Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Buket bunga


__ADS_3

Suara itu? Apa mungkin hanya halusinasiku saja?


Tak ingin percaya begitu saja, Mulan langsung berbalik badan untuk memastikan.


Mata wanita itu kembali melebar dan tubuhnya membeku untuk beberapa waktu. Kaget. Tak menyangka. Benarkah itu adalah Rayyan? Bocah itu sedang berjalan dengan tangan memegang buket bunga dan bibirnya tersenyum manis ke arah Mulan.


"Mama." Suara itu kembali terdengar. Mulan yang sempat seperti terombang-ambing di lautan kini seolah-olah mendapatkan sebuah pijakan.


"Rayyan? Itu kamu, Sayang?" lirihnya tak percaya.


Bukan menjawab dengan kata, Rayyan justru berhambur memeluknya. Mulan yang pada akhirnya merasa yakin langsung membalas pelukan bocah itu. Sangat erat. Ia bahkan sampai menitikkan air mata karena saking bahagianya.


"Rayyan anak Mama .... Mama sangat rindu pada Rayyan." Wanita itu terisak sambil beberapa kali mencium puncak kepala sang putra.


"Rayyan juga rindu pada Mama," balas bocah itu.


Mulan akhirnya mengurai pelukan setelah beberapa lama. Ia menekuk lutut untuk mensejajarkan tinggi mereka, meraba pipi chabi nan mulus itu, lalu memeluknya sekali lagi.


Memandang putranya lekat-lekat, Mulan tertawa di sela tangisnya. Ia tak pernah merasakan bahagia melebihi ini. Satu kalimat bernada tanya akhirnya lolos dari bibirnya.


"Rayyan, Sayang. Rayyan datang kemari bersama siapa?"


Jujur, selain bahagia, ada kecemasan besar yang mengintai di benak Mulan. Ia takut Rayyan datang tanpa sepengetahuan Bara. Itu jelas akan berakibat buruk terhadap mereka. Terlebih dengan kemunculan Rayyan yang hanya sendirian, Mulan sampai mengira-ngira jika putranya telah berbuat nekat.


"Rayyan? Rayyan baik-baik saja, kan? Oma di mana? Jangan bilang kalau Rayyan ke sini dengan cara ...." Mulan tak mampu melanjutkan kata-katanya, tetapi wajah paniknya sudah mewakili semuanya. Antara yakin dan tidak yakin, mungkinkah bocah sekecil Rayyan sudah berani mengambil langkah berani dengan melarikan diri?


"Mama ingin tahu dengan siapa Rayyan datang?" tanya bocah itu diiringi senyuman, sementara Mulan yang sudah sangat penasaran langsung menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Itu." Rayyan menunjuk ke arah pintu di belakangnya, dan tepat di saat itu Bara muncul sambil menyunggingkan senyumnya.


Sekali lagi mata Mulan melebar dengan sempurna. Namun, kali ini ia tampak terkesima. Wanita itu masih terpaku pada posisinya. Menatap pria yang saat ini tengah melangkah ke arah mereka. Tak jauh dari dirinya, akhirnya Bara memutuskan berhenti dengan tangan menelusup ke dalam saku celana. Padahal ia hanya tersenyum tipis saja, tetapi anehnya di mata Mulan senyuman itu mengembang penuh dengan pesona.


"Mama," tegur Rayyan sambil mengguncang lengan mamanya. Wanita itu terkesiap, lalu dengan bengong mengalihkan pandangannya pada Rayyan.


"Ya, Sayang?"

__ADS_1


"Kenapa Mama bengong seperti itu?" tanya Rayyan terheran-heran. "Seperti tidak pernah melihat Papa saja. Bukankah kalian ini tinggal serumah. Seharusnya setiap hari bertemu, kan?"


Mulan tak bisa berkata-kata. Wanita itu hanya bisa nyengir bodoh di depan putranya. Beruntung, pandangannya menemukan buket bunga indah yang dibawa Rayyan, sehingga saat itu juga ia menemukan ide brilian sebagai pengalihan.


"Rayyan, itu buket bunga untuk siapa?"


"Untuk Mama," jawab Rayyan. Bocah itu tersenyum ceria sambil menyodorkan pada Mulan. "Ambillah Ma. Ini untuk Mama."


Mulan buru-buru menyambutnya. Matanya berbinar senang lalu berucap terima kasih dengan antusias.


"Terima kasih, Sayang. Buket bunganya cantik sekali." Tak lupa ia memberikan pujian.


"Sungguh?" tanya Rayyan memastikan.


"Iya. Mama suka. Suka, sekali," balas Mulan dengan antusias. "Terima kasih, Sayang."


"Berterima kasihlah pada Papa, Ma. Dialah yang memilihnya untuk Mama."


Seketika senyuman Mulan pun memudar berganti wajah terperangah. Ia menatap wajah Rayyan dengan ekspresi tak biasa. Matanya sedikit melebar penuh isyarat, seolah-olah tengah bertanya 'kau serius' pada bocah kecil itu.


"Papa romantis kan, Ma?" Rayyan meminta dukungan, dan mau tak mau Mulan mengangguk mengiyakan.


"Iya, Sayang." Astaga, Mulan ingin pingsan rasanya.


***


"Rayyan sudah siap?"


Bocah itu mengangguk penuh semangat.


"Let's go!" Bara langsung menjalankan mobilnya dengan semangat, sementara Rayyan yang duduk di belakang, berseru dengan riang.


"Yeyy, liburan!"


Mobil kap terbuka warna hitam itu melaju dengan kencang. Membelah jalanan ibu kota yang saat itu sedang lengang. Rayyan yang berada di jok belakang tampak berdiri dengan riang, sementara Mulan yang berada di jok depan tampak duduk dengan tegang. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan. Bara sendiri menyetir dengan santai, sambil sesekali tersenyum dan bergurau dengan Rayyan.

__ADS_1


Mulan tak percaya, akhirnya acara liburan dadakan itu benar-benar dilaksanakan. Bukan hanya mereka bertiga yang berangkat. Namun, ada Hendrik, Alma dan pengasuh Rayyan juga turut serta dengan mobil berbeda bersama beberapa orang pengawal Bara yang lainnya.


Ada banyak destinasi tempat wisata yang rencananya akan mereka kunjungi hari ini. Mulai dari pantai, taman bermain, sampai dunia fantasi yang menyajikan beragam permainan.


Itu semua Rayyan lah yang memintanya. Bara yang Rayyan tahu adalah papanya hanya bisa menyetujui permintaan anak itu. Di sini pendapat Mulan sama sekali tak berlaku. Bara sengaja melakukan itu sebab dari awal, Mulan hanya menentang semua keinginan putranya.


Bukannya tidak suka. Wanita itu hanya merasa tidak enak hati terhadap Bara. Namun, nyatanya pria itu justru menanggapi keinginan tak masuk akal Rayyan dengan santai.


"Papa, makasih udah mau ajak Rayyan dan Mama jalan-jalan, ya. Rayyan seneng, banget. Iya kan, Ma," ucap bocah di tengah perjalanan. Meski sifat tegasnya sudah terlihat, tetapi Rayyan tetaplah bocah kecil yang polos dan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Terlebih lagi, baginya Bara adalah sosok yang dibanggakan. Tentunya ia tak bisa menahan diri untuk mengucapkan terima kasih.


"Sama-sama, Rayyan," balas Bara. "Tapi maaf, Papa baru bisa ajak Rayyan jalan-jalan di tempat-tempat indah yang dekat rumah. Papa janji, suatu saat Papa akan ajak Rayyan ke manapun Rayyan minta."


"Oh ya? Benarkah, Papa?"


"Tentu."


"Yeyyy!" Rayyan bersorak senang. Bocah itu kemudian meyakinkan Mulan agar wanita itu tak mencemaskan.


"Tuh kan, Ma. Papa aja suka, ajak Rayyan jalan-jalan. Tapi kenapa Mama malah larang?"


"Bukannya Mama melarang, Rayyan. Tapi Papa itu capek karena setiap hari pergi kerja, berangkat pagi dan pulangnya sampai petang."


"Justru karena itu Papa juga butuh liburan, Mama."


Dasar anak ini. Susah sekali dikasih taunya.


***


Akhirnya mereka sampai di pantai. gelombang air yang bergerak menimbulkan kilauan indah akibat terpaan sinar matahari yang mulai merangkak naik.


Bukan hanya Rayyan yang terpana olehnya, tetapi Mulan juga. Ia membiarkan putranya berlari ke tepian pantai, sementara dirinya masih berdiri di tempat dengan mata menatap hamparan pasir putih dengan takjub.


Dari tempatnya berdiri, Mulan melihat Bara yang berdiri tak jauh dari mobilnya. Pria itu kian terlihat gagah dengan balutan celana pendek dengan atasan kemeja dan kaus yang kesemuanya berwarna putih. Kaca mata hitam masih setia bertengger di atas hidung bangirnya, sementara kedua tangannya, menelusup hangat ke dalam saku celana. Pria itu sama sekali tak meliriknya sejak tadi. Bara justru terlihat asyik memperhatikan Rayyan yang tengah bermain air dengan girang bersama pengasuhnya.


Melihat Bara dalam keadaan seperti itu membuat Mulan terpikirkan sesuatu hal. Ada banyak hal yang membuat benaknya bertanya-tanya, tentang kebaikan pria itu terhadap Rayyan, termasuk sikap memanjakan Rayyan yang menurut Mulan sangat berlebihan.

__ADS_1


"Tuan," panggil Mulan setelah dekat. Wanita itu melanjutkan bicara setelah Bara menoleh kepadanya." Bisakah kita bicara?"


__ADS_2