Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Drama sepiring nasi


__ADS_3

Mulan mengatur napasnya untuk menetralkan degub jantung yang berdetak dua kali lebih kencang. Malu. Bisa-bisanya ia memegangi ****** ***** milik Bara. Di depan pria itu pula.


Oke. Percobaan pertamanya gagal total. Ia kalah dan berakhir keluar menanggung rasa malu bukan kepalang. Tapi ia belum sepenuhnya kalah. Ini baru permulaan. Sekarang ia bukanlah tipe wanita mudah menyerah seperti yang dulu. Ia akan terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Demi Rayyan. Iya. Demi Rayyan.


Mulan mempersiapkan rencana selanjutnya dan menunggu Bara keluar dari sana. Ia tahu pria itu belum makan malam dan sengaja membawakan makan malam Bara ke kamar. Semoga saja dengan begini pria itu mau sedikit membuka hati untuk dirinya.


"Tuan, Anda sudah selesai?" sambut Mulan setelah Bara membuka pintu kamar ganti. Mulan sempat terpesona saat mencium aroma maskulin dari sabun mandi di tubuh Bara.


Namun, sadar akan tanggapan dingin pria itu, Mulan akhirnya mengusir jauh-jauh pikiran buruk itu dan memfokuskan diri pada rencananya.


"Saya sengaja membawakan Anda makanan ini karena saya tahu Anda belum makan. Ini, dimakan ya," ucapnya dengan senyuman tulus seraya menyodorkan nampan di tangannya.


Sejenak Bara menatap isi piring yang ada di nampan sebelum kemudian mengalihkan tatapan dingin itu pada Mulan. "Kau makan sendiri saja. Aku tidak lapar," putusnya sambil berlalu begitu saja.


Jelas saja Mulan merasa geram. Ia sudah menjatuhkan harga diri dengan membujuk pria itu dengan perlakuan lembut, tetapi bisa-bisanya Bara tetap dingin dan cuek terhadapnya. Memangnya Bara itu siapa! Mentang-mentang kaya dan berhasil menikahinya, ia seenaknya menginjak harga diri Mulan begitu saja.


Seharusnya bukan begitu cara Bara memperlakukan Mulan. Toh Mulan bisa mengerti jika pria itu tidak mencintainya. Pernikahan ini memang terjadi karena terpaksa. Tetapi Mulan berada di sana juga bukan atas kehendaknya! Ia juga terpaksa! Bahkan sangat tersiksa sebab dipisahkan dengan anaknya.


"Dasar egois!" maki Mulan yang merasa sudah tak tahan. Ia saja membiarkan perutnya yang kelaparan demi mengambil hati pria itu. Tapi lihat balasan Bara terhadapnya.


Rupanya usaha Mulan untuk menarik perhatian Bara itu berhasil. Pria yang sedang melangkah itu sontak berhenti lalu menoleh pada Mulan yang ternyata tengah menatapnya nyalang.


"Kau bilang apa?" tanya Bara seperti tak percaya dengan apa yang didengar.


"Kau egois!" ulang Mulan lebih keras dari sebelumnya. Bahkan kali ini dengan penuh emosi.


Entah mengapa, melihat Mulan yang mengatainya seperti itu, Bara hanya menanggapinya dengan datar.


"Kau tidak bisa menghargai jerih payah orang lain! Kau hanya mementingkan egomu sendiri! Lihat ini! Aku sudah capek-capek turun ke lantai dasar hanya untuk mengambilkanmu makanan ini. Tapi apa balasanmu? Kau malah menyuruhku memakannya sendiri!" lanjut Mulan lagi dengan kesal.


Bara mendesah pelan sebelum mengajukan pertanyaan. "Lantas aku harus bagaimana supaya dirimu merasa dihargai?"


"Setidaknya hargailah usahaku. Makan makanan ini!"


Bara menatap makanan itu dengan wajah ragu. "Kau, menyuruhku makan makanan itu?"


"Iya! Kenapa? Kau takut aku menaruhkan racun?"


Bara mendesis pelan dengan senyum meremehkan. "Wanita lemah sepertimu mana berani memegangi racun. Apalagi berniat meracuniku."


Mulan membelalakkan mata. Apa tadi katanya? Ia lemah? Sialan.

__ADS_1


"Perlu kau tahu, Nyonya Mulan," lanjut Bara kemudian. "Aku ini adalah tipe manusia pemilih. Aku tidak akan memakan makanan yang tidak aku suka."


"Tidak suka bagaimana? Makanan ini kuambil dari meja makan rumah ini. Seharusnya Anda menyukainya, bukan? Masakan ini yang biasa Anda konsumsi setiap hari!" protes Mulan tak terima.


Bara bersedekap dada sambil menyipitkan matanya. "Bagaimana kau bisa sangat yakin aku akan menyukainya? Apa itu masakanmu sendiri?"


Mulan tertunduk diam. Kenapa pertanyaan Bara itu terdengar seperti tuntutan? Kenapa ia merasa tertampar?


Ya. Sebagai seorang istri, seharusnya ia menyiapkan sendiri makanan untuk suaminya. Bukannya masakan koki. Jujur. Ia sama sekali tak terpikirkan masalah ini. Lagi pula ia merasa tak percaya diri. Koki di rumah ini sangat profesional, tentunya sangat tak sebanding dengan dirinya yang hanya juru masak restoran kecil.


Bara masih diam memperhatikan Mulan. Sementara wanita itu terpaksa mengangkat pandangan dan menatap Bara dengan rasa bersalahnya.


"Maaf. Bukan saya yang memasaknya. Tapi saya bisa jamin kalau Tuan akan menyukainya. Makanan ini sangat enak kok. Dan yang pasti higienis. Koki di rumah ini sangat profesional dan terampil."


"Tapi apa hal itu bisa menjamin aku akan menyukainya?" Bara mengangkat alis sebelahnya saat bertanya. Dan tentu saja Mulan hanya membeku tanpa tahu harus menjawab apa. Ah sial. Kenapa dirinya begitu lemah di hadapan Bara.


"Oke, aku akan memakannya. Tapi dengan satu syarat."


Mulan melebarkan mata mendengar penuturan Bara. "Apa itu?"


"Jika makanan itu tidak cocok dengan lidahku, maka kau yang harus menghabiskannya."


"Oke. Tidak masalah." Mulan langsung menyahuti. Tentu saja ia sangat percaya diri. Makanan ini sangat enak. Ia sempat mencicipi sebelum mengambilnya tadi.


"Silahkan, Tuan," ujarnya.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Bara menatap Mulan untuk sejenak sebelum kemudian mengambil sendok dan garpu yang Mulan letakkan di sisi piring. Ia mulai menyendok nasi dan lauknya, lalu menyiapkan ke mulut dengan sangat hati-hati.


Mulan memperhatikan dengan antusias. Matanya berbinar penuh harap. Ini akan menjadi penentu dari usahanya. Berhasil kah, atau justru gagal oleh sikap angkuh Bara. Dan yang terjadi ....


Bara mengunyah makanan di mulutnya itu pelan lalu menatap Mulan dengan tajam. Ekspresi Mulan sempat berubah kala itu. Memang ada apa dengan makanannya sehingga tatapan Bara terhadapnya seperti itu?


"Ada apa, Tuan? Makannya enak, kan?"


"Kau yakin ini masakan koki?" Alih-alih menjawabnya, Bara justru balik melontarkan tanya.


"Iya. Saya yakin."


"Aku tidak suka! Ini tidak sesuai dengan lidahku." Bara meletakkan sendoknya, lalu mendorong piring itu kian menjauh. Mulan yang tak percaya hanya bisa melihat itu dengan nanar.


"Kenapa? Kau tidak percaya?" tanya Bara yang memperhatikan raut wajah Mulan.

__ADS_1


Tentu saja Mulan tak percaya.


"Cicipi kalau tidak percaya!"


Tanpa sadar Mulan mengangguk mendengar titah Bara. Wanita itu mengambil sendok lalu memakan apa yang Bara makan. Tak seperti ekspresi Bara, wajah Mulan terlihat baik-baik saja saat memakannya.


"Tuan, tapi ini enak. Apanya yang salah?" protesnya setelah menelan.


"Kalau aku tidak suka ya tidak suka! Jangan memaksa! Sekarang kau habiskan makanan itu. Bukankah kau bilang makanan itu enak?"


Mulan menggeleng. "Tidak mau. Makanan ini saya ambil untuk Anda."


"Kau lupa kesepakatan kita tadi apa?"


"Kesepakatan yang mana?" Mulan justru bertanya dengan polosnya.


"Jangan pura-pura amnesia!" Bara membentak yang seketika membuat Mulan ingat. Ya, dia yang harus menghabiskan makanan itu jika rasanya tak sesuai lidah Bara. Aneh bukan?


Namun, entah mengapa Mulan bisa begitu patuhnya hingga mengambil piring itu setelah mengangguk dan berkata, "Baik."


"Berapa usiamu?" tanya Bara ketika Mulan hendak menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Hah? Apa?" Wanita itu malah bertanya tak paham. Memang apa hubungannya usia dengan makan?


"Kau sudah tua, tapi kenapa kau lebih bodoh dari anak kecil?"


Mulan refleks membelalak. Apa maksudnya dia mengatainya bodoh? Enak saja.


"Contohnya dari tata cara makan yang benar saja, kenapa Rayyan jauh lebih pintar dari kamu! Begitukah cara orang dewasa makan? Berdiri seperti itu!"


Mulan langsung menyadari kesalahannya. Ia memang hendak makan dengan posisi berdirinya. Namun, bagaimana hal itu tak luput dari perhatian Bara? Kesalahan yang sebenarnya tidak ia sengaja. Mulan menganggap ini adalah sebuah hukuman, jadi mana mungkin ia terpikirkan mencari tempat dudukan ketika akan menjalaninya. Dan itu tadi, kenapa Bara menyebut-nyebut nama Rayyan? Memangnya kapan mereka pernah makan bersama?


Belum sempat Mulan mendapatkan jawaban atas pertanyaan di benaknya, tiba-tiba suara titah Bara sudah melengking di telinganya.


"Duduk!"


Mulan dengan gugup mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari tempat duduk yang sekiranya jauh dari Bara. Namun, sepertinya Bara bisa membaca pikirannya. Pria itu justru menepuk sofa kosong tepat di sisinya.


Mulan menatap Ragu. Namun, tatapan tegas mata Bara kepadanya seperti menuntut dan tak ingin mendapatkan bantahan.


Akhirnya Mulan terpaksa menempati sofa itu dengan hati-hati. Ia tahu, mata Bara tak lepas dari dirinya hingga saat ini. Mau tak mau, ia balas menatap Bara dan tersenyum canggung setelah dirinya duduk.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi? Cepat makan!"


"B–baik."


__ADS_2