sang bunda sedih karena sikap kasar Scoth belum juga berubah meski sekarang dia sudah memiliki mate.


Membayangkan jika sang kakak akan galak dan sekasar itu dengan matenya, membuat Carmin seketika merinding.


“ Kakak memang begitu dari dulu.... bunda jangan sedih ya…kita harap dengan adanya kakak ipar, sikap kakak bisa berubah…”, ucap Carmin sambil tersenyum.


Melihat putri bungsunya berusaha untuk menghiburnya, Elena pun mulai menganggak kepalanya sambil berusaha untuk tersenyum.


“ Ibunda tahu….tapi, bukan hal itu yang membuat ibunda sedih…”, ucap Elena lemah.


Elenapun menceritakan semua hal kepada putrinya itu. Tentang  renovasi kamar, acara jalan - jalan, hingga kasus penculikan yang dialami oleh gadis itu ketika sedang berbelanja dengannya di dunia manusia.


Tentu saja Carmin terkejut dengan berita tersebut karena yang dia tahu hanya kabar jika kakak iparnya itu menghilang dari kerajaan Red Moon.


Dan Carmin pikir itu karena pertengkaran yang terjadi diantara keduanya mengingat sikap sang kakak yang selalu kasar dan keras kepala itu.


Isabella merenggangkan kedua tangannya keatas sambil menguap lebar. Sayup – sayup, dari kedua matanya yang terbuka sedikit dia bisa melihat ada lelaki tampan yang kemarin ditemuinya sedang memandangnya dengan geli.


Dengan gerakan cepat, Isabellapun segera bangun dan langsung duduk di ujung ranjang sambil mengamati kondisi sekitarnya.


Pandangan matanya menelusuri setiap sudut kamar yang terasa tak asing baginya itu, hingga tatapan matanya berhenti pada sosok gagah yang duduk bersila diatas sofa empuk berbulu sambil tersenyum lembut kepadanya.


“ Dimana aku ?...”, tanya Isabella sedikit binggung.


“ Kamu ada di kerajaan Red Moon. Dan sekarang kamu sedang berada didalam kamarmu….”, ucap Scoth hangat.


Diapun segera bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan kearah ranjang, menghampiri sang mate yang terlihat sedikit linglung.


“ Bagaimana tidurmu semalam ?...apa nyenyak ?...”, ucap Scoth sambil membelai rambut Isabella dan mencium ujungnya dengan mata tertutup.


Mencoba mengisi rongga dadanya dengan aroma sang mate sebanyak mungkin. Isabella yang melihat hal tersebut hanya tersipu malu.


Meski masih kecil, tapi dia adalalah seorang gadis muda. Tindakan Scoth tersebut dinilai sangat intim baginya, mengingat mereka bukanlah satu keluarga.


Melihat tubuh Isabella bergerak mundur dan sedikit menghindar darinya, ada sedikit rasa kecewa dalam diri Scoth.

__ADS_1


Melvin yang melihat hal itu merasa tak senang dan kembali menyalahkan Scoth atas penolakan sang mate tersebut..


“ Cepat katakan padanya kalau dia itu adalah mate kita….”, teriak Melvin tak sabar lagi.


“ Tidak !!!…sekarang bukanlah waktu yang tepat….”, ucap Scoth mengeram rendah.


“ Kapan waktu yang tepat?...apa kamu akan menunggu sampai ada yang kembali merebutnya dari tanganmu !!!….”, ucap Melvin dengan nada sinis.


Mendengar ucapan wolfnya, tubuh Scoth menegang untuk sesaat. Kata – kata jika Isabella akan pergi meninggalkannya membuat amarah dalam tubuhnya kembali membara.


Isabella yang melihat perubahan ekspresi di wajah Scoth memberanikan diri untuk bertanya karena dia pikir apa tindakannya itu menyinggung laki – laki tampan tersebut.


“ Kamu kenapa ?....”, tanya Isabella lembut.


Suara merdu sang mate seperti air yang langsung bisa memadamkan api dalam diri Scoth. Sangat dingin dan menyejukkan hati.


“ Tidak apa – apa ?....”, ucap Scoth berusaha tersenyum.


Scothpun segera meminlink  omega yang berjaga di depan kamar untuk masuk dan membatu sang luna untuk membersihkan diri.


“ Sekarang, kamu mandi dan sarapan dulu. Jika membutuhkan sesuatu, aku ada di ruang kerja yang lokasinya ada disebelah kamarmu…”, ucap Scoth lembut.


Setelah Isabella mengangguk, Scothpun segera berdiri dan mulai keluar dari dalam kamar. Tapi, sebelumnya dia sempat menatap kedua  omeganya dengan tajam.


“ Lakukan tugas kalian dengan benar !!! aku tak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun !!!...”, Scoth memindlink kedua omeganya sebelum membuka knop pintu dan keluar.


Kedua omega tersebut segera menjalankan tugas mereka dengan sangat hati – hati agar tidak sampai membuat Luna mereka terluka hingga Alpha Scoth marah.


Meski pada awalnya Isabella bersikeras jika dia akan mandi sendiri karena merasa tak nyaman dimandikan orang lain dalam usia sebesar itu.


Namun, akhirnya diapun mengalah setelah kedua omega tersebut menunjukkan raut wajah sedih dan tertekan setelah mengatakan jika Scoth akan menghukum mereka jika tak menjalankan tugasnya dengan benar.


“ Alpha ?...”


“ Apakah itu kepanjangan nama Scoth ?...”


“ Lalu, kenapa mereka terus memanggilku Luna….”


“ Kenapa mereka tidak memanggilku Isabella atau Bella saja ?...”


“ Ya sudahlah…nanti akan kutanyakan sendiri pada Scoth….”


Pikiran yang ada di kepala Isabella yang semula penuh tanda tanya akhirnya mulai menghilangkan dan diapun mulai merasa tenang, menikmati ritual mandinya pagi ini dengan kedamaian.

__ADS_1


__ADS_2