Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Gendongan pertama


__ADS_3

Iring-iringan mobil yang mengantar Mulan dan Bara akhirnya bertolak dari hotel tempat pesta digelar. Sepasang suami istri itu sendiri berada di dalam mobil urutan kedua. Sementara di depan dan belakang, ditumpangi oleh beberapa orang pengawal Bara.


Mulan sendiri merasa bingung, hanya untuk pulang ke rumah saja, mengapa mereka harus dikawal. Namun, sebesar apa pun rasa penasaran, wanita itu hanya bisa diam di sepanjang perjalanan.


Rute berbeda yang ditempuh dengan saat berangkat pagi tadi membuat Mulan membeliak kebingungan. Jelas, ini bukanlah arah pulang ke rumah mewah yang beberapa hari ini menjadi tempatnya bernaung. Lantas, ke mana Bara akan membawanya kali ini?


"Mau ke mana kita? Bukankah ini arah berbeda dari yang seharusnya?" tanya Mulan panik. Meskipun waktu saat ini sudah lewat tengah malam, tetapi ia sangat yakin dengan yang dilihat dan diingatnya.


"Bisakah lebih tenang sedikit, Nyonya?"


Hendrik lah yang justru menyahuti. Sementara Bara yang sebenarnya Mulan tanyai hanya bergeming sambil menatap ke arah luar menembus kaca.


"Nyonya Mulan tidak perlu cemas," lanjut Hendrik lagi. "Kita sudah berjalan ke arah yang seharusnya, yaitu ke kediaman Tuan Bara yang sebenarnya."


"Lantas yang selama beberapa hari ini kutempati?"


"Itu adalah kediaman orang tua Tuan Bara," jawab Hendrik. Pria itu kemudian kembali melanjutkan penjelasan. "Bukankah mulai hari ini Nyonya Mulan sudah resmi menjadi istri Tuan Bara? Jadi sudah seharusnya Nyonya Mulan ikut serta ke mana pun Tuan Bara tinggal. Masa iya masih harus menumpang sama mertua."


Mulan kembali bungkam setelahnya. Banyak hal yang saat ini ia pikirkan. Bukan hanya tentang bagaimana menemukan Rayyan secepatnya, tetapi juga cara melindungi putranya itu dari Reno. Bahkan keberlangsungan hidupnya setelah menikah dengan Bara pun ia tak tahu akan berlabuh ke mana.


Hingga mobil berbelok ke sebuah bangunan yang berdiri megah, Mulan tersentak dari lamunan lalu mempersiapkan diri untuk turun dari mobil.


Mungkin inilah rumah Bara yang dimaksudkan Hendrik. luas areanya kurang lebih sama dengan kediaman orang tua Bara. Setelah melewati gerbang utama, mobil masih harus kembali berjalan melewati taman lagi untuk sampai di pelataran.


Hingga kakinya menapak pada pelataran, Mulan masih tertegun setelah Hendrik membukakan pintu mempersilahkannya turun. Matanya menatap bangunan mewah itu meski masih enggan beranjak dari tempatnya.


Sesungguhnya ia tak pernah mempermasalahkan di mana pun dirinya akan tinggal asalkan bersama Rayyan. Namun, yang sampai saat ini menjadi soal, sebenarnya di mana keberadaan putranya itu sampai sekarang? Sudah berhari-hari sejak mereka terpisah waktu itu, Mulan belum pernah mengetahui kabar atau memandang wajah putranya barang sedikit saja.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Nyonya. Ini adalah rumah Tuan Bara. Berarti rumah Anda juga."


"Apa Rayyanku juga ada di dalam?" tanyanya pada Hendrik yang berdiri siaga di depannya. Jujur, ia malas bicara pada Bara yang tak pernah menunjukkan sikap ramah yang tulus kepadanya. Ia hanya melirik sinis pada Bara yang berdiri di sisi kanan mobilnya, lalu kembali menatap Hendrik.


"Maaf. Kami belum bisa memberi tahu," jawab Hendrik penuh sesal.


"Kenapa?" Mulan menyipitkan mata penuh curiga.


"Keadaan Rayyan baik-baik saja, Nyonya. Anda tak perlu cemas."


Mulan mendengkus lirih. Selalu itu jawaban yang dilontarkan Hendrik setiap kali dirinya mempertanyakan keberadaan Rayyan. Bukankah dia sudah menuruti keinginan mereka? Lantas, kenapa dirinya masih dipersulit juga?


"Lalu kapan kalian akan menyerahkan Rayyan kepadaku!" desak Mulan dengan nada bergetar sebab berusaha menahan air mata yang memaksa keluar.


"Tidak lama lagi, Nyonya."


"Tidak lama laginya itu kapan, hah! Bisa sedikit diperjelas?" geram Mulan lagi yang semakin tak bisa menahan diri. "Minggu depan? Bulan depan? Atau mungkin tahun depan!"


"Nyatanya selama ini kalian hanya bisa membohongiku saja!" lanjut Mulan lagi. "Memberiku janji palsu! Mengatakan putraku baik-baik saja sementara kalian tidak bisa memberikan bukti nyata. Kenapa! Apa kalian takut aku akan kabur setelah mendapatkan Rayyan? Apa kalian tidak bisa memberiku kepercayaan barang sedikit saja! Aku ini sudah menjadi seorang istri sekarang! Apa lagi yang kalian khawatirkan? Sampai kapan pun aku tak akan pergi selama suamiku tidak mengusirku!"


Saat Mulan mengatakan itu, diam-diam Bara menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Mulan tak mau ambil pusing andai pria itu tersinggung oleh ucapannya. Karena baginya yang terpenting sekarang adalah Rayyan.


"Nyonya ...."


"Memangnya seberapa besar kerugian yang telah putraku buat, sampai-sampai kalian menyiksa orang seperti ini!" potong Mulan ketika Hendrik hendak bicara. "Patutkah kalian yang bukan siapa-siapa ini memisahkan ibu dan anak seenaknya! Sanggupkah kalian bertanggung jawab seandainya mental putraku mengalami gangguan! Bisakah kalian–"


Mulan menghentikan kata-katanya ketika merasakan sentuhan seseorang. Ia bahkan membelalak saat menyadari kakinya tak lagi berpijak di tanah. Benar saja. Sebuah tangan kokoh telah dengan mudah mengangkat tubuhnya hingga dia berada di gendongan seseorang. Siapa lagi tersangkanya jika bukan Bara? Pria yang telah sah menjadi suaminya. Mulan bahkan tak tahu kapan pria itu berpindah tempat dan kemudian merengkuhnya seperti tanpa beban.

__ADS_1


"Turunkan aku!" Sambil menangis, Mulan meronta ingin melepaskan diri. Berulang kali dirinya memukul dada Bara, tetapi pria itu sama sekali tak terlihat kesakitan. Namun, hanya dengan tatapan tajam pria bermata elang itu, seketika membuatnya bungkam seribu bahasa.


"Diam, atau kulemparkan kau ke jurang." Kalimat bernada ancaman Bara itu sukses membuat Mulan ketakutan. Sehingga, wanita itu hanya bisa pasrah dengan wajah memerah saat Bara membawanya masuk ke dalam rumah.


Beginikah cara seorang suami saat pertama kali membawa istrinya ke rumah mereka?


Sementara itu di tempat lain, Ester dan Damar langsung mendatangi sebuah kamar bernuansa ceria begitu keduanya sampai di rumah mereka. Seorang bocah laki-laki yang tertidur lelap di atas ranjang langsung menyapa indera penglihatan.


Ester tersenyum sambil mengusap lembut rambut si bocah. Ia lantas merapikan selimut tebal yang tersingkap akibat polahnya saat tidur.


"Kau lihat kan Sayang, dia sangat lucu dan tampan," ucap Ester pada Damar tanpa mengalihkan pandangan dari bocah itu penuh sayang.


"Iya. Dia mirip sekali dengan mamanya," balas Damar setuju.


Ester tak lagi bersuara. Ia lebih tertarik mengecup kening si bocah. Bara tersenyum penuh pengertian melihat sikap istri tercintanya. Ia melangkah pelan mendekati ranjang, lalu duduk mengambil posisi di samping Ester.


"Bukankah sebelumnya kau tidak mengenal Mulan sama sekali? Tapi bagaimana bisa kau memiliki keyakinan penuh jika Mulan adalah wanita yang sesuai untuk Bara?" tanyanya penasaran pada Ester yang masih sibuk mengusap rambut Rayyan.


Bukan tanpa alasan Damar bertanya demikian. Sesungguhnya ia sempat meragu akan keputusan Ester yang menuntut Bara menikahi Mulan, wanita yang semula berpenampilan alakadarnya dan jauh dari kata cantik. Bagaimanapun penampilan Mulan dan Bara saat itu seperti langit dan bumi, lebih-lebih lagi asal usul Mulan yang belum jelas latar belakang keluarganya.


Damar tak bisa bayangkan jika mereka menikah tanpa cinta, akan jadi apa rumah tangganya kelak. Lebih-lebih Damar hapal betul bagaimana tabiat Bara. Anaknya itu tak bisa dipaksa-paksa. Tak mau hidupnya dikendalikan orang lain, bahkan oleh orang tuanya sendiri.


Namun, keyakinan penuh yang Ester tunjukkan mampu mengikis keraguan. Juga sikap pasrah yang belakangan ini Bara tunjukkan. Akhirnya Damar menyerahkan semuanya kepada Ester walau di benaknya masih berjejal tanda tanya.


"Iya. Aku memang belum pernah mengenal Mulan sama sekali," jawab Ester. "Tapi setelah aku berbincang banyak bersama Rayyan, akhirnya aku tahu banyak fakta menarik tentang mereka berdua."


"Oh ya?"

__ADS_1


"Ya."


Ester kemudian memulai ceritanya.


__ADS_2