Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Egois


__ADS_3

Mulan langsung menutup mata dan pura-pura tidur ketika mendengar pintu dibuka. Entah berapa lama ia disiksa gelisah lantaran suaminya bersama wanita lain di bawah sana. Traumatik yang pernah ia alami secara langsung berpengaruh pada kehidupannya kali ini. Benci, marah dan kecewa. Mau tak mau ia jadi menyamakan Bara dengan Reno mantan suaminya dulu. Baginya semua pria sama saja. Mudah tergoda pada wanita yang lebih muda. Terlebih lagi rumor yang beredar tentang Bara sama sekali tidak ada kesan baik. Bahkan dengan cara pria itu memisahkan Rayyan dari dirinya sudah menjadi bukti nyata jika pria itu jauh dari kata baik.


Kini saatnya dia membalas rasa sakit itu pada Bara. Pria itu sepertinya tengah menukar pakaian yang dikenakannya dengan pakaian tidur di ruang ganti. Mulan bisa memastikan itu setelah mendengar suara langkah sang suami yang berjalan ke arah sana lalu hening untuk sesaat. Untuk meyakinkan dirinya sendiri Mulan bahkan nekat membuka mata lalu mengintip ke arah pintu. Benar saja. Suaminya tak ada di sekitar ranjang.


Tak berapa lama suara langkah kaki kembali terdengar. Mulan kembali beraksi dengan pura-pura tidur lagi. Tentu saja tanpa melupakan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga sebatas leher.


Sesaat kemudian ranjang mendadak terasa berguncang pelan. Tubuh Mulan menegang penuh waspada sekalipun matanya tetap tertutup rapat. Sepertinya Bara naik dari sisi yang lainnya. Mulan sendiri sengaja berbaring di tepi ranjang sisi lain dengan posisi miring membelakangi. Ia bahkan sengaja menaruh dua bantal guling tepat di tengah-tengah untuk sekadar berjaga-jaga andai kata Bara nekat tidur dengannya di ranjang yang sama. Setidaknya dua bantal guling itu bisa menjadi pembatas antara mereka.


Mulan merutuki dirinya dalam hati. Seharusnya ia menempati sofa sebagai tempat tidurnya malam ini, bukannya tetap tidur di ranjang seperti kemarin-kemarin ketika tak ada Bara di sana. Bukankah dengan begini ia terkesan mengharapkan malam pertama? Meskipun sejatinya ia sangatlah benci terhadap Bara.


Entahlah. Benci atau cinta, yang jelas ada yang bertalu-talu tak menentu di rongga dadanya. Ini adalah kali pertamanya tidur satu ruangan dengan Bara. Bukankah hal wajar jika jantungnya berdebar-debar?


"Kau belum tidur?"


Wanita berambut panjang itu terkejut mendengar pertanyaan Bara. Bagaimana bisa pria itu tahu jika dirinya masih terjaga?


Mulan memilih tetap bungkam tanpa bergerak. Setidaknya dengan demikian Bara akan percaya dirinya benar-benar sudah terlelap. Menatap wajahnya saja sudah membuatnya muak, apa lagi berbicara. Ia hanya perlu bersabar sebentar sampai pria itu tertidur lalu kemudian ia akan pergi mencari Rayyan.

__ADS_1


Lagi, Mulan merasakan pergerakan di belakangnya. Ia buru-buru menajamkan fokus untuk memperkirakan apa yang tengah Bara lakukan. Sesaat kemudian ia merasakan tarikan pada selimutnya dan sesuatu di luar dugaan pun terjadi.


Mulan refleks membuka mata saat merasakan sentuhan hangat di tubuhnya. Ia menatap ke bawah, lalu membelalak saat menyadari suatu hal. Rupanya tangan Bara terulur di bawah selimut, lalu melingkar dengan sempurna tepat di pinggangnya. Bahkan pria itu dengan tak tahu diri merapatkan tubuhnya pada punggung Mulan tanpa jarak.


Mulan bahkan bisa merasakan embusan napas Bara beserta gesekan pipi kiri pria itu pada pipi kanannya. Hangat, sekaligus meninggalkan denyar aneh yang membuat bulu kuduknya ikut berdiri.


Perlakuan kurang ajar Bara itu tentu saja membuat Mulan terkesiap, sehingga wanita itu refleks mencengkeram tangan Bara yang berada di perutnya berniat ia singkirkan dari sana. Sayangnya, tangan pria itu terlalu kuat merangkul perutnya. Sehingga ia hanya bisa menelan ludah menerima kegagalan.


"Lepas!" geramnya penuh penekanan.


"Aku bilang lepas!" hardik Mulan lagi. Kali ini nadanya terdengar bergetar. Ia merasa jengkel bercampur panik. Perilaku Bara yang semena-mena ini berhasil membuatnya merasa terancam.


"Kenapa harus dilepas? Bukankah sejak tadi kau sudah menungguku?" Bara terkekeh pelan. Namun, tawanya itu terdengar seperti sebuah ejekan. "Malam ini akan menjadi malam pertama kita. Jadi jangan harap aku akan melepaskanmu begitu saja."


Bara menggamit dagu Mulan lalu melabuhkan sebuah kecupan panas di bibir istrinya. Seketika ia membelalak saat ciuman panas itu justru berubah menyakitkan lantaran Mulan sengaja menggigit bibirnya.


"Brengsek!" maki Mulan saat pertautan telah terlepas. "Begitukah caramu memperlakukan wanita. Setelah puas merayu Alexa, lalu kau akan manjadikanku pelampiasan?" Mulan menggeleng kuat-kuat penuh amarah. "Aku tidak sudi. Keluar kau dari sini! Habiskanlah malam panjangmu bersama wanita ****** itu!"

__ADS_1


"Kau berani menolakku?" tanya Bara yang sontak menatap Mulan dengan sorot tajam.


"Iya," tegas Mulan dengan lantang.


Bara menggeram penuh amarah, lalu membalik tubuh Mulan hingga menghadap tepat ke arah dirinya. Tak ia gubris pekikan tertahan istrinya itu yang kesakitan oleh sikap kasarnya. Ia memang pernah mendengar Mulan melumpuhkan Edo, asisten papanya. Namun, nyatanya Mulan tetaplah wanita biasa yang memiliki batas dan kelemahan. Tenaga wanita itu masih belum sebanding dengan dirinya.


"Begitukah sikap seorang istri kepada suaminya?" Bara menggamit dagu Mulan lalu mencengkeramnya dengan kuat. Ia menunjukkan kemarahan dengan tatapannya yang nyalang. Tak disangka, keisengannya yang hanya ingin menggoda dan menakuti Mulan justru berakhir mengecewakan. Ia tak benar-benar menginginkan malam pertama itu jika memang Mulan belum siap melakukannya. Namun, reaksi yang ditujukan wanita itu justru membuatnya terbakar amarah.


"Kau adalah istriku!" lanjut Bara penuh emosi. "Dan aku suamimu! Kau harus memberikan hakku sebagai suamimu! Kau harus menjalankan kewajibanmu sepenuhnya sebagai seorang istri! Sekarang cepat layani aku dan buka pakaianmu!"


"Hak dan kewajiban kau bilang?" Mulan menepis tangan Bara dengan kasar hingga terlepas dari dagunya. "Kau bahkan tak memenuhi kewajibanmu sebagai suami! Kau justru bersikap dzalim! Kau sengaja melukai hatiku dengan bermesraan dengan wanita lain! Sebenarnya salahku apa, hah? Kau bahkan tak mampu menepati janji! Kau bahkan tega memisahkan seorang ibu dari anaknya. Inikah ciri-ciri suami yang bertanggung jawab? Pantaskah kau mendapatkan hakmu sebagai suami!"


Mulan terisak keras. Air mata yang sejak tadi berdesakan ingin keluar kini tak mampu lagi ia tahan. Wanita itu tersedu pilu setiap kali mengingat Rayyan. Bagaimana kabar putranya? Masih hidup kah bocah itu sampai sekarang? Di mana keberadaannya? Mulan bahkan tak tahu apa-apa.


Demi Tuhan, ia tak peduli seberapa terpuruknya dia asalkan selalu bersama Rayyan. Ia yakin mampu melalui segala cobaan asalkan bersama Rayyan. Namun, lihatlah dirinya sekarang. Ia bahkan hanya sendirian melewati hari-hari yang sunyi. Bagaimana bisa dirinya kuat jika mentalnya dihantam habis-habisan dalam satu waktu. Kehilangan putranya dan mendapatkan suami yang gemar menyiksa. Lengkap sudah penderitaannya.


"Kau benar-benar egois!"

__ADS_1


__ADS_2