Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Hanya mengigau


__ADS_3

Mulan tak henti-hentinya mengulum senyum di sepanjang perjalanan menuju kantornya. Ada kerlip bintang di sepasang netra. Seri di wajahnya mengalahkan kemilau sinar mentari pagi ini. Ia bahkan sesekali bersenandung merdu mengikuti irama lagu bahagia yang putarnya sejak tadi.


Ya. Dia sedang bahagia. Bahagianya sesederhana dapat merasakan masakan Bara Aditama. Mulan tak menyangka jika Bara bisa semanis itu kepadanya setelah mengerjai seperti malam tadi. Mulan bahkan sampai tertawa sendiri seperti orang gila karena saking bahagianya. Beruntung, ia hanya sendirian di sana sehingga tidak ada orang lain yang melihat.


Tangan kirinya bergerak menurunkan volume musik ketika mendengar ponselnya berdering. Sedetik kemudian ia tahu jika nama Cyndi lah yang tertera di layarnya. Mulan memasang air pods pada telinga sebelum menerima panggilan itu.


"Ya Cyndi."


"Bu Mulan, saya hanya ingin mengingatkan schedule kita hari ini. Anda–"


"Iya Cyndi, aku sedang dalam perjalanan menuju kantor. Maaf aku sedikit terlambat."


Cyndi di seberang sana manggut-manggut. Sepertinya ia sudah salah, jika mengira Mulan berniat mangkir dari pekerjaan kali ini. Ternyata Mulan hanya terlambat. Atau mungkin dirinya saja yang tak sabaran sebab sudah dari setengah jam yang lalu menunggu.


Ini bukan bercerita mengenai sabar atau tidak sabar. Cyndi hanya berusaha menjaga Mulan agar pekerjaan ini tidak diambil alih oleh Alexa dan papanya. Dua manusia jahat itu selalu mencari celah untuk merebut segalanya milik Mulan. Cyndi tak terima itu.


Hari ini adalah jadwal pertemuan dengan klien dari EC CORPORATION untuk yang kesekian kalinya. Cyndi berharap, pekerjaan hari ini juga akan berjalan lancar seperti sebelumnya.


"Baik, Bu. Saya tunggu di lobi kantor."


"Oke." Mulan menarik air pods dan menaruhnya di dashboard mobil usai panggilan berakhir. Ia lantas menginjak pedal gasnya, menambah kecepatan demi memburu waktu untuk sampai di tempat tujuan.


Semangatnya naik berkali-kali lipat. Bukan hanya ingin menjemput rezeki dan kesuksesan, tetapi juga suami serta masa depan yang saat ini ia pastikan tengah menantinya di sana.


Mobil yang Mulan kemudian akhirnya akhirnya berbelok di sebuah gedung pencakar langit yang biasa ia datangi. Berhenti di depan pintu masuk, ia menurunkan kaca mobil seraya memamerkan keceriaan pada Cyndi yang berlari kecil menghampirinya.


"Ayo Cyndi. Naiklah," titah Mulan ketika gadis itu sudah dekat.


"Bu Mulan menyetir sendiri?" Alih-alih mematuhi perintah sang atasan, Cyndi justru bertanya heran pada Mulan. Di saat semua bos besar menggunakan jasa sopir untuk mendukung perjalanan, Mulan justru memilih mengemudi sendiri mobil miliknya. Wanita itu bahkan mempersilahkan Cyndi hanya duduk manis di kursi penumpang tanpa perlu repot-repot berkonsentrasi pada jalan raya. Seriuskah keputusan Mulan? Atau justru karena wanita itu kurang kerjaan?


"Biarkan saya yang mengemudikannya, Bu. Biar Bu Mulan bisa beristirahat sepanjang perjalanan," usul Cyndi lantaran merasa tak enak pada atasannya.


"Aku tidak kecapekan, Cyndi. Bahkan kondisiku tak pernah sebaik ini. Ayolah, tak perlu sungkan seperti ini."


Cyndi mengangguk rikuh lalu berlari kecil mengitari kap mobil untuk duduk di kursi penumpang bagian depan. Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan gedung perkantoran.


Kerjasama yang sudah mencapai tahapan produksi itu membuat semua yang terlibat di dalamnya harus datang ke pabrik untuk melakukan peninjauan.


Selama hampir dua jam keduanya dalam perjalanan, rupanya rasa lelah Mulan seketika terbayarkan dengan melihat wajah Bara. Pria itu tampak disibukkan dengan meladeni pertanyaan beberapa orang sehingga tak menyadari kedatangan istrinya.


Dari tempat Mulan berdiri, pria itu terlihat gagah dan tampan meskipun mengenakan pakaian khusus yang diperuntukkan saat di pabrik. Mulan terpesona, sampai-sampai tak menyadari tatapan heran sekretarisnya.


"Bu Mulan. Apa yang sedang Anda lihat?" Gadis itu menyentuh lengan Mulan untuk sekadar menyadarkan.


Mulan langsung menoleh dan menyadari suatu hal. "Ah tidak ada. Aku hanya takjub pada pabrik Tuan Bara yang ternyata sebesar ini dan secanggih ini." Dia beralasan. Sebelum Cyndi bertanya macam-macam, ia buru-buru mengajak gadis itu merapat sebab keduanya memang datang terlambat.

__ADS_1


Mulan menyapa semua yang ada di sana dengan sikap ramah tamah. Ia juga mendapat respon yang baik sekalipun kemungkinan melewati banyak pembahasan. Sayangnya, ia dibuat kecewa oleh tanggapan datar Bara meskipun senyuman paling manis sudah terukir di wajahnya.


Entahlah. Mungkin itu sikap profesionalisme yang selalu Bara tunjukkan pada semua orang atau justru sifat asli Bara yang sesungguhnya. Yang jelas, raut kecewa di wajah Mulan tak luput dari perhatian Cyndi. Membuat gadis itu kian bertanya-tanya gerangan apakah hubungan keduanya. Jelas di sini ada keanehan yang ditunjukkan Mulan sekalipun wanita itu tidak sadar.


Proses yang dilakukan berjalan sangat baik. Waktu bergulir begitu saja hingga tak terasa jam istirahat pun tiba. Bara mempersilahkan yang hadir untuk membubarkan diri. Ia sudah mempersiapkan tempat istirahat yang layak berikut hidangan lezat dan tempat makan yang nyaman layaknya restoran mahal. Tempat yang terletak di sisi pabrik ini memang khusus digunakan saat kedatangan tamu spesial.


Mulan yang sengaja membawakan bekal untuk Bara, mencari-cari kesempatan untuk bisa menemuinya sekadar bicara berdua saja.


Awalnya agak ragu untuk menyerahkan makanan kesukaan Bara yang sengaja dimasaknya sebelum berangkat. Namun, karena rasa terima kasihnya begitu kuat, tekadnya untuk mengutarakan pun semakin hebat.


Kebetulan, dilihat Bara tengah berjalan sendirian menuju ke suatu tempat. Dengan kelihaiannya mengelabui Cyndi, akhirnya Mulan terlepas dari pengawasan gadis itu. Tak dihiraukannya meski Cyndi memaksa ikut. Ia bahkan berlari agar gadis itu tak mengikuti.


Kaki panjang Bara rupanya melangkah begitu lebar dan cepat sampai-sampai Mulan kewalahan mengikutinya. Sesekali wanita itu menoleh ke belakang demi memastikan Cyndi tak nampak. Sampai satu ketika, Bara membuka pintu dan menghilang di baliknya.


Mulan berhenti sejenak untuk beristirahat. Ia menetralkan napas yang memburu sambil merapikan penampilan. Itu pasti ruangan tempat beristirahat Bara. Ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menemui suaminya.


Tok tok tok!


Mulan akhirnya mantap mengetuk pintu setelah batinnya bergulat panjang. Ia benar-benar ragu di awal. Namun, pada akhirnya yakin merendahkan diri dengan nekat menghampiri prianya.


Pintu akhirnya terbuka dan sosok Bara muncul setelahnya. Jantung Mulan berdebar kencang, sementara pria itu menatapnya dengan kening berkerut heran.


"Tu-tuan. Maaf saya mengganggu." Tiba-tiba Mulan gugup. Kosa kata yang tadi sudah disusunnya mendadak hilang dari kepala. Padahal Bara hanya menatapnya tanpa bertanya apa-apa, tapi ia sudah grogi dengan sendirinya. Begitulah dirinya sejak dulu. Mungkin ia bisa tegas dalam urusan pekerjaan. Namun, lihatlah jika sudah berurusan dengan perasaan.


"Ya?"


"Terima kasih untuk?" Alih-alih menerima, Bara malah bertingkah tidak paham.


"Untuk sarapan yang Anda buatkan untuk saya tadi."


"Owh." Bara manggut-manggut. Ia lantas menerima itu dan berucap, "Terima kasih. Sekarang pergilah."


"Eh, Tuan?" Mulan menahan Bara menutup pintu.


"Kenapa?" tanya Bara datar


Ragu, tapi akhirnya Mulan mengutarakan uneg-unegnya. "Anda tidak berniat mempersilahkan saya masuk dulu?"


"Untuk apa?"


"Kenapa malah bertanya? Saya kan istri Anda. Bukankah tidak salah jika saya ikut masuk bersama Anda?" Mulan memanyunkan bibir lantas bertanya dengan mimik sebal. "Kenapa? Anda tidak suka saya mengikuti Anda?"


Bara menghela napas sebelum kemudian menjelaskan. "Mulan, apa kau lupa dengan yang kau katakan semalam?"


Mulan terlihat bingung dengan alisnya yang bertaut.

__ADS_1


"Mulan," lanjut Bara lagi. "Apa yang kulakukan ini hanya mengikuti apa maumu. Kau benar-benar tidak ingat pembicaraan kita semalam?"


Mata Mulan melirik ke si lain. Wanita itu tampaknya berusaha menggali ingatan yang yang nyaris hilang tentang kejadian semalam. Dan seketika mata bening itu mengerjap-ngerjap.


Ah, benar juga. Semalam, pada saat dirinya memijat kaki Bara, Bara memang menanyakan satu hal kepadanya. Tentang bagaimana status mereka dihadapan orang-orang. Apakah perlu dipublikasikan, atau justru dirahasiakan.


Sialnya, Mulan yang saat itu dalam keadaan setengah mengantuk tanpa sadar menjawab lebih baik dirahasiakan saja. Bukan karena malu atau apa pun, ia hanya tidak enak hati terhadap Bara sekaligus takut jika salah jawab akan berpengaruh pada beratnya hukuman yang diterima.


Tak menyangka, rupanya Bara menganggap serius jawabannya. Dan lihatlah imbasnya sekarang. Mereka tak berdekatan, kan?


"Tapi, Tuan–" Mulan menatap Bara dengan wajah syok. Beringsut mendekati Bara ia kemudian meyakinkan. "Saya tidak merasa menjawab itu. Anda yakin, saat mengatakannya saya dalam keadaan sadar? Jangan-jangan waktu itu saya sedang tidur lalu kemudian ... mengigau."


Bara berdecak. "Mulan, aku cuma bertanya kau ingat yang kau ucapkan semalam atau tidak, kan? Tapi, jika ternyata kau mengingatnya, berarti kau memang sadar saat mengatakannya kan? Kau memang benar-benar ingin pernikahan kita dirahasiakan."


"Ah tidak! Bukan begitu!" Mulan berusaha protes, tetapi Bara sepertinya berniat menutup pintu.


"Sudahlah. Kembalilah bersama mereka." Bara akhirnya benar-benar menutup pintu sebelum Mulan mengatakan sesuatu.


"Tuan ...!" pekik Mulan. Tapi tak guna. Pria itu tak mau mendengarnya.


Wanita memanyunkan bibirnya menatap daun pintu di depannya. Sial. Lihatlah hasil dari ulahnya. Gara-gara salah jawab Bara jadi begitu, kan?


Ia sudah merendahkan diri seperti ini malah dapat malu lagi. Harusnya sekarang mereka sedang berduaan di dalam sana, bukannya terpisah seperti orang asing saja.


Eh, tiba-tiba Mulan terpikirkan suatu hal. Ia mengerutkan keningnya selagi mengaitkan peristiwa yang baru dialami. Raut kecewa yang berusaha Bara tutupi di balik wajah datar itu? Seketika Mulan tersentak hingga bola matanya membeliak.


Hah? Benarkah? Benarkah ada cinta di hati Bara untuk dirinya?


Tak butuh bukti lain lagi, Mulan benar-benar yakin Bara memiliki perasaan terhadapnya. Hanya saja pria itu terlalu besar ego sehingga enggan mengakuinya. Makanya dia kecewa lantaran Mulan menginginkan mereka merahasiakan pernikahan sekalipun wanita itu menjawab tanpa sadar.


Ah, memikirkan itu hati Mulan kembali berbunga-bunga. Senyum bahagia itu kembali hadir di wajahnya. Biarlah hari ini ia mendapatkan penolakan. Yang penting ia sudah tahu kedalaman hati Bara. Mulan akhirnya berbalik badan sambil senyum-senyum sendiri.


Eh, tapi ....


Baru saja Mulan hendak melangkah pergi, ia mendengar suara kenop pintu di belakang, mungkinkah Bara yang membukanya?


Mulan refleks menoleh ke belakang. Dan benar saja, matanya menangkap sosok Bara di sana.


Entah kepercayaan diri dari mana yang membuat Mulan yakin Bara berubah pikiran. Awalnya wanita itu ternganga, lalu sedetik kemudian tampak menunjukkan binar-binar ceria.


"Tuan? Apa Anda berubah pikiran?" Bodohnya Mulan yang alih-alih jual mahal, ia malah menanyakan dengan ekspresi penuh bangga. Bara yang menangkap itu justru tersenyum dengan sombongnya.


"Tidak. Aku hanya ingin mengingatkan saja. Kau yakin, nasi goreng yang kau makan tadi tidak mengandung racun?"


"Hah?"

__ADS_1


Seketika Mulan tercekat. Matanya melotot ngeri. Sementara tangannya refleks memegangi leher meski tak merasakan apa-apa.


__ADS_2