
Hendrik hanya bisa memperhatikan tingkah atasannya dalam diam. Menurutnya sore ini, sikap Bara Aditama terlihat berbeda dari biasanya. Tepatnya, usai ia mendapati pria itu hanya berduaan dengan Mulan di ruangannya kendati yang ia tahu keberadaan Mulan di sana hanya sebatas mengobati luka Bara.
Sepanjang perjalanan menuju pulang tak ada percakapan berarti yang terjadi. Seperti biasa Bara lebih banyak diam. Bukan tengah merenung atau pun sedang kesal. Namun, pria itu lebih terlihat sedang merasa bahagia.
Ada seri di wajah pria tampan itu. Senyum di bibirnya pun tak henti-hentinya merekah meski kadang buru-buru memasang wajah datar kala Hendrik menatapnya dengan ekspresi heran.
"Apa yang kau lihat?" ketus Bara tidak suka.
"Tidak ada Tuan," jawab Hendrik cari aman.
"Fokus dengan kemudi dan jalanan di depan saja! Jangan perhatikan yang lainnya. Kau tau kan, jalanan sore ini sedang padat merayap? Kalau pecah fokus bisa-bisa kita celaka."
Hendrik hanya mengangguk meski masih merasa aneh. Tumben sekali atasannya itu memperingatkan tentang keselamatan. Sepanjang yang dia ingat, Bara orangnya tak pernah banyak aturan dalam pekerjaan. Pria itu tak banyak mau dan selalu memberi kepercayaan penuh terhadapnya.
Hendrik jadi makin yakin jika gesture salah tingkah yang berusaha ditutupi Bara barusan adalah imbas dari kebersamaan pria itu dengan Mulan. Tidak salah lagi jika hati Bara Aditama tengah berbunga-bunga karena perasaan cinta. Namun, baru saja senyum senang terkembang samar di bibir Hendrik, pria itu langsung menelan ludah oleh perkataan Bara kemudian.
__ADS_1
"Keselamatan di jalan raya itu penting, Hendrik. Ingat, ada istri dan anak yang sedang menunggu kita di rumah." Melihat Hendrik hanya diam dengan memperlihatkan tampang cengo, Bara kemudian melanjutkan usai menyadari suatu hal. "Oh iya, sorry aku lupa. Kamu kan masih jomlo ya. Jomlo mana tau gimana rasa bahagianya ditungguin anak istri di rumah."
Jika bukan karena atasan yang bicara, mungkin Hendrik sudah menginjak kaki Bara saat itu juga. Enak saja pria itu meremehkannya begitu saja.
Asal tau saja, jomlo bukan berarti tidak laku. Jomlo-jomlo gini aku banyak yang mau kok. Hanya saja belum menemukan orang yang tepat untuk menjadi belahan jiwaku, batinnya kesal sambil mencengkram stir mobil.
***
Mobil yang dikemudikan Hendrik akhirnya sampai pada tujuan. Belum juga mesinnya mati, si penumpang di jog bagian belakang langsung turun seperti tak sabaran. Senyum ramah masih terpatri di sana. Bahkan dengan hangat membalas sapaan para asisten rumah tangga.
Tubuh tegap berbalut stelan jas mahal itu terus melaju tanpa berniat berhenti, seolah-olah sudah menemukan tujuan pasti.
Sayang, suasana kamar mewah berukuran luas itu terasa lengang. Mungkinkah yang dicari sedang tidak ada di sana?
"Mulan?" Ia memanggil nama istrinya, tetapi wanita itu tak kunjung menyahuti juga.
__ADS_1
Senyum di wajah Bara perlahan memudar. Ia meletakkan ponselnya ke tengah ranjang setengah melempar. Ketika pria itu tengah membuka satu persatu satu lengan jasnya tiba-tiba terdengar pintu dibuka.
"Anda memanggil saya?" Suara lembut itu bertanya, membuat Bara seketika menoleh ke sana.
Dunia Bara seperti berhenti berputar saat pandangannya bertemu dengan Mulan. Separuh tubuh wanita itu keluar dari celah pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Rambut panjang setengah basah itu ia gerai begitu saja. Sepertinya Mulan baru saja mandi, terlihat dari handuk piyama tebal warna putih yang masih membalut tubuh mulusnya dengan sempurna.
Kecantikan Mulan seperti hipnotis yang membuat Bara melangkah mendekat tanpa sadar. Bola mata pria itu masih terpaku pada manik bening penuh tanya Mulan yang kini perlahan mengerutkan keningnya. Dan manik mata itu seketika membola ketika Bara meringsek masuk dan menghimpit tubuhnya pada tembok.
"Kau sudah menungguku rupanya. Sudah siapkah untuk pertempuran kita yang pertama?" Tanpa memedulikan penolakan Mulan, Bara berusaha menggoda istrinya. Satu tangannya ia gunakan untuk menahan tangan istrinya sementara tangan lainnya mulai menyusuri pipi Mulan. Sentuhan lembut serta bisikan penuh nafsu bahkan sukses membuat bulu kuduk Mulan ikut meremang.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" bisik Mulan penuh tekanan.
Sayangnya, Bara menilai Mulan terlalu naif untuk mengakui dirinya pun menginginkan sehingga wanita itu masih berusaha untuk melepaskan diri. Ia pun tak tinggal diam. Bibir ranum yang sejak awal menjadi target utama tak akan ia lepaskan. Dan ketika ia berniat melabuhkan lengkung merahnya di sana secepat itu pula tangan Mulan bergerak menutupinya.
Bersama dengan pelototan maut yang Mulan tunjukkan, terdengar pula suara imut dari arah lain yang juga menyerukan nama Bara.
__ADS_1
"PAPA ....!!"
Sontak Bara menoleh dan seketika ia merasa jantungnya berhenti berdetak.