
Nafas lelaki tampan tersebut terlihat turun naik dengan cepat dan keringat dingin membasahi dahi dan pelipisnya.
Terkadang dia mengucapkan beberapa kalimat dan memanggil sebuah nama dengan nada sangat lirih sambil memeluk sebuah gelang kecil yang ada dalam genggamannya.
Rasa sakit yang teramat dalam membuatnya membuka mata dengan nyalang. Maniknya berwarna darah seolah ingin mencincang hidup – hidup siapa saja yang lewat dihadapannya.
Melvin pun menghilang seiring dengan warna mata yang berubah kembali menjadi gelap. Aura kesedihan terpancar jelas disana.
Tak terasa, air mata mulai mengenang di pelupuk mata dan hanya dengan satu kedipan langsung menetes dipipi.
Mata Scoth terlihat kosong tanpa adanya warna disana. Tangan yang kekar dengan urat menonjol tersebut mengepal kuat.
Dia sangat frustasi dan marah, bagaimana tidak, mate yang sudah ditunggunya sangat lama saat ini sedang berada diarea musuh.
Sejak Isabella menghilang beberapa minggu yang lalu, ini adalah jejak terjelas yang bisa laki – laki itu dapatkan.
Namun dia juga tak bisa bunuh diri dengan nekat masuk kedalam kerajaan Eternita.
Bukan hanya bisa membunuhnya, aksi nekatnya ini ditakutkan akan melukai mate nya yang masih sangat kecil tersebut.
Scoth tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sampai matenya terluka karena dirinya. Semua hal buruk ini terjadi semata – mata karena kecerobohannya yang tak becus untuk menjaga Isabella agar tetap aman.
“ Apa yang harus aku lakukan sekarang ?....”, batin Scoth sambil mengacak – acak rambutnya dengan frustasi.
Perlahan dia merasakan aroma menenangkan tersebut. Aroma vanilla white musk yang selalu bisa membuatnya gila dan hilang kendali.
Samar – samar dari dalam kegelapan, dia melihat sosok gadis kecil cantik berjalan mendekat kearahnya.
Merasa ini adalah mimpi, Scoth terlihat mengusap kedua matanya beberapa kali dan mencubit pipinya agar terbangun.
“ Mate…itu mate kita….”, teriak Melvin girang.
Melihat Scoth hanya terdiam tak bereaksi, membuat Melvin menjadi geram dan diapun kembali berteriak.
“ Apa yang kau lakukan ? !!!...Cepat sambut mate kita !!!...jangan diam saja !!!.... ”, teriak Melvin geram.
Setelah mengambil nafas panjang beberapa kali, Scothpun akhirnya beranjak bangun dan mendekati Isabella yang masih menatapnya dalam diam.
“ Apakah ini nyata ?...syukurlah kamu selamat….”, ucap Scoth penuh haru sambil memeluk Isabella dengan erat.
__ADS_1
Meski sedikit terkejut akan tindakan implusif lelaki yang ada dihadapannya itu namun entah kenapa Isabella merasa nyaman dengan pelukan tersebut.
“ Om kenapa ?...apa om kenal aku ?...”, tanya Isabella binggung.
Deggg,…
Jantung Scoth seperti berhenti berdetak waktu matenya menanyakan hal yang aneh seperti itu. Berbagai macam pertanyaan mulai hinggap dalam benaknya.
Untuk memastikan semuanya, perlahan Scothpun melepaskan pelukannya dan mulai menatap Isabella yang masih berwajah datar menatapnya tajam.
“ Isabella…apa kamu tidak mengenalku ?...aku Scoth….”, ucap Scoth dengan tatapan penuh selidik.
“ Scoth….”, ucap Isabella lirih sambil memiringkan sedikit kepalanya.
Melihat gadis kecilnya seperti tak mengenalnya, sejenak Scoth mulai berpikir “ Apakah dia hilang ingatan ?...”
Scoth segera memutar tubuh Isabella dan mulai mengamati tubuh matenya tersebut, takut ada luka yang tak terlihat olehnya.
Meski Scoth terlihat garang tapi entah kenapa dia tidak merasa takut. Bahkan dia merasa nyaman berada disamping lelaki yang baru saja ditemuinya itu.
“ Kenapa aku merasa jika aku sudah kenal lama dengannya ?....”, batin Isabella penasaran.
Isabella yang sudah mengalami peningkatan kemampuan akhirnya menggunakan kekuatan teleportasi agar bisa keluar dari dalam kerajaan Eternita tanpa diketahui orang lain.
Begitu tiba, dia langsung melihat sesosok lelaki yang terdiam mematung di bawah sebuah pohon besar yang digunakannya untuk bersandar.
“ Ayo kita pulang….”, ucap Scoth sambil menepuk pundak Isabella pelan.
Tepukan tangan Scoth dipundak Isabella langsung membuyarkan lamunannya dan dengan spontan diapun mengangguk.
Melihat matenya setuju dengan ajakannya, Scothpun segera mengendong gadis kecil itu dan langsung membawanya pergi sebelum Lord Edward sadar jika Isabella tak ada dalam istana.
Mengingat jika Isabella masih hilang ingatan, Scoth yang tidak ingin menakuti gadis kecilnya terpaksa membawanya berlari dengan menggunakan wujud manusianya.
Isabella yang sadar jika lelaki yang mengendongnya itu bukanlah manusia biasa seperti Edward, terlihat sangat menikmati suasana malam waktu Scoth membawanya berlari dengan cepat, melampaui kecepatan lari manusia biasa.
“ Bagaimana dia bisa tertidur disituasi seperti ini….”, guman Scoth terkekeh waktu melihat kedua mata gadis kecilnya itu mulai terpejam.
Melihat gadis kecilnya sudah tertidur lelap, Scothpun segera berganti shif dengan wolfnya. Dan sekarang Melvinlah yang memegang kendali.
__ADS_1
Dia segera berlari dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di istana Red Moon sebelum matahari terbit.
Scoth terus berlari melewati kegelapan malam dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya hutan moon valley sudah ada dihadapannya.
Para warrior langsung menunduk hormat waktu Alpha mereka melewati wilayah perbatasan pack.
Morgan dapat bernafas dengan lega waktu dia mendengar suara komando dari Alpha Scoth yang memerintahkan semua warrior untuk memperketat penjagaan.
“ Rupanya Alpha sudah menemukan luna….”, batin Morgan lega
Morgan tersenyum lebar waktu indera penciumannya mendeteksi aroma Isabella dibalik tubuh Alpahnya yang bergerak cepat menuju kedalam istana.
Dengan lembut, Scoth segera membaringkan tubuh Isabella diatasa ranjang king size miliknya dan menyelimuti tubuh gadis tersebut yang terasa sangat dingin.
Selanjutnya, diapun segera berganti shif menjadi manusia dan membaringkan tubuhnya diatas ranjang, disamping Isabella.
Scoth memeluk gadis kecilnya itu dengan erat dari belakang sambil menelusupkan wajahnya di ceruk leher Isabella dan menghirup aromanya dengan rakus.
Aroma memabukkan yang sangat dia rindukan. Setelah beberapa hari dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, pagi ini dia tidur dengan lelap sambil memeluk tubuh matenya.
Pagi ini, suasana kerajaan Red Moon kembali ceria. Berita tentang ditemukannya luna Isabella telah menyebar hingga membuat semua orang merasa sangat lega.
Morgan pun terus memerintahkan semua warrior untuk memperketat penjagaan dan tak mentoleransi para penyusup yang berniat memasuki wilayah mereka.
Carmin, adik Scoth yang sangat penasaran dengan mate sang kakak segera datang ke istana Red Moon begitu mendengar jika luna pack tersebut berhasil ditemukan.
“ Ibunda…dimana kakak iparku ?....”, teriak Carmin antusias.
“ Dia masih beristirahat dikamar bersama kakakmu…sini, temani ibunda sarapan…”, ucap Elena lembut.
Meski tak sabar ingin bertemu kakak iparnya, tapi melihat jika gadis tersebut sedang beristirahat dengan sang kakak, diapun akhirnya mengalah dan memilih untuk menemani ibundanya sarapan sambil menunggu Luna Red Moon pack tersebut turun.
Melihat sang Alpha kembali bersama lunanya tanpa mengalami cidera apapun, hati Otsana sedikit lega.
Setidaknya, Scoth masih mendengarkan ucapannya untuk tidak bertindak gegabah sehingga membahayakan diri sendiri dan matenya.
“ Syukurlah Alpha Scoth masih mendengarkan ucapanku…”, batin Otsana lega.
Diapun bertekad untuk segera melatih Isabella agar kekuatan dalam dirinya bisa segera berkembang dengan sempurna.
__ADS_1
Sehingga jika ada kejadian penculikan seperti ini, luna Red Moon pack tersebut masih bisa melakukan perlawanan.