Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Senyum puas Ester


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba. Seorang kepala pelayan bersama empat wanita berpakaian maid datang ke kamar Mulan di pagi buta. Wanita itu membangunkan Mulan yang sejujurnya hanya pura-pura tidur saja.


Akhirnya Mulan hanya bisa pasrah ketika empat orang itu memperlakukannya seperti ratu dengan memberikan perawatan tubuh dan wajah sebagai ritual persiapan pernikahan.


"Maaf, Nyonya. Saya harus melepaskan rambut palsu Anda."


Mulan yang tengah berendam air bunga di bathtub langsung membelalak mendengar permintaan izin sang kepala pelayan. Rambut palsu? Bagaimana bisa wanita itu tahu rahasianya?


"Tidak bisa! Ini rambut asli," sangkal Mulan uring-uringan.


"Saya tahu, sebenarnya ini rambut palsu." Wanita itu tanpa peringatan langsung menarik rambut keriting Mulan sebelum si pemilik menahannya.


Benar saja. Rambut palsu itu terlepas dan membuat empat orang lainnya membelalak bersamaan.


Mulan hanya bisa mendesis putus asa. Tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan sebab penyamarannya sudah diketahui semua orang.


Ternyata belum cukup di situ saja kegelisahan Mulan terjadi. Wanita berwajah tegas dengan rambut dicepol rapi itu kembali memberinya perintah.


"Bisa buka mulut Anda?"


"A-apa?" Mulan tergagap.


"Anda ingin melepas gigi palsu Anda sendiri atau ingin saya yang melepaskan?" Kini wanita itu memberi pilihan.


Terpaksa, Mulan memilih melepaskan sendiri gigi palsunya. Keempat maid yang tengah menggosok kulitnya kembali terbelalak ia buat. Namun, mereka buru-buru menundukkan kepala demi menutupi keterkejutan.


Menunjukkan gigi palsunya pada sang kepala pelayan, Mulan melirik sinis pada wanita itu. "Puas kau sekarang?" geramnya penuh kemarahan. "Sekarang apa lagi yang harus kulepaskan! Kaki? Tangan?" tanyanya seperti menantang.


Si kepala pelayan hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa. Selanjutnya ia pun beranjak keluar usai memberi perintah pada empat orang maid itu untuk bekerja dengan baik.


***


"Anda cantik sekali, Nyonya," puji sang MUA usai menyelesaikan pekerjaannya merias Mulan. Dengan mata yang berbinar, wanita itu menatap Mulan penuh kekaguman.

__ADS_1


Tak ada senyum di wajah Mulan. Wanita itu hanya menatap cermin dengan tatapan hampa. Sekuat apa pun dirinya berusaha, tetap takkan mampu menghentikan pernikahan. Tak pernah terbayangkan di benaknya akan mengakhiri masa janda bersama pria berumur yang belum pernah ia kenal.


Entah dirinya ini disebut wanita bodoh bodoh atau lemah. Bisa semudah itu tunduk pada seseorang sekalipun belum ada jaminan pastinya. Ia bahkan tak tahu menahu bagaimana keadaan putranya sekarang. Sehatkah anak itu? Masih hidupkah sampai sekarang? Benarkah mereka akan berjumpa setelah pernikahan ini benar-benar digelar?


Mata Mulan memanas. Wanita itu selalu ingin menangis setiap kali mengingat putranya. Ia benar-benar menitikkan air mata, tetapi sang MUA yang menyadari itu langsung buru-buru mengusap pipinya menggunakan selembar tisu dengan lembutnya.


"Nyonya menangis? Apa yang membuatmu sedih, Nyonya?" ujarnya dengan nada iba.


Mulan berusaha menelan tangisnya, lalu menggeleng lemah untuk menyakinkan. "Aku tidak pa-pa."


"Ini hari pernikahanmu. Seharusnya kau bahagia."


Ya. Seharusnya dia bahagia. Seharusnya ia menikah bersama pria yang dia cinta. Namun faktanya?


***


"Tuan, apakah Anda sudah siap?"


Pria yang tengah berdiri sambil menatap ke luar menembus dinding kaca itu menoleh sebentar lalu mengembalikan pandangannya. Menatap lurus ke arah deretan kendaraan yang menyemut di bawah sana dari ketinggian.


Hari ini adalah hari pernikahannya. Namun, tidak seperti orang-orang pada umumnya yang bahagia melepas masa kesendirian. Bara justru terlihat tak bahagia dengan hari bersejarahnya.


Tentu saja tak bahagia. Ia akan menikah dengan wanita yang belum pernah dijumpainya. Tak pernah kenal sebelumnya. Tanpa ada perasaan cinta. Bahkan traumatik yang menghantuinya selama ini masih belum terhapus dari benaknya.


Mengembuskan napas berat, ia akhirnya berbalik badan. Tak ada sepatah kata yang terucap. Kaki panjangnya lantas berayun melangkah keluar dari ruangan. Hendrik sigap mengikutinya dan berjalan di belakang seperti biasanya.


***


Ester dan Damar yang berada di ballroom hotel tempat Bara melakukan ijab kabul tampak tersenyum melihat kemunculan putranya di sana. Sepasang suami istri itu terlihat sangat bahagia. Sama sekali tak peduli dengan wajah datar yang hari ini putranya tunjukan.


Hendrik menyiapkan kursi untuk Bara. Ia mempersilakan sang bos duduk pada kursi yang yang sudah disiapkan berseberangan dengan penghulu. Ia lantas berdiri beberapa langkah tepat di belakang Bara. Bersikap siaga jika sewaktu-waktu Bara membutuhkannya.


Suasana ballroom hotel itu sudah sangat ramai. Seluruh tamu undangan tampaknya sudah hadiri di tempat itu.

__ADS_1


Ester dan Damar memang sengaja mengundang banyak tamu yang terdiri dari kerabat, teman dan kolega. Mereka ingin pernikahan putranya diketahui semua orang.


Bara terlihat menghembuskan napas berat. Pria itu masih memasang wajah tanpa ekspresi sejak masuk ke ruangan akad nikah itu tadi. Ester memahami benar perasaan putranya. Bara tampaknya belum siap. Lebih-lebih lagi ia menekan pria itu dengan kelemahan yang dimilikinya. Namun, Ester memiliki alasan kuat untuk ini. Ia tidak sembarang memilih calon bagi putranya.


Diakui Ester, wajah polos Rayyan dan kecerdasan anak itu memang membuatnya jatuh hati. Namun, hal itu tidak lantas membuatnya jadi buta untuk tidak menyelidiki latar belakang kehidupannya. Termasuk silsilah keluarga dan pernikahan orang tuanya.


Jujur, panggilan papa yang ditujukan Rayyan kepada Bara waktu itu membuat Ester penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam. Hingga akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Ester yang akhirnya berujung pada pemaksaan kehendak Bara. Ia sangat yakin, Bara tidak akan pernah menyesal telah menikahi Wanita beranak satu itu.


"Tuan."


Suara panggilan seseorang pada Damar membuat Ester menoleh ke arahnya. Edo yang tengah membungkuk sambil berbisik pada Bima langsung menyapa indera penglihatan wanita itu.


Kening Ester sedikit berkerut tatkala melihat tiga orang asing yang berdiri di belakang Edo. Sejenak wanita itu berusaha mengingat-ingat mereka siapa, hingga akhirnya pertanyaan itu terjawab setelah Edo memperkenalkan mereka. Mereka yang terdiri dari seorang pria paruh baya dan dua wanita beda usia.


"Tuan, Nyonya, ini adalah keluarga dari Nyonya Mulan," ujar pria itu.


"Owh. Selamat datang." Bima dan Ester kompak berdiri dari duduknya kemudian bersama-sama menyambut calon besan dengan ramah.


Seperti permintaan Mulan, Bima dan Meylisa datang ke acara pernikahan itu dengan penampilan sederhana. Namun, tidak demikian dengan Alexa. Gadis itu memang sulit diajak kerja sama. Alexa tetap menggunakan barang-barang branded yang ia punya.


Saat baru memasuki ballroom hotel, gadis itu sempat ternganga tak percaya. Ia mengira pernikahan sepupunya akan digelar sederhana. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pernikahan janda itu justru digelar sangat mewah. Ia bahkan disambut seorang pria bertubuh tegap dan berwajah rupawan ketika baru saja tiba.


Bima akhirnya Edo antar untuk duduk di kursinya. Sebuah kursi yang khusus disediakan untuk wali nikah Mulan menggantikan orang tuanya yang tiada.


Saat itulah, mata Alexa tertuju pada mempelai pria yang sudah lebih dulu duduk di sana. Entah mengapa, gadis itu langsung terpesona. Selama ini dirinya hanya mengenal Bara dari rumor yang beredar. Namun, ternyata wajah asli pria itu sangatlah tampan.


Oke. Dari segi fisik sepertinya Mulan satu step lebih unggul dari dirinya yang masih lajang. Akan tetapi sepupunya itu tak tahu jika sosok Bara itu sebenarnya pria tak berperasaan.


Sikap tidak sopan Alexa yang bahkan tak berkedip sama sekali saat menatap Bara itu tak luput dari perhatian Ester. Wanita itu hanya diam-diam menyeringai tipis.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya tiba saatnya Mulan muncul di tempat akad nikah. Wanita itu berjalan dengan hati-hati. Dua wanita cantik tampak menggandeng tangan kanan dan kirinya untuk mendampingi.


Seluruh pasang mata langsung terarah kepadanya penuh takjub. Suasana yang sebelumnya terasa bising kini sejenak berubah hening. Tak lama kemudian terdengar bisik-bisik para tamu undangan yang menyanjung kecantikan Mulan.

__ADS_1


Ester dan Damar saling pandang, lalu bibir mereka tersenyum penuh arti bersamaan. Mereka benar-benar tak salah memilih Mulan. Lebih-lebih lagi setelah menangkap bagaimana reaksi pertama Bara melihat sosok mempelai wanitanya. Ester sungguh merasa puas.


Tak masalah jika mereka mengawali semuanya atas unsur paksaan. Bukankah itu lebih baik dari pada diawali dengan pacaran dan diwarnai perzinahan.


__ADS_2