
Hangat. Itulah yang dirasakan Rayyan saat ia terjaga. Sisi lengkung merahnya tertarik ke atas. Menampilkan senyuman usai melirik ke sisi kiri dan kanan. Ada sesuatu yang berbeda di pagi ini hingga membuat hatinya berbunga-bunga.
Ya, bocah itu bahagia tak terkira. Entah kadar bahagianya setinggi apa. Yang jelas ini tak bisa dibandingkan dengan kebahagiaannya saat mendapat nilai seratus di sekolah. Atau mungkin mendapatkan mainan bagus yang sudah begitu lama diidamkan.
Bagaimana tidak? Pagi ini dirinya tidur dengan diapit kedua orang tuanya. Mereka memeluknya erat dan penuh kasih sayang.
Tuhan memang maha baik. Dia mengabulkan semua doa-doa Rayyan. Setelah seumur hidupnya hanya bisa merasakan kasih sayang orang tua tunggal, pada akhirnya ia merasakan bahagia utuhnya sebuah keluarga.
Masih dengan senyum bahagia yang terpatri, Rayyan menoleh ke sisi kanan. Pandangan bertemu dengan wajah rupawan milik Bara yang saat itu matanya masih terpejam rapat. Ada dengkuran halus yang terdengar. Pria itu tertidur sangat pulas. Menoleh ke sisi kiri, ia menemukan wajah cantik mamanya yang juga tengah terlelap.
Dari posisi tidur mereka Rayyan bisa menarik kesimpulan jika sang Papa benar-benar menyayangi mamanya. Bara menggenggam erat tangan Mulan tepat di atas perut Rayyan. Sementara tangan kirinya menyentuh puncak kepala Mulan, yang berada tepat di sisi Rayyan. Bisa dikatakan, Bara memang tertidur, tetapi dia memeluk kedua orang tercintanya sekaligus seolah-olah ingin tetap memberikan perlindungan.
Sedikit pergerakan Rayyan rupanya cukup mengusik pria di sebelah kanan. Bara akhirnya terjaga. Pria itu mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Wajah menggemaskan Rayyan yang tengah mengulas senyum itu menyambutnya. Sangat manis, membuat Bara tak bisa tak membalas senyum itu untuk kemudian menyapanya.
"Hai."
"Hai juga Papa," balas Rayyan dengan suara polosnya.
Bara tersenyum lembut. Ia lantas teringat pada istrinya yang tidur di sisi kiri Rayyan. Ia sedikit mengangkat kepala hanya untuk memastikan.
Senyum itu kembali mengembang. Si cantik masih tertidur dengan pulas. Ah, ia jadi merasa bersalah telah membuat wanita itu kelelahan lantaran harus menuntaskan hasrat bercintanya hampir semalaman.
Jika pada umumnya orang merasa bersalah akan janji tidak akan mengulanginya lagi, maka berbeda dengan Bara yang justru janji akan terus mengulanginya lagi. Habis gimana, dong. Rasa Mulan terlalu nikmat hingga membuat Bara candu dan melayang.
"Mama masih bobo. Biar Rayyan bangunin ya."
"Eit, nggak usah!" cegah Bara sebelum Rayyan berhasil menyentuh mamanya.
Bocah itu kembali menarik tangannya lalu menatap Bara dengan kening bertaut heran. "Kenapa? Bukankah Mama harus bangun dan mempersiapkan segala keperluan Papa?"
"Tidak perlu, Sayang. Papa sudah terbiasa melakukannya sendiri." Bara mengubah posisinya untuk posisi lebih nyaman. Ia harus berbicara pelan untuk memberi pengertian pada Rayyan. "Kasihan Mama. Capek. Sepertinya Mama perlu istirahat sebentar lagi untuk memulihkan tenaganya. Nggak papa, kan? Biarkan mamamu bangun dengan sendirinya, oke."
Rayyan mengangguk paham mendengarkan penuturan papanya yang hati-hati itu. Ia melirik mamanya sekilas lalu kemudian tersenyum pada Bara. Bocah itu tak tahu apa yang kedua orang tuanya lakukan semalam. Namun, ia tahu mamanya memang perlu beristirahat. Kendati wajah Mulan terlihat begitu manis saat tidur, tapi ia menangkap ada sejejak keletihan yang tergambar di sana. Menurut Rayyan itu wajar. Mamanya sekarang adalah wanita karir, bukan?
"Yuk kita mandi sama-sama," ajak Bara kemudian yang seketika dibalas anggukan antusias oleh Rayyan.
***
Mulan tersentak saat bangun-bangun sudah tidak ada siapa pun di sisinya. Wanita itu terduduk dengan sikap panik sembari mengedarkan pandangannya ke sekitar. Akhirnya ia tahu, sekarang waktu menunjukkan pukul tujuh pagi usai pandangannya menemukan jam digital kecil yang diletakkan di atas nakas sisi ranjang.
Oh tidak. Dia kesiangan. Pasti anak dan suaminya sudah turun ke bawah untuk sarapan.
__ADS_1
"Mama ...!" Belum juga Mulan beranjak, suara bocah milik Rayyan menyapa indera pendengarannya. Mulan sedikit terkejut, lalu sesaat kemudian tersenyum lembut mendapati putranya itu sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Hai, Sayang. Rayyan sudah bangun, ya. Kemari, Nak." Ia merentangkan tangan demi mendapatkan sebuah pelukan.
Rayyan menyambut itu dengan suka cita. Dia berhambur memeluk mamanya seketika. "Mama. Lihat yang Papa bawa."
Pandangan Mulan langsung tertuju ke arah pintu, mengikuti ke mana jari telunjuk Rayyan terarah. Seketika pintu terbuka dan menampilkan sosok Bara yang datang membawa nampan berisi makanan.
Astaga. Melihat senyum rupawan itu, kenapa Mulan jadi malu-malu? Langsung hinggap di benaknya bagaimana panasnya pergumulan mereka tadi malam.
Ah, mereka bukan lagi gadis dan perjaka. Mereka hanya sepasang manusia yang pernah gagal pada hubungan sebelumya. Tentu saja Bara dan Mulan sudah sangat paham apa itu berhubungan dalam artian sebenarnya. Bara bahkan tak ingin berlama-lama memberikan Mulan kesempatan untuk tenggelam dalam ketakutan. Pria itu membimbingnya dengan sabar, menuntunnya supaya tenang hingga akhirnya membuat Mulan terbang melayang.
"Pagi, Sayang."
Lamunan singkat Mulan akhirnya buyar oleh sapaan Bara. Semakin dekat, senyuman pria itu justru semakin terlihat menawan. Entah pelet apa yang Bara gunakan. Sampai-sampai membuat Mulan lupa berkedip saat menatapnya.
"Kok Mama bengong?"
Mulan dengan tampang cengo-nya menoleh ke arah Rayyan. "Ya Sayang? Kenapa?"
"Itu, Papa barusan nyapa Mama. Kok nggak dibalas?"
"Oh itu ...." Mulan seketika gugup. Ia terpaksa menampilkan senyuman kepada Bara meski harus berdebar-debar lantaran pria itu semakin dekat. "Kenapa membawa makanan ke kamar segala? Mama kan udah bangun. Bentar lagi juga turun." Kali ini Mulan bicara pada Rayyan kendati sebenarnya kalimat itu ditujukan untuk Bara. Tidak mungkin, kan. Rayyan yang masih kecil kepikiran bawa makanan ke kamar kalau bukan atas usul papanya?
"Kata siapa Mama capek?"
"Tuh kata Papa," tunjuk Rayyan pada Bara. Spontan Mulan menoleh ke sana dan mendapati Bara dengan muka polos tanpa rasa berdosanya. Rayyan kemudian melanjutkan. "Kata Papa, Mama tuh capek. Semalaman Mama begadang, nggak bisa tidur lantaran jagain Rayyan."
Terang saja Mulan mendelik pada Bara. Ada kesal bercampur malu dari pelototan mata itu. Ngapain juga Bara cerita seperti itu pada Rayyan? Pake bilang begadang. Jangan-jangan yang lagi na-ena juga dibilang. Kan bahaya untuk Rayyan. Namun, sayangnya kekhawatiran Mulan itu hanya ditanggapi santai oleh Bara.
"Mama cicipi, deh. Enak nggak? Ini masakan kita berdua, loh." Suara Rayyan pun jadi penengah. Sepertinya anak itu tidak memikirkan apa-apa. Syukurlah. Setidaknya Mulan bisa bernapas lega. Lagipula kan Bara sudah jadi ayah Rayyan. Mana mungkin juga berniat meracuni pikiran anaknya.
Satu sendok makanan langsung masuk ke mulut Mulan oleh suapan Rayyan. Bocah itu menanti dengan antusias bagaimana reaksi mamanya.
"Gimana, Ma? Enak nggak?" tanyanya.
"Emmh ... enak banget! Serius ini enak banget. Ini adalah nasi goreng terenak yang pernah Mama makan, Rayyan!" ujar Mulan dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan sambil mengunyah makanan. Tentu saja biar anaknya bahagia.
"Sungguh, Ma?"
"Sungguh!"
__ADS_1
Rayyan tersenyum lebar. Lalu saking senangnya ia mengadu pada sang Papa. "Yeyyy! Kita sukses, Papa! Mama suka!"
Bara pun tahu bagaimana cara bereaksi yang benar pada bocah itu. Ia tersenyum penuh semangat sebagai bukti jika dirinya ikut bahagia.
"Pasti, dong! Kan masakan Rayyan enak! Toss dong ...!"
Rayyan nyaris menyambut tangan papanya, tetapi urung usai menyadari suatu hal. "Tapi kan tadi Papa yang sebenarnya masak," ujarnya agak lemas.
"Tapi kan Rayyan yang bubuhkan garam," ujar Bara pula memberikan semangat. "Coba aja Rayyan tadi kasih garamnya kebanyakan. Bisa keasinan tuh. Kalau nasi goreng keasinan memangnya masih bisa dibilang enak?"
Rayyan berpikir sejenak berusaha mencerna kata-kata papanya. Tak lama kemudian mata bening itu kembali berbinar dan senyumnya kembali mengembang. "Ah iya. Benar juga! Papa memang jenius!"
"Nah, kan."
Mulan yang ada di sana hanya mengamati perdebatan keduanya sembari makan. Tentu saja sambil sedikit malu-malu setiap kali Bara melirik ke arahnya. Tak lama kemudian pria itu melirik arloji di pergelangan.
"Udah waktunya sekolah, Rayyan. Rayyan berangkat sekolah, oke? Tuh, sopir di bawah udah siap mau antar Rayyan. Nggak papa kan hari ini tanpa diantar Mama, Papa ataupun Oma?" Bara beranjak mendekati Rayyan selagi bicara. Nadanya begitu nyaman didengar oleh telinga Mulan ketika memberi pengertian sang putra.
Bagaimana Mulan tidak meleleh. Pria itu begitu disiplin dan perhatian. Ia saja yang mama kandungnya bahkan nyaris lupa saatnya Rayyan sekolah.
"Oke, Papa. Rayyan nggak papa kok. Yang penting Papa selalu jagain Mama untuk Rayyan."
"Kalau itu sih pasti, Sayang," ujar Bara seraya melirik Mulan. Tentu saja membuat yang dilirik langsung bersemu malu campur berbunga-bunga. Sementara Bara yang menangkap bagaimana ekspresi Mulan, hanya mengulum senyum dengan perasaan yang tak kalah bahagia.
"Makasih, Papa," ucap Rayyan tanpa mengerti perasaan kedua orang tuanya. Mata beningnya memperhatikan Bara dengan antusias. Bagaimana pria itu memberi perlakuan, bagaimana Bara berjongkok di hadapannya untuk mensejajarkan tinggi mereka. Ia tahu pria itu sangat tulus. Itu yang membuat Rayyan meyakini jika Bara adalah papa kandungnya.
"Sama-sama, Sayang. Itu udah kewajiban Papa. Yuk sekarang turun. Papa antar ke bawah."
"Yuk."
Rayyan hendak berjalan, tetapi merasa terkejut lantaran tiba-tiba tubuhnya terangkat. Rupanya Bara sengaja menggendongnya. Bahkan menempatkan di atas pundak kokohnya. Terang saja Rayyan langsung heboh sendiri oleh adrenalin yang terpacu.
"Mama lihat, Ma! Rayyan seperti terbang, Ma ...!"
Mulan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja tingkah Bara. Namun, senyum itu sedikit memudar oleh kata-kata Bara kemudian. Sebelum keluar kamar pria itu ternyata masih sempat-sempatnya menyindir dia.
"Habiskan makanannya ya. Makan yang banyak biar kuat."
Mulan langsung menghentikan kunyahannya seketika. Sambil menatap punggung kokoh itu menjauh, ia pun bertanya-tanya.
"Kuat? Kuat apanya?"
__ADS_1
❣️❣️❣️
Hai guys. Maaf kalau tulisan aku tentang malam pertama ini nggak sesuai dengan keinginan kalian ya😔