
Isabella masih terbaring diatas ranjangnya sambil memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan dia ambil setelah keluar dari kediaman ini.
Setelah kepergian Scoth, beberapa menit kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Waktu aku menyuruhnya masuk, dengan perlahan kenop pintu mulia diputar dan tampak wanita muda masuk kedalam kamar sambil membawa sebuah nampan berisi makanan.
“ Permisi luna, saya kemari membawakan sarapan untuk anda… ”, ucapnya dengan sopan.
Melihat dari pakaian yang dikenakan wanita muda yang ada dihadapannya itu, Isabella bisa memastikan jika dia adalah pelayan yang dimaksud oleh Scoth tadi.
Cukup lama Isabella terdiam, namun kemudian dia tersenyum saat melihat bahwa wanita yang ada dihadapannya tersebut tidak berbahaya.
“ Baiklah, kau bisa meletakkannya di atas meja…”, ucap Isabella sambil menunjuk meja disamping kanannya.
Omega tersebut segera meletakkan nampan berisi makanan dan segelas susu hangat diatas meja yang ada disamping ranjang Isabella.
Isabella melirik sarapan yang berada diatas meja. Tiba – tiba saja perutnya berbunyi minta diisi saat melihat sarapan yang mengugah selera tersebut.
“ Silahkan sarapan dulu luna…”, ucapnya sambil tersenyum ramah.
Meski dia tidak terlalu percaya dengan lelaki asing yang sudah menolongnya, tapi kali ini tubuhnya benar – benar membutuhkan asupan energy, maka dari itu dia segera bangun untuk melahap habis sarapan yang ada diatas meja.
Isabella bangun dari tempat tidurnya dengan sedikit kesusahan. Pelayan yang melihat lunanya sedang kesulitan segera membantunya.
“ Terimakasih….”, ucap Isabella sambil membenahi posisi duduknya agar nyaman.
Diapun segera mengambil nampan diatas meja dan makan dalam diam sambil memperhatikan kenapa pelayan tersebut tidak keluar dan terus mengamatinya.
“ Ehem…maaf, bisakah kau tinggalkan aku sendiri....”, ucap Isabella kikuk.
“ Maaf Luna, Alpha berpesan kalau saya harus memastikan anda menghabiskan sarapan dan membantu anda membersihkan diri sebelum dokter yang merawat anda datang… ”, ucapnya sopan.
“ Okay…tapi bisakah kau berhenti memanggilku luna. Panggil nona saja, itu lebih baik…. ”, ucap Isabella sambil melanjutkan makan.
Isabella mengeryit heran saat omega tadi memanggilnya luna, diapun berpikir mungkin Scoth hanya mengarang nama karena dia tidak memberitahu siapa nama sebenarnya.
“ Tapi luna…” , belum sempat omega tersebut melanjutklan kalimatnya, Alpha Scoth sudah memasuki ruangan dan menyuruhnya pergi.
Omega tersebut menunduk dan segera meninggalkan kamar Alphanya dengan wajah sedikit heran karena selama ini tidak sembarangan orang bisa memasuki kamar tersebut.
Bahkan seseorang dimasa lalunya yang cukup berarti saja dilarang memasukinya. Hanya dia, kepala pelayan, Morgan sang beta, adik dan ibundanya saja yang bisa masuk dan menginjakkan kaki dikamar itu.
melihat laki - laki asing tersebut duduk dikursi yang ada disampingnya, dengan sedikit kikuk Isabella pun mulai berbicara dengan sopan.
__ADS_1
“ Aku mengucapkan banyak terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Scoth, bisakah aku pulang setelah ini, masih banyak hal yang harus aku kerjakan…. ”, ucap Isabella penuh harap.
Meski dia tidak tahu harus kemana setelah keluar dari kediaman lelaki asing ini, namun dirinya juga tidak bisa terjebak disini.
Saat ini dia harus segera menemukan kerajaan Equstria untuk bertemu dengan orang tua kandungnya dan membalaskan dendam atas kematian saudara kembarnya.
Mendengar ucapan gadis kecilnya, Scoth mengeram pelan sambil menatap tajam Isabella yang mulutnya penuh dengan makanan.
“ Tidak…kau tidak akan pergi kemana – mana.... ”, ucap Scoth tajam.
Entah mengapa, hanya mendengar bahwa mate nya ingin pergi meninggalkannya membuat Scoth marah.
Sistem mate seorang werewolf memang aneh, hanya dengan melihatnya sekali dia merasa seluruh inci tubuh gadis itu adalah miliknya.
“ Kenapa ?….lagi pula, aku akan merepotkanmu jika tetap berada disini… ”, ucap Isabella santai.
“ Kau tidak merepotkan siapapun…. ”, ucap Scoth datar sambil berusaha menekan amarahnya.
“ ohhh….ayolah…aku harus pulang…aku masih banyak urusan yang harus kuselesaikan…. ”, renggek Isabella sambil meletakkan piring kosong diatas meja.
Grrrr…
Scoth mengeram sekali lagi sambil menatap tajam gadis kecil yang ada dihadapannya itu. Emosinya sudah naik ke ubun – ubun saat matenya terus saja meminta pulang.
“ Scoth…aku ingin pulang… ”, teriak Isabella nyaring karena lelaki dihadapannya itu tak menanggapinya.
“ Berteriaklah semaumu !!!…aku tidak peduli !!!.... Sekali aku bilang tidak ya tidak !!!... ”, bentak Scoth marah.
Scoth langsung meninggalkan kamar dan membanting pintu dengan keras sehingga membuat Isabella terkejut.
Nyali Isabella langsung menciut saat mendengar bentakan dari mulut Scoth yang terdengar sangat menyeramkan saat marah.
Isabella memijit pelipisnya berlahan, mengingat banyaknya permasalahan yang harus dia tangani saat ini..
“ Yang satu belum selesai,muncul satu lagi… ”, guman Isabella pening.
Kepalanya semakin pusing saat memikirkan semua permasalahan tersebut. Namun dirinya juga tidak bisa melarikan diri dalam kondisi kaki seperti sekarang.
Isabella terus memijit pelipisnya sambil berusaha memikirkan cara untuk keluar dari rumah ini. Lamunannya buyar saat dia mendengar suara ketukan dipintu.
“ masuklah….”, ucap Isabella pelan masih dengan memijit pelipisnya.
__ADS_1
Dilihat dari pakaian yang dikenakan wanita ini bisa dipastikan dia adalah pelayan dirumah ini, sama dengan wanita yang mengantarkan makanan untuknya tadi.
“ Permisi luna, saya membawakan obat untuk mempercepat penyembuhan anda. Silahkan diminum… ”, ucapnya sopan sambil menyerahkan gelas yang berrisi cairan berwarna seperti teh.
Cukup lama Isabella menatap gelas tersebut, dengan sedikit ragu diapun mulai meminumnya. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa mereka adalah orang yang baik dan dapat dipercaya jadi tidak mungkin meracuninya.
Isabella mengernyitkan wajahnya saat mengecap rasa aneh dari obat itu sebelum dia mengembalikan gelas kosong tersebut kepada pelayan.
“ Dimana tuanmu?…”, tanya Isabella penuh selidik.
“ Alpha baru saja kebawah untuk mengambil minuman… ”, jawabnya sambil menunduk.
“ Ohhh…jadi dia panggilannya Alpha…. ”, guman Isabella lirih.
“ Bukan…it….”, belum sempat pelayan itu meneruskan ucapannya, Scoth datang dan menyuruhnya pergi.
Scoth berjalan kearah Isabella dan duduk disampingnya sambil menatapnya lembut, lalu berdehem beberapa kali.
“ Maaf aku membentakmu tadi…. ”, ucap Scoth merasa bersalah.
“ Seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah meneriakimu tadi… ”, ucap Isabella sambil mengusap tekuknya, merasa tak enak.
Bagaimanapun juga, lelaki asing dihadapannya itu sudah menolongnya dan usianya pun jauh lebih tua darinya.
Sudah sepatutnya jika Isabella menaruh hormat kepadanya. Jika nenek Vely ada disini, pasti kepalanya sudah dijitak karena telah berperilaku tidak sopan tadi.
“ Tidak…tidak…kau tak perlu minta maaf…”, ucap Scoth dengan suara lembut.
“ Kalau begitu, mari kita lupakan permasalahan tadi ”, ucap Isabella memberi jalan tengah.
Bagaimanapun, dia masih memerlukan lelaki asing ini untuk merawat lukanya hingga sembuh.
Dan berteduh dirumah ini untuk sementara waktu juga tidak ada salahnya mengingat jika disini dia diperlakukan dengan baik.
Scoth yang mendengar ucapan Isabellapun tersenyum lebar. Membuat gadis kecil tersebut jadi salah tingkah dibuatnya.
Apalagi, senyuman yang dilemparkan oleh Scoth sangat menawan dan berhasil membuat Isabella terpaku selama beberapa detik.
“ Tuhan…sungguh indah mahkluk ciptaanmu ini…..”, batin Isabella terpesona.
Scoth mengangkat satu alisnya saat menyadari gadis kecil dihadapannya itu cukup lama memandanginya.
__ADS_1
Isabella langsung membulatkan matanya saat tersadar, lalu memalingkan mukanya yang sudah memerah karena malu.
“ Sekali lagi, aku ucapakan terimakasih karena sudah menyelamatkanku…”, ucap Isabella gugup.