HOLY BLOOD GIRL

HOLY BLOOD GIRL
MENGHANCURKAN PERMATA BIRU


__ADS_3

Pada saat semua orang sedang bertempur, diam – diam tetua Otsana menyelinap keluar pack dengan tujuan markas Hendry.


Berbekal ramuan mata dewa, tetua Otsana bisa mendeteksi keberadaan permata biru yang menyimpan jantung Henry meski sudah diselimuti mantra sihir tak kasat mata.


Mata tetua Otsana sekarang bagaikan radar GPS yang bisa menuntunnya menuju permata biru disimpan.


“ Tak kusangka dia menyembunyikannya sedalam ini….”, batin tetua Otsana senang.


Dengan kekuatan yang dimilikinya, dia mulai menggali tanah hingga mencapai tiga meter dalamnya dan menemukan kalung dengan permata biru yang dikubur dalam sebuh kotak besi yang sangat tebal.


Bruakkkk….


Bruakkkk….


Tetua Otsana terlihat beberapa kali memukul kotak besi tersebut namun sama sekali tak membuahkan hasil.


Bukan hanya tak bisa dirusak, bahkan kotak besi tersebut sama sekali tak lecet membuat tetua Otsana terpaksa membawa kotak tersebut agar bisa dibuka oleh Isabella.


“ Kotak ini pasti ada sihirnya, jika tidak kenapa kekuatanku tak bisa membuatnya rusak…..”, batin tetua Otsana penuh keyakinan.


Lelaki tua itupun segera melesat pergi meninggalkan reruntuhan tanah menuju Red Moon Pack melalu teleportasi.


Setelah berada didalam istana, tetua Otsana segera menyembunyikan kotak besi tersebut ditempat yang aman.


Karena tak bisa ditemukan melalui mata biasa, maka hanya Henry dan seseorang yang memiliki mata dewa saja yang bisa mengetahui letak kotak besi tersebut.


Sementara itu di klinik dokter Lupe, Isabella terlihat berjalan mondar – mandir menunggu Scoth keluar dari ruang operasi dengan wajah cemas.


Meski pertempuran berhasil dimenangkan namun korban yang berjatuhan cukup banyak, bahkan sebagian besar warrior Red Moon Pack terluka parah.


“ Luna…mari ikut saya sebentar….”, ucap tetua Otsana menghampiri.


Meski masih cemas dengan kondisi Scoth, tapi melihat tatapan wajah tetua Otsana yang serius, Isabella sebagai Luna Red Moon Pack tak bisa mengabaikannya.


Diapun berjalan mengikuti langkah tetua Otsana pergi dengan penuh tanda tanya hingga pada akhirnya mereka berada didalam ruang bawah tanah milik Scoth.


“ Apa ini ?....”, tanya Isabella binggung.


“ Didalamnya ada permata biru berisi jantung Hendry…”


“ Aku sudah coba berbagai cara untuk membukanya tapi sama sekali tak membuahkan hasil….”, ucap tetua Otsana mendesah pasrah.


Menyadari jika kotak besi tersebut memiliki aura sihir yang cukup kuat, Isabella pun segera membaca mantra dan melesatkannya kekotak besai tersebut.


“ Tak berhasil….”, guman Isabella kecewa.

__ADS_1


“ Kurasa, dengan ini pasti bisa….”, ucap Isabella sambil mengeluarkan pedang cahaya dari kantong ajaibnya.


Prangggg….


Kotak besi tersebut langsung terbelah dua dan didalamnya terdapat sebuah kotak kecil yang Isabella yakini sebagai tempat permata biru berada.


Kotak kecil tersebut memiliki sihir yang lebih kuat dibandingkan kotak sebelumnya.


Beberapa mantra yang Isabella baca nyatanya tak mampu membuka kotak tersebut hingga gadis itu akhirnya mengores telunjuknya dengan pedang.


Setelah darah Isabella menetes, perlahan kotak kecil tersebut terbuka lebar dan sebuah kalung dengan liontin permata biru berada didalamnya.


Dengan hati – hati Isabella mengeluarkan kalung tersebut dan meneteskan kembali darah diatas liontin dan menancapkan pedang cahaya hingga cahaya terang muali keluar.


Crashhhh….


Sringgg….


Kratakkkkk….


Liontin permata biru tersebut langsung hancur berkeping – keping menjadi cahaya kecil yang langsung menghilang di udara.


Tetua Otsana baru bisa bernafas lega waktu melihat permata biru tersebut telah hancur tak bersisa.


“ Ohhh….tidak !!!!....”, teriaknya histeris.


Morgan yang berada tak jauh dari tempat Henry bergegas datang menghampiri begitu mendengar teriakan tersebut.


Begitu sampai, Morgan hanya bisa menyaksikkan tubuh Hendry terbakar habis, kemudian asap hitam yang berteriak kesakitan tersebut menghilang diudara.


“ Akhirnya….”


“ Semua telah berakhir….”, guman Morgan lega.


Tak ada lagi yang dia kejar, Morgan pun kembali ke Red Moon Pack dengan cepat untuk melihat kondisi Alpha Scoth saat ini.


Lupe memberitahukan jika luka Alpha Scoth cukup dalam dan serius sehingga dia dalam kondisi kritis saat ini.


Isabella yang mendengar hal tersebut tubuhnya langsung terasa sangat lemas sehingga merosot jatuh kelantai.


Melihat hal tersebut, tetua Otsana dan dokter Lupe segera membantunya berdiri dan mencoba menenangkannya.


“ Tenang saja Luna….”


“ Alpha Scoth sangat kuat…”

__ADS_1


“ Luka ini tak seberapa untuknya….”, ucap Morgan menghibur.


Meski diluar doker Lupe terlihat tersenyum lebar untuk menghibur hati Isabella, namun dalam hatinya yang terdalam dia juga merasa sangat khawatir.


Luka yang dialami oleh Alphanya itu bukan luka biasa yang bisa dengan mudah sembuh dan menutup sendiri seperti biasanya.


Karena ada sihir dan racun menjadi satu, maka luka tersebut cukup membahayakan nyawa Alpha Scoth.


Namun hal tersebut tak mungkin Lupe dan tetua Otsanan katakan. Mereka berdua hanya bisa berbicara dalam pikiran mereka masing – masing karena tak ingin Isabella cemas.


Lupe membiarkan Isabella berada dalam ruang rawat Alpha Scoth dengan harapan sang Alpha bisa segera sadar setelah mencium aroma matenya.


Isabella membelai wajah tampan Scoth dengan lembut. Dia menatap nanar calon suaminya yang terbaring lemah diatas ranjang.


“ Bangun…”


“ Kenapa kamu masih saja terpejam ?...”


“ Apa kamu tak merindukanku ?....”, ucap Isabella sambil berlinangan air mata.


Meski kadang – kadang Scoth membuatnya kesal setengah mati, tapi melihatnya terbaring lemah tak berdaya seperti ini entah kenapa hatinya merasa sangat sakit.


Elena dan semua warg Red Moon Pack segera keluar dari tempat persembunyian begitu mendengar jika perang telah usai.


Diapun segera berlari menuju ruang kesehatan tempat dimana sang putra dirawat dengan hati cemas.


“ Bagiaman kondisi putraku ?....”, tanya Elena penuh kekhawatiran.


“ Operasi Alpha berhasil tapi kondisinya masih kritis saat ini….”


“ Jika Alpha bisa melewati malam ini, maka semuanya akan baik – baik saja…. ”, Lupe berusaha untuk menenangkan Elena yang saat ini terlihat sangat lemas tak bertenaga.


Perlahan dia membuka ruang rawat Scoth sambil berderai air mata melihat tubuh putranya tersebut terbujur lemah diatas ranjang dengan banyak selang di tubuhnya.


“ Ibu….”


“ Aku yakin Scoth mampu melewati semuanya dengan baik….”


“ Kita berdua harus tetap optimis dan mendoakan kesembuhannya…”, ucap Isabella sambil memeluk erat Elena yang tubuhnya mulai bergetar karena menangis.


“ Terimakasih telah menyelamatkan putraku….”


“ Jika tak ada kamu, mungkin Henry sudah membunuh Scoth dan….”, Elena tak bisa menyelesaikan kalimat yang baginya sangat menyakitkan tersebut.


Isabella terus memeluk erat calon mertuanya itu sambil membisikkan kata – kata penyemangat agar hati Elena bisa lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2