
“ Tidak !!!...aku tak bisa hanya menunggu disini tanpa melakukan apapun….”, guman Isabella sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali.
Isabella terlihat sedang memutar otaknya untuk mencari cara melawan Yeti yang telah menunggunya dibawah pohon dengan jumlahnya tak sedikit itu.
Sayang sekali sihirnya tak bisa digunakan di pegunungan bersalju ini, jadi dia hanya bisa menggunakan keahlian pedang dan ilmu bela diri serta kecerdikan yang ada dalam otaknya saja saat ini.
“ Apa yang harus kita lakukan sekarang ?....”, tanya Sweetie cemas.
“ Apa kamu mau membantuku ?....”, tanya Isabella dengan senyum licik.
Sweetie yang melihat senyuman Isabella yang tak biasa membuat bulu putihnya langsung berdiri tegak tanpa peringatan
“ Firasatku tak bagus akan hal ini…..”, batin Sweetie gelisah.
Benar juga, setelah mendengarkan semua rencana yang diutarakan oleh Isabella, Sweetie tak bisa untuk tetap tenang karena nyawanya akan menjadi taruhannya kali ini.
“ Apa kamu yakin ini akan berhasil ?....”, tanya Sweetie cemas.
“ Keberhasilannya tergantung seberapa pintarnya kamu mengecoh dan memecah konsentrasi mereka….”, ucap Isabella tersenyum manis.
Glekkkk…..
Sweetie terlihat kesulitan untuk menelan ludahnya waktu mendengar ucapan sahabatnya tersebut.
Namun dia juga tak memiliki cara lain untuk bisa melanjutkan perjalanan selain kabur dan menghadapi Yeti yang jumlahnya tak sedikit itu.
“ Baiklah….”, ucap Sweetie pasrah.
“ Jika aku mati, tolong bawa jasadku kembali ke Schneewald dan kuburkan aku disana….”, ucap Sweetie sedih.
Kemudian, diapun segera melompat turun dan mulai mencakar wajah Yeti secara acak hingga membuat mahkluk besar tersebut marah.
Sweetie terus berlari kencang waktu melihat segerombolan Yeti mengejarnya dengan wajah penuh amarah.
" Oh Tuhan, semoga kali ini nyawaku masih bisa selamat....", doa Sweetie penuh harap.
Melihat konsentrasi Yeti terpecah, bahkans ebagian sudah bergerak untuk mengejar Sweetie, Isabella akhirnya turun sambil melemparkan jarum beracun yang dia bawa.
Namun karena kulit Yeti yang terlalu tebal dan keras, jarum beracun tersebut hanya menancap begitu saja tanpa bisa melukai mereka.
__ADS_1
“ Sial !!!...jarum beracun tak mempan kepada mereka !!!.....”, guman Isabella geram.
Diapun segera menyerang Yeti yang berusaha untuk mengepungnya dengan belati tajam yang sebelumnya telah dia bubuhi racun disepanjang pisaunya untuk menyerang.
Sethhhh….sethhhh….sethhh…..
Isabella menyerang Yeti yang mengepungnya dengan membabi buta dari segala arah. Kali ini tujuan utamanya adalah kedua mata gorila salju raksasa tersebut agar pergerakan mereka terbatas.
Crashhh….
Darah segar langsung mengucur deras begitu belati tajam tersebut mengenai bola mata Yeti, membuatnya mengaum penuh amarah.
Yeti menyerang dengan penuh amarah, tapi serangannya tak tentu arah karena tak dapat melihat musuh yang ada dihadapannya.
Melihat usahanya berhasil, Isabella melakukan hal yang sama terhadap gerombolan Yeti yang lainnya.
Karena tak bisa melihat, Yeti yang satu terlihat menyerang Yeti yang lain karena terpancing dengan suara gerakan yang dibuat oleh Isabella.
Waktu indera penglihatannya tak berfungsi, Yeti mengandalkan indera penciuman dan pendengaran yang masih berfungsi untuk menangkap mangsanya.
Celah tersebutlah yang dipergunakan dengan baik oleh Isabella untuk membuat Yeti saling menyerang antara yang satu dengan yang lainnya.
Hingga dia tak perlu menggeluarkan energi banyak untuk membunuh para Yeti tersebut, cukup menggunakan taktik licik kepada mereka.
Pada saat Isabella sudah berhasil mengatasi segerombolan Yeti dan meneruskan perjalanannya, Alatariel yang terjebak dipintu keluar gurun sunyi di sarang laba – laba beracun akhirnya bisa melarikan diri juga.
Alatariel yang berhasil lolos dari maut segera berlari sekencang mungkin hingga dia tiba disebuah taman hijau tanpa ujung.
“ Apalagi ini ?.....”, batin Alatariel penuh tanda tanya.
Dia terus berjalan mengikuti jalan setapak ditengah – tengah tanaman hijau yang berbentuk seperti pagar namun berliku.
Alatariel tampak berjalan tak tentu arah mengarungi labirin yang berliku dan penuh jebakan tersebut.
Wushhhh….
Satu bola api besar hampir saja mengenai kepalanya jika dia tak segera tiarap ditempat waktu hendak berbelok kekanan.
" Huffft....hampir saja kepalku jadi korban....", guman Alatariel lega.
__ADS_1
Baru saja Alatariel bangun dan mulai melangkah, hujan panah mulai mendatanginya. Diapun mulai bergerak dengan cepat untuk menghindari.
Namun sayangnya, baru saja menghindari hujan panah dia kembali diserang oleh shuriken berbentuk bintang yang datang dari segala arah waktu kakinya berbelok kekiri.
Karena sedikit lengah, salah satu lengganya sempat terkena shuriken yang tajam tersebut hingga terluka dan mengeluarkan darah cukup banyak.
“ Sial !!!... shuriken ini beracun !!!....”, guman Alatariel geram.
Untuk menghentikan pendarahan dan agar racun yang mengenai lengannya tak segera menyebar dengan cepat.
Alatariel pun beristirahat sejenak untuk mengobati lukanya sambil mengumpulkan energy untuk kembali berjalan, berusaha menembus labirin berbahaya tersebut.
Sambil beristirahat, Alatariel yang sedang berpikir untuk bisa secepatnya mencari jalan keluar akhirnya mengingat sesuatu.
Dia kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya dan membuat lalat dalam ukuran besar untuk terbang keatas, menjadi monitor baginya agar bisa segera keluar dari labirin penuh jebakan tersebut.
Setelah terbang dan berada tepat diatasnya, lebah segera mengeluarkan gas sihir melalui ekornya hingga menyelimuti seluruh labirin.
Setelah semua sihir terlepas, dari bawah Alatariel bisa melihat keseluruhan labirin melalui sihir yang menyelimutinya.
Dari pantauan sihirnya, Alatariel dapat melihat bagian mana saja dibagian lanbirin yang ada jebakan berbahaya sehingga dia bisa mengantisipasinya sejak awal.
Dari denah yang dibuat oleh sihirnya dia juga bisa mendapatkan jalan tercepat untuk keluar dari labirin berbahaya ini.
Setelah tenaganya terisi kembali, Alatariel pun segera bangkit dan mulai menyelesaikan misinya tersebut.
Dengan gerakan cepat dan terorganisir, Alatariel pun dengan mudah melewati semua rintangan yang ada dihadapannya tanpa kesulitan hingga akhirnya dia bisa keluar dengan aman dari labirin berbahaya tersebut.
Alatariel terlihat menarik nafas lega waktu dia melihat gunung yang menjulang tinggi dihadapannya.
“ Jadi ini rintangan selanjutnya….”, guman Alatariel sambil menatap awas kedepan.
Begitu Alatariel menginjak kaki pegunungan, tiba – tiba cuaca cerah tersebut menghilang dan berganti dengan cuaca dingin dan berkabut.
Alatariel merasa aura iblis cukup kuat disana membuatnya semakin meningkatkan kewaspadaan diri.
Semakin melangkah kedepan, Alatariel merasa jika aura gelap tersebut semakin kuat terasa hingga membuat keringat dingin mengucur deras ditubuhnya.
Alatariel pun kembali mengingat ucapan Belatrix bahwa dia akan segera sampai di lembah kematian setelah berada dipegunungan iblis.
__ADS_1
“ Jadi ini yang disebut dengan pegunungan iblis itu….”, guman Alatariel sambil menatap waspada kesekelilingnya.
Meski dia merasa jika pegunugan iblis ini tak akan mudah untuk dilewatui, namun Alatariel merasa sedikit lega setidaknya sebentar lagi dia akan tiba dilembah kematian untuk mendapatkan pedang hitam dan menyelesaikan misinya.