
Duduk pada kursi kebesarannya, Mulan memijat pelipisnya pelan setelah membaca laporan keuangan yang Cyndi berikan.
Ada banyak penyelewengan dana yang dilakukan Bima ketika dirinya tak ada. Beruntung, saat itu pemasukan perusahannya juga ada peningkatan sehingga kondisi keuangannya masih stabil. Namun, jika ini dibiarkan berkelanjutan, maka bukan tidak mungkin perusahaan papanya terancam gulung tikar.
Cyndi masih setia berdiri di sisi kanan wanita itu. Bersikap siaga jika sewaktu-waktu Mulan membutuhkannya.
Hanya Cyndi yang selama ini Mulan percayai. Hanya gadis itu pula satu-satunya orang yang mengetahui tempat persembunyiannya. Cyndi juga kerap memberi kabar kepada Mulan mengenai perusahaan sang Papa. Hanya saja, wanita itu masih enggan kembali sebelum meyakini jika keberadaan Rayyan nantinya tetap aman di tangannya.
Apa hendak dikata, takdir Rayyan kini justru berada di tangan orang asing yang tak memiliki ikatan darah dengan mereka. Namun, entah mengapa Mulan justru yakin bersama Ester Rayyan akan baik-baik saja. Mungkin karena pertemuannya dengan Rayyan waktu itu. Kondisi psikis Rayyan jauh lebih baik dari sebelumnya. Rayyan terlihat sangat bahagia karena bisa merasakan memiliki keluarga utuh seperti teman-temannya.
"Bu, Anda baik-baik saja?" tanya Cyndi cemas melihat ekspresi atasannya.
"Aku baik-baik saja, Cyndi," balas Mulan. Wanita itu menoleh sebentar pada Cyndi lalu kembali menekuri laporan itu.
Tak lama kemudian pintu terdengar diketuk dari luar hingga menarik atensi keduanya bersamaan.
"Siapa yang datang, Cyndi?" tanya Mulan pelan. Seingatnya, ia tidak meminta siapa pun menghadap kepadanya.
"Sepertinya office girl, Bu," jawab Cyndi. "Saya sengaja memintanya mengantarkan teh hangat kemari untuk Ibu."
"Oh." Mulan mengangguk. Ia membiarkan Cyndi bergegas menuju pintu untuk membukanya.
Ternyata benar, seorang wanita berpakaian office girl datang dengan membawa nampan. Di atasnya ada cangkir minum beserta tatakannya yang terlihat masih mengepulkan asap.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Cyndi setelah mengambil alih cangkir itu. Ia membawanya ke meja Mulan usai menutup kembali pintu itu. "Silahkan Bu," ujarnya.
"Terima kasih, Cyndi."
"Sama-sama, Bu."
Mulan menyeruput teh itu sedikit lalu menaruhnya lagi. Ia kembali melanjutkan memeriksa laporan itu sebentar hingga kembali terdengar ketukan. Namun, kali ini suara Bima terdengar samar di luar sana.
"Sepertinya itu Pak Bima, Bu," kata Cyndi memberi tahu.
"Biarkan dia masuk."
Cyndi mengangguk, lalu bergegas membukakan pintu.
Mulan sudah menduga ini akan terjadi. Namun, wanita itu tetap bersikap santai dengan menyambut kedatangan sang paman dengan sopan dan sebuah senyuman.
"Silahkan duduk, Om. Ada yang bisa aku bantu?"
Bima tak menempati kursi tamu, melainkan berdiri di sisi meja sambil menatap Mulan dengan tajam.
"Apa yang kamu inginkan, Mulan? Kenapa kamu lakukan ini pada Oom?" ujar pria itu seperti tak mengerti.
"Apa yang ingin saya inginkan?" ulang Mulan seperti tak paham. Namun, sejurus kemudian wanita itu tersenyum sinis. "Kenapa Om nanya demikian? Bukankah sudah jelas? Ini adalah perusahaan papa saya. Saya ahli warisnya. Apa yang salah jika saya mengambil kembali hak saya?"
__ADS_1
"Tapi tidak begini caranya, Mulan. Kenapa mendadak seperti ini? Lebih-lebih lagi di depan seluruh kepala divisi seperti tadi. Kamu sama saja sedang mempermalukan saya di depan mereka tau!"
Mulan tertawa geli. "Mempermalukan? Kok bisa Om merasa malu? Apa karena Om mengaku-ngaku pemilik asli perusahaan ini?"
Bima menggemertakkan giginya menahan amarah. Kata-kata keponakannya seperti sebuah tamparan keras di wajah. Ia memang sudah mengklaim dirinya sebagai penerus perusahaan ini meskipun masih belum berhasil mengambil alih. Ia bukan hanya malu pada karyawan, tetapi juga para kolega yang pernah bekerja sama dengan dirinya.
Namun, meski perkataan Mulan seratus persen memang benar, tentu saja Bima tak ingin mempermalukan dirinya lagi dengan mengakui hal itu secara gamblang. Ia hanya ingin Mulan menarik lagi keputusan itu dan memberinya kesempatan lagi untuk beberapa waktu.
"Bukan begitu, Mulan. Kamu tahu sendiri, kamu ini menghilang sangat lama. Apa kamu pikir perusahaan ini bisa jalan dan berkembang dengan sendirinya tanpa campur tangan Om? Setidaknya berilah Om kesempatan sampai kerja sama dengan ECC ini berakhir, lalu kemudian Om akan kembali ke posisi dulu dan bekerja dengan baik."
Mulan menggeleng tegas. "Sayang sekali, keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa lagi diganggu gugat, Om Bima. Saya tetap pada keputusan awal, mengambil alih perusahaan ini."
Ungkapan Mulan itu membuat Bima meradang. Pria itu mengepalkan tangan.
"Dasar tidak tahu diuntung!" maki Bima pada Mulan. "Begitukah cara kamu berterima kasih pada Oommu?"
"Terima kasih, Om," sahut Mulan dengan ekspresi tulus yang dibuat-buat. "Terima kasih banyak atas apa yang Om lakukan untuk perusahaan ini. Terima kasih banyak atas dedikasi Om selama ini. Tapi, bukankah Om juga ikut menikmati hasil dari perusahaan ini?" Mulan mengangkat sebelah alisnya. Ia bangkit dari duduk, berdiri di depan Bima lalu menatapnya sambil bersedekap dada.
"Saya tahu, selain mendapatkan gaji yang sangat besar, Om juga banyak menyelewengkan dana perusahaan!" lanjut Mulan lagi. "Om ..., kira-kira apa yang terjadi dengan saya seandainya Anda berhasil mengambil alih perusahaan ini? Emm, menjadi gembel? Terlunta-lunta di jalanan?" Mulan menyeringai, dan itu membuat Bima geram. Entah mengapa pria itu tak terima sekalipun kata-kata Mulan itu sepenuhnya benar.
"Jaga ucapanmu, Mulan! Aku ini tidak sejahat itu!" pekik Bima tak terima. Namun, lantaran sadar akan ekspresi Mulan yang sepertinya meragukan, ia beralasan dengan nada yang lebih pelan. "Aku adalah adik dari papamu. Sudah sepatutnya aku ikut menjaga yang ditinggalkan papamu itu!"
"Om, saya punya mata di mana-mana. Jangan paksa saya untuk percaya. Karena apa? Itu sia-sia."
__ADS_1
Bima tak bisa berkata-kata menanggapi fakta yang diungkapkan Mulan. Pria itu sangat marah karena keponakannya itu menyinggung perasaan. Ia jadi salah tingkah. Di satu sisi dirinya marah, tetapi di sisi lain ia tak bisa membela diri lantaran kedudukannya kalah tinggi. Demi menyelamatkan harga dirinya, ia pun memutuskan pergi dari sana dengan keangkuhan.