
Begitu sampai di kerajaan Azerbazam, Belatrix segera menghadap ke Ratu Evanora dan melaporkan semua hal yang didapatkannya selama berada di depan wilayah Dark Land.
Ratu Evanora terlihat sangat bersemangat waktu wanita muda itu menceritakan jika dirinya ada janji bertemu dengan keturunan Gullveig di dunia manusia esok hari.
“ Persiapkan semuanya dan jangan sampai gagal. Ini harapan kita satu – satunya…..”, ucap ratu Evanora penuh penekanan.
Belatrix mengangguk dan mulai menyiapkan segala macam hal yang akan dia bawa ke dunia manusia.
Pada pertemuan esok hari, Belatrix akan mengajak Emerlda untuk menemaninya karena Hilda ada tugas khusus tersendiri yang harus dijalankannya bersama klan morotus yang lainnya.
Agar perjalanannya tidak sia – sia, Belatrix sudah menyiapkan beberapa rencana cadangan jika langkah pertama yang diambilnya tidak berhasil.
Sementara itu, Alatariel yang sedang bersiap untuk berangkat terlihat gelisah karena sang ayah memaksa ingin ikut menjalankan misinya didunia manusia dengan alasan Emires khawatir jika putranya itu akan mendapatkan kesulitan nantinya.
Mengingat jika targetnya kali ini bukanlah orang biasa, melainkan seseorang yang juga memiliki ilmu hitam yang tinggi sehingga tidak mudah untuk bisa dipengaruhi dan dikendalikan oleh elf kegelapan seperti mereka.
Tapi melihat bayaran yang akan mereka terima nantinya, sebagai elf yang serakah tentu saja semua kesulitan tersebut akan mereka hadapi meski nyawa taruhannya.
“ Ayah…aku bisa menjalankan misi ini seorang diri. Ayah tak usah khawatir padaku dan tetaplah berada di rumah dengan yang lain….”, ucap Alatariel untuk kesekian kalinya berusaha untuk membujuk sang ayah agar tidak mengikutinya kedunia manusia.
Namun usaha Alatariel tersebut tak juga membuahkan hasil. Emires tetap teguh pada pendiriannya dan tetap mengikutinya hingga sampai ke tempat tujuan.
Dikediaman targetnya, keduanya menunggu malam tiba untuk menjalankan rencana mereka. Sementara itu, Alatariel terus saja menatap botol air minum yang sejak tadi berada ditangannya.
Dia sangat berharap Belatrix menghubunginya sehingga dia merubah jadwal pertemuan mereka karena tak mungkin baginya meninggalkan sang ayah tanpa menimbulkan kecurigaan apapaun saat ini.
Ditambah lagi, setelah mata hari terbenam mereka harus sudah menjalankan rencananya. Apalagi obat tidur yang diminum si target juga sudah mulai bereaksi pada waktu itu.
Belatrix yang tak tahu jika Alatariel sedang menunggu kabar darinya saat ini terlihat sedang bersantai di penginapan yang tak jauh dari lokasi pertemuan dan mulai menyiapkan semuanya hingga waktu pertemuan tiba.
Sementara itu di kerajaan Epes, Isabella yang hampir menyempurnakan kekuatannya telihat sedang berjuang keras agar bisa menahan semua aliran kekuatan besar yang datang dari segala arah tersebut.
Beberapa kali dia terlihat mengernyitkan keningnya cukup dalam dan tak lama kemudian darah segar mulai menyembur melalui mulutnya.
Meski begitu dia kedua matanya tetap tertutup dan tubuhnya masih duduk dengan posisi lotus, seperti semula tanpa bergeser sedikitpun.
Dialam bawah sadarnya Isabella berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuat tenaga besar yang mengalir dari segala arah tersebut menyatu dalam inti kekuatan yang ada ditubuhnya.
Keringat dingin mulai mengucur deras ditubuhnya. Keningnya berkerut cukup dalam, seakan menahan semua rasa sakit yang ada.
Tetua Otsana yang mengecek kondisi Isabella didalam ruang meditasi melihat cahaya merah terang yang memancar keluar dari dalam tubuh Isabella sedikit terkejut.
Apalagi keluarnya cahaya tersebut disertai dengan udara panas yang langsung membuat suhu ruangan meditasi meningkat secara drastis dalam waktu cepat.
__ADS_1
Tak menunggu lama, tetua Otsana pun mulai duduk bersila dan tak lama kemudian udara dingin mulai menyembur keluar dari kedua telapak tangannya.
Saat ini tetua Otsana berusaha membuat suhu ruangan dalam ruang meditasi tersebut serendah mungkin agar bisa mentralisir panas yang keluar dari dalam tubuh Isabella.
Semua ini dilakukannya agar energi panas yang keluar dari dalam tubuh Isabella tak sampai mempengaruhi suhu yang ada di kerajaan Epes saat ini.
Meski sudah berusaha dicegah, namun dalam jarak lima ratus meter dari dalam ruangan meditasi suhu panas yang dikeluarkan oleh tubuh Isabella sangat terasa.
Atares dan Tiffani yang mendapatkan laporan jika terjadi perubahan suhu panas yang tidak wajar disekitar ruangan meditasipun segera berlari menuju ketempat Isabella menyempurnakan kekuatan yang ada dalam tubuhnya.
Melihat udara panas mulai bergerak menyebar, Atares dan Tiffany pun mulai berdiri di duai sisi yang berlawanan sambil mengarahkan kedua telapak tangan mereka.
Menyemburkan energi sehingga muncul balon udara yang menyelimuti area disekitar ruang meditasi agar energi panas tersebut tidak sampai menyebar lebih luas lagi.
Mata semua orang terbelalak begitu melihat tanaman yang berada dalam balon pelindung tersebut satu persatu mulai kering dan terbakar habis.
Seolah ada api yang membakarnya, padahal secara kasat mata hal tersebut tak terlihat. Atares dan Tiffany terus saja menyalurkan kekuatannya dari dua sisi agar balon pelindung tersebut tak sampai meledak karena energi panas yang semakin besar.
“ Aku tak menyangka jika kekuatan yang keluar akan sebesar ini….”, batin Tiffany takjub.
Sementara itu, didalam ruangan tetua Otsana juga terus mengerahkan kekuatannya agar ruangan tetap dingin.
Sedangkan Isabella terlihat berupaya keras untuk membuat aliran kekuatan tersebut berjalan searah menuju inti kekuatan dalam tubuhnya.
Melihat jika semua aliran kekuatan besar dengan berbagai macam warna tersebut mulai berjalan searah menuju inti tubuhnya, Isabella pun mulai dapat bernafas dengan lega.
“ Akhirnya….”, batinnya puas.
Dengan mengalirnya kekuatan besar tersebut kedalam inti tubuh Isabella membuat energy panas yang tadi menyembur keluar tubuhnya perlahan mulai menghilang.
“ Syukurlah semua sudah berakhir….”, ucap tetua Otsana lega.
Uhukkk….uhukkkk….
Tetua Otsana langsung mengeluarkan darah hitam pekat dari dalam tubuhnya beberapa kali setelah memaksa tubuhnya untuk mengeluarkan energy yang besar demi menetralisir energy panas yang keluar dari dalam tubuh Isabella tadi.
Sebelum tubuhnya ambruk, Tiffany yang merasakan jika energy panas tersebut sudah menghilang segera masuk kedalam ruang meditasi dan menopang tubuh tetua Otsana yang sudah lemah tak berdaya.
Diapun segera membantu lelaki tua tersebut untuk keluar dari dalam ruangan meditasi agar bisa dia obati.
“ Berapa lama lagi dia akan berada disana ?....”, tanya Tiffani cemas.
“ Jika dia bisa melalui semuanya dengan lancar, tiga hari lagi dia sudah bisa keluar dari dalam ruangan tersebut….”, ucap tetua Otsana lemah.
__ADS_1
Tak bertanya lebih lanjut lagi, wanita tua itu segera mengobati luka dalam tetua Otsana dan menyuruhnya untuk beristirahat hingga kondisi tubuhnya pulih kembali.
Sementara itu, di sebuah kedai makanan didepan banggunan kosong dengan tulisan carnaby street 37A, Belatrix duduk manis dikursinya dengan wajah gelisah menunggu kedatangan Alatariel.
“ Ini sudah satu jam lebih dari waktu yang dijanjikan. Kenapa dia masih belum datang ?....”, batin Belatrix gelisah.
“ Apa terjadi sesuatu dengannya ?....”, Belatrix berguman lirih dengan raut wajah cemas.
Melihat banggunan kosong dihadapannya itu sama sekali tak mengeluarkan tanda - tanda adanya mahkluk disana, Belatrix p[un memutuskan untuk mencoba menghubungi Alatariel melalui mediasi air seperti sebelumnya.
“ Emerald, tunggulah disini. Aku akan ke toilet sebentar….”, ucap Belatrix datar.
Diapun pergi ketoilet untuk bisa berkomunikasi dengan Alatariel. Setelah mengunci pintu, diapun segera merapalkan mantra didalam air yang ada didalam kloset.
Satu menit…dua menit….hingga lima menit, wajah yang dinantikannya tak kunjung juga muncul membuat kepanikan mulai melanda hati Belatrix.
Untung saja toilet kedai makan tersebut sepi, jadi tak masalah Belatrix berlama – lama berada didalamnya.
“ Kemana lagi aku harus mencarinya ?....”, batin Belatrix penuh kecemasan.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan, Belatrix pun segera keluar dari dalam toilet dan segera membayar minuman dan makanan yang tadi dia makan sebelum pergi meninggalkan tempat.
“ Kita mau kemana sekarang ?....”, tanya Emerlda penasaran.
“ Jika dia memberi kita alamat ini, itu artinya dia berada tak jauh dari tempat kita berdiri sekarang….”, ucap Belatrix sambil menatap awas kondisi sekitar tempatnya berdiri.
Berharap dia bisa menemukan sosok lelaki muda yang sedang dicarinya dalam kegelapan malam.
Sementara itu, didalam sebuah apartemen Alatariel yang sedari tadi berusaha untuk memasuki alam bawah sadar targetnya terlihat mengalami kesulitan meski lelaki tua tersebut sudah tertidur pulas akibat obat yang baru saja diminumnya.
Melihat anaknya kesulitan, Emires pun segera muncul dan membantunya. Dua kekuatan gelap tersebut pun mulai disatukan hingga akhirnya bisa menerobos masuk kedalam alam bawah sadar lelaki yang menjadi target mereka.
Begitu masuk, ternyata lelaki tua tersebut sudah menunggu kedatangan keduanya. Selama menjalankan misi, ini baru pertama kalinya Alatariel menemukan hal seperti ini terjadi.
Dimana seseorang bisa menyadari kedatangan mereka untuk menebar mimpi buruk dan kengerian disana.
“ Siapa yang mengirim kalian kemari ?!!!....”, tanya lelaki tua tersebut dengan nada rendah dan dingin.
Melihat kedua elf kegelapan tersebut hanya diam dan menatapnya dengan tajam, lelaki tua tersebut mulai tertawa dengan keras.
“ Darah campuran seperti kalian tak akan bisa mengalahkanku…..”, ucapnya meremehkan.
Selanjutnya, Alatariel dan Emires merasa tubuh mereka membeku ditempat. Yang ada hanya suara tawa lelaki tua tersebut yang menggelegar keseluruh penjuru ruangan.
__ADS_1