Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Benih Cinta?


__ADS_3

PRANG!


Suara pecahan beling dan keramik menggema memekakkan telinga. Bima yang baru pulang siang itu tampak berang hingga hilang kendali dan mengamuk melemparkan hiasan mahal yang terpajang di ruang tengah rumah keluarga Mulan.


Sementara itu di ujung sana, tampak Meylisa berdiri membeku sambil membekap mulutnya yang ternganga. Wanita itu tak tahu harus berbuat apa melihat suaminya kesetanan sepulang kerja.


"Kurang ajar! Anak itu berani sekali menantangku!" geram Bima setelah terduduk di atas sofa. Sepertinya pria itu kelelahan setelah melampiaskan kemarahan pada benda mati itu.


"Sayang. Apa yang terjadi?" Meylisa yang masih bingung akhirnya memberanikan diri mendekati suaminya. Ia duduk di sisi Bima lalu mengusap punggung pria itu dengan hati-hati.


"Di mana Alexa?" Bima menimpali pertanyaan Meylisa dengan pertanyaan bernada tinggi.


"Dia pergi liburan sejak beberapa hari lalu. Sampai sekarang belum kembali," jawab Meylisa.


"Bodoh. Dia selalu saja tidak ada di saat aku sedang membutuhkan!" Bima memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Suamiku, sebenarnya ada apa?" Meylisa mendesak lagi. Wanita itu tak tahan didera penasaran.


"Mulan. Dia tiba-tiba datang ke kantor dan mengambil alih perusahaan!"


Mata Meylisa membola. Mulutnya kembali ikut ternganga.


"Seharusnya bocah tengik itu sudah mati. Tapi kenapa dia datang tiba-tiba dan mempermalukanku seperti tadi!"


Meylisa tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mengusap punggung suaminya dengan tatapan prihatin.


"Dia tahu semua yang kulakukan. Dia tahu aku banyak menyelewengkan dana perusahaan dan berusaha mengambil alih semuanya. Dan kamu tau ini gara-gara siapa?" Bima mencengkeram dagu Meylisa dan menatap wanita itu dengan tajam, lalu sejurus kemudian, ia mendorongnya dengan kasar sembari mengumpat. "Kalian! Kau dan Alexa yang membuat aku melakukan semua!"


"Kenapa kau menyalahkan aku!" pekik Meylisa tak terima. Wanita itu berusaha bangkit setelah terjungkal ke belakang. Ia meringis kesakitan setelah bahunya membentur meja kaca.


"Karena memang kau dan Alexa yang salah! Kalian terlalu kalap hingga menginginkan apa saja! Memaksaku melakukan semuanya! Kau kan yang menghasutku menguasai harta Mulan!"


"Tidak! Kaulah orang yang pertama yang menginginkan! Aku istrimu. Aku hanya bisa mendukungmu!" bantah Meylisa tak terima.


Aksi Meylisa yang melempar kesalahan kepadanya itu membuat Bima tak terima. Meskipun tidak sepenuhnya kesalahan dia, tetapi tetap saja Meylisa memiliki andil besar pula pada hal ini.


Pernah hidup susah lantaran usaha Bima sering bangkrut membuat wanita itu gelap mata saat dirinya bergelimang harta. Ia membeli apa pun yang diinginkan tanpa peduli uang yang digunakan dari mana berasal. Hilangnya Mulan menjadi puncak kekalapan. Wanita itu menjadi tamak hingga menghasut suaminya untuk mengambil alih perusahaan papa Mulan.


Bima yang juga menginginkan perusahaan kakaknya menyambut baik usulan Meylisa. Pria itu menghubungi notaris dan mulai melancarkan aksi.


Sayangnya jalan yang ditempuh tak semudah yang dibayangkan. Kakaknya memasang perlindungan berlapis pada harta kekayaannya. Harta itu hanya akan jatuh pada keturunannya tanpa bisa diwakilkan. Lebih-lebih lagi ia tak bisa menemukan jasad Mulan andai kata gadis itu benar-benar meninggal.

__ADS_1


Bima nyaris frustasi. Ia hampir menyerah saat itu. Beruntung Alexa memberi usulan untuk mengalihkan sebagian pemasukan ke rekening pribadi yang tidak berhubungan dengan perusahaan. Mereka menggunakan itu untuk berfoya-foya tanpa memikirkan apa imbasnya.


Seharusnya Bima menggunakan itu untuk mendirikan usaha baru. Merancang cerita seolah-olah perusahaan Mulan bangkrut dan mengalihkan dana perusahaan itu ke sana. Namun, sebelum rencana itu terlaksana, Mulan sudah lebih dulu mengambil semuanya.


Bima menyadari kesalahannya. Ia begitu terlena hingga lupa segalanya. Ia terlalu santai hingga begitu mudah meremehkan. Seharusnya ia bisa waspada dan mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu Mulan kembali untuk mengambil kembali hak miliknya.


"Seharusnya dirimu lah yang perlu dipertanyakan! Apa saja usahamu selama ini? Mengambil alih perusahaan saja tidak bisa."


Bima kembali menatap Meylisa dengan tajam. Kepalanya sudah hendak meledak memikirkan ini, wanita itu malah menanbah-nambahi nyeri dengan meremehkan usahanya. Tak ayal, ia hanya bisa menjadikan wanita itu sebagai samsak untuk pelampiasan sebelum akhirnya meninggalkan wanita tak berdaya itu kesakitan sendiri tanpa perasaan.


***


Terlalu sibuk dengan urusan perusahaan di hari pertama membuat Mulan nyaris lupa untuk segera kembali ke rumah suaminya. Jam sudah menunjuk angka empat ketika dirinya melirik arloji di tangan, seketika itu pula ia panik ingin segera pulang.


Tak ada yang tahu di mana sekarang dirinya berada. Orang rumah hanya tahu Mulan keluar untuk jalan-jalan dan berbelanja, sekadar melepas penat sekaligus mengalihkan perhatiannya dari Rayyan. Bagaimana pun juga ini rahasia. Keluarga Bara tak boleh tahu mengenai asal-usulnya. Apalagi sebagai CEO perusahaan orang tuanya.


Mulan segera meninggalkan kantor setelah berpamitan pada Cyndi. Ia menyerahkan semuanya pada gadis itu. Mulan sangat yakin Cyndi bisa dipercaya. Ia memastikan besok akan kembali ke kantor untuk bekerja. Ia sudah mantap mengambil alih dari Bima, maka itu ia harus bertanggung jawab penuh mengurusnya.


Jam sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh sore ketika dirinya sampai di gerbang utama. Beberapa penjaga yang tengah bertugas langsung mengarahkan pandangan mereka kepadanya saat wanita itu turun dari taksi online yang ditumpangi.


"Nyonya Mulan? Kenapa tidak membawa mobil sendiri dan mengajak sopir? Jika sampai Tuan tahu ini bisa jadi masalah besar," ujar salah seorang dari mereka dengan wajah cemas.


"Kalau begitu jangan sampai Tuan kalian tahu jika tidak ingin jadi masalah. Gampang, kan? Lain kali aku akan membawa mobil sendiri ketika bepergian. Kalian tenang saja ya."


Mulan segera berlalu setelah mengatakan itu. Setelah beberapa langkah ia menghela napas lega sambil mengusap dada. Sepertinya tak ada yang curiga. Ia mengganti kostum kantor dengan pakaian santai yang tadi dikenakan saat berangkat. Ia juga menenteng tas belanjaan bermerek mall besar yang tadi sempat dibelinya sebelum berangkat ke kantor. Sepertinya semua akan aman terkendali. Toh Bara juga tidak peduli ia melakukan apa.


Setelah membersihkan diri Mulan langsung berkutat di dapur. Alma yang sejak tadi dilanda cemas lantaran ia tak kunjung kembali segera menghampiri untuk menanyakan keadaannya.


"Nyonya, Anda baik-baik saja? Seharian ini Anda dari mana saja? Saya sangat cemas, Nyonya."


"Maafkan aku jika membuatmu cemas, Alma. Aku hanya pergi jalan-jalan untuk menenangkan diri. Aku juga mengunjungi keluargaku yang sedang sakit."


"Owh, syukurlah." Alma menghela napas lega.


"Sekarang bantu aku menyiapkan makanan untuk Tuan Bara, Alma. Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untuk dia," pinta Mulan. Ia tersenyum pada Alma sambil memasang sendiri Appron warna merah muda motif bunga ke badannya.


"Tentu saja, Nyonya. Dengan senang hati," jawab Alma antusias.


Perasaan lega karena berhasil memegang lagi kekuasaan di perusahaan sang papa ternyata berimbas baik pada suasana hati Mulan. Wanita itu memasak tanpa beban pikiran hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.


Hari ini ia masak spaghetti dan steak salmon. Kata Chef Rizky Bara sangat menyukai daging salmon. Mulan tak ingin menyia-nyiakan informasi itu dengan mengolah daging salmon segar dengan sangat baik. Ia menyiapkan sendiri dengan sepenuh hati. Menghindari di meja makan lalu duduk manis menunggu suaminya pulang. Jam sudah menunjukkan angka delapan, mungkin tak lama lagi pria itu akan datang.

__ADS_1


Sayangnya, hingga beberapa lama menunggu pria itu tak kunjung tiba menunjukkan batang hidungnya. Tidak ada pula kabar beritanya. Lantas ke mana perginya dia? Bulan sudah beranjak naik, sedangkan wajah ceria Mulan tampak memudar berganti kerutan kegelisahan. Wanita itu mulai resah.


"Nyonya, ini sudah malam. Apa tidak sebaiknya Nyonya tidur saja? Ini sudah sangat malam. Saya janji akan membangunkan Nyonya jika nanti Tuan datang," usul Alma. Sejujurnya ia merasa lelah lama-lama duduk duduk di sana tanpa melakukan apa-apa. Namun, ia merasa bertanggung jawab atas kesehatan Mulan. Terlebih lagi wanita itu seperti kelelahan. Mulan sudah menyibukkan diri membuat hidangan, tetapi hingga jam dua belas malam Bara belum juga datang, bahkan tanpa memberi kabar.


"Kau saja yang tidur duluan, Alma. Aku akan menunggu Tuan Bara sebentar lagi."


"Tidak, Nyonya. Saya akan menemani Nyonya," tolak Alma dengan tegas.


"Pergi, Alma. Ini perintah. Aku baik-baik saja, okay," balas Mulan tak kalah tegas, sehingga mau tak mau Alma beranjak dari sana demi mematuhi perintah nyonyanya.


"Nyonya, panggil saya jika membutuhkan sesuatu," ujar gadis itu berpesan.


"Tentu, Alma. Aku hanya akan menunggu Tuan Bara sepuluh menit ke depan. Jika dia tidak juga datang, aku akan istirahat di kamar. Aku janji." Mulan meyakinkan.


"Baik, Nyonya."


Alma akhirnya bisa pergi dengan tenang, sementara Mulan kembali tenggelam dalam penantian. Wanita itu bertopang dagu sambil merenungi nasibnya sendiri. Semangat yang tadi sempat membara kini meluap entah ke mana. Bisa-bisanya ia sangat yakin Bara akan pulang dan menyantap masakannya dengan nikmat? Sepertinya ia sangat kecewa lantaran menggantungkan harapan sebegitu tingginya. Ia terlalu percaya diri masakannya lumayan lezat sehingga tak memikirkan kemungkinan terburuknya.


Tiga puluh menit berlalu. Bara belum juga datang dan Mulan semakin merasa kecewa. Ia putus asa.


Menyerah, ia memutuskan bangkit dan berjalan hendak meninggalkan ruang makan dengan lunglai. Namun, belum jauh dirinya beranjak dari sana, Mulan mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat. Ia segera berbalik badan dan berbinar senang melihat siapa yang datang.


"Tuan Bara? Anda baru saja pulang?" Senyum manis mengembang di bibir Mulan, tetapi tidak demikian dengan Bara. Pria itu terlihat tak bersemangat dan menatap Mulan dengan kening bertaut heran.


"Ngapain kamu jam segini belum tidur?"


"Saya sengaja menunggu Tuan. Tadi saya memasak spaghetti dan steak salmon untuk Tuan. Makan, ya. Saya sendiri yang masak."


Bara diam sejenak lalu membalas dengan dingin. "Aku tidak berselera. Kalau kamu mau makan ya makan aja sendiri."


"Tapi Tuan, saya sudah menunggu Tuan sejak tadi. Cicipilah sedikit saja. Setidaknya hargai jerih payah saya ini."


"Kalau aku tidak lapar ya jangan memaksa! Aku tidak memintamu menyiapkan makan malam, bukan?"


Mulan tak menjawab. Yang dikatakan Bara memang benar. Pria itu tidak memintanya menyiapkan makan malam.


Tak memaksa ataupun menahan Bara, Mulan membiarkan pria itu berlalu dari hadapannya. Ini bukan salah Bara. Dirinya lah yang salah. Tapi kenapa ada yang sakit di dalam sana?


Berjalan gontai, Mulan meremas dadanya. Kenapa di dalam sana terasa sesak seperti sulit untuk bernapas? Nyesek. Benarkah ia kecewa karena belum bisa menemui Rayyan, atau justru ia sedih tidak bisa mengambil hati suaminya. Tapi kenapa rasa sakitnya berbeda? Kesedihan ini tak bisa dijelaskan jika sudah menyangkut dengan perasaan.


Mungkinkah ia merasa terluka karena telah tumbuh benih-benih cinta?

__ADS_1


__ADS_2