Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Suapan pertama


__ADS_3

Perjalanan yang biasanya hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam itu kini terasa berjalan lamban. Mulan sudah meminta sopirnya untuk menambah kecepatan, tetapi kemacetan di depan sana menjebaknya tak bisa berbuat apa-apa.


Sial.


Mulan meremas telepon genggamnya. Seharusnya ia sudah berada di rumah sekarang. Menjadi istri yang baik dan menyiapkan makanan untuk suaminya. Ini malah di jalan tanpa tahu kapan sampainya.


Terang saja dirinya resah. Beberapa saat yang lalu, Alma memberi kabar jika Bara tengah dalam perjalanan pulang.


Serius?


Saat itu Mulan langsung menilik jam tangannya. Belum pukul lima, tapi Bara sudah memutuskan pulang saja. Ada apa dengannya?


Akhirnya mobil sampai di kompleks perumahan elit milik Bara setelah melaju kencang membelah jalanan. Mulan sempat bernapas lega, tetapi mobil mewah di depannya kembali membuatnya tegang.


Terang saja ia tegang. Di sana, ia melihat Bara tengah turun dari mobil itu. Suaminya sampai lebih dulu dari pada dia. Astaga. Apa yang harus ia lakukan?


Mulan berusaha untuk tenang. Ia berjalan pelan sambil memikirkan jawaban yang tepat saat nanti Bara mengajukan pertanyaan.


Pria itu masih berdiri di sana bersama asistennya. Menatap ke arah Mulan dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Jantung Mulan berdegup lebih cepat dari biasanya. Semakin bertambah kencang seiring jarak yang semakin dekat. Bara juga masih menatapnya tanpa ekspresi. Entah untuk meneliti atau menuntut penjelasan. Tatapan itu justru membuat Mulan merasa seperti ditelanjangi.


"Tuan. Anda sudah pulang?" Akhirnya Mulan memutuskan untuk bertanya setelah posisi mereka lebih dekat. Ia menghentikan langkah, menarik dua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


Bara yang hanya bergeming membuat Mulan semakin kikuk. Lebih-lebih lagi menyadari jika basa-basinya tadi sangat basi. Sudah tahu Bara pulang, eh masih juga ditanyakan.


"Maaf saya terlambat pulang. Saya tadi keasyikan belanja sampai-sampai lupa waktu." Mulan memaksakan senyumnya lagi sambil menunjukkan tas belanjaan yang dibawanya.


Lagi-lagi Bara tak bicara. Ia berbalik badan setelah melihat belanjaan Mulan. Wanita itu menghela napas lega setelah Bara pergi dari sana. Hendrik pun mengikuti di belakang tuannya.


Untung saja tadi dirinya sempat membeli dress cantik panjang selutut dan juga beberapa aksesoris. Ia sengaja memilih barang mahal agar tidak membuat Bara curiga. Bara itu uangnya banyak. Dia tidak akan merasa aneh jika wanita menyukai dan membeli barang-barang mahal. Malahan itu dinilai sebuah hal wajar.


Jikapun dirinya dicap wanita mata duitan dan gemar berbelanja, bagi Mulan itu tak masalah. Yang penting latar belakangnya tidak ketahuan.


Mulan berjalan mengendap-endap saat masuk kamar. Hening. Tak terlihat Bara di sana. Namun, suara gemercik air di kamar mandi membuat wanita itu yakin jika suaminya tengah membersihkan diri di dalam sana.


Mulan bisa bernapas lega. Setidaknya ia bisa menaruh belanjaannya di sana lalu turun ke bawah untuk menyiapkan makanan malam kilat.


Hari ini Mulan menyiapkan hidangan dengan penuh semangat. Walaupun Bara selalu dingin dan enggan bicara padanya, tetapi ia tahu Bara tipe orang yang bisa menghargai jerih payah istrinya. Pria itu selalu menghabiskan makanan yang Mulan sajikan. Tidak banyak bicara dan tidak cerewet soal rasa.


"Selesai!" Mulan tersenyum semringah usai memberikan sentuhan terakhir pada masakannya. Acara memasak hari ini selesai dengan cepat. Ia memilih masakan yang lezat tapi mudah dimasak. Terlebih lagi ada Alma dan Chef Rizky selalu siap membantu jika dia membutuhkan.


"Alma, bantu aku membersihkannya ya. Aku mau mandi sebentar."


"Baik, Nyonya." Alma dengan cekatan membantu Mulan melepaskan appron. Walau posisi Mulan di sana adalah istri dari tuannya, tetapi wanita itu tak pernah lupa mengucapkan terima kasih usai meminta tolong, membuat Alma terharu dan merasa dihargai.


Ia memperhatikan Mulan yang berjalan terburu-buru. Saat Mulan terpeleset oleh lantai yang licin, Alma membelalak hingga berteriak saking paniknya. "Nyonya hati-hati!"


Untung saja Mulan berhasil menyeimbangkan tubuh hingga tidak terjatuh. Melihat Alma panik dan bergegas menghampiri, ia buru-buru nyengir untuk meyakinkan dirinya baik-baik saja.


"Nyonya tidak pa-pa?" tanya Alma sambil memeriksa kaki nyonyanya.

__ADS_1


"Tidak pa-pa, Alma. Sepertinya hak sepatuku ini terlalu tinggi," balas Mulan sambil tersenyum menunjukkan sepatunya.


"Yakin, kaki Nyonya tidak terkilir?"


"Tidak. Aku hanya terkejut."


Alma bernapas lega. "Lain kali hati-hati, Nyonya. Jangan terburu-buru."


"Iya, iya. Baiklah." Mulan akhirnya melangkah dengan hati-hati di depan Alma. Namun, setelah jauh, ia kembali berlari untuk memburu waktu.


Di dalam kamar, Mulan tidak bertemu dengan Bara. Pria itu sudah tidak ada di sana. Mungkin sedang di ruang kerja atau di tempat lainnya. Mulan tak mau ambil pusing dengan hal itu. Ia malah senang Bara tidak ada, sebab dengan begitu ia tak perlu sibuk menghindar dan kesehatan jantungnya juga aman.


Entah kenapa sejak menikah dengan Bara deguban jantungnya susah sekali dikendalikan. Sayangnya itu hanya terjadi saat ada Bara saja.


Sekarang ia hanya perlu mandi dan kemudian berdandan cantik. Walaupun tidak cinta, tetapi ia perlu tampil sempurna di depan suaminya. Itu wajib sekalipun dirinya sama sekali tidak dilirik.


Tepat pukul tujuh Mulan turun ke lantai dasar. Ia berniat ke ruang makan, barangkali saja Bara sudah lebih dulu pergi ke sana. Namun, saat di ruang makan Mulan sedikit menekan kecewa lantaran Bara tak ada di sana. Di kamar mereka juga tidak ada. Memangnya dia ke mana? Tidak biasanya pria itu menghilang seperti ini di rumahnya sendiri.


Tepat saat itu, salah satu maid menghampiri Mulan untuk memberi tahu sesuatu.


"Nyonya, Tuan Hendrik datang bersama Dokter Irawan."


"Hah?" Mulan sedikit terkesiap. Hendrik tiba-tiba muncul bersama seorang pria memakai jas putih di belakangnya.


"Nyonya Mulan," sapa pria itu.


"Ya, Tuan Hendrik. Ada apa ini?" tanya Mulan tak mengerti.


"Saya datang bersama Dokter Irawan. Dia adalah dokter pribadi Tuan Bara."


"Memangnya ada apa dengan Tuan Bara? Saya lihat dia baik-baik saja," tanya Mulan dengan kalimat sanggahan usai mengalami pria itu. Memang begitu, kan? Bukankah tadi Bara baik-baik saja.


"Benarkah beliau baik-baik saja? Anda yakin sudah memastikannya?" sahut Hendrik meragukan.


Mulan terdiam. Wanita itu tampak mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir.


"Tuan Bara baru saja mengeluh pusing pada saya. Maka dari itu saya membawa Dokter Irawan kemari. Bisakah kami ke kamar untuk memeriksa keadaan beliau?" tanya Hendrik meminta izin.


Jelas saja Mulan mengangguk. Ia bahkan langsung mempersilahkan dan mengantarkan mereka paling depan.


Nah, sekarang yang jadi masalah di mana Bara berada? Bukankah pria itu tak ada di kamarnya? Bahkan selama ini mereka belum pernah tidur bersama.


"Nyonya. Bukankah kamar kalian ada di sini?" Tampaknya Hendrik mengerti keresahan Mulan. Wanita itu terlihat bimbang saat hendak mengantarnya. Beruntung tadi Bara sempat mengirimkan pesan untuk mengantar Dokter Irawan ke kamar tamu, kamar yang selama beberapa hari terakhir ini jadi tempat melepas lelahnya.


"Oh, iya." Mulan yang menyadari pertolongan Hendrik langsung menjawab agak gagap. Wanita itu buru-buru memutar arah dan membukakan pintu yang Hendrik tunjuk.


Benar saja. Rupanya Bara ada di sana, sedang merebahkan tubuhnya dengan menggunakan bantal yang sengaja ditumpuk tinggi. Melihat kedatangan mereka pria itu langsung bangkit untuk duduk.


"Tetap berbaring saja, Bara. Aku akan memeriksamu sebentar," ujar Dokter Irawan sambil menuntun Bara untuk kembali berbaring.


Seketika hati Mulan berdesir nyeri melihat keadaan Bara. Pria itu terlihat pucat dan lemas. Benarkah tadi Bara memang baik-baik saja, atau justru dirinya yang tidak peka? Istri macam apa dia? Suaminya sendiri sakit tapi dia tak tahu apa-apa. Ia malah sibuk merias diri dan menyiapkan makan malam.

__ADS_1


Dokter Irawan mengeluarkan stetoskop dari kopernya lalu mulai memeriksa keadaan Bara. Hati-hati sekali pria itu melakukannya. Sementara Bara hanya memasrahkan diri diperiksa dokternya. Tanpa sedikitpun memperhatikan Mulan atau meliriknya barang sebentar.


Sesi pemeriksaan akhirnya usai. Dokter Irawan mengulas senyum sambil menyimpan kembali peralatan medisnya.


"Kau hanya kelelahan, Bara. Selain kurang darah, kesehatan lambungmu juga terganggu. Untung saja aku sudah membawa obat untuk kau minum. Apa kau sudah makan?" tanya pria itu kemudian.


Bara menjawab dengan gelengan, sementara Mulan menyahuti dengan tegas.


"Belum, Dokter."


Dokter Irawan menatap Mulan sebentar lalu mengembalikan pandangannya ke arah Bara. "Dia harus makan dulu sebelum minum obat," katanya kemudian.


"Owh, biar saya ambilkan makanannya," ujar Mulan. Wanita itu bergegas keluar untuk mengambilkan makanan di bawah.


Beberapa menit berlalu, Mulan pun kembali dengan nampan berisi makanan dan minuman.


Perasaan bingung sekaligus canggung membuat Mulan hanya bisa berdiri di samping ranjang. Saat dirinya tiba, rupanya tiga pria tersebut sedang terlibat sebuah obrolan. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas Mulan merasa tak enak hati untuk menyela. Dari apa yang dia tangkap, Mulan akhirnya menyadari jika tiga pria itu sebenarnya adalah teman. Usia yang setara makin menguatkan keyakinan Mulan.


Dokter Irawan yang duduk di tepi ranjang menyambut Mulan dengan senyuman. Pria itu tampaknya memahami perasaan Mulan. Sehingga ia pun mempersilahkan wanita itu untuk menjalankan kewajibannya.


"Kok diam saja? Ayo dong, disuapi suaminya."


Disuapi?


Mata Mulan membeliak tak percaya. Bukannya dia keberatan. Mulan hanya tak enak hati jika ternyata Bara tidak suka disuapinya. Selama ini pria itu selalu dingin terhadapnya, bahkan berkomunikasi saja bisa dihitung dengan jari. Dan sekarang, perlukah ia menyuapi?


Jujur, Mulan merasa ragu. Namun, pada saat Mulan menatap Bara seperti meminta persetujuan, pria itu tetap terlihat datar seperti biasanya. Sepertinya Bara tak mempermasalahkannya. Tak ada sikap yang menjurus pada penolakan.


Akhirnya, Mulan berjalan mengitari ranjang untuk mengambil posisi di sisi ranjang lainnya. karena jarak yang agak jauh, wanita itu memutuskan naik ke ranjang dan menaruh nampannya di sana untuk mempermudah menyuapi suaminya.


Bara sempat menatapnya sebentar sambil mengobrol dengan Hendrik dan Dokter Irawan. Dan sepertinya dia tidak keberatan dengan sikap Mulan itu. Hal itu membuat Mulan merasa lega. Kini ia bisa menyuapi pria itu tanpa tekanan batin.


"Wah, kayaknya enak tuh," celetuk Dokter Irawan saat melihat makanan Bara.


Kebetulan, hari itu Mulan memasak capcay dengan lauk ikan salmon. Warna-warni dari capcaynya sendiri terlihat enak dan menarik hati. Dan yang pasti harum dan menggugah selera makan.


"Dokter Irawan mau makan? Silahkan, Dok. Kebetulan hari ini saya masak banyak," tutur Mulan mempersilahkan dengan ramah.


"Jadi Nyonya Mulan yang memasaknya sendiri?" tanya dokter itu seperti tak menyangka.


"Dibantu Chef kok, Dok. Saya sendiri nggak bisa masak, hehe."


"Wah, keren."


Entah benar atau tidak, Mulan melihat senyuman terbit di bibir Bara ketika Dokter Irawan memujinya. Mulan nyaris tak percaya sebab senyuman itu terlihat samar dan hanya sebentar. Mudahan saja ini bukan imajinasi Mulan yang membuatnya melambung tinggi ke atas awan.


Setelah memastikan makanan di sendoknya sudah dingin, Mulan mulai hendak menyuapi Bara. Awalnya agak canggung karena Mulan bingung harus memulainya bagaimana. Bara sendiri tampak asyik mengobrol dengan dua orang terdekatnya, sampai-sampai tak memperhatikan tangan Mulan yang menggantung lama di udara hanya untuk mengambil kesempatan menyuapinya saja.


Mulan agak kesal karena para pria itu tidak peka terhadapnya. Hingga akhirnya, ia mendapatkan ide untuk menarik perhatian suaminya.


"Sayang, makan dulu yuk."

__ADS_1


Jujur, Mulan tak percaya ia bisa mengatakan itu. Bahkan reaksi yang akan Bara tunjukkan, sama sekali tak terpikirkan oleh dirinya. Andai pun pria itu menolak dan menatapnya risih, paling-paling ia hanya mendapat malu. Masa bodoh lah dengan perasaannya. Yang penting sudah usaha. Jikapun Bara menolak dan membuatnya malu, ia tinggal lari saja untuk sembunyi. Gampang kan.


Namun, yang terjadi justru luar dugaan Mulan. Bara yang saat itu tengah serius mendengarkan cerita Dokter Irawan langsung menoleh begitu Mulan memanggilnya sayang. Pria itu menatap istrinya penuh arti lalu tanpa diminta lagi ia pun membuka mulutnya.


__ADS_2