Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Jangan-jangan?


__ADS_3

Mulan dibuat panik ketika melihat jam kecil di nakas sisi ranjang sudah menunjuk angka tujuh. Ini terlampau siang jika dirinya harus menyiapkan menu sarapan Bara. Pria itu pasti akan menghukumnya lebih berat jika sarapan tak terhidang. Belum lagi ia harus bersiap-siap untuk kerja.


Alhasil, ia harus buru-buru ke kamar kecil untuk membersihkan diri secepat kilat. Mengambil outfit apa saja yang penting tidak membuang waktu banyak.


Sial. Ketika menyapukan bedak, spons di tangannya terjatuh akibat tindakan buru-burunya. Hal seperti ini selalu terjadi ketika dirinya dilanda kepanikan. Ada saja hal yang menghambat. Alhasil, waktunya kembali tersita dengan membungkuk memungut benda itu.


Mulan melihat Jam digital. Ternyata sudah menunjukkan angka tujuh lebih lima belas. Rupanya mandi, ini dan itu ia membutuhkan waktu seperempat jam jika sedang buru-buru. Rambut juga disisir ala kadarnya karena dia tidak keramas.


Ia berniat turun setelah mengambil tas jinjing di lemari. Tak lupa mengisinya dengan ponsel, dompet dan kebutuhan wanita lainnya. Laptop miliknya juga tidak lupa. Bara sudah mengetahui semuanya, jadi tak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi, bukan?


Dan sekarang Mulan turun ke lantai dasar dengan tergesa. Bahkan sampai setengah berlari demi memburu waktu.


"Selamat pagi, Nyonya Mulan. Anda sudah bangun?" Alma menyapa Mulan dengan sumringah di dekat tangga bawah. Wanita itu sepertinya sudah menunggu Mulan untuk turun sejak tadi. Namun, wajah sumringah itu seketika memudar berganti kerutan ketika si pemilik merasa heran. "Nyonya, apa ada masalah?" tanyanya kemudian, sebab melihat Mulan tampak gelisah.


"Aku bangun kesiangan, Alma. Kenapa kau tidak membangunkanku?" tutur Mulan kesal. Ia bahkan lupa caranya tersenyum bagaimana. Tanpa menunggu jawaban Alma, ia langsung beranjak menuju dapur. Alma yang sigap langsung mengikuti langkah sang majikan.


"Kalau sudah kesiangan begini otakku jadi tumpul, Alma. Aku kesulitan menentukan menu sarapan Tuan Bara." Mulan tahu jika Alma mengikutinya, makanya ia tetap mengajak gadis itu bicara. "Bantu aku ya. Kalau tidak aku bisa dihukumnya. Bantu aku masak yang cepat tapi tetap enak."


"Tapi Nyonya–"


"Jangan protes."


Alma langsung diam mendengar perkataan Mulan. Biarlah. Sebentar lagi wanita itu juga akan tahu.


Jarak dapur dengan anak tangga memang agak jauh dan harus melewati meja makan. Nah, di situlah langkah Mulan terhenti saat melihat nasi goreng spesial yang masih mengepulkan asap sudah terhidang di atas meja. Ia merasa bingung saat Alma tiba-tiba menarik kursi dan mempersilakannya untuk duduk.

__ADS_1


"Silahkan nikmati nasi gorengnya, Nyonya," ujar gadis itu.


"Kau yang membuatnya untukku?" tanya Mulan masih tetap pada posisinya. Ia masih enggan duduk menempati kursi yang asistennya siapkan. Belum sempat Alma menjawab, ia kembali bicara. "Aku ke dapur itu mau masak, Alma. Bukan untuk makan. Nanti saja, ya."


Saat Mulan hendak beranjak, langkahnya terpaksa terhenti oleh penjelasan Alma. "Tapi nasi goreng ini dimasak sendiri oleh Tuan Bara, Nyonya. Beliau memasaknya spesial untuk Anda."


Seketika Mulan terhenyak. Ia langsung berbalik badan. "Kau bilang apa, Alma?" Ia takut salah dengar.


"Yang Anda dengar itu tidak salah, Nyonya. Tuan Bara sengaja bangun pagi-pagi demi untuk menyiapkan ini."


Mulan mendekat perlahan ke meja lalu memperhatikan nasi goreng itu dengan seksama. Ada rasa haru yang menyeruak sekaligus rasa bersalah sebab pernah berpikiran buruk terhadap suaminya. Ternyata Bara tak seburuk yang dia kira. Ia sudah tahu itu. Makanya ketika semalam Bara mengatakan hendak menghukumnya, Mulan sama sekali tak gentar karena ia yakin Bara masih punya perasaan. Bara tak mungkin bertindak jauh melebihi batas.


Oh iya. Memikirkan tentang Bara, ia baru kepikiran. Di mana dia? Ia bahkan tak menjumpainya sama sekali sejak bangun tadi.


"Lalu Tuan Bara di mana?" Mulan celingukan mencari keberadaan Bara di sekitar. Barang kali saja pria itu ada di sana tetapi bersembunyi.


Mulan hanya bisa pasrah ketika Alma membimbingnya untuk duduk di kursi. Pikirannya masih mengambang memikirkan Bara ketika gadis itu mendekatkan piringnya.


"Nyonya, ayo di makan. Jangan melamun aja," bisik Alma sambil nyengir kuda sebab Mulan hanya terbengong menatap makanan itu.


"Oke." Mulan mengangguk. Ia akhirnya mengambil satu sendok dan menyurukkan pada mulutnya. Mulan mengunyahnya penuh penghayatan sambil setengah terpejam, lalu sesaat kemudian matanya berbinar.


"Bagaimana, Nyonya? Enak?"


"Enak sekali, Alma." Mulan menjawab antusias. "Ternyata Tuan Bara pandai memasak."

__ADS_1


Ia menyuapkan lagi nasi goreng dengan penuh semangat. Namun, tak lama kemudian wajah berbinar itu mendadak jadi murung.


"Ada apa, Nyonya? Apa di suapan kedua ini rasanya jadi tidak enak?" Alma yang sejak tadi memperhatikan tentu saja merasa penasaran.


"Tidak, Alma. Aku hanya menyesal karena bangun kesiangan. Seharusnya Tuan Bara tak perlu serepot ini menyiapkan sarapan untukku," sesal Mulan.


"Tapi saya tahu Tuan Bara melakukan itu dengan senang hati, kok. Beliau juga melarang saya membangunkan Nyonya sebelum Nyonya terjaga dengan sendirinya. Kata Tuan, Nyonya butuh waktu untuk istirahat karena semalam Nyonya harus menjalankan hukuman. Tuan Bara romantis banget, kan?"


Jika Alma tersenyum geli saat menceritakan tentang Bara, Mulan justru mendelik pada Alma. Bukan karena marah, melainkan baru menyadari suatu hal.


Belum juga Mulan bicara apa-apa, Alma sudah kembali menggoda wanita itu dengan pemikiran yang jauh dari fakta.


"Nyonya pasti kelelahan karena semalam menjalankan tugas seorang istri. Lebih baik sekarang Nyonya istirahat di rumah saja dan jangan dulu bepergian." Alma mendekatkan wajahnya pada Mulan lalu kemudian berucap setengah berbisik. "Biar Tuan kecil Rayyan segera punya adik, hehe."


"Alma!"


Yang dipanggil sontak menatap Mulan dengan mimik herannya. Seharusnya nyonyanya berbunga-bunga melewati malam pertama, kan? Tetapi kenapa yang terlihat justru sebaliknya?


"Ya, Nyonya?" Alma menjawab dengan ekspresi yang berbeda. Agak ngeri membaca kemarahan di wajah majikannya.


"Kau pikir hukuman apa yang kujalani semalam? Jangan salah sangka, ya." Mimik wajah Mulan seketika berubah nelangsa dengan bibir melengkung ke bawah. "Dia menyuruhku memijiti kakinya semalaman, Alma. Siapa yang sanggup coba? Dianya keenakan. Aku mijitin dia ini capek sampai nggak ingat apa-apa tau, nggak? Mungkin aku ketiduran semalam."


"Apa? Jadi semalam Nyonya mijit sampai ketiduran? Terus Nyonya tidur di mana? Di lantai? Di sofa?" desak Alma pada Mulan. Wajahnya menunjukkan kecemasan.


Mendengar deretan pertanyaan Alma, Mulan jadi kepikiran. Alih-alih menjawab, ia malah berusaha mengingat-ingat kejadian semalam.

__ADS_1


Jika memang dirinya ketiduran seharusnya saat bangun Mulan berada di sofa panjang. Ia ingat betul, semalam saat memijat kaki Bara yang selonjoran ia duduk di tepian sofa. Lalu bisa-bisanya dia terjaga dengan keadaan tidur enak di atas ranjang? Berbalut selimut tebal pula. Memangnya siapa yang sudah memindahkannya? Nggak mungkin juga dia tidur sambil jalan, kan?


Jangan-jangan ....


__ADS_2