Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Jangan harap


__ADS_3

Brakk!


Pintu dibuka paksa, membuat wanita yang tengah tidur lelap di atas ranjang, langsung berjingkat saking terkejutnya.


Mulan menatap bingung pada beberapa penjaga yang masuk ke kamarnya. Jemari kanannya spontan membungkam mulut yang ternganga sebab melihat pistol di tangan mereka.


"Periksa kamar ini!" titah salah satu dari mereka pada yang lainnya.


"Baik!" jawab yang lainnya dengan kompak. Mereka lantas berpencar sambil mengarahkan senjata penuh kesiapan.


"Ada apa ini?" tanya Mulan panik pada satu-satunya penjaga yang berdiri tak jauh dari ranjang. Tidak seperti penjaga lain yang menggeledah seluruh sudut kamar, pria itu justru hanya berdiri di sana seolah-olah sengaja memberi penjagaan terhadap Mulan.


"Maaf atas ketidaknyamanan Anda, Nyonya," ucap si penjaga penuh sesal. "Baru saja ada seseorang yang lari ke arah kamar ini. Kami khawatir dia adalah penyusup yang ingin melukai Nyonya untuk menggagalkan pernikahan Nyonya dengan Tuan."


"Benarkah?" Mulan memasang wajah takut. Sikapnya itu benar-benar meyakinkan, sebab sang penjaga itu percaya dan berusaha menenangkannya.


"Nyonya tidak perlu takut. Kami sedang memeriksa seluruh ruangan, dan penyusup itu tidak akan bisa kabur ke mana-mana."


Belum sempat Mulan berucap, beberapa penjaga yang menyisir kamar Mulan akhirnya muncul menghadap ketuanya untuk memberikan laporan.


"Tidak ada siapa pun di sini, Ketua!"


"Benarkah?" Penjaga ketua menautkan alisnya. "Kalau begitu kita cari di tempat lain. Periksa seluruh ruangan! Jangan sampai ada yang terlewatkan!" titahnya dengan tegas.


Semua penjaga itu akhirnya keluar dari kamar Mulan dengan gerakan rapi. Sang ketua tak lupa memberi hormat dan meminta maaf atas gangguan yang mereka sebabkan.


Mulan hanya mengangguk samar sebagai bentuk pemakluman, padahal saat itu jantungnya berdenyut hebat lantaran takut ketahuan.

__ADS_1


Beruntung beberapa saat lalu ia bisa cepat-cepat menukar jati dirinya tepat waktu, sehingga saat para penjaga itu tiba di kamar, ia sudah mengamankan seluruh jejak dan berpura-pura tidur di atas ranjang.


Kini ia hanya bisa menghela napas lega dan menghempaskan tubuhnya usai kepergian mereka. Namun, hatinya kembali diliputi gamang sebab Rayyan masih belum juga berhasil ditemukan.


Sementara itu di tempat lain, sebuah mobil melaju kencang usai keluar dari rumah megah itu. Dua penumpang yang ada di dalamnya tengah berbincang walaupun tidak saling pandang.


"Apa kata mereka?" tanya Bara penasaran. Mata elangnya menatap bagian belakang punggung Hendrik tanpa berkedip.


Beberapa saat lalu Hendrik menerima telepon dari penjaga yang bertugas menjaga rumah Bara. Bara yang mengetahui itu sangat penasaran dan langsung bertanya setelah panggilan diakhiri.


"Wanita itu tidak berhasil ditemukan, Tuan."


"Yang benar saja!" sahut Bara tak percaya. Melihat Hendrik tak bersuara, ia mendengkus lirih sambil mengempaskan punggung pada sandaran mobil. "Apa mereka sudah memeriksa CCTV?" tanyanya lagi setelah beberapa saat diam.


"Sudah. Terakhir kali terlihat, wanita itu lari ke arah kamar Nyonya Mulan."


"Entah kenapa, ketika diperiksa, tak ada orang lain lagi di kamar itu selain Nyonya Mulan," terang Hendrik sambil menggeleng tak mengerti. Pria itu lantas terdiam sejenak. Dalam diamnya itu ia ternyata sedang berpikir, hingga kemudian berucap dengan nada curiga. "Jangan-jangan ...."


"Apa! Kau pikir yang dikejar-kejar seluruh pelayan dan penjaga itu hanya ilusi saja? Atau iblis yang menjelma sebagai manusia?" Bara mendecih. "Aku benar-benar menyentuhnya, Hendrik! Aku menahan tubuhnya! Bagaimana bisa kau mengatakan dia itu tidak nyata!"


Lagi-lagi Hendrik tak bersuara. Ia tahu betul watak atasannya yang jika sudah merasa benar maka dirinya tak ingin dibantah. Padahal dirinya hanya mengatakan 'jangan-jangan', tetapi sang Tuan sudah bereaksi berlebihan.


"Iya. Saya percaya. Saya pastikan wanita itu akan ditemukan. Jika pun dirinya memilih kabur, saya yakin dia tidak akan keluar dengan selamat sebab pengamanan yang kita pasang di rumah Tuan sangat ketat."


Tak ingin terjadi ketegangan, Hendrik memilih mengalihkan pembicaraan. "Tuan. Apakah Anda sudah siap dengan pernikahan Anda besok pagi?" tanyanya hati-hati.


Seperti dugaan Hendrik, wajah Bara langsung terlihat tak bersahabat setiap kali membahas pernikahan. Ia tahu, sang bos tak menginginkan pernikahan ini. Pria itu menyanggupi lantaran didesak oleh orang tuanya.

__ADS_1


Setelah bercerai enam tahun lalu, ia tak pernah melihat Bara dekat dengan wanita manapun. Pria itu terkesan menutup diri meski sang mantan istri terus saja mendesak minta kembali. Sikap Bara pun berubah setelah terjadinya perceraian. Entah sebabnya apa, yang jelas Bara memiliki rahasia yang tak diketahui oleh dirinya.


"Menurutmu, aku harus menjawab apa?"


Hendrik tercekat saat Bara justru membalasnya dengan pertanyaan yang menjengkelkan. Meski wajah tegas itu menunjukkan amarah yang berkobar, tetapi dari netra memerah Bara, menunjukkan sejejak ketidakberdayaan.


Hendrik juga paham, siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, besok Bara tetap harus menikahi Mulan. Wanita berwajah jelek yang bahkan belum pernah Bara temui.


"Tuan," panggil Hendrik dengan nada hati-hati. "Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Begitu pula dengan Nyonya dan Tuan besar. Saya yakin, jodoh yang mereka pilihkan pasti yang terbaik untuk Anda."


"Terbaik, kau bilang!" sahut Bara sengit. Ia lantas berucap dengan nada berapi-api. "Hanya karena obsesi mereka memiliki cucu, aku harus menikahi wanita itu! Hah. Aku tak percaya, Hendrik. Sebegitu mudahnya Papa Mama termakan hasutan. Bisa saja wanita itu adalah manusia licik! Yang memanfaatkan bocah bernama Rayyan itu untuk menjerat pria yang diinginkan!"


"Kenapa Tuan berpikiran buruk tentang Mulan?" Hendrik justru melempar tanya dengan nada meragukan. "Bukankah Tuan belum pernah bertatap muka dengan dia? Lantas, bagaimana bisa menyimpulkan sesuatu yang tidak masuk akal?"


"Hendrik, Hendrik ...!" Bara tertawa miris sambil menyerukan nama sang asisten. "Kenapa kau jadi berpihak pada Mulan? Kau ini asistenku! Kau bahkan berdiri di kubu Mama Papa di bagian paling depan? Ada apa ini? Kau dibayar berapa, hah? Atau kau juga terhipnotis oleh kepolosan Rayyan?"


"Bukan seperti itu, Tuan."


"Lalu?"


Hendrik terdiam. Pria itu tak tahu bagaimana harus memberi Bara pengertian. Sekian tahun membersamai pria itu, ia tahu betul bagaimana perasaan sang bos besar. Bara menentang keras pernikahan ini, tetapi dirinya tak memiliki daya untuk menolaknya.


Dalam pertemuan singkatnya dengan Mulan saat menandatangani surat perjanjian, Hendrik diam-diam memperhatikan wanita itu. Secara kasat mata penampilan Mulan memang kampungan dan cenderung tak terurus. Namun, entah mengapa dirinya merasa ada yang janggal dengan penampilan Mulan. Kulitnya putih bersih sekalipun berasal dari pinggiran kota. Wanita itu juga cerdas dan mampu menggunakan logika.


Jika disandingkan dengan Rayyan yang tampan, Mulan memang tidak sesuai menjadi ibu kandung bocah itu. Namun, jika diperhatikan dengan teliti, Mulan dan Rayyan memang memiliki beberapa kemiripan.


Entahlah, pemikirannya kali ini tentang Mulan itu benar atau salah. Namun, melihat dari sikap optimis yang Ester tunjukkan saat dirinya hanya berbincang berdua saja dengan sang Nyonya besar, ia sangat yakin jika Mulan memiliki keistimewaan. Salah satunya adalah kemampuan bela diri yang mumpuni hingga Edo dibuatnya babak belur beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Aku memang mau menikahinya," tutur Bara memecah keheningan. Pria itu melirik Hendrik, lalu menunjukkan seringai yang membuat Hendrik bergidik ngeri. "Tapi jangan pernah berharap lebih aku bisa menjadi suami yang baik untuk dia."


__ADS_2