
Saat Bara turun ke lantai dasar Mulan memanfaatkan waktu untuk makan dengan lahap agar kemudian bisa cepat mandi dan bersiap. Dalam hati wanita itu merasa sangat kesal. Bisa-bisanya Bara membiarkannya tetap tidur begitu saja.
Lihatlah kondisi mereka sekarang ini. Dirinya masih acak-acakan sementara Bara sudah wangi dan rapi. Sungguh pemandangan yang sangat kontras, bukan? Apa Bara sengaja melakukan ini untuk menegaskan siapa pemenang sebenarnya dalam pertarungan mereka semalam?
Ah sudahlah. Terus memikirkan rasa malu yang ada urusan gak kelar-kelar. Mulan memilih beranjak untuk kemudian berpindah kamar. Maklum. Semalam mereka tidur di kamar Rayyan. Jika Mulan memaksa mandi di sana yang ada ia akan keluar hanya dengan berbalut handuk saja. Kan semua pakaiannya tersimpan rapi di kamar Bara.
Keterkejutan langsung menghampiri saat Mulan membuka pintu kamar mereka. Bagaimana bisa kondisi kamar yang semula berantakan menjadi begitu rapi sekarang?
Mulan ingat betul semalam dirinya meninggalkan kamar ini dalam keadaan sangat berantakan. Bantal dan guling yang sudah tidak lagi terletak pada tempatnya. Begitu pula dengan kelopak bunga yang berhamburan di mana-mana.
Pada akhirnya Mulan tahu jika Bara adalah tipe pria yang hot dalam bercinta. Ah, seharusnya Mulan bisa melihat keperkasaan pria itu dari bentuk tubuhnya yang atletis, bukan? Semalam adalah malam pertama mereka, tetapi Bara sudah menghajarnya habis-habisan. Bara membuatnya tak berdaya dengan bermacam-macam gaya. Berbaring di ranjang hingga berkecipak di dalam bathtub yang berukuran besar.
Kini Mulan sudah melucuti pakaiannya bersiap hendak mandi. Namun, pergerakan wanita itu terhenti sebab melihat bathtub itu membuatnya kembali mengingat adegan mereka tadi malam.
"Sayang! Kamu di mana?"
Mulan berjingkat saking terkejutnya. Bukankah itu suara Bara? Cepat sekali dia kembalinya.
"Sayang?" Lagi, pria itu memanggilnya.
Mulan merasa panik menyadari bagaimana kondisinya sekarang. Ia buru-buru menarik handuk untuk kemudian melilitkan menutupi badan. Ia berniat menghampiri pintu untuk sekadar menguncinya. Namun, ia terlambat. Pintu perlahan terbuka dan menampilkan wajah Bara di celahnya. Pria itu seketika mengulas senyum tanpa mempedulikan istrinya yang memucat.
"Kamu di sini ternyata. Kok nggak nyahut waktu aku panggil?"
"Aku ... a-anu." Mulan kehilangan kata-kata. Belum sempat ia bernapas, Bara sudah kembali membuatnya sesak.
"Kamu baru mau mandi, kan? Kebetulan sekali aku juga mau mandi. Mandi bareng, yuk."
Mata Mulan melebar seketika. Belum juga dirinya memberi jawaban, Bara sudah menerobos masuk melewatinya begitu saja. Wanita itu hanya ternganga selagi memutar badan, memperhatikan suaminya yang dengan santainya melenggang.
__ADS_1
"Sayang ayo. Kok bengong di situ?" Bara yang sudah mendahului akhirnya menoleh memperhatikan istrinya.
"Tapi, Yang ...." Mulan merengek sambil mendekat, berniat melayangkan protes.
"Tapi apa, heum?" sambut Bara sambil mendongak menatap lekat-lekat sang istri yang berdiri di depannya. Kini ia sudah duduk di tepian bathtub.
"Mandi bareng-bareng itu bikin lama. Mendingan mandi sendiri-sendiri aja ya. Aku ngalah nanti aja deh, biar kamu duluan aja, oke?"
Mulan sudah berbalik badan tanpa menunggu persetujuan Bara. Namun, ketika hendak beranjak sayangnya Bara sudah lebih dulu menahannya dengan menggenggam pergelangan tangan.
"Eit. Nggak boleh pergi. Tetap di sini mandi sama-sama, oke?"
"Tapi ...."
"Nggak ada tapi-tapi."
Mulan hanya bisa menunduk mendengar kata-kata tegas Bara yang seolah-olah tak ingin mendengar penolakan. Tanpa sadar tangan wanita itu menggenggam erat jalinan lilitan handuknya.
Mulan sendiri tak membalas dengan kata. Ia hanya mengangkat pandangan dan membalas tatapan Bara dengan wajah memelas. Diamnya Mulan itu sudah dianggap jawaban oleh Bara. Dan pria itu seketika mengulas senyum penuh pengertian.
"Kok masih malu sih? Kita kan udah suami istri. Aku udah lihat semua bagian tubuh kamu dari luar sampai yang terdalam. Aku suka semuanya, Sayang. Aku mohon jangan lagi disembunyikan. Kita udah ngelakuin itu semalaman, loh. Aku pikir kamu juga menikmatinya."
Mata Mulan sontak membeliak mendengar kata terakhir Bara. Apa tadi pria itu bilang? Menikmati? Sementara Bara justru tertawa kecil melihat reaksi spontan istrinya itu.
"Kok melotot gitu? Yang aku bilang barusan emangnya salah ya? Harusnya bener, kan? Orang kamu sampai mendesah gitu kok–"
"Ih apa sih!" Mulan refleks memukul dada Bara lantaran tak tahan. Wanita itu benar-benar sebal. Sebenarnya pukulan itu tak seberapa kuat dan tak mungkin menyakiti Bara. Namun Bara tetap mengaduh dan mendramatisir keadaan.
"Aoow! Kok dipukul sih Sayang. Kan sakit."
__ADS_1
"Biar! Siapa suruh ledekin aku!"
"Nggak ngeledek, Sayang. Aku cuma mau mengingatkan barangkali aja kamu lupa."
"Ya gimana mau lupa orang kejadiannya baru semalam!" ujar Mulan kesal.
Bara tersenyum jahil, tapi Mulan justru cemberut sambil menunduk. Tingkah malu-malu wanita itu justru membuat Bara gemas. Ia suka. Dengan sikap malu-malunya itu berarti Mulan adalah wanita yang beriman. Benar begitu kan?
"Sayang ...." Bara meraih tangan Mulan lalu meremasnya dengan lembut. "Masih sakit ya? Takut aku gituin lagi?"
Pertanyaan penuh pengertian itulah yang justru membuat Mulan tak enak hati. Maunya sih nolak. Tapi kalau lihat wajah rupawan dengan daya pikat luar biasa itu mana bisa ia nolak.
"Kita cuma mandi kok. Aku janji gak bakalan ngapa-ngapain."
"Serius?" Entah kenapa Mulan tanya begitu. Padahal kalaupun Bara mau lagi ia juga bakalan kasih dengan sepenuh hati kok.
"Serius. Yuk mandi. Biar aku siapin airnya dulu ya."
Mulan akhirnya mengangguk dan itu membuat Bara tersenyum lega. Pria itu lantas mempersiapkan segalanya, sementara Mulan hanya diam menonton saja. Ia membiarkan Bara membuktikan ucapannya barusan. Toh memang Bara yang ingin melakukannya sendirian.
Kolam renang mini yang dipenuhi dengan busa akhirnya siap digunakan. Bara menambahkan bubble bath, garam mandi, minyak mandi, bath bomb dan terakhir body wash. Tak lupa menyalakan lilin aromaterapi sebagai penunjangnya.
Bara tersenyum pada Mulan yang masih setia duduk di tepian bathtub. Wanita itu membalas tatapannya dengan senyuman tipis yang begitu manis. Namun ketika Bara menarik tali piyama yang dikenakannya hendak melepaskan, buru-buru saja Mulan berpaling seraya refleks menutup mata. Mulan, Mulan. Belum juga melihat tubuh Bara yang polosan ia sudah malu-malu duluan.
Bara menahan senyum melihat itu. Ia benar-benar menanggalkan piyamanya dan melempar begitu saja. Pria itu lantas masuk ke dalam bathtub dengan hati-hati lalu kemudian memanggil istrinya dengan mesra.
"Sayang. Yuk ...," ajaknya.
Ragu-ragu Mulan membuka mata. Tapi dipikir-pikir ia berlebihan juga. Saat menoleh ke arah Bara ternyata pria itu masih berdiri sambil menjulurkan tangan kanannya. Akhirnya Mulan tahu rupanya Bara tidak benar-benar polosan. Masih ada underwear merk mahal dengan model trunk yang menutupi alat vitalnya. Ah tapi tetap saja. Ada sesuatu yang menonjol di bagian sana. Sesuatu yang seketika membuat Mulan merinding bulu roma.
__ADS_1
Tubuh proporsional serta senyuman yang menawan itu seperti menghipnotis Mulan. Sampai-sampai tanpa sadar wanita itu bangkit dan menyambut uluran tangan Bara. Mulan masuk perlahan ke dalam bathtub, mengikuti arahan Bara hingga keduanya berdiri saling menghadap dengan jarak begitu rapat.
Tatapan Bara sama sekali tak beralih dari netra bening Mulan meski tangannya mulai bergerak menarik pinggul istrinya agar wanita itu semakin merapat. Tangan kokoh itu mulai menyentuh handuk Mulan. Namun, Mulan tak curiga lantaran awalnya hanya sedikit rabaan saja. Namun, tanpa wanita itu sangka ternyata ada sebuah niatan yang bersemayam di benak Bara hingga membuat si wanita memekik saking terkejutnya.