
"Kami pamit, Nyonya. Terima kasih sudah menerima kami dengan baik." Rebecca berucap sopan mewakili Jessie berpamitan. Berbeda dengan sikapnya saat datang, ketika pulang Jessie terlihat lebih diam.
Terang saja. Ketika Rebecca sedang keluar sebentar untuk menerima panggilan tadi, Jessie sudah mendapatkan pelajaran berharga dari Mulan. Teguran Mulan yang begitu menohok mampu menyerang Jessie sampai ke mentalnya. Gadis itu akhirnya minta maaf dan mengaku menyesal sebab membeda-bedakan kasta dalam hal memperlakukan pelanggan mereka.
Mulan menghela napas lega setelah kepergian keduanya. Ia melirik sinis pada seorang penjaga di luar kamarnya sebentar, lalu berucap dengan datar.
"Kau tenang saja. Demi anakku aku tak akan kabur ke mana-mana."
Sebuah hal wajar jika Mulan merasa kesal. Semenjak ada di sana, dirinya tak pernah lepas dari pengawalan. Jika sudah begini bagaimana ia akan menjalankan rencananya? Ia harus menemukan Rayyan sebelum pernikahan dirinya digelar. Andai tidak terpaksa, memangnya siapa juga yang mau menikah dengan pria tempramental, pelaku KDRT dan sudah berumur seperti Bara Aditama? Baru mendengar rumor saja sudah cukup membuatnya merasa ngeri, lantas bagaimana jika benar-benar jadi istri?
Sindiran Mulan tadi rupanya ampuh mengusir penjaga itu. Entah karena tersinggung atau risih, pria berpakaian serba hitam itu akhirnya pergi. Ini benar-benar memberi keuntungan bagi Mulan. Wanita itu bergegas masuk ke kamar untuk kemudian mulai melancarkan aksinya.
Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mengelilingi rumah besar ini untuk memeriksa ruangan satu persatu. Poin penting yang harus dilakukannya agar tidak ketahuan ialah dengan mengubah penampilan. Baginya itu perkara gampang.
Mulan melihat begitu banyak pakaian wanita di dalam walk in closed kamar tidurnya. Ia bisa mengenakannya satu dan merias wajah secantik mungkin. Bukankah semua orang mengenal dirinya sebagai Mulan yang buruk rupa? Ia pun tak terlalu khawatir jika nanti kepergok penjaga atau siapa saja. Tinggal mengaku dirinya tersesat, sepertinya itu bisa diterima akal.
"Oke. Kita mulai. Tunggu Mama, Sayang. Kita pasti akan bebas." Mulan bergumam penuh tekad sebelum keluar dari kamar. Beruntung, tak ada siapa pun yang berjaga di luar, sehingga dirinya bisa melangkah tanpa hambatan.
Rupanya memeriksa satu persatu ruangan di rumah sebesar itu tak semudah membalikan telapak tangan. Selain merasa tegang lantaran harus bersembunyi untuk menghindari pertemuan dengan para penjaga dan mengendap-endap seperti maling, Mulan juga merasa pusing lantaran desain rumah ini hampir mirip seperti labirin. Setiap ruangan memiliki lorong yang seolah diciptakan untuk menjaga privasi penghuninya.
__ADS_1
Bangunan semegah ini juga sudah dipastikan terpasang kamera CCTV di mana-mana. Sehingga ia perlu bersikap senatural mungkin selayaknya orang yang tersesat saat berada di jangkauan kamera pengawas.
Dalam hati wanita itu berdecak heran. Di kediaman sebesar ini mungkinkah hanya dihuni para pekerja dan pria bernama Bara itu saja? Benarkah tidak ada anggota keluarga yang lainnya? Pasalnya selama dirinya berada di sini, Mulan hanya bertemu dengan Bara itu saja. Jika benar demikian, sungguh miris nasib pria itu sebab terlahir kaya raya tapi hidupnya sangat kesepian.
Mulan menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu mendesah putus asa. Sudah dua jam lebih dirinya berjalan tetapi tak menemukan keberadaan Rayyan. Bahkan ruangan di rumah ini belum separuhnya ia datangi.
Wanita itu membenturkan belakang kepalanya lantaran frustasi. Bahkan hampir-hampir menangis lantaran tak tahu harus bagaimana. Waktu terus berjalan seiring semakin dekatnya hari pernikahan. Ia takut ditipu oleh mereka dan kehilangan Rayyan selamanya.
Sebenarnya di mana putranya itu berada? Mungkinkah Rayyan disembunyikan di tempat lain seperti yang sempat terbesit di benaknya? Keadaan rumah ini sangat tenang dan senyap. Tak ada suara bocah. Tak terdengar pula suara tangisan apalagi tawa Rayyan. Tak ada sedikit saja jejak yang membuat Mulan yakin jika Rayyan ada di sana.
Namun, lagi-lagi Mulan berpikir. Rayyan itu hanyalah anak kecil. Tidaklah sulit menyembunyikan seorang anak saja di dalam salah satu kamar. Atau bahkan gudang. Jangankan suara. Raungan tangis Rayyan tak mungkin menembus ruangan kedap suara yang mereka ciptakan.
"Heh. Siapa kamu!"
Mulan berjingkat, lalu bola mata indah itu membulat. Salah seorang penjaga menudingnya dengan mimik yang sama terkejutnya.
Sedih, panik bercampur bingung membuat Mulan melupakan rencana awalnya. Alih-alih mengelabui penjaga dengan mengaku dirinya tersesat, ia malah berlari sebelum dirinya kena tangkap.
Keadaan semakin parah dengan alarm pertanda emergency yang terus menerus berdering keras. Mulan dikira penyusup. Seluruh penjaga dan pelayan bahu membahu hendak menangkapnya.
__ADS_1
Tak ada waktu lagi untuk bersembunyi. Mulan hanya bisa berlari untuk bisa kembali ke kamarnya dan mengubah penampilan. Hanya itu satu-satunya cara untuk lolos dari mereka.
Ia mengangkat gaunnya untuk mempermudah langkah, dan sesekali menoleh ke belakang untuk mengetahui jarak dirinya dengan penjaga yang mengejar. Sepatu hak tinggi yang menjadi alas kaki bahkan tak mampu menghalanginya untuk terus berlari.
Sesuatu di luar dugaan Mulan pun terjadi. Tiba-tiba di depan sana ada seorang pria keluar dari sebuah ruangan. Mulan memperingatkan pria itu untuk minggir tetapi si pria tak melihatnya sebab tengah sibuk berbicara di telepon. Mulan yang berlari sangat kencang merasa kesulitan mengerem langkahnya. Ia tak bisa mengendalikan diri sehingga tabrakan pun tak bisa dihindari.
Wanita itu memekik merasakan sakit oleh benturan keras. Tubuhnya terpental ke belakang, sedangkan si pria tetap dalam posisinya. Mulan memejamkan mata saat merasakan tubuhnya seperti melayang. Pasrah sebab dalam sepersekian detik ke depan tubuhnya akan menghantam lantai yang keras.
Ternyata ketakutan Mulan itu dipatahkan oleh sebuah lengan kokoh yang dengan cekatan menangkapnya. Ya, Mulan merasakan seseorang menopang tubuhnya dengan kuat sehingga dirinya tidak tersungkur.
Dalam keadaan tak karuan Mulan berusaha membuka mata. Wajah rupawan dengan alis tebal yang bertaut heran langsung menyambutnya.
Seketika jantung Mulan berdebar kencang. Pria itu seperti bintang yang paling bersinar di antara yang lainnya. Sejenak Mulan terpesona. Bibir merah, hidung mancung, dan bola mata tegas itu seperti menghipnotisnya, sehingga membuat wanita itu lupa caranya berkedip bagaimana.
Suara derap langkah yang mendekat memulihkan Mulan dari angan-angan. Ia tersentak, lalu berusaha melepaskan diri setelah menyadari dirinya berada dalam rengkuhan seseorang.
"Ma-maaf," ucapnya terbata dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan.
Pria itu tak membalas ucapannya. Ia malah memperhatikan Mulan dengan mata menyipit seperti menyelidik. Namun, belum sempat dirinya menginterogasi, wanita itu sudah lebih dulu melesat meninggalkan dirinya di sana.
__ADS_1