
Tubuh Mulan terasa panas dingin sepeninggalnya Bara dari sana. Wanita itu menggigit ujung jari dengan wajah gelisah. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tetap di sini atau datang pada Bara dan menyerahkan tubuh secara sukarela?
Ah, tiba-tiba Mulan merasa bimbang. Di satu sisi, ia merasa wajib datang dan menyerahkan diri karena sudah sah menjadi istri. Namun, di sisi lain ia juga berpikir jika dirinya benar-benar melakukan ini, kok kesannya murahan sekali. Mengapa harus dirinya yang datang? Bukankah seharusnya Bara yang membimbingnya untuk mereka melakukan bersama? Wanita itu benar-benar dalam dilema.
Mulan berjingkat saat tiba-tiba ponselnya yang tergeletak di nakas itu berdering. Ia buru-buru menggapai dan membisukan suaranya demi tidak mengusik tidur lelap Rayyan. Sebuah panggilan tak terjawab beserta satu pesan ia terima.
Astaga. Itu foto profil Bara. Mulan bahkan tak tahu, sejak kapan pria itu menyimpan nomor kontaknya?
"Kenapa lama sekali? Aku menunggumu sejak tadi. Apa perlu aku kembali ke sana dan kita melakukan itu disaksikan oleh Rayyan?"
Mata Mulan mendelik usai membaca pesan Bara. Tepukan pelan kemudian mendarat di jidatnya. Pusing. Kenapa kata-kata Bara sekarang jadi mesum begini? Apakah begini efeknya pria yang sudah beristri?
Mulan menggigit bibir bawah lalu memijat pelipisnya. Ia perlu relaksasi sebentar demi menenangkan pikiran. Tak berapa lama ia menoleh pada Rayyan yang masih tertidur lelap di tempatnya. Bagaimanapun juga wanita satu putra itu harus segera mengambil keputusan. Semakin lama dalam kebimbangan, itu sama saja dengan membuat waktu banyak terbuang. Jangan sampai Bara benar-benar melakukan ancamannya. Jangan sampai pria itu kembali dan memaksanya melakukan di sini. Ini sungguh tidak aman untuk Rayyan.
Akhirnya ia benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan sang putra meski dengan langkah berat. Semakin jauh ia melangkah, deguban jantungnya juga terasa semakin cepat. Wanita itu menepuk-nepuk dadanya, berharap deguban jantung itu kembali normal seperti sedia kala.
Plis, ini tidak benar-benar malam pertamanya. Mulan bahkan seorang janda. Ia pernah melakukan sebelumnya. Bisakah jantung ini berdetak normal saja?
Sampai di depan pintu, lagi-lagi Mulan dihinggapi rasa ragu. Ia berhenti di sana dengan tangan menggantung di udara lantaran urung menyentuh gagang. Bagaimana ini? Di saat dulu dirinya begitu berharap, sekarang justru tiba-tiba tidak siap. Ia butuh waktu sedikit lagi untuk benar-benar memantapkan hati.
Dan ketika ia memutuskan mantap untuk masuk, tiba-tiba gagang pintu yang Mulan pegang seperti diputar dari dalam dan ia merasakan sebuah tarikan. Terang saja ia terkejut sebab di waktu yang bersamaan, Bara juga membukanya dari dalam.
Duh, kenapa bisa barengan gini, sih?
Jika Bara menghampirinya dengan suka cita atas kedatangannya di kamar itu, Mulan justru bergerak mundur dengan tatapan ngeri pada sang suami. Bagaimana tidak, rupanya Bara sudah menukar pakaiannya dengan handuk kimono warna putih dan rambutnya setengah basah. Bagian dada pria itu setengah terbuka, menampilkan dadanya yang putih bersih dan berotot.
Ah, otak mesum Mulan malah memikirkan sesuatu milik Bara yang berada di bawah sana. Jangan-jangan pria itu sengaja tidak membungkusnya? Astaga Mulan. Apa-apaan sih kamu.
"Kau sudah datang rupanya. Aku baru saja hendak menjemputmu. Apa Rayyan sempat terbangun?" Bara berujar untuk mengusir ketegangan Mulan. Ia bisa melihat itu dari sikap istrinya yang berbeda. Pria itu tersenyum memaklumi. Mungkin ini alasan Mulan tidak langsung menyusulnya datang kemari.
__ADS_1
"Tidak. Rayyan masih tertidur pulas dengan posisi seperti tadi," jawab Mulan dengan nada rendah. Ia tak bisa menatap Bara sepenuhnya saat bicara. Hanya sesekali saja sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Suasana kembali dilingkupi keheningan. Mulan yang bingung harus berbuat apa, sedangkan Bara masih mengamati tingkah istrinya tanpa sedikit pun mengalihkan perhatian darinya.
Mulan yang menyadari itu terang saja merasa jengah. Tak tahukah pria itu jika dirinya sedang mengalami krisis percaya diri? Ia bahkan belum sempat berendam air kembang tujuh rupa saat mandi sore tadi.
"Kenapa menatap saya seperti itu?" Akhirnya Mulan melontarkan pertanyaan demi mengusir rasa gugup. Namun, sepertinya percuma saja. Rasa gugup kian menjadi oleh senyuman Bara yang penuh arti.
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Kau sama sekali tidak berniat masuk ke kamar kita?"
Mulan tak menjawab. Ia menunduk demi memutus kontak mata dengan Bara. Ia pikir Bara akan masuk lebih dulu dan membiarkan dirinya menyusul di belakang, tetapi rupanya Mulan salah. Saat menunduk, ia merasakan sentuhan pada bahu, lantas bertambah kuat seperti dorongan tapi tidak terasa menyakitkan hingga ia membentur tembok yang berdiri kokoh di belakangnya.
Spontan Mulan mendongak. Saat itulah ia terkejut mendapati wajah Bara begitu dekat dengan wajahnya. Pria jangkung itu sedikit membungkuk dengan tangan bertumpu pada dinding di sisi kepala Mulan. Untuk beberapa saat tatapan mereka terkunci satu sama lain.
"Kenapa tidak mau masuk? Kau belum siap untuk malam pertama kita?"
Bisikan Bara itu membuat Mulan mengerutkan keningnya. Ia tidak menjawab, tetapi bukan berarti membenarkan. Pria itu salah memahami sikap diamnya. Sungguh, bukan begitu maksud Mulan.
Ah, kalau sikap prianya seperti ini lantas tanggapan apa yang akan diutarakan si wanita. Mulan jadi bingung. Apakah ini taktik Bara agar dirinya mau menyodorkan tubuh secara sukarela? Apa begini cara Bara membuatnya merasa tidak enak hati kepadanya?
Melihat Mulan yang terbengong justru Bara malah tersenyum. Wanita itu menggemaskan sekali jika sedang begini. Sangat cantik. Membuat matanya tak bisa berpaling dari ciptaan Tuhan yang satu ini.
Kini fokus Bara berpindah pada bibir Mulan. Begitu ranum, hingga membuatnya membayangkan rasanya selegit apa. Meski pikiran berkata jangan, tetapi naluri Bara sebagai laki-laki terus saja memerintah. Ia susah menahan diri hingga tanpa sadar mencondongkan wajahnya hendak meraup bibir itu.
Mulan yang sejak tadi begitu waspada akan gerak-gerik Bara sepertinya bisa membaca maunya pria itu apa. Perasaan yang sudah berkecamuk semenjak tadi membuatnya bingung harus berbuat apa. Hingga tanpa sadar, ia membuang muka sambil terpejam ketika Bara hendak melabuhkan bibirnya di sana.
Alih-alih kesal dengan sikap penolakan Mulan, Bara justru tersenyum dalam diam. Ia tahu ini tidak ada unsur kesengajaan. Ia tahu Mulan tidak bermaksud melakukan penolakan. Mata wanita itu memejam kuat-kuat. Bibirnya mengatup rapat. Wajahnya juga memucat. Keringat dingin di pelipisnya mulai keluar. Terlihat sekali Mulan tengah menahan diri dari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Mungkin wanita itu hanya grogi. Sebuah hal wajar bagi Bara. Terlebih lagi mereka akan melewati fase terpenting pertama dalam rumah tangga. Hal yang perlu dilakukan Bara sekarang adalah membuat Mulan tenang.
__ADS_1
Jika Mulan pikir dirinya akan lolos dari serangan Bara maka itu salah besar. Mungkin Mulan bisa menyembunyikan bibirnya tepat sebelum Bara melabuhkan ciuman, lantas bagaimana dengan lehernya? Haha, wanita itu tidak sadar sekarang Bara tengah mengincar leher jenjangnya. Dan baru saja Mulan merasa tenang, ia kembali dibuat terkesiap oleh sesuatu lembut dan hangat yang tiba-tiba berlabuh di sana.
Geli yang tak tertahan membuat Mulan meloloskan erangan tanpa sadar. Wanita itu memejamkan mata, lalu menggeliat saat jilatan lembut Bara hadiahkan untuknya. Namun, ketika gigitan kecil terasa di lehernya, Mulan memekik tertahan dan tangannya refleks bergerak menahan kepala Bara.
Sejenak Bara menghentikan cumbuannya. Memandangi wajah terkejut istrinya itu dengan mata berkabut nafsu.
"Sakit?" tanyanya serak.
Mulan tak tahu harus menjawab apa selain menggeleng dengan wajah tersipu. "Tidak. Hanya sedikit terkejut."
Bara tersenyum kecil melihat respon yang Mulan tunjukkan. Itu sudah cukup menegaskan jika wanita itu telah siap. Tak ada lagi hal yang menjadi penghalang. Mulan adalah istrinya. Wanita itu sudah merelakan diri dan dirinya memiliki hak penuh atas ini.
Bara mengusap pipi merona itu dengan lembut menggunakan ibu jari. Mulan tak melakukan apa-apa selain menengadah dan membalas tatapannya. Rupanya sentuhan lembut Bara itu mampu meluruhkan ketegangan di wajah Mulan. Wanita itu bahkan memegang tangan Bara yang masih menangkup kedua pipinya.
"Mulan Jenica ...." Tiba-tiba Bara berbisik. "Mungkin aku bukanlah pria yang baik. Tapi, aku berjanji akan menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk kau dan Rayyan. Aku mencintai kalian melebihi apa pun di dunia ini. Bersediakah kau menjadi milikku seutuhnya."
Ungkapan cinta penuh perasaan itu tentu saja membuat hati Mulan merasa haru. Tak ada alasan apa pun yang membuatnya menolak pria itu. Ia mencintai Bara, sementara Bara juga ternyata mencintainya. Maka dengan mata berkaca-kaca, ia mengangguk mantap seraya menjawab. "Ya. Tentu saja aku mau."
Tak ada kata-kata lagi yang terucap dari bibir Bara selain rengkuhan erat di tubuh istrinya. Ya, Mulan bahkan merasa sesak lantaran begitu eratnya pelukan Bara. Untungnya tidak lama, sebab beberapa detik kemudian Bara mengurai pelukan keduanya untuk dapat mengecup puncak kepala Mulan.
"Terimakasih, Sayang," ucap Bara kemudian. Ia membingkai wajah istrinya kemudian mendekatkan wajah mereka.
Mulan terkesiap saat Bara tiba-tiba melabuhkan bibirnya di sana. Ia sempat mendelik beberapa saat. Namun, kelembutan Bara dengan teknik memagutnya yang lihai membuat ketegangan Mulan perlahan meluruh. Bara begitu mahir membuatnya terbang melayang. Sehingga Mulan yang awalnya hanya pasrah kini mulai bergerak dan mengimbangi serangan Bara.
Tangan pria itu bergerak lincah memeluk, meraba dan merem*s area sensitif Mulan. Hingga saat pria itu mulai melepas satu persatu kancing piyama Mulan, barulah wanita itu terkesiap dan tersadar.
"Jangan di sini, plis," bisiknya dengan napas terengah. Bara mendengar itu tapi enggan menjawab Mulan. Hanya tangannya yang bergerak merengkuh tubuh istrinya ke dalam gendongan untuk kemudian ia bawa masuk ke kamar.
Awalnya Mulan sempat memekik lantaran kaget. Namun, setelah sadar jika Bara hendak membawanya menuju surga kenikmatan dunia, ia tersenyum dan mengalungkan tangan pada leher Bara.
__ADS_1
Rupanya, kejutan demi kejutan telah menanti Mulan setelah keduanya masuk ke kamar. Mulai dari nuansa kamar yang disulap layaknya kamar pengantin, juga ribuan kelopak bunga mawar yang menghiasi ranjang. Bara sengaja mematikan lampu penerangan sebab sudah ada begitu banyak lilin kecil dengan sinarnya yang temaram menambah syahdunya malam.
"Nikmatilah, Sayang. Malam ini akan kubuat kau menjerit dan menggelinja*ng," bisik Bara usai merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.