
Isabella yang setuju untuk tetap tinggal dikerajaan Red Moon meminta kepada Elena sebuah kamar pribadi agar dia bisa lebih leluasa bergerak.
Meski aksi tersebut sempat ditolak mentah – mentah oleh Scoth, namun akhirnya laki – laki itu mengalah dari pada gadisnya itu pergi dari istananya.
Melihat Scoth kalah dan Elena mengabulkan permintaannya, Isabella pun tersenyum bahagia.
Sambil bergelayut manja di lengan calon ibu mertunya, gadis kecil itu melihat kamar barunya dengan wajah berseri – seri.
“ Apa tidak sebaiknya kita katakan sebenarnya pada mate jika dia adalah pasangan hidup kita…”, ucap Melvin memberi saran.
“ Apa kamu mau gadis itu pergi meninggalkan kita karena menganggap aku seorang pedofil !!!....”, ucap Scoth geram.
Melvin yang merasa jika ucapan Scoth tersebut benar adanya akhirnya terdiam, tak ingin membuat Scoth marah.
Sementara itu, disebuah kamar kosong tak jauh dari kamar Scoth terlihat Isabella berjalan berkeliling sambil mengagumi pemandangan indah dibalik jendela ruangan yang sebentar lagi akan menjadi kamarnya itu.
“ Ibu…apakah aku bisa menata dan mewarnainya sesuai seleraku ?...”, tanya Isabella manja.
“ Tentu saja boleh sayang….”, ucap Elena sambil mencubit hidung Isabella dengan lembut.
Melihat tingkah manja gadis kecilnya itu dia sangat bahagia. Sudah lama dia menginginkan seorang anak yang ceriah seperti ini.
Scoth dan Carmin, keduanya sangat mirip dengan almarhum suminya yang pendiam dan dingin. Entah kenapa kedua anaknya itu tidak ada yang sepertinya.
Meski wajah keduanya, terutama Carmin sangat mirip dengannya. Tapi untuk sikap dan sifat keduanya sama persis dengan sang ayah.
Waktu melihat Isabella pertama kali, meski gadis kecil itu bersikap jutek kepadanya. Namun dia tahu jika itu dilakukan sebagai pertahanan diri.
Elena semakin yakin setelah kedua kalinya bertemu, dimana menantu kecilnya itu menyambutnya dengan ramah.
Dan sejak saat itu, Elena sudah menganggap Isabella sebagai anaknya sendiri. Dia sangat senang gadis kecil yang polos itu menjadi dirinya sendiri dan tumbuh seperti anak kecil pada umunya.
“ Bagaimana kalau kita pergi kekota dan berbelanja ?...”, usul Elena sambil tersenyum hangat.
“ Benarkah itu bu ?....”, ucap Isabella antuisias.
Sejak berada didunia asing ini dirinya tidak pernah kemana – mana. Hanya danau tempat dia pertama kali muncul, hutan dan istana Red Moon yang sekarang ditempatinya ini yang pernah dia lihat.
“ Apakah disini ada mall atau hanya pasar ya….”, batin Isabella penasaran.
Elena yang melihat senyum riang Isabella langsung menyuruh gadis itu untuk bersiap – siap. Sementara dirinya akan meminta ijin dulu kepada sang putra.
__ADS_1
Karena dia tidak mau putranya itu hilang kendali waktu mengetahui jika mate nya tidak ada dikediaman.
Meski pada awalnya Scoth menolak, lagi – lagi ibundanya itu bisa membujuknya dengan alasan agar Isabella betah tinggal di istana ini.
“ Baiklah bu…tapi biarkan Anggelo dan John ikut dengan kalian…”, ucap Scoth tajam.
Tidak ingin berdebat, Elenapun menganggukan kepalanya. Scoth sedikit tenang membiarkan ibundanya pergi dengan matenya bersama Gamma dan Deltanya ke dunia manusia.
Keduanya segera naik kedalam mobil dengan wajah gembira. Apalagi saat mobil meninggalkan hutan belantara dan mulai memasuki kawasan jalan raya dimana banyak rumah dan gedung menghiasi sepanjang sisi jalan.
“ Apakah ini kotanya bu ?...”, tanya Isabella antusias.
Meski dirinya berasal dari jaman modern, namun setelah sekian lama hanya memandang pepohonan membuat Isabella merasa hidup kembali waktu melihat deretan gedung bertingkat yang ada dihadapannya itu.
Mobil yang ditumpanginya berhenti di sebuah bangunan dua lantai yang lumayan besar. Meski itu bukanlah mall, tapi melihat banyak barang dijual disana Isabella pun bersemangat.
Dia segera saja melihat – lihat toko yang menjual aneka macam pernak pernik yang akan dipasang dikamarnya.
Sambil mengandeng erat tangan Elena, Isabella terus saja mengajak masuk jika ada barang yang menarik hatinya.
Hingga tak sadar barang belanjaannya sudah banyak dan menumpuk. Karena sudah lapar, Isabella pun meminta Elena berhenti di sebuah restoran yang ada pizza di menunya.
Elenapun segera memesankan pizza untuk putri kecilnya itu, sedangkan dia dan kedua anak buah Scoth memesan steak.
Edward yang pada awalnya enggan untuk mencari mangsa bersama Vladimir dan Salvator ditempat keramaian akhirnya pergi juga setelah hatinya tak berhenti gelisah.
Dia merasa ada sesuatu yang penting akan terjadi disana. Memiliki feeling seperti itu, Edward pun mulai terbang mengikuti keduanya.
Vladimir dan Salvator tersenyum bahagia waktu tahu jika Edward mau bergabung dengan keduanya untuk berburu mangsa disarangnya.
Disini, mereka hanya perlu menggunakan pesonanya untuk menjerat mangsanya dan mengenyangkan perut mereka tanpa perlu berjuang.
Para wanita akan datang dengan sendirinya menawarkan diri kepada mereka hanya dengan mengandalkan wajah tampan rupawan yang dimiliki kaum abadi tersebut.
Pada saat sedang asyik tebar pesona, Edward yang merasakan aroma vanilla white musk dari Ratunya segera menajamkan indera penciumannya.
Vladimir dan Salvator yang mengira jika Edward sudah mendapatkan mangsanya tak mengejarnya waktu melihat laki – laki tampan itu pergi dengan cepat.
“ Ratuku….”, guman Edward pelan.
Melihat jika ratunya dikawal ketat para warewolf, Edwarpun menunggu celah yang datang dengan sabar sambil memandang gadis cantik yang tak jauh dari tempatnya duduk itu dengan tajam.
__ADS_1
“ Bu…aku ketoilet sebentar ya…”, ucap Isabella pelan.
“ Mau ibunda temani ?...”, tanya Elena lembut.
“ Aku bukan anak kecil lagi bu…”, ucap Isabella cemberut.
Melihat gadis kecilnya cemberut, Elenapun hanya bisa terkekeh. Dia segera mengisyaratkan agara Anggelo menjaga Isabella dari jauh.
Melihat Isabella beranjak dari tempat duduknya, Edwardpun segera mengikutinya dan dia pura – pura masuk kedalam toilet pria.
Merasa didalam toilet tidak ada orang dan hanya ada gadisnya, Edwarpun segera masuk kedalm toilet wanita dan menguncinya dari dalam.
Isabella yang tak menyadari ada bahaya yang mengancam masih santai berada didalam biliknya. Anggelo yang mencium bau vampir segera pergi mencarinya.
Namun setelah menyadari jika bau tersebut berasal dari dalam toilet wanita, diapun hanya bisa menunggu diluar hingga luna nya selesai membuang hajat.
Isabella yang baru saja keluar dari bilik dan mencuci tangannya di wastafel tiba – tiba mulutnya disekap seseorang dari belakang dan tak lama kemudian dia merasa lehernya sakit seperti ada benda tajam yang menusuk kulit lehernya dan menghisap darahnya dengan kuat.
Isabella berusaha berontak, tapi sayang tenaganya kalah kuat dibandingkan laki – laki yang ada dibelakangnya itu.
Sementara itu Scoth yang sedang mengerjakan berkas – berkas yang ada dihadapannya tiba – tiba merasakan lehernya sangat sakit seperti tertusuk pisau.
Seketika diapun ingat akan keberadaan Isabella di luar. Mengingat jika sekarang matenya sedang dalam bahaya, Scoth pun segera berubah wujud dan lari dengan cepat.
Dia sangat berharap bisa menyelamatkan matenya sebelum terlambat. Sementara itu,Edward yang melihat jika gadisnya pingsan segera mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi ke istana Eternita.
Anggelo yang tiba – tiba kehilangan aroma tubuh lunanya segera mendobrak pintu kamar mandi waktu mengetahui jika pintu tersebut terkunci.
“ Sial !!!...”, guman Anggelo marah waktu melihat gelang Isabella terjatuh dibawah wastafel kamar mandi.
Anggelo pun segera memindlink John agar mencari jejak vampir yang diperkirakan membawa pergi sang Luna.
Keduanya segera berkeliling pusat perbelanjaan tersebut sambil mengendus aroma vampir yang ada.
Salvator dan Vladimir yang baru saja hendak bersenang – senang dengan mangsanya harus menghentikan aktivitasnya begitu dua warewolf menyerang mereka secara brutal.
Melihat aksinya dihentikan keduanya pun mulai bertarung.Untung saja tempat bertarung mereka merupakan area sepi karena berada di baseman sehingga mereka berempat bisa bertempur dengan maksimal.
Scoth dan Morgan yang baru saja dengan mengandalkan indera penciumannya, melihat gamma dan deltanya bertarung dengan dua vampir segera membantunya.
Dikeroyok empat warewolf, Vladimir dan Salvatorpun berhasil dibekuk oleh Morgan. Scoth pun menginstruksikan untuk membawa kedua vampir tersebut kedalam packnya.
__ADS_1
Scoth yang mendengar cerita dari Anggelo jika Isabella kemungkinan besar di culik oleh Lord Edward terlihat sangat marah.
Diapun segera membawa ibundanya pulang dan berencana untuk menyerang kerajaan Eternita dengan membawa dua sandera yang sekarang ada ditangannya itu.