
Pagi harinya, setelah selesai sarapan pagi Scoth bersama tetua Otsana segera membawa Isabella kedalam ruang latihan mereka.
Seperti yang Scoth dan tetua Otsana rencanakan semalam, pagi ini mereka akan menuju ke kerajaan Epes dimana adiknya tinggal bersama sang suami.
Agar tidak mencurigakan, mereka bertiga melakukan teleportasi agar iblis kecil yang mengawasi Isabella tak bisa mengendus perjalanan mereka.
“ Pegang tanganku dan tetua Otsana dengan erat. Apapun yang terjadi, jangan pernah lepaskan pegangan tanganmu….”, ucap Scoth penuh peringatan.
Isabella langsung mengangguk dan memegang tangan Scoth ditangan kanannya dan tetua Otsana ditangan kirinya.
Ketiganya segera memejamkan matanya dan tak lama kemudian tubuh mereka sudah berputar – putar seperti berada dalam pusaran air.
Swingggg……
Tubuh ketiganya segera lenyap dibawa oleh pusaran yang semakin lama bergerak semakin kencang hingga akhirnya tubuh mereka muncul di depan gerbang kerajaan Epes.
Wajah Isabella terlihat sangat pucat dan tak lama kemudian dia segera berlari menepi, mengeluarkan seluruh makanan yang tadi masuk kedalam perutnya.
Huekkk.....
huekkk....
huekkk….
Isabella tak menyangka jika berteportasi jauh seperti itu akan membuatnya pusing seperti sedang naik rollcoaster yang berputar cepat dan berbelok – belok hingga perutnya terasa seperti diaduk – aduk.
Setelah mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya, Scothpun langsung menyeka mulut Isabella dengan saputangan yang diambilnya dari dalam saku.
Kemudian dia mengeluarkan air minum yang tadi dibawanya agar tenaga Isabella bisa segera pulih kembali.
Karena badannya sangat lemas, Scothpun terpaksa mengendong Isabella dipunggungnya dan melangkah masuk ke kerajaan Epes.
Carmin terlihat sangat terkejut waktu mengetahui kakaknya dan tetua Otsana datang ke kerajaannya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
“ Ada apa kak ?....apa ada masalah ?....”, tanya Carmin cemas.
Bukannya menjawab, Scoth malah meminta sang adik untuk menyiapkan satu kamar agar bisa dipergunakan oleh Isabella untuk beristirahat.
Meski Carmin sangat penasaran dengan sosok gadis kecil yang digendong sang kakak, tapi melihat wajah dingin Scoth diapun mengurungkan niatnya untuk bertanya dan segera menyiapkan kamar tanpa berani bersuara.
Setelah membaringkan Isabella diatas ranjang dan menyelimutinya, Scoth pun bergegas menuju ruang tamu untuk menjelaskan maksud kedatangannya ke kerajaan Epes.
__ADS_1
“ Apa ?!!!...dia adalah kakak iparku ?!!!...gadis kecil itu !!!....”, Carmin spontan berteriak karena terkejut.
“ Minum dulu supaya kamu tenang….”, ucap Atares, suami Carmin dengan lembut.
Carmin patuh dan meminum segelas air yang diberikan oleh suaminya sebelum dia kembali bersuara.
“ Pantas saja kakak melarangku bertemu dengan kakak ipar…jadi karena ini….”, ucap Carmin sinis.
“ Aku bukan tak ingin mengenalkannya padamu, hanya menunggu waktu yang tepat saja….”, ucap Scoth membela diri.
Tidak ingin melihat kakak beradik tersebut bertengkar, tetua Otsana segera mengalihkan topik pembicaraan kearah tujuan penting mereka menitipkan Isabella di kerajaan Epes.
Karena menganggap jika kerajaan tersebut adalah tempat yang paling aman untuk Isabella tinggal saat ini setelah bangsa vampire dan iblis mengintainya.
Dan jika Scoth ingin berkunjung, hal tersebut tak terlalu mencurigakan karena sang adik adalah ratu dikerajaan ini.
Tetua Otasana dan Scoth hanya menjelaskan jika saat Isabella sedang diincar tanpa memberitahukan jika gadis kecil tersebut adalahholy blood girl.
Semakin sedikit yang tahu akan identitas asli Isabella akan semakin baik bagi kehidupan gadis kecil tersebut.
Meski berat, namun Scoth tetap harus pergi karena masih banyak urusan yang harus dia selesaiakan di Red Moon Pack dan meninggalkan tetua Otsana untuk melatih kekuatan yang ada dalam diri Isabella hingga bisa menjadi sempurna.
Karena tidak bisa masuk kedalam kamar Isabella maka diapun berkeliling kedalam istana yang bisa dia datangi sambil mengumpulkan informasi dari penghuni istana.
Namun, hingga langit menjadi gelap dia masih belum menemukan petunjuk apapun.Scoth memang tak memberitahukan kepada siapapun mengenai rencana kepergiannya bersama Isabella.
Lucifer yang merasa jika keberadaan gadis berdarah murni semakin samar dan tiba – tiba menghilang segera memanggil iblis kecil berwarna merah tersebut untuk segera kembali.
“ Maafkan hamba Raja….hamba telah lalai menjaga gadis kecil itu hingga menghilang tanpa jejak. Bahkan seluruh penghuni istana juga tak mengetahui keberadaannya….”, ucap iblis kecil tersebut dengan tubuh bergetar ketakutan.
“ Bodoh !!!....”, hardik Lucifer penuh amarah.
Tiba – tiba cambuk api datang menghampiri dan langsung menyambar tubuh iblis kecil dengan lecutannya yang dasyat.
Ctarrrr…..
Tubuh iblis kecil hancur lebur tak berbentuk. Namun, tak lama kemudian tubuh yang sudah hancur tersebut kembali menyatu menjadi gumpalan yang semakin lama terbentuk seperti anak kecil.
Pada saat tubuh iblis kecil kembali sempurna, cambuk api kembali menjalankan tugasnya hingga tubuh iblis kecil tersebut hancur lebur kembali.
Dan hal tersebut terus berlangsung berulang kali hingga seribu kali cambukan diterima oleh iblis kecil akibat lalai dalam menjalankan tugasnya.
__ADS_1
Ini hanyalah sebagian kecil hukuman yang diberikan oleh Lucifer kepada anak buahnya yang lalai dalam menjalankan tugasnya.
Karena iblis tidak bisa mati maka mereka akan terus menerus merasakan sakit pada saat hukuman tersebut mereka jalani.
Sementara itu dikerajaan Epes, Isabella terlihat mulai berlatih kembali dengan tetua Otsana. Kondisi kerajaan Epes yang sangat asri dan rindang membuat gadis tersebut merasa jika dia akan betah tinggal disini.
Saat ini tetua Otsana akan menempah daya tahan tubuh Isabella dengan bermeditasi dibawah air terjun yang jatuh dengan derasnya setelah melihat Isabella muntah – muntah setelah berteleportasi jarak jauh dengannya.
Karena hal ini untuk kebaikannya, maka Isabella pun menjalani pelatihan tersebut dengan sepenuh hati tanpa memberikan sanggahan apapun.
Tak terasa sudah tiga hari lamanya Isabella bermeditasi dibawah guyuran air terjun.
Carmin yang setiap hari mengunjungi tempat latihan kakak iparnya itu tak merasa tak tega melihat gadis sekecil itu harus sudah menjalani pelatihan yang berat.
“ Sampai kapan Isabella akan terus bermediatsi seperti itu ?....”, tanya Carmin dengan nada cemas.
“ Dia akan membuka mata pada saat tujuannya sudah tercapai….”, ucap tetua Otsana sambil berlalu pergi.
Carmin tak mengerti arti dari ucapan yang diberikan tetua Otsana kepadanya. Meski berat, tapi dia berusaha untuk memahami keputusan yang diambil oleh lelaki tua tersebut.
“ Apakah menjadi Luna Red Moon Pack harus melalui ujian sesulit itu ?....”, Carmin berguman sambilmenarik nafas cukup dalam.
“ Saya rasa tetua Otsana memiliki maksud tersendiri untuk Luna, Ratu….”, ucap pelayan pribadi Carmin berusaha menenangkan hati junjungannya.
“ Tapi dia masih kecil. Tak seharusnya anak sekecil itu menderita seperti itu….”, ucap Carmin protes.
“ Tetua Otsana tidak akan mungkin memberikan ujian kepada Luna Isabella jika tidak mampu melewatinya….”, ucap pelayan disamping Carmin membuat Ratu kerajaan Epes tersebut mulai mengangguk – angguk tanda setuju.
Sudah lebih dari seratus tahun lamanya sang kakak menunggu matenya. Dan saat dia sudah mendapatkannya, tak mungkin jika Scoth mampu membuat Luna nya terluka.
“ Kurasa kali ini aku harus kembali percaya pada semua keputusan yang diambil oleh tetua Otsana untuk masa depan Red Moon Pack….”, batin Carmin bermonolog.
Sementara itu, di Red Moon Pack Scoth terlihat berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat agar dia bisa segera mengunjungi matenya dikerajaan Epes.
Ini baru hari ketiga dia berjauhan dengan Isabella, tapi Scoth berasa jika keduanya sudah bertahun – tahun terpisah.
Rasa rindu yang ada dalam dadanya begitu menyesakkan hingga kadang dia sedikit kesulitan untuk bernafas.
Morgan yang mengetahui perjuangan sang Alpha hanya bisa memberinya semangat tanpa bisa melakukan apapun.
Dia sangat berharap Luna mereka bisa secepatnya kembali agar kondisi istana tidak mencekam seperti ini lagi.
__ADS_1