Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Masakan pertama Mulan


__ADS_3

Mulan akhirnya menandaskan makanan itu di bawah tatapan tajam mata Bara. Meski pria itu duduk dengan santai di sisinya seraya menyandarkan tubuh, tetapi perhatian mata Bara tak beralih sedikit pun dari Mulan.


Ia tak boleh menyisakannya barang sedikit saja. Namun, Mulan sepertinya tidak keberatan. Ia benar-benar merasa lapar dan diam-diam menikmati makanan itu dengan penuh syukur. Jika tidak begini mungkin dirinya tidak akan makan sampai esok hari.


"Sudah habis, Tuan." Mulan melapor pada Bara sambil menunjukkan piringnya yang telah kosong. Sepertinya ia perlu melakukan itu meskipun Bara tak henti mengawasinya sejak tadi.


"Minum!" titah Bara yang langsung dipatuhi Mulan dengan meneguk air putih di gelas kaca hingga menyisakan setengahnya.


"Sudah." Mulan melapor lagi.


"Apa kau sudah kenyang? Apa perlu kupanggilkan salah satu maid untuk membawakanmu makanan tambahan ke kamar ini?"


Mulan melirik Bara lalu mengerucutkan bibirnya. Ia merasa kesal lantaran tawaran Bara itu tidak terdengar seperti sebuah perhatian, melainkan tengah meledeknya. Mungkin pria itu merasa heran karena dengan tubuh kurusnya itu ia mampu menghabiskan makanan sebanyak tadi. Porsi kuli.


"Anda meledek saya?" sinis Mulan masa bodoh.


"Tidak."


"Bohong. Saya tahu Anda risih."


"Aku hanya tahu kau lapar."


"Eh?" Mulan mendelikkan mata menatap Bara. Yang dikatakan pria itu tadi apa? Mulan ingin memastikan hal itu. Namun, melihat sikap Bara yang acuh tak acuh, ia jadi enggan. Ah, jangan baper. Mungkin dirinya hanya salah paham.


Tatapan Mulan kini justru beralih pada pipi Bara. Di sana terlihat memar akibat ulahnya tadi. Ah, kenapa rasa bersalah itu datang lagi? Seharusnya pria itu pantas mendapatkan itu sebagai hukuman, bukan? Bahkan ini tak sebanding dengan rasa tersiksa yang Mulan alami. Tapi bukankah dia sekarang tengah menjalankan sebuah misi? Jangan lupa, Mulan. Ada anakmu yang harus diperjuangkan. Turunkan egomu sebentar demi mendapatkan hati seorang Bara. Buang perasaan apa pun yang ada di hatimu. Fokus. Lalu setelah kau mendapatkan sepenuhnya, maka empaskan dia.


"Tuan," panggil Mulan untuk menarik atensi Bara. Berhasil, pria itu menoleh padanya meski dengan wajah datar. Dalam hati Mulan merasa senang, lalu dengan memasang wajah penuh rasa bersalah, ia pun berucap, "Maaf."


Bara justru menyipitkan mata seolah-olah menuntut penjelasan arti kata maaf Mulan tersebut.


"Maaf karena membuat pipi Anda memar. Bolehkah saya bertanggung jawab dengan mengompres di bagian situ sebentar saja?" tanya Mulan dengan senyuman ramah dan nada lembutnya. Wanita itu berusaha terlihat tulus di mata Bara, tetapi sayangnya usaha itu tak berhasil juga sebab Bara langsung saja menolaknya.


"Tidak perlu."


"Kenapa?"


"Perlukah aku menjelaskan alasannya?" Bara bertanya dengan nada lebih tinggi yang seketika membuat Mulan merasa kesal lagi.


"Tentu saja perlu! Setidaknya supaya saya tidak bertanya-tanya lagi."


Bara menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai meremehkan. "Jangan terlalu kepo pada urusan orang lain jika dirimu ingin hidup tenang."


"T–tapi!" Mulan ingin mengajukan protes tak terima, tetapi urung dilakukannya sebab Bara sudah lebih dulu beranjak dari tempat duduknya lalu menyampaikan sepatah kata sebelum keluar dari kamar.


"Tidurlah. Ini sudah sangat malam."


Tak menanggapi dengan kata, Mulan hanya menatap punggung Bara yang bergerak menjauh dengan ternganga.


***


Pagi harinya, lagi-lagi Mulan tak menemukan Bara di kamar itu ketika dia terjaga. Rupanya Bara tidak tidur di sana seperti biasanya.

__ADS_1


Kenapa begitu? Bukankah ini kamar dia? Apa karena waktu itu Mulan pernah menolaknya, sehingga Bara enggan dekat-dekat dengan Mulan? Tapi bukankah penolakan Mulan itu sesuatu yang wajar? Saat itu Mulan sedang kesal, lagipula tidak ada cinta di antara mereka, bagaimana mungkin bisa melakukan itu bersama Bara.


Entahlah. Selain merasa tak enak hati, Mulan juga merasa jengkel pada Bara. Tak enak hatinya lantaran ia merasa seperti benalu di kehidupan Bara. Ia membuat pria itu merasa tak nyaman hingga seperti terusir dari kamarnya sendiri. Namun, di sisi lain ia juga merasa jengkel. Sebagai pasangan suami istri, Bara dengan entengnya meninggalkan dirinya tidur sendirian sejak hari pertama disahkan.


Walaupun tidak melakukan apa-apa, setidaknya Bara tetap tidur di sana untuk menghargai keberadaan Mulan. Toh Mulan rela tidur di sofa andai kata Bara risih atau tak ingin berdekatan dengan dia.


Mulan bangkit dari pembaringan dan membuang sejejak kecewa di benaknya. Ia harus memulai hari ini dengan penuh semangat demi Rayyan. Misinya harus tetap berjalan. Ia akan menjalankan rencana selanjutnya.


Lantaran mengingat pertanyaan Bara semalam, ia jadi terpikirkan sesuatu hal. Sebagai istri Bara tentunya ia harus melakukan semua kewajiban, termasuk menyiapkan makanan untuk Bara, entah pria itu suka atau tidak.


"Tunjukkan kemampuan memasakmu, Mulan. Buang rasa insecure itu. Yakinlah kamu bisa." Ia berucap tegas menyemangati diri sendiri. Ia teringat akan kata-kata mamanya dulu yang selalu memberinya wejangan.


Bila ingin mengambil hati seorang pria, maka kenyangkan dulu perutnya. Lalu setelah menikah, maka penuhi tiga kebutuhannya, yaitu kebutuhan matanya, kebutuhan perutnya, serta kebutuhan syahwatnya. Dengan begitu, niscaya dia tak akan berpaling.


Ah, untuk yang nomor tiga ini, Mulan benar-benar merasa tertampar. Ia ingat pernah menolak Bara waktu itu. Apakah itu termasuk dosa besar? Tapi bukankah Tuhan itu maha tahu? Tentunya Tuhan akan mengampuni sebab ia memiliki alasan kuat untuk itu.


"Pagi, Nyonya."


Rupanya Alma sudah menunggu Mulan di depan pintu kamar. Gadis itu langsung menyambutnya ketika Mulan membuka pintunya.


"Pagi juga, Alma," balas Mulan ramah.


"Sepagi ini Nyonya sudah cantik. Apa ada rencana akan keluar rumah?" Alma tak bisa menahan diri untuk tak bertanya setelah melihat penampilan Mulan. Sangat cantik dan lebih segar dari hari-hari sebelumnya. Ia ikut senang dengan perkembangan suasana hati Mulan saat ini. Sepertinya wanita itu sekarang sedang bahagia.


"Tidak, Alma. Aku hanya ingin membuatkan menu sarapan untuk Tuan Bara. Bisa antarkan aku ke dapur sekarang?"


"Nyonya, kenapa harus turun tangan sendiri pergi ke dapur? Bukankah itu sudah menjadi tugas koki di rumah ini?" protes Alma sembari mengikuti langkah Mulan. Ia bukannya melarang, tetapi hanya ingin mengingatkan.


"Nyonya, apa itu artinya Nyonya sudah jatuh–"


"Jangan salah paham dulu, Alma," potong Mulan yang seketika membuat Alma terdiam. "Suka atau tidak suka, cinta atau tidak cinta, Tuan Bara itu sudah menjadi suamiku, bukan? Pernikahan tetaplah pernikahan. Aku harus melayaninya meskipun tidak cinta."


"Nyonya ... Anda wanita yang luar biasa." Kalimat pujian itu Alma utarakan setelah sejenak gadis itu terdiam.


Ada sejenak kekaguman di hati gadis itu kepada sang Nyonya. Belum lama dirinya mengenal Mulan, tetapi Alma sudah paham bagaimana tabiat Mulan. Wanita itu memiliki sifat keras kepala, tapi ia tahu Mulan adalah wanita yang baik. Ia juga tahu wanita itu datang kemari dengan membawa luka.


Namun, kini Mulan berusaha mengesampingkan kebenciannya dengan bersikap baik terhadap Bara. Sepertinya Mulan mau berdamai dengan luka demi bisa bersama anaknya. Iya. Tentu saja. Seorang ibu pasti akan melakukan apa pun demi anaknya. Ah, tiba-tiba Alma merasa rindu pada ibunya.


"Maksudmu apa, Alma." Mulan menatap aneh pada maidnya.


"Tidak. Saya hanya kagum pada Nyonya."


Mulan tertawa geli. "Apa yang membuatmu kagum, Alma? Kau ini berlebihan."


Alma ingin membalas, tetapi urung dilakukan sebab mereka sudah sampai di pintu dapur. Matanya justru fokus pada wajah Mulan yang seketika berbinar senang. Wanita itu terlihat takjub oleh ruangan dapur berukuran besar itu. Isinya sangat lengkap. Ada beberapa orang yang sudah berada di sana dan seketika memberi hormat setelah menyadari kedatangannya.


"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang koki pria mewakili yang lainnya untuk menyapa Mulan.


Mulan sontak membalas penghormatan itu dengan senyuman, kemudian menjawabnya dengan ramah.


"Saya tahu kalian sangat handal dalam hal membuat makanan lezat. Saya hanya ingin belajar menyiapkan makanan untuk Tuan Bara. Bisakah kalian bantu saya? Saya harap kedatangan saya tidak menggangu aktifitas kalian."

__ADS_1


"Tentu saja, Nyonya. Kami akan membantu Nyonya dengan senang hati," jawab pria bernama Rizky itu dengan antusias.


Acara memasak pun dimulai. Mulan hanya membuat menu dari roti tawar sebab Bara tidak suka sarapan dengan makanan berat. Informasi yang ia dapat dari koki jika Bara menyukai buah-buahan membuat Mulan mendapatkan ide cemerlang. Ia membuat menu sarapan sehat dengan perpaduan roti dan buah-buahan. Mulan juga tak lupa membuat salad buah. Tak muluk-muluk keinginannya. Bara mau mencicipi sedikit masakannya saja ia akan merasa senang.


Waktu sarapan pun tiba. Mulan beserta koki sudah menghidangkan makanan itu di meja makan. Mulan tak menempati salah satu kursi di sana, melainkan hanya berdiri di belakang kursi Bara dan menunggu sampai pria itu tiba di meja makan.


Yang ditunggu pun datang. Pria yang selalu terlihat tampan itu muncul dengan pakaian kerja rapi dan aroma tubuh yang wangi. Sembari berjalan mendekat, perhatian Bara tak lepas dari Mulan yang tersenyum semringah kepadanya.


"Selamat pagi, Tuan Bara. Silakan menempati kursi Anda." Mulan menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Bara duduk di sana. Pria itu tertegun sejenak, lalu dengan sedikit ragu ia akhirnya duduk di sana. Dari gestur yang ditunjukkan Bara, sepertinya pria itu merasa heran dengan perlakuan Mulan yang tak seperti biasanya.


Mulan tak terpengaruh oleh reaksi Bara. Wanita itu tetap tersenyum sambil menyajikan makanan untuk suaminya.


"Menu sarapan pagi ini ada salad buah dan roti bakar. Tuan Bara ingin menyantap yang mana dulu?"


Jujur, sebenarnya Mulan gemetaran. Jantungnya berdetak kencang. Ia cemas Bara akan marah dan melemparkan makanan itu ke wajahnya. Bukan hanya hatinya yang akan sakit jika sampai itu terjadi, tetapi juga rasa malu sebab koki dan beberapa pelayan tampak siaga berjaga di area ruang makan. Namun, Mulan membuang jauh kecemasannya itu dan tetap berusaha untuk tenang. Ia perlu mencobanya untuk mengetahui reaksi Bara. Setidaknya ia sudah berusaha, bukan?


"Apa ini masakanmu?" tanya Bara setelah memperhatikan roti bakar dan salad buah di hadapannya.


"Benar. Tapi saya meminta bantuan chef Rizky karena saya tidak ahli dalam hal memasak. Saya yakin rasanya enak sebab ada campur tangan chef Rizky di sana."


Bohong. Mulan sengaja mengatasnamakan Chef Rizky pada masakannya walaupun sebenarnya tidak demikian adanya. Chef Rizky hanya berada di sana dan menemani Mulan memasak sambil menceritakan sedikit hal tentang Bara. Apa yang pria sukai dan apa yang tidak disukai.


Bara kembali menatap roti bakar itu dengan ragu. Hal itu tak luput dari perhatian Mulan sehingga wanita itu terpancing untuk bertanya.


"Kenapa Tuan hanya menatapnya saja? Anda takut saya membubuhkan racun?"


Bara terperangah menatap wajah lugu Mulan. Ia bingung harus menyikapi bagaimana. Bisa-bisanya wanita itu terpikirkan sampai ke sana?


"Tuan ...," panggil Mulan pada Bara tetapi kali ini dengan wajah memelasnya. "Saya memang tidak suka dengan cara Anda memisahkan saya dari Rayyan. Tapi demi Tuhan. Sedikitpun saya tidak pernah kepikiran untuk melakukan hal keji seperti ini pada Anda."


Kesedihan Mulan itu bukanlah rekayasa. Ia memang merasa terluka jika memang Bara berburuk sangka. Ia nyaris menyerah. Sikap yang Bara tunjukkan membuatnya berpikir jika Bara menolak menyantap masakannya. Namun, ternyata Mulan keliru. Bara menyantapnya tanpa berpikir panjang lagi, seolah-olah mematahkan pandangan buruk Mulan terhadapnya.


Mulan sudah berbangga hati. Sayangnya itu tak berlangsung lama sebab di suapan pertama ekspresi Bara langsung berubah ketika mengunyah hingga menelannya.


"Kenapa Tuan? Ada yang salah?" tanya Mulan setengah panik.


"Kau yakin sudah mencicipi makanan ini sebelum memberikannya kepadaku?" tanya Bara memastikan.


"Yakin, Tuan. Saya sudah mencicipinya dan rasanya enak."


"Benarkah? Tapi kenapa di lidahku terasa hambar."


"Ah, yang benar?" Mulan meragukan. Ia buru-buru menarik piring itu dan mencicipi sepotong. Ia mengunyahnya dengan penuh perasaan lalu kembali meyakinkan Bara. "Tuan, tapi ini rasanya enak. Lalu salahnya di mana?"


"Masa? Coba aku cicipi lagi." Bara menarik piring itu lagi lalu menyantapnya sepotong. Berbeda dengan ekspresi awal, kini Bara justru terlihat menikmatinya. "Benar juga. Tadi kenapa terasa hambar ya?"


Mulan hanya bisa tertegun bingung. Kenapa ia merasa Bara hari ini agak aneh? Pria itu menyantap makanan buatannya dengan lahap, padahal di awal tadi seperti ogah-ogahan. Malahan mengatakan makanannya hambar.


Hal itu bahkan terjadi juga pada salad buah buatan Mulan. Bara mengatakan salad buah itu tidak enak hingga mau tak mau Mulan mencicipinya. Pria itu baru mengakui salad itu layak dimakan setelah Mulan meyakinkannya. Bara bahkan menyantapnya menggunakan sendok yang sama.


Aneh, bukan? Sebenarnya pria itu kenapa? Pasti ada yang salah dengan lidahnya.

__ADS_1


__ADS_2