
Mulan baru tahu, beginikah caranya mengobrol para sultan? Tidak bisa dilakukan seketika sambil berdiri. Harus duduk tenang sambil menikmati minuman segar dan camilan.
Saat tadi Mulan meminta waktu pada Bara untuk bicara berdua saja, pria itu hanya mengangguk tanpa kata. Ketika Mulan hendak memulai pembicaraan, Bara justru melangkah meninggalkan.
Mulan sempat bingung dengan sikap pria misterius itu. Namun, beberapa lama bersama membuatnya sedikit-sedikit mulai paham akan bagaimana keinginan Bara meski tanpa diucapkan. Dan sepertinya kali ini pria itu ingin dirinya mengikuti.
Mulan menghela napas sambil berjalan. Dirinya bukanlah para normal atau cenayang, yang bisa membaca pikiran orang serta masa depan. Ia hanya manusia biasa yang tak luput dari salah. Tidak bisakah Bara bicara langsung saja? Kenapa harus dengan bahasa isyarat?
Mulan merasa otaknya lemah jika dipaksa menebak-nebak keinginan Bara. Ia juga digelung perasaan heran. Dengan Rayyan Bara banyak bicara, tapi dengan dirinya pria itu pelit sekali mengucapkan kata. Haruskah ia menjadi anak kecil dulu untuk mendapatkan perhatian suaminya?
Entahlah.
Bara lebih dulu sampai di meja dan kursi yang sudah disiapkan di tepi pantai. Sangat sejuk sebab dinaungi sebuah pohon. Di atas meja ada berbagai macam makanan dan minuman yang kesemuanya sangat menarik dari segi tampilan. Pria itu langsung duduk di salah satu kursi dan meminum jus jeruk menggunakan sedotan.
Mulan yang baru datang langsung berhenti tak jauh dari tempat Bara duduk. Bukannya ikut duduk, ia justru berdiri sambil menyatukan jemari. Bara masih diam, membuatnya bingung harus melakukan apa. Alhasil ia menyibukkan diri dengan memperhatikan Bara dan memantau Rayyan dari kejauhan.
Ada yang aneh menurut Mulan. Ini adalah pantai ternama dengan pemandangan yang sangat indah. Nah, di pantai seindah itu, kenapa pengunjungnya sangat sepi? Bahkan bisa dibilang hanya mereka saja.
Mungkinkah Bara terlebih dahulu melakukan reservasi? Tapi liburan ini benar-benar mendadak, dan sepanjang yang ia tahu sejak merencanakan liburan tadi Bara sama sekali tak melakukan apa-apa selain bermain bersama Rayyan. Pria itu bahkan tidak menyentuh ponselnya sama sekali hingga sekarang.
"Ngapain kamu di situ?" celetuk Bara sambil menautkan kedua alisnya. Iya. Hanya alisnya yang terlihat sebab mata tegasnya masih tertutup kacamata hitam.
"Saya?" Mulan menuding dirinya sendiri dengan wajah bodohnya. Namun, sesaat kemudian ia tersadar jika reaksi seperti ini semakin menambah nilai minusnya di mata Bara. Sehingga sesegera mungkin ia berdeham kecil untuk mengusir gugup dan berusaha menjawab dengan sikap yang elegan. "Saya sedang mengawasi anak saya dari kejauhan."
"Sampai kapan kamu akan berdiri di sana?"
Dan di sinilah Mulan sekarang. Duduk berhadapan dengan Bara ditemani berbagai makanan lezat di atas meja. Mungkin dari kejauhan mereka mirip pasangan romantis yang sedang kencan di pinggir pantai. Mengobrol hangat dan santai sembari memupuk rasa cinta agar pernikahan mereka bahagia selamanya.
Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Mulan justru lebih banyak diam. Menunduk sambil asyik memainkan jemari. Sesekali tersenyum pada Rayyan yang beberapa kali memintanya ikut mandi bersama-sama.
Mulan tahu, pria di depannya secara terang-terangan memperhatikan dia. Pria itu tetap tenang dan tidak banyak tingkah. Memang begitulah pembawaan Bara. Selalu mempesona di mana saja.
"Kenapa diam. Apa yang ingin kau bicarakan?"
Mulan spontan mendongak, lantas tersadar niatnya kemari untuk apa. Bukannya dia lupa, hanya saja menunggu Bara mempersilahkannya bicara dan dia siap mendengarkannya.
"Sejak tadi kau hanya diam. Kau tidak sadar waktu kita banyak terbuang? Kau melewatkan banyak momen kebersamaan bersama Rayyan. Kau lihat anakmu di sana?"
Bara menunjuk Rayyan yang sedang main air bersama pengasuhnya. Mulan spontan ikut melihat ke arah sana.
"Setiap manusia pastinya memiliki sebuah kesibukan. Kerugian yang diderita seseorang bukan melulu mengenai uang, tetapi juga waktu yang terbuang. Waktu yang bergulir tidak akan kembali terulang. Tidak setiap waktu, kau dan Rayyan bisa bersama-sama seperti ini. Seharusnya kau bisa memanfaatkannya dengan baik, bermain bersama dengan Rayyan, bercanda, mencurahkan kasih sayang yang kau punya!Bukan malah mengabaikannya demi diam terpaku seperti itu."
Mulan tergemap. Bukan karena Bara sedikit meninggikan suaranya, memainkan sadar jika kata-kata Bara memanglah benar adanya. Bagi pengusaha seperti mereka, waktu adalah uang. Namun, kebersamaan seperti sekarang harganya sangat mahal.
"Maaf," lirih Mulan penuh sesal.
__ADS_1
"Maaf untuk?" Bara melepas perlahan kacamata hitam itu, dan seketika mata tegas yang menawan itu terlihat oleh Mulan dengan sangat jelas. Ia mengangkat alisnya yang sebelah, seolah-olah menuntut penjelasan atas kata maaf yang Mulan lontarkan.
Tak sanggup bersitatap terlalu lama, Mulan spontan menundukkan kepalanya. Wanita itu akhirnya berucap dengan pelan.
"Maaf ... karena saya telah membuang waktu Anda."
Bara langsung mendesis mendengar penuturan Mulan. Sepertinya pria itu kurang puas dengan jawaban yang istrinya utarakan.
"Kamu nggak perlu minta maaf sama saya, Mulan. Kamu nggak ada salah sama saya. Kamu tahu kan, hari ini saya free. Dokter menyarankan saya untuk beristirahat barang sehari. Dan saya sedang lakukan itu hari ini."
"Seharusnya Anda beristirahat, bukan? Lantas kenapa justru membawa kami sampai kemari?" sahut Mulan dengan nada yang sinis. Wanita itu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegap lalu kemudian melanjutkan kata-katanya. "Anda menyetir mobil Anda sendiri. Anda bukannya mengurangi aktivitas dan beristirahat, Anda justru membuat badan bertambah lelah. Kata-kata saya bahkan sama sekali tidak Anda dengarkan. Saya tidak tahu niatan Anda mempertemukan saya dengan Rayyan, bahkan mengajak kami bersenang-senang sampai kemari. Namun, Anda melupakan kewajiban Anda untuk menjaga kesehatan Anda sendiri! Boleh saya tanya Tuan Bara, sebenarnya mau Anda itu apa?"
Bara tersenyum miring sebelum menjawab pertanyaan Mulan.
"Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk beristirahat, bukan? Menurut saya, beristirahat itu tidak harus dengan tiduran dan bermalas-malasan di kamar saja. Tetap aktif secara fisik juga membantu meningkatkan suasana hati. Begitu pula menghabiskan waktu dengan teman dan keluarga untuk membangun dukungan sosial yang kuat.
Bagi saya, menyenangkan orang lain adalah cara lain menyenangkan diri sendiri. Melihat kebahagiaan orang lain bisa berpengaruh baik terhadap kebahagiaan saya juga. Jika hati bahagia, otomatis kesehatan juga terjaga. Apa kelihatannya aku ini seperti orang pesakitan, sehingga harus tiduran saja di dalam kamar?"
Penjelasan panjang lebar Bara sukses membuat Mulan bungkam. Ia mengkhawatirkan Bara, tetapi sepertinya pria itu tidak ingin dikhawatirkan olehnya.
Penjelasan Bara barusan juga cukup masuk akal. Namun, ada sesuatu yang masih mengganjal di hati Mulan, sehingga wanita itu buru-buru memastikan.
"Benarkah Anda turut bahagia dengan kebahagiaan saya?"
Bara menatap Mulan lalu dengan cepat melontarkan penyangkalan. "Bukan kebahagiaan kamu, Mulan. Tapi kebahagiaan Rayyan."
"Tentu saja." Bara menyahut cepat meski dirinya jelas-jelas berbohong.
Sudah barang pasti ia memikirkan kebahagiaan Mulan juga, tetapi entah mengapa ia begitu enggan mengakuinya. Tidak penting juga untuk Mulan ketahui.
Jika saja semalam Mulan tidak menjaganya saat sakit, jika saja ia tidak mendengarkan doa penuh air mata wanita itu, mungkin saat ini ia akan pergi bekerja dan tidak merencanakan acara liburan dadakan ini sampai sedemikian rupa.
Anggap saja ini bentuk balas budi dan rasa terima kasih sebab Rayyan telah memberikan kebahagiaan pada orang tuanya yang begitu merindukan sosok cucu sejak lama.
"Dan saya harap," lanjut Bara lagi. "Kamu tidak salah memahaminya, Mulan."
"Lantas kenapa Anda menikahi saya?" Mulan tak patah arang untuk mengorek informasi.
"Karena kamu adalah ibunya Rayyan," tegas Bara sebelum dirinya terdiam beberapa saat. Untuk sejenak kebersamaan mereka diwarnai keheningan.
"Maaf. Kau boleh membenciku karena aku orang yang jahat. Aku memanfaatkanmu untuk kepentinganku sendiri. Jika kau tidak suka, kau boleh pergi dari hidupku. Kau bisa meminta apa saja, asalkan Rayyan tetap bersama kami."
"Cih." Mulan berdecih. "Saya benar-benar heran, kenapa semudah itu Anda mengatakan? Memangnya Anda pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan uang? Seorang anak yang susah payah saya lahirkan dan besarkan bisa Anda beli begitu saja?" Mulan menatap Bara dengan tajam, lalu sesaat kemudian, senyum miring di bibirnya pun tersungging, dan akhirnya kalimat bernada sinis pun terucap. "Maaf, Tuan Bara. Tapi saya tidak sepicik yang Anda kira."
Dengan pembawaan tenang, Bara hanya membalas Mulan dengan senyuman.
__ADS_1
"Baik. Kalau begitu tetaplah bersama saya dengan segala konsekwensi yang ada."
"Baik," balas Mulan tanpa gentar. "Saya akan ikuti permainan Anda. Ya, walaupun saya masih merasa heran. Pria sempurna seperti Anda, kenapa menginginkan anak yang bukan berasal dari keturunan Anda? Kenapa tidak nikah saja dengan wanita yang Anda cinta, lalu buatlah anak sebanyak-banyaknya? Gampang, kan?"
Bara sempat mengetatkan rahang dan mengepalkan tangan ketika Mulan menyinggung tentang keturunan. Sesuatu hal yang sangat sensitif bagi Bara. Sayangnya Mulan tak menyadari bagaimana Bara berusaha sekuat tenaga meredam traumatik yang pernah menghantam habis mentalnya sebagai pria. Mulan bahkan melanjutkan kata-katanya tanpa rasa bersalah.
"Bukankah aneh, jika Anda menginginkan Rayyan, sampai-sampai harus menikahi wanita kampungan dan miskin seperti saya?"
"Saya tidak pernah mempermasalahkan latar belakang kamu dan dari mana kamu berasal," sahut Bara dengan sengit. "Saya malahan heran, kenapa kamu justru merendahkan diri sendiri? Seolah-olah kamu ini nggak ada harga dirinya."
"Karena memang begitu kenyataannya," sahut Mulan tanpa segan.
Bara yang semula sempat kesal akhirnya menatap wanita itu dengan penasaran.
"Anda pikir, kenapa dulu mantan suami saya membuang saya?"
Entah kali ini Mulan sedang bertanya atau memintanya untuk menebak. Namun, Bara tidak tertarik untuk menjawabnya, melainkan menunggu wanita itu menjelaskan.
"Dia menceraikan saya karena saya adalah wanita tidak berguna. Saya orang miskin dan sangat bodoh."
"Bodoh, karena kamu telah jatuh cinta kepadanya, bukan?" tebak Bara, tetapi kali ini nadanya terdengar sedikit bercanda.
"Tidak. Dulu memang saya wanita bodoh. Maka dari itu dia membuang saya dengan kejam."
Ada api amarah yang berkilat di mata Mulan saat wanita itu mengungkapkan. Bara bisa melihat itu dengan jelas. Namun, sepertinya Mulan sudah berdamai dengan keadaan, sehingga hari ini ia bisa mengatakan itu dengan tenang.
Mulan yang sempat merenung sejenak akhirnya menatap Bara dengan senyuman yang sulit diartikan. Ia bisa melihat ekspresi prihatin dari pria itu, tetapi Mulan buru-buru tertawa remeh sebab ia tak ingin menarik rasa prihatin orang lain dengan cara receh seperti ini. Maka, gegas saja ia melontarkan sebuah kalimat yang menunjukkan ketegaran seorang Mulan.
"Jika ada yang bertanya apakah saya menyesal pernah menikah dengannya walau hanya singkat dan tanpa cinta, maka dengan tegas saya akan menjawab tidak." Senyum getir Mulan lantas berganti senyuman kebahagiaan. "Kenapa begitu? Karena dengan menikah dengannya, saya akhirnya mendapatkan anugerah yang tak terkira. Yaitu dengan hadirnya Rayyan dalam kehidupan saya. Entah bagaimana orang memandang kenakalan Rayyan, tetapi bagi saya dia adalah sosok malaikat kebahagiaan saya. Sungguh, saya tidak peduli terhadap omongan orang tentang Rayyan."
"Memangnya, apa yang pernah orang katakan tentang Rayyan?" Kali ini Bara bertanya penuh selidik. Mulan tak bisa membedakan, entah pria itu benar-benar penasaran atau hanya ingin menguji dirinya saja.
"Banyak. Dan macam-macam," tegas Mulan. Ia mendesah pelan sebelum melanjutkan penjelasan. "Saya tahu, ini salah saya. Saya berbohong. Saya yang menyembunyikan Rayyan dari papa kandungnya. Mungkin, saat kecil Rayyan selalu percaya meski saya hanya bisa memberikan harapan palsu tentang kepulangan papanya. Namun, saya melupakan dampak buruk dari yang sudah saya lakukan. Seiring berjalannya waktu, Rayyan semakin tahu dan bisa menilai kebohongan saya. Banyak omongan negatif yang ia dengar dari lingkungan sekitar kami. Akhirnya dia berontak. Dia ingin mencari papanya sendiri."
Mulan menatap lurus ke depan sembari tersenyum. Senyum penuh ironi lebih tepatnya. "Seharusnya dulu saya katakan saja jika papanya sudah tiada. Mungkin Rayyan tidak akan berontak seperti itu, bukan?"
"Bodoh," maki Bara dengan datar yang membuat Mulan mengernyitkan keningnya. "Kau ingin anakmu jadi penipu seperti dirimu?"
"Maksud Tuan apa? Saya tidak menipu siapa-siapa!" sangkal Mulan penuh kesungguhan. Sesungguhnya ia tak paham dengan maksud Bara itu.
"Seorang anak, pasti akan menirukan apa yang dia lihat, dan apa yang dia dengar. Jika masih kecil saja dia sudah kenyang dibohongi, lalu apa jadinya dia saat besar nanti?
Mulan. Kejujuran itu adalah yang utama. Entah pahit atau manis, itu akan lebih baik daripada anakmu memendam kekecewaan terlalu dalam pada akhirnya nanti. Paham tidak?"
Mulan menatap Bara lekat, menghela napas dalam, kemudian mengangguk pelan. Sejujurnya tidak semuanya yang ia katakan pada Bara mengenai perasaannya itu adalah sebuah kebenaran sesungguhnya. Itu hanya bentuk dari kekecewaannya saja pada dirinya yang dulu pecundang dan tidak berani menghadapi kenyataan. Seharusnya ia tidak perlu sembunyi dan membuat Rayyan dikucilkan seperti ini. Seharusnya ia yakin memiliki kekuatan, sehingga ia bisa membesarkan Rayyan tanpa dihantui kehilangan.
__ADS_1
Di saat sedang tercenung sendirian, tiba-tiba Bara melontarkan pertanyaan yang membuat dirinya bingung hendak menjawab apa.
"Lantas, bagaimana bisa Rayyan menganggap jika aku ini adalah papanya? Memangnya cerita apa yang kau karang? Kenapa Rayyan menjadikan aku figur seorang papa?"