Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Penawaran yang sama-sama menakutkan


__ADS_3

"Alexa? Kau rupanya?"


Gadis yang dipanggil Alexa itu menoleh lalu menarik susut bibirnya. Ia meletakkan kembali sebuah bingkai foto yang menampilkan gambar Mulan ke tempat asalnya. Sepertinya selama menunggu Mulan, ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat isi ruangan itu.


"Hai Mulan. Apa kabar?" sapa Alexa sambil berbalik badan. Ditatapnya sang sepupu yang masih berdiri di ambang pintu dengan senyum kepalsuan.


"Dasar lancang." Alih-alih membalas sapaan Alexa, Mulan justru memaki gadis itu dengan datar. Tak ada emosi yang ia tampakkan. Hanya sedikit risih lantaran sepupunya itu memaksa masuk menerobos ruangannya sekalipun Cyndi sudah memberi larangan keras.


"Lancang bagaimana? Aku ini sepupumu, Mulan. Lagi pula selama kau menghilang, aku dan Papa yang sudah berjuang keras mengurus perusahaan ini."


Mulan tak menanggapi kata-kata Alexa. Ia hanya berjalan menghampiri kursi kebesarannya lalu melabuhkan bokongnya di sana.


"Katakan, apa tujuanmu menemuiku?" tanya Mulan sambil membuka berkas yang sudah mengantri di meja kerjanya. Ia sama sekali tak menatap Alexa meski membagi perhatiannya pada gadis itu juga.


"Tidak ada. Aku hanya rindu padamu. Sepertinya aku juga perlu sedikit belajar dari sepupuku ini. Barangkali saja ... kelak aku yang akan menggantikan posisimu."


Mulan sontak mengangkat wajahnya lalu menatap Alexa dengan tatapan tak mengerti. "Menggantikan posisi yang mana, ya?" tanyanya kemudian dengan ekspresi penasaran.


"Se-mu-a-nya," tegas Alexa penuh penekanan dengan senyum tak tahu dirinya. Mulan bahkan tak habis pikir bagaimana bisa wanita itu menebarkan ancaman secara terang-terangan. Putus kah urat malunya? Bahkan menjadi pelakor saja dia merasa bangga.


Mulan hanya tersenyum sinis. Tentu saja ia tak ingin lagi terlihat lemah di mata Alexa dan memberi kesempatan wanita itu untuk menindasnya lagi.

__ADS_1


"Merebut ruanganku saja kau tidak bisa, Alexa, apalagi merebut semuanya. Seingatku, di rumahku yang sangat besar itu punya kaca besar yang terletak di mana-mana. Apa kau tidak memanfaatkannya satu saja untuk bercermin agar kau tahu dirimu itu siapa, hah? Wanita rendahan sepertimu ingin bersaing dengan wanita berkelas sepertiku. Yang benar saja? Maaf, tapi kita tidak selevel, Alexa. Kau mana bisa menyaingi ku." Mulan tersenyum remeh lalu mengembalikan pandangannya pada tumpukan berkas usai menghina sepupunya. Ia berusaha menahan tawa melihat Alexa yang membelalak sambil mengepalkan kedua tangannya. Jelas sekali jika gadis itu terpancing oleh aksi provokasinya hingga tersinggung dan marah. Bagus, lah.


"Apa yang kau katakan, Mulan!" Alexa mendekati kursi Mulan dengan marah. Ia menarik kerah baju Mulan hingga wanita itu menatapnya tajam. "Berani-beraninya kau menghinaku. Memangnya dirimu itu siapa, hah! Dasar perempuan lemah!"


Umpatan Alexa itu membuat Mulan berang. Ia menangkap tangan Alexa yang sudah terangkat hendak menamparnya, lalu mencengkeramnya dengan kuat.


Otomatis, sebelah tangan Alexa melepaskan pegangannya demi meraba tangan kanannya yang terasa nyeri. Ia sempat membelalakkan mata, merasa terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Mulan. Benarkah ini sepupunya? Tapi bukankah dulu wanita itu sangat lemah.


Ya. Seingat Alexa, Mulan yang dulu hanya bisa pasrah walau ia perlakuan dengan kasar. Tak pernah membantah apalagi melawan. Tapi lihatlah sekarang. Aura menyeramkan begitu nampak di wajah wanita itu. Meski Alexa sudah meringis kesakitan, tetapi sepertinya Mulan tak berniat melepaskan.


"Lemah? Kau bilang aku lemah?" Mulan bertanya sinis sambil berdiri. Ia menatap Alexa dengan tajam sembari mengeratkan cengkeraman.


"Mulan. Sa-kit," keluh Alexa tak berdaya. Belum habis keterkejutannya, ia kembali dibuat kaget oleh balasan yang Mulan berikan.


"Mulan lepas!" pekik Alexa dengan berupaya melepaskan diri. Namun, sepertinya ia harus menelan kegagalan. Mulan justru semakin erat mencengkeram tangannya. Bahkan kuku-kuku panjang wanita itu menancap di sana, meninggalkan rasa perih yang teramat.


"Kau bilang aku lemah, bukan? Sekarang lihatlah. Lihat baik-baik bagaimana wanita lemah ini menjelma jadi sosok yang tak pernah kau bayangkan!"


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alexa. Hadiah manis yang diberikan Mulan kepadanya.

__ADS_1


"Aaa!" Alexa memekik sakit. Ia refleks memalingkan muka oleh aksi Mulan. Masih beruntung gadis itu tak tersungkur lantaran Mulan tidak melepaskan cengkraman tangannya. Perih dan panas yang terasa di wajah memaksa tangannya bergerak mengusap pipi yang mulai kemerahan. Mulan bahkan tertawa saat Alexa menitikkan air mata.


"Mulan!" pekik Alexa tak terima. Ia hendak membalas, tetapi nyalinya langsung menciut oleh gertakan dari Mulan.


"Apa! Mau balas nampar? Ayo! Tampar aja!" bentak Mulan menantang.


Alexa langsung menurunkan tangan kirinya yang sempat terangkat. Mulan yang melihat itu langsung menyeringai penuh kepuasan. Hanya sebuah tamparan yang ia berikan, tetapi Alexa sudah begitu ketakutan. Ini padahal belum seberapa jika dibandingkan perlakuan gadis itu kepadanya waktu dulu. Tapi lihatlah Alexa sekarang. Menggigil tak berdaya. Keangkuhan yang tadi dipamerkan entah menghilang pergi ke mana.


Anehnya, hal ini justru membuat Mulan merasa curiga. Semudah itu kah Alexa menyerah? Atau ini hanya sebuah taktik untuk melakukan serangan balik?


Benar saja. Ketika Mulan berpura-pura lengah, Alexa memanfaatkan kesempatan itu dengan balik menyerang dirinya. Tak tanggung-tanggung, gadis itu mengeluarkan sebuah cutter dari dalam saku jas dan hendak mengarahkan ujungnya ke wajah Mulan.


Waktu seperti bergerak lamban saat itu. Mulan benar-benar bisa melihat ujung cutter yang berkilau itu mengarah di depan wajahnya. Tinggal sedikit lagi, maka benda tajam itu pasti menciptakan luka.


Beruntung, Mulan yang bisa membaca gerak-gerik Alexa langsung menangkis serangan itu. Dan dalam waktu yang sekejap, keadaan sudah berbalik dengan posisi Mulan yang mendominasi.


Mulan dengan begitu mudah berhasil merebut cutter Alexa. Ia bahkan ringan memelintir tangan kanan Alexa ke belakang punggungnya dan menodongkan cutter itu tepat di leher Alexa hingga gadis itu memekik tertahan.


Ruangan seketika hening. Namun, keheningan itu menguarkan aroma mencekam luar biasa bagi Alexa. Gadis itu membelalak dengan napas terengah-engah. Ia hanya bisa membeku di tempatnya sekalipun deguban jantung bepacu cepat.


Ia pemilik asli cutter itu. Tentunya Alexa sangat paham seberapa tajam senjata kecil yang ia bawa sebagai alat perlindungan. Bisa-bisanya ia yakin dapat mengintimidasi Mulan dengan benda itu seperti dulu, tetapi yang terjadi sekarang apa? Senjata itu pasti akan melukainya jika sedikit saja bergerak.

__ADS_1


Dalam ketakutan seperti itu, Mulan malah berbisik padanya tepat di telinga, memberinya penawaran yang keduanya sama-sama menakutkan.


"Katakan, kau ingin tenggorokanmu putus, atau ... hanya tangan kananmu patah?"


__ADS_2