
"Nyonya Mulan," lirih Alma cemas setelah melihat kondisi nyonyanya pertama kali. Wanita itu terlihat kacau. Mulan duduk lemas di lantai kamar yang terbuat dari bahan granit mahal. Kepalanya mendongak dengan bagian belakang bersandar pada dinding, sementara wanita itu menatap kosong langit-langit kamar.
Ekspresi wajah Mulan jauh dari kata baik-baik saja di mata Alma. Gadis berpakaian pelayan itu bergegas mendekat dan bertekuk lutut di depan Mulan dan menatap prihatin ke arah sang nyonya.
Ia sebenarnya sudah curiga dengan perintah Bara yang menyuruhnya memberi pertolongan pada Mulan. Hanya saja ia tak sempat mengira-ngira nyonyanya itu mendapatkan masalah apa. Ia hanya bisa bergegas pergi ke kamar lalu sesegera mungkin melakukan tugasnya dengan benar.
"Alma." Mulan menoleh pada Alma dan menyapa gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi, Nyonya? Apa ada yang sakit?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Alma bernada panik. Yang ia pikirkan bukanlah Mulan kesakitan oleh aniaya Bara, melainkan kondisi tubuh wanita itu mungkin sedang tak baik-baik saja.
Terlepas dari keberadaan Mulan yang mendudukkan dirinya di tempat tak layak, bisa jadi wanita itu melarang sang Tuan menyentuhnya, sehingga Bara memutuskan memberinya perintah untuk segera menggantikan dirinya menolong Mulan.
"Alma ... apa yang harus aku lakukan?"
Sejenak Alma mengerutkan keningnya, bingung oleh pertanyaan tak jelas yang Mulan kemukakan.
"Aku sudah memukul dia, Alma. Aku sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga! Bagaimana jika aku sampai dipenjara? Bagaimana dengan Rayyanku, Alma."
"Nyonya ... yang Nyonya maksud dengan dia itu siapa?"
"Tentu saja, Bara, Alma! Memangnya siapa lagi!" geram Mulan kesal. Padahal ia sudah sangat putus asa bahkan sampai ingin menangis. Asisten pribadinya ternyata tak cukup pandai memahami siapa yang ia maksudkan. Sampai-sampai ia harus menyebutkan nama pria itu dengan gamblang. Ia tak suka. Ia benci!
"Tapi saya lihat tadi Tuan Bara baik-baik saja, Nyonya. Lantas apa yang Nyonya Mulan cemaskan?"
"Kau saja melihat dia baik-baik saja kan, Alma? Itu benar. Kau memang tidak salah lihat. Dia baik-baik saja. Hanya pipinya yang sedikit memar. Tapi dia sudah bertingkah seolah-olah teraniaya! Ia bahkan mengancam akan memenjarakanku, Alma!" Mulan menjeda ucapannya sejenak. Wajah yang semula tampak menggebu-gebu hingga mengguncang lengan Alma itu seketika berubah muram, lalu kemudian berbicara dengan nada lemah. "Mungkin ini bukanlah masalah besar jika aku hidup sendirian. Aku tidak akan sedih jika memang harus dipenjara. Tapi masalahnya aku ini punya Rayyan, Alma! Apa kata dia kalau sampai aku dipenjara!"
Alma menghela napas menanggapi sikap berlebihan Mulan mengenai Bara. Namun, tampaknya Mulan menyadari apa yang dipikirkan Alma sehingga ia bertanya sambil menyipitkan mata.
"Kau kenapa, Alma? Apa aku terlalu berlebihan?" Tampaknya Mulan merasa.
__ADS_1
"Ah tidak juga," sangkal Alma. "Hanya saja mungkin Nyonya Mulan belum mengenal seperti apa sesungguhnya Tuan Bara. Jadi Nyonya Mulan mengartikan lain maksud baik Tuan Bara."
"Maksudmu Bara itu tidak salah? Tapi justru aku yang salah paham?" tebak Mulan curiga. Dan Alma mengiyakan itu dengan menganggukkan kepala.
Mulan yang melihat tanggapan Alma itu langsung menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa wanita itu membela suaminya sedang yang salah itu adalah Bara. Sejurus kemudian ia menjelaskan agar asistennya itu mengerti akan maksudnya. "Plis, Alma. Kau melihat itu dari sudut mana? Di sini aku yang korban! Dia memisahkanku dari Rayyan! Tapi dengan kekuatan yang dia punya, Bara itu merancang seolah-olah aku yang salah! Aku yang terancam!"
"Tapi, Nyonya. Tuan Bara itu suami Nyonya. Mana mungkin ingin memenjarakan Anda?"
"Tapi itu kenyataannya, Alma!" sahut Mulan cepat. "Kau tadi lihat sendiri dia keluar rumah dengan terburu-buru, bukan? Aku yakin dia akan menemui pengacaranya lalu menyiapkan berkas-berkas tuntutan! Ya Tuhan, bagaimana ini?"
"Nyonya, tenangkan diri Anda." Alma berusaha menenangkan Mulan yang terlihat panik sampai-sampai mengguncang lengannya. "Tuan Bara memang keluar dari kamar, tetapi bukan untuk menemui pengacara melainkan masuk ke ruang kerjanya. Nyonya Mulan terlalu panik. Ketakutan Nyonya Mulan itu sungguh tidak beralasan."
"Tidak beralasan bagaimana, Alma! Dia bilang akan memenjarakanku jika aku tidak ada itikad ... baik." Suara Mulan terdengar melemah di akhir kata. Wanita itu menunjukkan gesture berbeda seolah-olah baru menyadari sesuatu hal.
Alma menangkap perubahan ekspresi itu. Ia memilih tak bertanya, tetapi dengan sabar menantikan wanita itu mengatakan.
"Alma," panggil Mulan tanpa emosi. "Apa kau yakin Tuan Bara hanya pergi ke ruang kerjanya, bukan ke kantor polisi?" Mulan kembali menyebut pria itu dengan sebutan Tuan. Itu pertanda kemarahannya sedikit berkurang.
Mulan menghela napas lega. "Berarti aku masih aman, kan?"
"Tentu. Selama Nyonya bisa bersikap baik pada Tuan," jawab Alma terus terang.
"Bersikap baik?" Mulan mengembuskan napas lelah, lalu menunduk dengan wajah muram. "Bersikap baik bagaimana, Alma. Kami saja mengawali hubungan pernikahan ini dengan bersitegang."
"Tapi sekarang Nyonya sudah sah menjadi istri Tuan Bara. Mungkin Nyonya perlu merebut hati Tuan Bara dengan perlakuan Anda," usul Alma. "Dari buku yang pernah saya baca, biasanya seorang pria rela memberikan apa saja pada wanita yang ia cinta. Sepertinya Nyonya harus membuat Tuan jatuh cinta agar Tuan bertekuk lutut pada Anda. Dengan begitu Tuan Bara akan mengabulkan semua permintaan Nyonya, termasuk mengembalikan Tuan kecil Rayyan."
Mata Mulan seketika berbinar penuh harap. Namun, setelah mengingat jalan yang harus ia tempuh sangatlah berat, binar di mata bening itu seketika lenyap.
"Pria dingin seperti Tuan Bara mana bisa jatuh cinta kepadaku, Alma. Aku hanya wanita biasa yang tak pandai merias diri dan memikat pria."
__ADS_1
"Kata siapa Nyonya Mulan tidak pandai memikat pria? Nyonya Mulan sangat cantik dan mempesona. Siapa pun pria yang melihat Nyonya sudah pasti langsung jatuh cinta bahkan hanya dengan kerlingan mata saja. Percayalah, Nyonya!" Alma memberi semangat pada Mulan yang tampaknya langsung putus asa. Namun, sepertinya itu bukanlah perkara gampang. Sebab Mulan yang masih bermuram durja sepertinya enggan mengikuti perkataan Alma.
Wanita itu akhirnya mempersilahkan Alma keluar kamarnya agar asistennya itu bisa beristirahat. Ia meyakinkan dirinya baik-baik saja agar Alma tidak gelisah memikirkan dia. Bagaimana pun juga ini adalah urusan rumah tangganya. Orang lain tak perlu ikut campur. Mereka boleh memberi saran, tetapi tetap dirinya sendiri yang mengambil keputusan.
Kata-kata Alma ada benarnya juga. Pernikahan tetaplah pernikahan, terlepas dari apa pun penyebab dia dan Bara akhirnya terikat. Dia tetaplah istri yang butuh ridho suami. Cinta atau tidak cinta ia harus melayani dan memuliakan suaminya.
Tapi yang jadi masalah, dari sisi mana ia harus memulainya?
Mulan masih mondar-mandir bingung di dalam kamar hingga pintu dibuka dari luar. Wanita itu terkejut. Ia menghentikan kegiatan lalu terperangah menatap sosok yang datang itu.
Bara dengan ekspresi dinginnya tak mempedulikan tatapan Mulan. Ia berlalu begitu saja menuju ke arah pintu kamar mandi.
Mulan menelan ludah setelah Bara menghilang di sana. Tak bisa dipungkiri, suasana tenang di kamar itu mendadak mencekam oleh kehadiran pria itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah menjadi istri Bara dan mau tak mau harus berada di sana. Lebih-lebih lagi ia melihat pipi pria itu masih lebam oleh karena ulahnya, masih bisakah ia diam saja?
Nalurinya sebagai manusia tentu saja merasa bersalah karena menyerang orang yang tak tahu apa-apa. Sepertinya inilah saatnya ia memulai pendekatan dengan mengompres pipi Bara.
***
"Wajahmu memar. Bolehkah aku mengompresnya?"
Bara menatap Mulan dengan sebelah alis yang terangkat. Ia baru saja selesai membersihkan diri. Baru saja keluar kamar mandi, wanita itu sudah menawarkan diri mengompres wajahnya.
Aneh. Secepat itukah perasannya berubah? Tadi memukulnya tanpa alasan. Sekarang sok-sokan baik pakai menawarkan diri mengompres pipinya segala. Benar-benar merasa bersalah atau hanya tak-tik wanita itu saja untuk mencari perhatiannya. Benar juga. Memangnya siapa juga yang mau dirinya dipenjara.
"Tidak perlu. Aku sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti ini." Bara menjawab dingin tanpa sedikit pun memandang Mulan. Ia justru menyibukkan diri dengan membuka salah satu pintu lemari guna memilih pakaiannya sendiri.
"Kau mau berganti pakaian? Sini biar aku yang pilihkan." Mulan sok-sokan memposisikan diri sebagai istri yang baik. Padahal ia sendiri tidak tahu menahu seperti apa kebiasaan Bara dan juga apa yang disukai suaminya. Bahkan untuk isi lemarinya saja, Mulan tak tahu menahu di mana letak-letaknya.
Alhasil, bukannya mendapat pakaian Bara, ia malah hanya menghancurkan mood pria itu saja. Ini semua karena dirinya yang terlalu memaksakan diri hingga gugup seperti ini.
__ADS_1
"Sudah kukatakan, tak perlu sok-sokan membantuku! Aku sudah biasa melakukan ini sendirian!" sentak Bara dengan nada tingginya hingga membuat Mulan berjingkat. Wanita itu langsung tertunduk kaku sebab dipelototi Bara seperti itu.
"Maaf .... Aku hanya ingin membantumu saja," lirih Mulan penuh sesal. Ia buru-buru pergi demi menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Lagi pula apa-apaan sih dia? Bisa-bisanya menyentuh pakaian dalam pria milik Bara bahkan sampai menghamburkannya ke lantai karena saking gugupnya dia.