
"Dari rapat kali ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa tata rias dan makanan adalah elemen sangat penting untuk kaum wanita. Mereka perlu mempercantik diri untuk membahagiakan diri dan pasangan, juga membutuhkan inspirasi makanan untuk menjamu pasangan mereka. Jadi, dari sini kita tahu, dengan menggabungkan dua produk dan memasang target konsumen dari kaum hawa itu sangat tepat karena mereka tidak bisa lepas dari dua hal itu.
Katakanlah kolaborasi ini seperti peribahasa lama yang sejak kecil sudah sering kita dengar. Sambil menyelam minum air. Ya. Saya mengharapkan dari kerja sama ini bukan malah perut kita yang jadi kembung. Namun, usaha kita yang mendapatkan banyak untung." Bara tetap melanjutkan kalimatnya dengan tenang meski beberapa di antara anggota meeting berusaha menahan tawa. Bukan tawa mengejek, melainkan merasa lucu oleh lawakan receh yang coba diutarakan Bara untuk mengusir ketegangan mereka.
"Harapan saya dari kerja sama ini, kita dapat mengemban tugas dengan baik sesuai dengan bagiannya masing-masing. Teruslah bersemangat! Selalu berinovasi dan mari kita bangun kerjasama tim yang baik.
Dan tidak lupa, saya juga ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan kalian untuk berhadir, mendengarkan serta menyimak dengan baik, dan memberikan presentase serta ide-ide kalian yang sangat-sangat brilian. Tepuk tangan untuk kita semua!"
Bukan hanya Mulan yang terlihat antusias bertepuk tangan untuk mengapresiasi diri mereka, tetapi yang lainnya juga tak terkecuali dengan Bara sebagai pemimpin mereka. Jangan lupakan Alexa yang makin terkagum-kagum kepada Bara. Mereka semua terlihat bersemangat menjelang penutupan meeting hari itu. Lelah seolah tak terasa meski pembicaraan mereka menguras pikiran dan tenaga.
Meeting benar-benar usai. Bara sudah mengakhiri dengan ucapan terima kasih serta salam penutupan. Semua serentak berdiri dari duduk. Beberapa orang menghampiri Bara, bersalaman dan memuji menunjukkan kekaguman. Mulan hendak turut mendekat, tetapi tiba-tiba malas ketika langkahnya kalah cepat dari Alexa.
Sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, wanita itu memutuskan pergi meninggalkan ruangan. Itung-itung mencari udara segar sebelum menyelesaikan pekerjaan terakhir hari ini.
"Mulan. Tidak menghampiri Bara dulu?" Suara Reno terdengar di belakang. Suara ketukan sepatu pantofel terdengar lebih mendekat.
"Bukan urusanmu." Mulan menjawab malas ketika Reno sudah berjalan di sisinya. Wanita itu enggan melirik. Justru merasa heran. Meski tahu betul dirinya dan Bara memiliki hubungan tak biasa, Reno justru terkesan mencari celah di antara mereka. Mau cari penyakit kah?
Sepertinya kamu nggak semobil sama Bara. Gimana kalau pulang nanti kita mampir dulu sebentar ke kafe buat ngopi."
"Maaf aku nggak suka ngopi."
"Tenang, Mulan." Reno masih berupaya membujuk. "Kafe itu nggak cuma menyediakan minuman berkafein seperti kopi kok. Di sana juga ada thai tea dan sebagainya. Kamu bisa pilih apa saja. Cream cheese cake kesukaan kamu juga ada."
Mulan menghela napas berusaha sabar menghadapi kegigihan Reno. Jangan pria itu pikir dengan masih mengingat kesukaan Mulan ia bisa mengetuk kembali pintu hati sang mantan.
Mulan yang semula malas menanggapi Reno akhirnya tak tahan untuk menegaskan penolakan. "Kalau aku bilang enggak ya enggak, Reno! Maksud kamu apa sih bujuk-bujuk wanita bersuami untuk jalan bareng ngopi-ngopi!"
__ADS_1
"Cuma ngopi-ngopi, Mulan. Apa salahnya sih?"
"Salahnya itu, aku ini wanita bersuami! Kamu ini benar-benar amnesia atau hanya pura-pura lupa sih!"
"Halah!" Reno berdecak, meremehkan perkataan Mulan. "Aku tahu kau hanya istri yang tak diinginkan oleh Bara, Mulan. Aku sangat tahu meskipun kamu berusaha menyembunyikan itu! Semuanya sudah terlihat jelas, bahkan sejak hari pernikahan kalian digelar."
"Reno!" Mulan merasa geram. Bersamaan dengan itu tangannya ikut terangkat dan sukses menampar pipi Reno. Ia mendelik tak percaya Reno berani mengatakan itu di tempat kekuasaan milik Bara. "Berani kamu ngomong seperti itu di pabrik Bara! Kamu pengen karir kamu kelar sekarang juga!"
Sayangnya peringatan Mulan diabaikan begitu saja oleh Reno. Pria itu mengusap pelan pipinya tepat di bekas tamparan Mulan, lalu menatap wanita itu dengan tajam seperti mengancam.
"Takut? Memangnya apa yang harus aku takutkan? Dia tidak ada. Bara tidak mendengar kita. Justru kau yang seharusnya takut, Mulan. Kau berani membuat masalah dengan aku."
Mulan mendelik ngeri menyadari dirinya sendirian. Lebih-lebih lagi senyuman iblis yang tersemat di wajah Reno yang begitu menakutkan. Entah mengapa, dirinya merasakan adanya ancaman.
Mulan berusaha tetap tenang. Satu-satunya cara agar dirinya aman adalah dengan sesegera mungkin menghindar.
"Siapa juga yang buat masalah? Kau tidak sadar jika kau sendiri si pembuat masalah?" cibir Mulan sebelum berniat melenggang pergi.
"Apa lagi, Reno?" tanya Mulan kesal. Tangannya melirik jemari Reno pada lengannya.
Jujur, selain merasa risih ia juga tak nyaman kalau sampai dilihat orang. Akibatnya akan sangat fatal jika sampai terjadi fitnah.
"Reno lepas nggak! Kamu bisa mati kalau sampai Bara tau!"
"Mati? Kau takut aku mati?" Reno terkekeh. Tak kusangka, ternyata diam-diam kau masih mencintaiku, Mulan. Bahkan terang-terangan mengkhawatirkan aku."
"Untuk bajingan sepertimu tidak ada kata cinta dalam kamusku. Lepas Reno!"
__ADS_1
Mulan berusaha menarik tangannya, tetapi Reno lebih kuat menahannya. Pria itu malah tertawa dengan jahat. "Kamu nggak bisa pergi gitu aja, Mulan. Ini tempat sepi, dan hanya kita berdua di sini. Bahkan Bara saja tidak tahu kau di mana. Mana dia? Panggil dia kemari!" Tawa Reno menggelegar seiring ketakutan Mulan yang menjalar. Sejujurnya pria itu hanya iseng menakut-nakuti Mulan. Namun, siapa yang percaya jika seseorang melihat wajah takut Mulan. Tak terkecuali dengan sosok yang baru muncul di sana.
Bugg!!
Sebuah pukulan mengenai tepat di wajah Reno. Pria itu tersungkur dan jatuh membentur lantai. Tak ada waktu untuk merintih sakit sebab pukulan selanjutnya datang bertubi-tubi menghampiri.
Mulan yang menyaksikan serangan itu secara langsung di depan mata, seketika membeku saking terkejutnya. Wanita itu mematung sejenak sebelum akhirnya tersadar dan menyadari sesuatu hal.
"Hentikan!" Ia memekik, membuat Bara yang sedang memukuli Reno menoleh padanya sejenak.
Alih-alih mengehentikan, Bara justru meradang mendengar peringatan Mulan. Ia kembali menghajar Reno dengan pukulan lebih kuat.
Mulan tak bisa membiarkan ini. Dengan tubuh gemetaran ia menghampiri Bara lalu berusaha menahan tangan suaminya.
"Hentikan, Sayang! Dia bisa mati!"
Bara menghentikan pukulan dan menggeleng tak percaya. "Kau mengkhawatirkannya?"
Entah mengapa Bara meradang mendengar perkataan Mulan. Ia tak bisa terima. Pria itu menggemeretakkan gigi dan kembali mengangkat tangan.
Akan tetapi, sebelum Bara mengarahkan kepalan tangannya, ia dibuat terperangah oleh pengakuan Mulan.
"Bukan!" Mulan meraih tangan Bara yang menghantam lantai. Pria itu sengaja mengarahkannya di sana. Ia menggenggam tangan itu dengan erat, lalu tangan lainnya menangkup salah satu sisi wajah Bara. Mengusapnya penuh kelembutan. "Tenangkan dirimu! Lihat aku. Aku hanya tak ingin kau mengotori tanganmu dengan darahnya. Itu saja. Kumohon hentikan ...."
Mata penuh amarah Bara seketika meredup berganti keteduhan. Mulan bisa melihatnya dengan jelas dan ia merasakan ketenangan batin yang luar biasa. Sejenak Mulan nyaris tenggelam andai tidak menyadari sesuatu hal.
Darah?
__ADS_1
"Tuan Bara? Bu Mulan? Apa yang terjadi?" Cyndi yang baru datang lantas terperanjat melihat keadaan Reno yang mengenaskan. Mulan akhirnya menyadari ternyata semuanya menyusul datang di belakang sekretarisnya.
"Tolong urus dia, Cyndi. Aku mau mengobati luka Tuan Bara," titah Mulan pada Cyndi. Ia lantas menarik Bara dan memaksa pria itu ikut dengannya. Sementara Cyndi dan yang lain masih berusaha mencerna apa yang terjadi dengan perasaan kebingungan.