
Panggilan tersambung saat Mulan menghubungi nomor sekretarisnya. Ia perlu menanyakan tentang kerjasama yang Reno maksudkan. Benarkah apa yang pria itu bilang? Apakah dirinya ketinggalan berita?
"Halo, Bu Mulan. Ada yang bisa saya bantu?" Suara Cyndi terdengar di ujung sana.
"Cyndi, ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan. Ini mengenai Reno. Bagaimana bisa dia mengatakan kelak kami akan lebih sering menjalin pertemuan. Apa benar kita terikat kerja sama dengan mereka?"
"Benar, Bu. Memangnya Ibu belum tau?" balas Cyndi terdengar heran.
Mulan menghela napas kasar mendengar penuturan Cyndi. Jadi benar apa yang pria itu katakan? Tapi kenapa dirinya justru tidak tahu mengenai hal sepenting ini?
"Bagaimana aku bisa tahu jika tidak ada orang yang memberi tahu? Toh sebelumnya tidak ada pembahasan tentang ini, kan? Sedangkan tadi, kita hanya melaksanakan pertemuan dengan perwakilan EC CORPORATION saja. Mereka juga menyinggung pihak ketiga dalam kerja sama ini tanpa menyebutkan nama perusahaan. Kalau saja aku tahu pihak ketiganya adalah perusahaan Reno, aku takkan sudi bekerja sama dengan mereka! Cyndi, kau masih di sana?" tanya Mulan penasaran sebab suara Cyndi tak terdengar. Ya terang saja. Cyndi sedang menggigit bibir bawahnya di sana lantaran merasa takut. Sepertinya sang atasan kali ini benar-benar marah. Tapi ini bukan salahnya. Ada sedikit mis komunikasi sehingga Mulan tidak tahu masalah ini.
"Ya, Bu? Saya masih di sini."
Terdengar helaan napas dari bibir Mulan. "Apa kita bisa mundur dari kerja sama ini saja, Cyn? Jujur, aku malas berurusan lagi dengan Reno." Suara Mulan terdengar memohon.
"Tapi Bu, kita sudah deal. Kerjasama tidak bisa dibatalkan begitu saja, apalagi tanpa adanya alasan jelas." Cyndi berucap penuh sesal.
"Alasannya sangat jelas, Cyndi! Aku tidak mau berurusan dengan Reno!"
Cyndi di sana menggaruk kepalanya dengan kasar. Wajahnya juga tampak miris. "Bu, ini jelas sekali jika Anda mencampur adukkan urusan pribadi dengan bisnis. Pihak EC CORPORATION tentu tidak bisa terima begitu saja. Lagipula, dalam surat kontrak itu tertera beberapa peraturan yang salah satunya adalah denda yang sangat besar untuk mereka yang memutuskan kerjasama secara sepihak. Tentunya ini sangat merugikan perusahaan kita, Bu. Jika memang Ibu tidak menyukai Pak Reno, Anda bisa mengandalkan saya untuk mengurus dia. Ingat Bu, EC CORPORATION adalah perusahaan raksasa dengan cabang di mana-mana. Kita bisa kerjasama dengan mereka adalah sebuah pencapaian besar. Jangan sampai disia-siakan, Bu ...."
Mulan hanya tercenung tanpa mengatakan apa-apa pada sekretarisnya. Namun, dalam hati ia membenarkan kata-kata gadis itu. Ia juga membaca sendiri isi surat perjanjian itu. Dan di sana juga tertera beberapa peraturan kerja sama yang salah satunya adalah denda besar untuk mereka yang memutuskan sepihak.
Namun, mampukah ia jika harus sering-sering bertatap muka dengan Reno? Ia tidak sedang membicarakan masalah dendam. Hanya saja, Mulan takut jika keberadaan Rayyan diketahui oleh Reno dan akhirnya Rayyan akan jadi bahan rebutan.
Jikapun tidak terjadi, itu bukanlah masalah bagi Mulan. Setidaknya ia perlu waspada, bukan? Bukan tidak mungkin jika Reno juga menginginkan Rayyan sebab keluarga besarnya belum memiliki ahli waris penerus usahanya. Mulan tak bisa membayangkan jika Reno benar-benar merebut Rayyan, menyembunyikannya dan ia tak bisa melihat Rayyan lagi.
"Bu Mulan? Anda baik-baik saja?"
Pertanyaan Cyndi sukses menarik Mulan dari kelana angan. Wanita itu mengerjap, lalu menjawab. "Aku baik-baik saja Cyndi. Yang kau katakan juga benar."
Cyndi di sana menghela napas lega.
"Ya sudah. Aku harus pulang. Besok lagi kita bicarakan," putus Mulan sebelum mengakhiri pembicaraan. Bersamaan dengan itu seorang security mendekat untuk memberitahu jika taksi online yang dipesan sudah datang. Mulan mengucapkan terima kasih sebelum dirinya benar-benar pergi.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, Bara yang tengah dalam perjalanan pulang tampak mengobrol dengan Hendrik. Bukan sedang membicarakan istri cantiknya yang ia diamkan, melainkan hanya masalah pekerjaan.
Mereka baru saja kembali dari luar kota. Urusan di sana sangat penting, sehingga Bara terpaksa mengutus perwakilan untuk menjalani meeting dengan klien baru mereka. Untung saja pihak ANDARA DAUD COMPANY tak mempermasalahkan hal ini dan tetap berminat menjalani kerja sama dengan perusahaannya. Dan kalaupun mereka memilih mundur hanya karena masalah ketidakhadiran Bara, Bara pun tidak akan ambil pusing dengan memaksa mereka tetap bertahan. Masih banyak perusahaan besar lain yang ingin berada di posisi ANDARA DAUD COMPANY sekarang. Dan lagipula ada surat kontrak resmi yang tak mungkin merugikan perusahaannya andai kerja sama ini gagal.
"Saya dengar, CEO ANDARA DAUD COMPANY baru saja mengalami pergantian. Tapi saya belum tahu pasti siapa CEO baru itu sampai sekarang." Hendrik berujar di sela-sela obrolan mereka. Hanya sekadar memberikan informasi pada Bara yang cenderung tak mau tahu dan tak ingin tahu urusan orang. Tapi menurutnya informasi ini adalah hal penting bagi Bara, mengingat untuk kedepannya mereka akan sering bertemu dengan orang itu.
"Memangnya ada masalah apa dengan CEO lama?" celetuk Bara ingin tahu.
"CEO lama ternyata hanya CEO pengganti sementara. Dan CEO yang sekarang adalah penerus asli perusahaan. Sepertinya dia wanita."
Bara hanya diam sebagai tanda dirinya paham. Hendrik yang tahu itu memilih memberitahukan lagi informasi lain.
"Lusa Anda harus bisa menghadiri meeting kolaborasi tiga perusahaan ini, Tuan. Saya akan mengosongkan skedul Anda yang lain untuk bisa menghadiri meeting itu."
"Lakukan saja, Hendrik." Hanya itu balasan Bara sebelum dirinya kembali tenggelam dalam keheningan.
Hendrik yang memegang kendali mobil memfokuskan perhatian pada jalanan. Ini baru setengah perjalanan menuju rumah Bara. Ia membiarkan pria itu larut dalam diam.
Sekian waktu membersamai Bara membuatnya paham betul bagaimana watak pria itu. Bara tak suka banyak bicara apalagi bertele-tele. Lebih-lebih lagi setelah berpisah dari istri terdahulunya. Namun, untuk urusan pekerjaan Bara memang bisa diandalkan. Pria itu sangat cerdas. Perhitungannya sangat matang. Tak heran jika Damar menyerahkan urusan perusahaan sepenuhnya terhadap Bara.
Di era modern dengan kecanggihan teknologi, banyak perusahaan kosmetik yang menunjukkan eksistensinya. Dengan persaingan yang sangat ketat, Bara mampu membawa perusahaan rintisan orang tuanya maju di jajaran terdepan.
Setelah sukses dengan produk perawatan wajah dan kecantikan, EC CORPORATION kembali berinovasi dengan produk kecantikan baru. Namun, kali ini mereka tidak meluncurkan produk itu sendirian, melainkan bekerjasama dengan dua perusahaan berbeda sekaligus.
Ada yang unik dengan produk yang akan ECC luncurkan kali ini. Jika biasanya perusahaan kecantikan akan bekerja sama dengan artis atau beauty enthusiast, kali ini ECC menggandeng perusahaan makanan untuk bekerja sama.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Bara untuk menerima ajakan kerja sama ini. Dengan presentasi menarik dan interaktif yang mereka suguhkan, Bara langsung yakin jika kolaborasi ini akan sangat menguntungkan.
Hendrik yang di awal sempat merasa ragu, akhirnya yakin jika keputusan atasannya sudah sangat tepat. Dan seperti biasanya, ia akan menjalankan tugasnya dengan sangat baik dan memastikan semuanya berjalan tanpa hambatan.
Pria itu akhirnya membawa mobil yang dikemudikannya itu berbelok. Setelah tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman Bara. Urusan yang selesai dengan cepat membuat Bara memutuskan untuk pulang cepat juga.
Hendrik sendiri tak paham dengan apa yang ada di benak Bara. Ada kalanya pria itu meminta pulang telat hanya untuk menghindari istrinya. Namun, kali ini tiba-tiba dia meminta kembali lebih awal sedangkan di kantor masih ada pekerjaan. Pria itu meminta dirinya sendiri yang menyelesaikan. Bukannya tidak mau karena memang itu sudah kewajiban Hendrik. Namun, ia merasa ada yang aneh. Kenapa ya?
"Apa Tuan merasa kurang sehat?" tanya Hendrik tadi ketika masih berada di luar kota. Bagaimanapun juga ia merasa cemas dengan permintaan Bara yang tak biasa. "Lebih baik kita pergi ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya khawatir Anda kenapa-kenapa."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Hendrik. Aku hanya ingin melihat apa yang dia lakukan di rumah saat aku tidak ada," jawab Bara datar yang membuat Hendrik mengerutkan kening.
"Maksud Tuan Nyonya Mulan?"
Bara mendesah kesal. Kenapa Hendrik harus menyebutkan nama wanita itu? Kalau sudah paham kenapa masih tanya? Memangnya siapa lagi yang ada di rumahnya jika bukan Mulan istrinya? Masa iya hal seperti itu harus ia jelaskan juga!
"Owh." Hendrik mengangguk paham melihat sikap kesal Bara. Ia menyadari kesalahannya. Sepertinya mulai sekarang ia perlu hati-hati untuk menyebut nama itu lagi. Mungkin Bara bisa berpura-pura dingin pada Mulan, tetapi Hendrik bisa melihat ada sejejak perhatian dari pria itu pada istrinya.
Istri tetaplah istri, bukan? Walaupun di awal tidak cinta, tetapi lama-kelamaan ada rasa sayang juga. Dari rasa memiliki itulah kemudian muncul perasaan cemburu jika ada pria lain memberi perhatian lebih pada wanitanya, termasuk menyebut nama seperti dirinya tadi.
Ya, mungkin Hendrik merasa itu adalah hal kecil, tapi mana dia tahu jika karena itu Bara justru menyimpan dendam kepadanya. Hendrik tak menampik jika atasannya itu memperlakukannya dengan sangat baik. Namun, untuk urusan cinta, mana ada pria yang mau berbagi istrinya, kan?
Sang atasan sudah mulai jatuh cinta rupanya.
"Tuan. Jika Anda ingin melihat keseharian Nyonya, kenapa tidak memantau CCTV saja? Saya bisa menyambungkannya ke ponsel Anda," usul Hendrik sambil senyum-senyum di balik kemudinya. Namun, ternyata usulan itu tidak disambut baik oleh Bara.
"Dan kau mau melihatnya juga?"
Hendrik hanya tersenyum sambil geleng kepala mendengar tuduhan sinis itu. Tetapi dia sama sekali tak merasa tersinggung. Justru ia senang bisa melihat sedalam apa perasaan Bara pada Mulan. Ia ikut senang.
"Sepertinya jam segini Nyonya Mulan tidak ada di rumah, Tuan." Kali ini Hendrik memutuskan memberitahu Bara. Tadi ia sempat menghubungi asisten rumah tangga Bara demi memastikan keberadaan Mulan. Dan jawaban dari asisten rumah tangga itu mengatakan Mulan keluar sejak pagi tadi.
"Kau serius?" Kali ini Bara bertanya sungguh-sungguh. Pria itu bahkan sampai menegakkan punggungnya untuk bisa lebih dekat dengan Hendrik.
"Menurut asisten di rumah seperti itu," jawab Hendrik meyakinkan.
Bara terdiam lalu kembali menyandarkan punggungnya. Ia berusaha membuang jauh-jauh pikiran kotor tentang istrinya itu dari benaknya. Bagaimana pun juga ia sendiri yang membebaskan Mulan mau melakukan apa saja asalkan tidak membawa kabur Rayyan. Jadi dirinya tidak ada hak untuk mencurigai wanita itu.
Namun, yang jadi pertanyaan, hampir seharian ini Mulan pergi ke mana saja?
"Tuan?" panggil Hendrik setelah Bara turun dari mobil dan Mulan tak juga keluar untuk menyambutnya. "Jika Anda ingin memberi pengawasan lebih pada Nyonya, saya bisa carikan orang yang handal untuk membuntutinya ke mana saja."
Bara tak berniat menjawab atau memberi keputusan sekarang. Bukannya tidak mau. Namun, jika sampai Mulan tahu, entah bagaimana pandangan wanita itu kepada nanti?
Bara hendak berjalan menuju teras, tetapi perhatiannya teralihkan oleh mobil hitam yang baru datang dan berhenti di luar pagar. Ternyata Hendrik juga mengarahkan pandangannya ke arah sana.
__ADS_1
Siapa yang datang?