Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Bisa kita bicara?


__ADS_3

"Alma, apa kau melihat Tuan Bara?" tanya Mulan saat bertemu dengan pelayan pribadinya di lantai dasar.


"Tuan Bara baru saja pergi, Nyonya," jawab Alma.


"Baru saja pergi?" tanya Mulan seperti tak percaya.


"Benar, Nyonya. Tuan Bara dan yang lainnya belum lama meninggal rumah."


Mulan mendadak hilang semangat setelah mendengar jawaban dari Alma. "Bukankah ini masih pagi? Kenapa dia pergi sepagi ini?" gumamnya lemah.


"Nyonya baik-baik saja?" Alma akhirnya bertanya cemas setelah melihat nyonyanya terduduk lemas di sofa. Entah apa yang ingin disampaikan nyonyanya pada sang Tuan, sepertinya sangat serius hingga membuat wajah wanita itu mendadak muram.


"Aku baik-baik saja, Alma," sangkal Mulan "Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Tuan Bara."


"Oh, begitu? Kenapa tidak Nyonya hubungi saja ke nomor teleponnya?" usul Alma yang seketika membuat Mulan mengernyit.


Nomor ponselnya saja Mulan tak tahu. Bagaimana mungkin ia akan menghubungi?

__ADS_1


"Tidak perlu, Alma. Aku bisa menunggunya sampai Tuan Bara kembali."


"Bukankah Tuan Bara akan kembali setelah dua atau tiga hari lagi?" jelas Alma dengan nada mengingatkan, sehingga membuat Mulan yang tak tahu apa-apa langsung membeliak lantaran terkejut.


"Hah? Dua atau tiga hari?"


"Benar, Nyonya? Memangnya Nyonya tidak tau?"


Mulan menggeleng lemah. Ia bukan hanya merasa kecewa karena gagal menjumpai Bara dan mengucapkan terima kasihnya. Namun, yang lebih membuatnya merasa kecewa berat adalah pria itu pergi jauh tanpa berpamitan dengan dirinya.


Kenapa Bara seperti itu? Apa pria itu masih marah karena mendapat penolakannya tadi malam? Tapi bukankah Bara sudah mempertemukan dirinya dengan Rayyan? Seharusnya pria itu tidak marah, kan?


Mulan tersentak saat mendengar suara Rayyan yang memanggilnya. Wanita itu sontak mengerjap, lalu menoleh pada Rayyan yang tengah berjalan menghampirinya. Rupanya anak itu menyusulnya turun ke h


"Sayang, maafkan Mama yang tiba-tiba meninggalkanmu seperti tadi. Sungguh, Mama tidak ada niatan apa-apa, Nak. Mama hanya ingin menemui Papa dan mengucapkan terima kasih."


"Tapi Papa baru saja pergi, Ma."

__ADS_1


Mulan tercengang mendengar penuturan Rayyan. "Jadi Rayyan sudah bertemu dengan papa?"


"Hu-um. Papa bahkan menitipkan Mama pada Rayyan."


Mulan terdiam. Melalui penuturan Rayyan, ia bisa menyimpulkan jika keluarga ini benar-benar memperlakukan Rayyan dengan baik. Atau mungkin malahan sangat baik.


"Rayyan!" panggil seseorang dari arah pintu yang terbuka lebar. Berbeda dengan Mulan yang hanya menoleh menatap orang itu, Rayyan justru berhambur memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Oma ...!"


Mata Mulan melebar tak percaya melihat adegan yang tersaji di di depan matanya. Bagaimana mungkin Rayyan memeluk ibu kandung Bara dengan begitu manja? Seperti sudah memiliki ikatan batin dan kedekatan emosional, Ester juga menyambut pelukan Rayyan dengan penuh sayang. Bukankah mereka belum lama saling kenal, lalu bagaimana bisa mereka bisa seakrab itu? Bukankah selama ini Rayyan ditahan hanya dijadikan sebagai jaminan atas kekacauan yang telah anaknya buat?


"Hay, Boy. Bagaimana? Rayyan bahagia bisa bertemu Mama?" tanya Ester dengan sikap ceria.


"Bahagia, Oma. Rayyan sangat-sangat bahagia."


"Bagus." Ester mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Mulan yang sejak tadi hanya diam terpaku sembari memperhatikan, mendadak membeliak kikuk saat Ester mengarahkan pandangannya pada dia.


"Mulan. Kita bisa bicara sebentar?" tanyanya datar untuk meminta persetujuan, yang seketika mendapat anggukan Mulan sekalipun wanita itu merasa terkejut sekaligus was-was.


__ADS_2