Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Pernikahan


__ADS_3

Duduk pada kursi khusus yang disediakan untuk mempelai pria, Bara mengembuskan napas berat. Keputusannya menolak diadakannya acara resepsi pernikahan rupanya salah besar. Ia tak menyangka orang tuanya justru mengundang tamu sebanyak ini di hari akad nikahnya.


Sudah terlatih menguasai segala situasi dan menjadi pusat perhatian, pria itu tetap terlihat tenang sekalipun jantungnya berdegup kencang.


Jujur, ia tidak siap. Beruntung sang mempelai wanita belum duduk di kursinya, sehingga ia masih memiliki waktu untuk mempersiapkan mentalnya untuk akad.


Tak lama setelah dirinya duduk, Edo mendekat sambil mempersilahkan seseorang. Bara memperhatikan pria paruh baya itu dengan mata menyipit. Menempati kursi khusus yang diperuntukkan bagi wali nikah membuat pria itu akhirnya paham jika orang itu adalah paman dari calon istrinya. Tak ingin berpura-pura ramah, ia hanya menatap pria itu dengan datar.


Tak berselang lama acara pun dimulai. Seseorang yang bertugas memandu acara itu memanggil mempelai wanita untuk memasuki tempat akad nikah.


Semua pasang mata langsung tertuju ke arah pintu. Bara sendiri awalnya merasa enggan untuk menoleh ke sana untuk memberikan sambutan. Namun, sadar jika hal ini sungguh-sungguh tidak pantas dipandang orang banyak, akhirnya ia menoleh ke sana meski hanya setengah hati.


Suasana mendadak hening. Namun, itu hanya berjalan sesaat sebab kemudian bisik-bisik suara sanjungan memenuhi ruangan.


Tiga wanita berjalan pelan melewati pintu. Seiring dengan hal itu, mata Bara pun melebar dari sebelumnya. Pria itu sejenak mematung dengan kelopak mata tidak berkedip.


Benarkah yang ia lihat itu? Bara nyaris tak percaya. Sampai-sampai pria itu melempar pandangan ke arah Hendrik, seolah-olah memberi isyarat, memastikan jika yang dilihatnya itu benar.


Hendrik dari tempatnya hanya bisa tersenyum sambil mengangguk meyakinkan. Sejujurnya, ia pun baru sekarang ini melihat wajah asli Mulan. Hanya saja, sebelumnya ia memang memiliki keyakinan jika Mulan bukanlah wanita sembarangan.


Mulan yang sangat cantik berjalan pelan menuju kursi akad nikah. Balutan kebaya modern warna putih dengan riasan dan akses lengkap siger Sunda di kepala, membuatnya terlihat seperti jelmaan ratu dari khayangan.


Di hari pernikahannya seharusnya Mulan bahagia. Namun, yang terjadi wanita itu justru merasa lemas, hilang semangat seperti kehilangan separuh jiwa.


Meski menjadi pusat perhatian, tetapi tak ada senyum di wajahnya. Ia melangkah ringan seperti ingin melayang. Beruntung dua wanita cantik di sisi kiri dan kanan yang menggandengnya, membantu menyeimbangkan tubuh. Bagaimanapun ia hanya wanita biasa yang memiliki kelemahan, yang tak luput dari kesedihan. Lebih-lebih lagi hatinya kini dihantam badai tak berkesudahan.


Hanya bayangan wajah Rayyan yang mampu membuatnya bertahan hingga sekarang. Hanya Rayyan, Rayyan dan Rayyan.


Sampai di kursi tempat akad, Mulan merasa lega saat melihat Bima sudah duduk di kursinya. Namun, setelah menggeser pandangannya, Mulan tertegun melihat pria yang menempati kursi di samping kursi untuknya.


Itukah mempelai prianya?


Benarkah?


Mulan tak bisa menutupi keterkejutan. Ia bahkan lupa caranya berkedip bagaimana. Pria muda berwajah rupawan itu kini juga tengah menatapnya. Sayangnya, tidak ada keramahtamahan di wajah tampan itu sebagaimana mempelai pria lain yang berbahagia menyambut mempelai wanitanya. Mata elang itu bahkan menatap dengan tajam.

__ADS_1


Mulan sontak mengalihkan pandangan ke arah lain untuk memutus pertautan pandangan. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri ngeri. Takut dan khawatir. Jika wanita lain menikah untuk menyambut kebahagiaan, maka dirinya menikah untuk menyambut penderitaan.


Pernikahan paksa. Tak ada rasa cinta. Kekerasan dalam rumah tangga. Itu semua berputar-putar di benaknya. Belum lagi tak ada kejelasan keadaan Rayyan.


Mampukah ia bertahan?


Harus. Demi Rayyan.


"Saudara Bara Aditama, sudah siapkah Anda melakukan ijab kabul?" tanya penghulu setelah Mulan duduk di kursinya dengan nyaman.


"Sudah." Bara menjawab tegas. Keyakinan yang sama ternyata ditunjukkan pula oleh Mulan. Sehingga tak ada alasan lagi untuk mengulur waktu dan akhirnya akad nikah pun dimulai.


Jantung Mulan berdetak semakin kencang. Terlebih saat Bara mengucapkan kalimat ijab kabul dengan lancar dan lantang hanya dengan satu tarikan napas.


"Sah!" Para saksi berucap tegas.


Mulan seperti mau pingsan. Setetes bulir bening meluncur dari sudut mata. Seiring dengan ijab kabul yang dikumandangkan Bara, kini dirinya sudah sah menjadi istri pria itu juga.


Ucapan selamat dan syukur kemudian riuh terdengar. Seorang pria tokoh agama pun memimpin doa bersama dengan khusyuknya.


Meski Mulan mengangkat tangannya untuk mengaminkan, tetapi pikirannya melanglang buana entah ke mana. Menerawang masa depan dirinya bersama Bara yang tanpa gambaran apa-apa.


Ijab kabul sudah dilaksanakan. Serangkaian acara lainnya juga berjalan lancar. Jari manis Mulan sudah tersemat cincin kawin bertakhtakan berlian yang disematkan oleh Bara. Begitu pula jari manis Bara yang sudah tersemat cincin pernikahan mereka.


Sesi pemotretan juga berjalan lancar sekalipun senyum yang mereka tunjukkan penuh kepalsuan. Beruntung, tamu undangan tak ada yang menyadari jika pernikahan mereka hanya sebuah kesepakatan.


Di balik kebahagiaan dan kekaguman dari wajah-wajah yang ada di sana, ternyata ada satu pasang mata yang terlihat tak suka melihat kemeriahan pesta.


Sejak dirinya tiba, Alexa tak henti-hentinya menatap sinis pada Mulan. Meski usianya semakin dewasa, nyatanya sikap buruknya sejak dulu hingga sekarang tak pernah berubah. Bagaimana mungkin ada saudari seperti dia? Ia justru merasa tersiksa melihat Mulan bahagia. Ia tidak terima Mulan lebih unggul dari dirinya dalam hal apa pun juga.


Bisa-bisanya Mulan sudah menikah dua kali sedangkan dirinya masih melajang hingga saat ini. Melihat dari kemewahan pesta dan jajaran tamu sosialita yang hadir di sana, Alexa langsung mengira-ngira sebesar apa kekayaan keluarga Bara.


Seharusnya ia bahagia. Seharusnya ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menunjukkan pesona dan memikat pria mapan. Sayangnya, begitu banyak pebisnis muda dan tampan yang hadir di sana, di mata Alexa tak ada yang mampu memikat hatinya, sebab yang paling bersinar di antara semua hanyalah Bara Aditama, pria yang saat ini sudah resmi menjadi suami saudari sepupunya.


Sial!

__ADS_1


Sementara itu di pelaminan, Mulan hanya bisa menyalami para tamu yang memberinya selamat dengan senyum seramah mungkin.


Hendrik yang berdiri di sana tak henti-hentinya mengamati dari kejauhan. Bahkan sebuah kalimat ancaman yang tadi sempat ia bisikkan, masih terngiang-ngiang di telinga Mulan.


"Bersikaplah sewajarnya mempelai wanita yang berbahagia di hari pernikahannya. Jika tidak, maka anakmu takkan selamat."


Gigi Mulan seketika menggemertak kala itu. Ia mengepalkan tangan, lalu menatap Hendrik dengan tajam.


"Apa maksudmu!" tanyanya berapi-api. Sementara Hendrik, hanya menanggapinya dengan sembari mengulas senyum tipis.


"Acara pernikahan memang sudah dilaksanakan, Nyonya." Ia kembali berbisik dengan nada memperingatkan. "Tetapi Anda perlu ingat. Masih banyak serangkaian acara yang belum dilakukan. Jadi saya harap, Anda bisa sedikit bersabar dan mohon kerjasamanya."


Mulan mendengkus lirih. Terpaksa ia harus kembali menahan hasratnya untuk menjumpai Rayyan. Lagi-lagi mereka menggunakan sang putra untuk menekannya.


Dari tempatnya berdiri, ia memperhatikan Bara yang tengah sibuk menyapa seseorang. Mulan tak menyangka suaminya ternyata masih muda dan berparas tampan. Sayangnya pria itu sama sekali tak menunjukkan keramahan. Sedangkan pria berubah yang waktu itu sempat menekannya adalah Tuan Damar yang ternyata papanya Bara. Sedangkan wanita paruh baya yang selalu berada di sisi Damar adalah Ester, mamanya Bara.


Tiba-tiba Mulan mengerutkan kening melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita yang datangnya entah dari mana menghampiri Bara lalu memeluk pria itu sangat erat. Wanita itu terlihat sangat sedih. Namun, anehnya Bara justru tersenyum lembut sambil mengurai pelukan si wanita.


Yang membuat Mulan membelalak, Bara menggandeng tangan wanita itu dan membawanya entah ke mana. Hanya berdua.


Jujur, sebuah tanda tanya besar langsung hinggap di otaknya. Siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Bara? Bisa-bisanya mereka pergi berdua di hari pernikahan Bara dengan dirinya! Maksudnya apa?


"Nyonya. Lebih baik Anda tidak perlu mengurusi sesuatu yang bukan urusan Anda?" Tiba-tiba Hendrik berujar dengan maksud yang tersirat.


"Maksudnya?" tanya Mulan tak paham dengan kening yang berkerut.


"Saya tahu Nyonya Mulan sedang memperhatikan Tuan Bara dari kejauhan," sindir Hendrik.


Mulan berdecak, lalu membalas sindiran Hendrik dengan kalimat bernada sinis. "Siapa juga yang ingin mengurusi urusan orang! Aku hanya memperhatikan pria tak berperasaan yang malah meninggalkan istri sendiri bersama wanita lain itu saja. Menurut Anda bagaimana Tuan Hendrik? Apa itu pantas dilakukan oleh orang terhormat seperti Bara Aditama?" tanya Mulan dengan nada meremehkan sambil melipat tangan di depan dada.


"Terserah bagaimana penilaian Anda, Nyonya," balas Hendrik dengan santainya. "Yang jelas Tuan Bara tak seburuk seperti yang Nyonya pikirkan."


"Ter-se-rah!" pungkas Mulan dengan nada tak peduli. Tak ingin berlama-lama berada di dekat Hendrik dan mendapatkan tekanan batin, ia memilih pergi dari sana, berniat mengambil minuman demi membasahi kerongkongan.


Namun, belum sempat dirinya meraih sebuah gelas, seseorang sudah mencekal pergelangan tangannya dari belakang.

__ADS_1


Sesaat, Mulan menggemertakkan giginya geram sembari memperhatikan jemari pria yang melekat di pergelangan tangannya. Namun, sebelum ia meluapkan kemarahan lantaran mengira itu adalah tangan Hendrik, ia dibuat terbelalak oleh sosok yang berdiri di sana. Lebih-lebih saat pria itu menyebutkan namanya dengan ekspresi tak percaya.


"Mulan?"


__ADS_2