
Begitu melihat matahari mulai terbit, Isabella buru – buru naik keatas pohon yang lebih tinggi lag dari tempatnya beristirahat sekarangi.
Begitu sampai ditempatnya semalam, dia langsung fokus menatap kearah danau cahaya dengan penglihatan supernya.
Clinggg….clingggg….clingggg…..
Begitu cahaya matahari mengenai danau, air danau yang hijau terang tersebut perlahan menghilang dan berganti menjadi air jernih dengan banyak ikan mulai naik keatas permukaan.
Melihat ikan yang naik keatas permukaan danau sangat besar, Isabellapun menyipitkan matanya untuk melihat dengan cermat ikan apa yang ada dipermukaan danau tersebut.
“ Ikan piranha ? !!!!.....”, batin Isabella syock.
Dia melihat ikan piranha sebesar ukuran manusia langsung naik dan memakan semua bangkai ikan yang mati semalam setelah air berubah warna menjadi jernih.
“ Ini tak akan mudah…..”, batin Isabella resah.
Diapun kemudian mengambil kertas yang semalam dia corat – coret untuk menjalankan rencananya pagi ini dan menambahkan beberapa item apa yang akan digunakan untuk bisa menghadapi ikan piranha tersebut.
Lamunan Isabella buyar seketika setelah suara hewan sudah mulai terdengar dibawahm tanda aktivitas pagi telah tiba.
Isabella yang melihat Sweetie masih terlerlap perlahan turun dari atas pohon untuk mencari buah – buahan sebagai sarapan mereka pagi ini.
Setelah menyantap buah yang berhasil dikumpulkannya Isabella dan Sweetie mulai melakukan perjalanan menuju kedanau cahaya.
Seperti dugaan, medan yang harus mereka lalui tak mudah untuk mencapai tempat tersebut dan Isabella tak bisa menggunakan teleportasi untuk berpindah tempat langsung di dekat danau kematian.
Jadi dia harus berjuang kesana dengan upayanya sendiri. Setelah berjalan kurang lebih selama tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di sebuah aliran sungai besar yang cukup besar untuk mereka lewati.
Warga Evoporania menyebutnya sebagai sungai permata karena batu – batu yang berkilauan ada didasar sungai tesebut benar - benar permata permata asli.
Jika dilihat dari bentuk dan model batu permata yang ada didasar sungai tersebut, bisa Isabella perkirakan jika harganya akan sangat mahal jika dijual dijaman modern tempatnya tinggal selama ini.
Sweetie yang terpesona akan keindahan batu permata yang ada dalam sungai tersebut tanpa sadar langsung berlari dan melompat masuk kedalam sungai.
Byurrrr…..
“ Arghhhh !!!.....”, teriak Sweetie dengan tubuh penuh dengan aliran listrik.
Isabellapun segera menggunakan kekuatan angin untuk membawa tubuh Sweetie kembali kedaratan.
“ Apa itu tadi ?....bagaimana aku bisa tersengat listrik yang begitu kuat ?....”, Sweetie berkata dengan wajah sedih.
__ADS_1
Kedua mata Sweetie terlihat berkaca – kaca waktu melihat bulu – bulu putihnya yang cantik sebagian telah berubah warna menjadi hitam, gosong terkena sengatan listrik yang ada disungai tersebut.
“ Apakah kamu bisa mengembalikan bulu putihku yang indah itu ?....”, Sweetie berkata sambil memohon dengan kedua mata berkaca – kaca kepada Isabella.
Isabella yang hendak menggoda sahabatnya mengurungkan niatnya begitu melihat jika kelinci putih tersebut hampir menangis karena kehilangan sebagian bulu putihnya yang indah dan lembut itu.
“ Tentu saja, tapi dengan satu syarat….”, ucap Isabella sambil mengacungkan telunjuknya dihadapan Sweetie.
“ Apapun itu akan kulakukan asal bulu putihku yang indah bisa kembali….”, ucapnya dengan bibir mencebik menahan tangis.
Swinggg…..
Tubuh Sweeetie diselimuti oleh pusaran sinar putih salju yang keluar dari telapak tangan Isabella hingga menelan seluruh tubuh kelinci gemuk itu.
Seiring dengan hilangnya sinar putih tersebut, bulu putih Sweetie yang putih, lembut dan tebal tersebut sudah kembali membuat kelinci tersebut tertawa kegirangan.
“ Bulu indahku sudah kembali !!!!....”, teriak Sweetie tak percaya.
“ Cepat katakan kau ingin apa, aku akan segera mengabulkannya…..”, ucap Sweetie kegirangan.
“ Janji ya…kamu akan menuruti semu perkataanku….”, ucap Isabella serius.
“ Janji….”, Sweetie berkata dengan pasti.
Sweetie benar – benar kesulitan menelan ludahnya setelah mendapatkan peringatan keras dari Isabella.
Namun jika memikirkan lagi nyawanya hampir saja kembali melayang karena tindakan cerobohnya, dia merasa wajar jika Isabella marah kepadanya.
“ Baiklah…aku janji tidak akan ceroboh lagi….”, ucap Sweetie penuh penyesalan.
Isabella pun segera berdiri ditepi sungai untuk mengamati apa yang membuat sungai yang tampak jernih dan tenang tersebut mengandung aliran listrik.
Setelah diamati cukup lama dan teliti ternyata didalam sungai banyak sekali belut listrik transparan.
Karena bentuknya yang transparan jadi sekilas orang akan menganggap tidak ada hewan berbahaya tersebut didalam sungai.
“ Pantas saja permata tersebut dibiarkan begitu saja berada didasar sungai tanpa ada yang mengambilnya, ternyata penjaganya sangat berbahaya seperti ini….”, batin Isabella bermonolog.
Dipuan segera memikirkan cara untuk bisa melewati aliran sungai yang lumayan luas tersebut karena hanya dengan menyeberangi sungai itu sebagai cara satu – satunya agar dia bisa sampai ke pegunungan berselimut salju yang menjulang tinggi dihadapannya.
“ Jika aku tak bisa berteleportasi, apakah aku bisa menggunakan kekuatanku untuk menyelesaikan misi kali ini….”, guman Isabella sambil memncoba membuat pusaran angin yang cukup besar dari kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Pusaran angin tersebut dia pergunakan untuk menopang tubuhnya dan Sweety agar bisa melewati sungai permata tersebut dengan mudah.
Perlahan Isabella mulai menggerakkan pusaran angin yang membawa tubuhnya dan sahabatnya itu melintasi sungai.
Meski langkah tersebut berhasil, nyatanya semua itu juga tak semudah apa yang dibayangkannya tadi.
Pusaran angin tersebut bergerak lambat sewaktu sudah berada diatas sungai permata membuat Isabella harus mengerahkan tenaga cukup besar agar tubuhnya dan Sweetie bisa sampai di ujung sungai.
Baru setengah perjalanan Isabella sudah merasa kelelahan hingga dia hampir menyerah. Untung Sweetie terus memberikan semangat agar sahabatnya itu terus berjuang hingga akhir.
Akhirnya, dengan perjuangan keras Isabella dan Sweetie sampai juga ditepi sungai permata. Keduanya langsung terbaring lemas diatas pasir sungai karena kelelahan.
Setelah nafas keduanya kembali teratur, mereka segera mengeluarkan buah – buahan yang dijadikan perbekalan agar energy merek bisa terisi kembali secepatnya sebelum melanjutkan perjalanan yang terlihat lebih menantang dari pada sebelumnya.
Sementara itu, Alatariel yang sudah berhasil lolos dari padang tengkorak dengan susah payah karena harus berlari sepanjang waktu saat ini sudah berada di ujung padang gurun pasir yang sangat luas.
Dapat dia lihat dipapan petunjuk jika padang gurun yang membentang luas dihadapannya bernama Gurun Sunyi.
Jika dilihat memang gurun tersebut sama sekali tak ada kehidupan. Bahkan hembusan angin yang bertiup juga tak menimbulkan suara apapun.
Membuat Alatariel merasa jika medan yang harus dilaluinya itu lebih sulit daripada apa yang telah dihadapinya tadi di padang tengkorak yang sangat berbahaya itu.
“ Kurasa aku akan beristirahat sejenak sambil memikirkan cara melewati ini semua….”, guman Alatariel sambil duduk di perbatasana antara padang tengkorang dan gurun sunyi.
Untuk menguji apakah gurun pasir tersebut berbahaya atau tidak, Alatariel melemparkan satu batu yang berhasil didapatkannya.
“ Seperti dugaan….”, guman Alatariel miris.
Batu yang dilemparkannya tersebut perlahan tenggelam dan masuk kedalam pasir dengan cepat hanya dalam hitungan detik.
Bisa dibayangkan jika Alatariel yang melangkah kesana, otomatis tubuhnya akan langsung terhisap pasir tersebut hingga mati lemas didalam sana.
Melihat betapa cepat dan kuatnya pasir tersebut menhisap batu yang dilemparkannya tadi membuat Alatariel terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam, berpikir keras bagaimana caranya dia melewati gurun sunyi yang sangat luas tersebut tanpa mati konyol disana.
Untung saja Alatariel sudah membawah banyak sekali perbekalan ramuan dalam tas punggung yang dibawahnya tersebut.
Sehingga dia harus memikirkan dengan cermat ramuan apa yang akan dia gunakan, mengingat setiap ramuan memiliki masa waktu sendiri – sendiri.
Selain memikirkan ramuan apa yang akan diminumnya, Alatariel juga harus menentukan kemana arah tujuan dia berjalan agar dia bisa memaksimalkan efesien waktu yang akan dia pergunakan sesuai dengan jangka waktu masa kerja ramuan.
Alatariel tampak sedikit kebingungan karena tidak ada perbedaan antara kanan dan kiri. Semua tampak sama karena disana hanya ada pasir yang membentang luas tanpa ada tumbuhan, batu atau apapun yang bisa dijadikan pegangan selama perjalanan nantinya.
__ADS_1
Tidak ingin berbuat ceroboh, Alatariel segera mengambil ramuan apa yang akan dia minum selama perjalanan melewati gurun sunyi ini dan meletakkan botol – botol kecil ramuan aneka warna tersebut kedalam tas kecil yang ada dipinggangnya.
“ Dengan begini aku bisa dengan mudah menggunakan ramuan tersebut jika keadaan berada diluar prediksiku….”, guman Alatariel bermonolog.