
Sepanjang perjalanan menuju kamar, Mulan menunjukkan kegelisahannya tanpa sadar. Setelah berpisah dengan anak buah mereka lantaran pergi ke kamar masing-masing, mereka hanya bertiga kembali ke kamar karena letak kamar presidential suite berada di lantai atas.
Mulan berjalan di belakang, membiarkan Bara dan Rayyan berjalan bergandengan di depannya. Mulan bahkan tak habis pikir, bagaimana bisa dua lelaki tanpa ikatan darah itu bisa begitu mesra saat bersama.
Tangan keduanya sama sekali tak terlepas sejak keluar dari restoran. Bahkan tawa Rayyan begitu lepas saat bergurau dengan Bara. Jujur, Mulan merasa cemburu pada kedekatan mereka. Ia seakan tersisih dari posisinya lantaran tergantikan oleh keberadaan Bara. Rayyan seolah-olah tak mau jauh-jauh dari papa tirinya.
"Sudah sampai ...! Ini kamar kita, Rayyan." Bara berseru ceria setelah membuka pintu kamar mereka. Nuansa kamar yang elegan langsung menyambut mata, begitu pula dengan ranjang berukuran besar dengan balutan sprei putih yang menutupinya.
"Yeayy! Akhirnya Rayyan bisa bobo sama Mama Papa! Yeaye ... yeaye!" Bocah itu membalas dengan riang. Rayyan langsung melompat ke atas ranjang lalu lonjak-lonjak kegirangan di sana.
Mulan yang melihat itu hanya tersenyum tipis sambil geleng kepala. Ia malas menanggapi Rayyan. Ia berjalan ke arah nakas untuk meletakkan tas jinjingnya sekaligus clutch bag pria milik Bara yang sejak tadi ia bawa.
Lelah lonjak-lonjak, Rayyan memutuskan berbaring sambil merentangkan tangan dan kakinya. Seharian main-main ternyata membuatnya merasa lelah juga.
Melihat dua orang tuanya sibuk dengan urusan masing-masing membuat Rayyan merasa kesepian. Mulan tengah membuka lemari yang berisi pakaian mereka bertiga, sementara Bara tengah asyik dengan ponselnya. Pria itu berdiri menghadap jendela, dengan satu tangan menelusup pada saku celana dan tangan lainnya memainkan ponselnya dengan lincah.
Rayyan berpikir pria itu hanya main-main saja seperti dirinya saat meminjam ponsel Oma. Sehingga ia memberanikan diri memanggil Nara untuk turut naik ke ranjang bersamanya.
"Papa! Sini yuk, bobo sama Rayyan."
Pria itu langsung menoleh dan menatap penuh perhatian pada Rayyan.
"Sebentar, Rayyan. Papa balas pesan dari teman Papa dulu ya."
Bara tersenyum sambil menunjukkan ponselnya saat bicara deni meyakinkan Rayyan. Anak itu mengerti dan membiarkan papanya serius dengan urusannya. Beberapa saat yang lalu memang ada pesan masuk yang menuntut Bara untuk membalasnya dengan segera.
Mulan yang sudah mendapatkan stelan baju tidur milik Rayyan langsung menghampiri putranya usai menutup kembali pintu lemari. Wanita itu tersenyum melihat putranya yang langsung bangun dan duduk anteng saat dirinya mendekat.
"Rayyan sikat gigi dulu, yuk," ajaknya dengan pelan. "Cuci tangan, cuci kaki, ganti baju, kemudian bobo."
Alih-alih patuh, rupanya Rayyan menggeleng sebagai bentuk penolakan. "Nanti dulu, ya Ma. Rayyan belum ngantuk. Rayyan masih pengen ngobrol-ngobrol sama Papa dulu."
"Ngobrolnya bisa setelah bersihkan diri, Sayang. Mumpung belum ngantuk kita gosok gigi dulu yuk. Jangan biasakan menunda-nunda. Nanti kalau Rayyan terlanjur ngantuk, malah nggak jadi dong gosok giginya. Rayyan mau giginya dimakan tikus, terus ompong, nggak punya gigi kayak bayi?" gurau Mulan sambil mencubit gemas pipi Rayyan.
"Nggak mau ompong, Mama. Nanti Rayyan nggak bisa makan!" teriaknya histeris.
"Makanya sikat gigi, Sayang. Bareng sama Mama. Yuk," bujuk Mulan lagi, tetapi Rayyan sepertinya masih enggan.
"Nanti dulu!"
"Sekarang, Sayang."
"Nanti, Mama." Rayyan bahkan menjauh saat Mulan mengulurkan tangannya. Bocah itu merapat pada kepala ranjang demi menghindari sang Mama.
Mulan nyaris hilang kesabaran. Wanita itu menghela napas untuk meredakan emosinya. Ia tak pernah mengajari Rayyan manja seperti ini. Bahkan sejak kecil Rayyan sudah terlatih untuk disiplin. Tapi kenapa sekarang makin besar malah semakin menguji kesabaran.
Perdebatan ibu dan anak itu ternyata memancing perhatian Bara. Pria itu mengantongi ponselnya lalu melangkah mendekati ranjang.
"Rayyan. Rayyan anak Papa yang paling pintar, kan?" tanyanya setengah mengingatkan.
"Iya." Seketika Rayyan menghentikan pergerakan, lalu menatap Bara dengan polosnya.
"Yuk, kita sikat gigi sama-sama."
"Sikat gigi sama Papa?"
"Iya." Bara mengangguk.
Rayyan berpikir sebentar lalu kemudian berhambur memeluk Bara. "Oke. Rayyan mau asalkan sama Papa."
"Kok gitu?" Mulan yang semula hanya diam memperhatikan akhirnya menyahut lantaran tak tahan. Ia benar-benar kesal. "Tadi diajak Mama nggak mau, tapi giliran Papa yang ajak kok Rayyan mau?"
__ADS_1
Rayyan tak menjawab. Bocah yang kini berada di gendongan Bara itu malah menyembunyikan wajah pada bahu papanya seolah-olah meminta perlindungan. Memangnya dia sebegitu jahatnya kah sampai-sampai anak sendiri ketakutan seperti itu?
"Let's go. Kita sikat gigi sama-sama ya." Bara malah hendak mengajak pergi Rayyan. Tidak tahukah dia jika Mulan sedang kesal? Seharusnya ia yang menengahi dan menjelaskan pada Rayyan jika sikapnya tidak benar. Ia khawatir ini akan berpengaruh buruk pada Rayyan. Ia takut bocah itu jadi manja dan tak bisa menghargai orang tua.
Mulan menatap Bara dengan sebal, tetapi pria itu justru mengurai senyum ketika mereka bersebelahan.
"Kau tau," ujar Bara lirih di telinga Mulan. "Bukan hanya bisnis saja yang membutuhkan strategi, tapi dalam hal membujuk anak juga perlu strategi. Dan ketika kau sedang membujuk Rayyan tadi ... kau sudah salah pilih strategi, Sayang."
Mata Mulan membeliak, tetapi Bara justru tersenyum tenang dan melenggang pergi dengan santainya.
Sepeninggalnya Bara dan Rayyan dari sana, Mulan melirik sembari mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir. Seketika ia tersadar, bahwa yang dikatakan Bara barusan memang benar. Ia salah strategi. Bukannya membuat Rayyan patuh, ia justru membuat Rayyan takut.
Menghadapi anak kecil memang tak semudah yang dibayangkan. Meskipun kita memiliki niatan baik, tetapi jika salah memberikan penyampaian maka anak juga akan salah memaknai maksud baik orang tua. Mulan merasa heran. Di sini dialah yang seorang ibu, tetapi kenapa justru Bara yang lebih paham bagaimana cara menyikapi Rayyan?
Beberapa menit berlalu, akhirnya Bara dan Rayyan muncul keluar dengan wajah lebih segar. Entah apa yang keduanya lakukan di dalam sana, Mulan enggan untuk bertanya. Melihat Rayyan begitu nyaman dalam gendongan Bara, ia hanya menatap bocah itu penuh peringatan sembari memegang stelan baju tidur milik putranya.
Bara yang melihat itu langsung paham. Ia menurunkan Rayyan ke kasur dan berbicara pelan pada anak itu.
"Sekarang Rayyan ganti baju dibantu Mama, ya. Papa juga ganti baju di ruangan sebelah. Nanti, Papa akan bacakan dongeng untuk Rayyan."
"Kenapa Papa nggak sekalian ganti baju dibantu Mama juga? Biar sama kayak Rayyan, Pa."
Bara dan Mulan sontak saling pandang mendengar kata-kata di luar dugaan yang terlontar dari mulut Rayyan. Hanya sebentar, sebab sesaat kemudian mereka sama-sama membuang muka dengan wajah merona merah.
"Nggak bisa, Rayyan," sahut Bara beralasan. "Rayyan masih membutuhkan bantuan Mama karena Rayyan masih kecil. Sedangkan Papa, Papa bisa melakukannya sendiri karena Papa sudah besar. Rayyan juga perlu belajar mandiri seperti Papa saat besar nanti ya. Oke, Boy?"
"Oke." Rayyan mengacungkan jempolnya dengan riang.
Mulan mengambil alih Rayyan saat Bara meninggalkan bocah itu. Rayyan yang melihat raut marah mamanya langsung bergerak cepat melepaskan pakaiannya. Mulan membantunya tanpa bicara apa-apa. Namun, sentuhan lembut tangan Rayyan di pipinya membuat wanita itu merasa terkejut.
"Mama, Rayyan minta maaf. Rayyan salah," tutur bocah itu dengan suara imutnya, sementara mata polosnya menatap Mulan penuh sesal.
Ah entahlah. Yang jelas Mulan sekarang sedang bahagia. Anaknya berani meminta maaf dan mengakui kesalahan.
"Kenapa Rayyan minta maaf? Memangnya Rayyan salah apa sama Mama?" Sambil menahan haru ia bertanya untuk menguji Rayyan.
"Rayyan salah karena Rayyan nggak patuh sama Mama. Harusnya Rayyan nurut sama Mama."
Mulan memeluk Rayyan karena tak bisa berkata-kata. Dengan nada bergetar, ia pun berkata, "Maafin Mama juga ya, Nak. Mama juga salah sama Rayyan."
"Enggak, Ma. Kata Papa wajar kalau Mama marah."
"Kok kata Papa?" Mulan mengurai pelukan mereka dan menatap Rayyan dengan heran.
"Iya. Papa yang nasihati Rayyan buat minta maaf."
Tuh kan.
"Owh. Jadi Rayyan minta maaf sama Mama itu karena Papa? Bukan karena merasa bersalah sama Mama?" Mulan menyebikkan bibir, pura-pura kesal. Dan sekali lagi Rayyan membujuk sambil membelai pipinya.
*Mama jangan marah-marah. Rayyan rindu Mama."
Ah ..., lihat wajah imut seperti itu ia mana bisa marah. Alhasil, Mulan memeluk tubuh kecil putranya itu dengan penuh perasaan.
"Mama juga rindu Rayyan. Maaf kalau Mama bikin Rayyan takut. Mama janji nggak akan ulangi."
Sesi melow akhirnya usai ketika Bara muncul. Pria itu mengenakan celana panjang dipadu hoodie warna putih. Di daerah pantai memang udaranya cenderung dingin saat malam. Wajar jika Bara memilih pakaian hangat saat ini.
"Papa." Perhatian Rayyan langsung beralih pada Bara. Ia langsung melompat ke gendongan Bara. "Papa jadi kan bacain Rayyan dongeng?"
"Tentu saja jadi. Memangnya Rayyan ingin Papa membacakan dongeng apa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau buku yang diberikan Oma buat Rayyan?" Usul Rayyan yang membuat Bara mengernyit heran.
"Memangnya Rayyan bawa?"
"Iya. Ada di dalam koper pakaian Rayyan. Sebelum berangkat Mbak Nana sempat memasukkannya."
Mulan yang sempat beranjak akhirnya kembali dengan sebuah buku. Ia memberikannya pada Bara. Rayyan terlihat sangat antusias. Bara melihat sampul bagaian depan dan kemudian tahu judulnya apa.
Pria itu mengajak Rayyan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia akhirnya mulai membacakan buku berjudul Finding Winnie: The True Story of the World's Most Famous Bear itu dengan bahasa Inggris, dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan benar sehingga membuat Rayyan bisa memahami kisah sebenarnya dari buku itu.
Ketika sedang asyik membacakan cerita, suara Bara sempat terhenti sebab perhatian beralih pada Mulan yang baru keluar dari kamar mandi. Wanita itu mengenakan piyama warna putih dari bahan satin. Padahal piyamanya berlengan panjang dan model tertutup, tetapi di mata Bara wanita itu sangat seksi hingga mampu mengalihkan dunianya.
Rayyan menyadari sikap papanya. Bocah itu langsung menatap Mulan dan seketika memanggilnya hingga mengejutkan Bara.
"Mama. Sini yuk. Kita baca dongeng sama-sama!"
"Rayyan sama Papa aja, ya Sayang. Mama duduk di sini aja, Oke." Mulan sudah melabuhkan bokongnya pada sofa panjang, tetapi sepertinya Rayyan tak terima.
"Nggak mau! Pokoknya Mama sini!" Bocah itu menepuk tempat kosong di sisinya.
Mulan terdiam bingung. Namun, dari ekspresi yang ditampakkan, sepertinya Bara tak keberatan jika ia menuruti Rayyan, akhirnya dengan yakin Mulan pun naik ke ranjang dan menempati posisi yang diinginkan putranya.
Rayyan kemudian meminta Bara melanjutkan cerita. Namun, sebelumnya, pria itu menyempatkan diri untuk melirik Mulan dengan senyuman yang sulit Mulan artikan.
Cerita sudah selesai. Lembar-lembar buku juga sudah habis Bara bacakan. Namun, sepertinya Rayyan masih belum mengantuk. Bola mata bocah itu masih terlihat bening dan cerah.
"Rayyan bobo ya. Kan ceritanya udah habis," bujuk Mulan sambil menyimpan buku itu ke atas nakas.
"Tapi Rayyan pengen dipeluk Mama sama Papa. Boleh, kan? Selama ini Rayyan belum pernah merasakan." Rayyan memasang wajah mengiba, membuat Mulan dan Bara akhirnya tidak tega.
"Tentu saja," balas Bara. "Papa dan Mama akan memeluk Rayyan dengan erat."
"Yeayy!" Bocah itu bersorak.
Awalnya Man merasa ragu. Namun, karena tatapan penuh tuntutan Bara, akhirnya wanita itu mau berbaring dan melingkarkan tangannya ke perut Rayyan.
Tak disangka, ternyata tangan Bara ikut melingkar dan menyentuh permukaan kulit tangannya juga. Kontak fisik yang tak disengaja itu membuat jantungnya berdebar-debar. Namun, Mulan berusaha menutupinya dengan tetap bersikap tenang.
Hening untuk sesaat hingga akhirnya suara Rayyan memecahkan keheningan itu.
"Ma, Pa .... Rayyan bahagiaaa banget. Akhirnya impian Rayyan dikabulkan oleh Allah. Kita bisa kumpul lagi seperti keluarga utuh. Mama tau?" Rayyan memfokuskan pandangannya pada Mulan. Mulan membalasnya dengan antusias. "Rayyan udah lihat-lihat foto pernikahan Mama Papa."
Mulan sempat terkejut ketika mendengar itu. Foto pernikahan waktu itu kah yang dimaksud Rayyan? Rayyan malah sudah lebih dulu diperlihatkan. Sedangkan dirinya? Bara bahkan tak pernah menunjukkan itu pada dia.
"Kalian serasiii banget," lanjut Rayyan lagi. "Mama cantik. Papa ganteng. Tapi Rayyan tau, saat itu Rayyan belum ada di dunia, kan? Pasti Rayyan masih ada di perut Mama."
Rayyan tiba-tiba menguap. Matanya terlihat menyipit, tetapi memaksakan diri untuk tetap bicara.
Mulan dan Bara masih berada pada posisinya. Tetapi tak ada yang bicara. Keduanya hanya diam sembari meresapi setiap kata yang terucap dari bibir mungil Rayyan.
"Sekarang kan Rayyan udah besar, bagaimana kalau Mama lahirkan adik untuk Rayyan?"
Sungguh, ini permintaan yang sangat mengejutkan. Mulan sampai-sampai berjingkat dari posisinya. Entah kalau Bara. Pria itu tergolong spesies yang mahir menyembunyikan perasaan.
"Rayyan pasti udah ngantuk banget ya, makanya ngomongnya ngelantur gitu," ucap Mulan untuk menutupi rasa gugup.
"Enggak, Ma. Rayyan nggak ngelantur," bantah bocah itu. "Rayyan benar-benar pengen adik, Ma. Rayyan kesepian."
Entah, Mulan dan Bara tak tahu harus menjawab apa. Keduanya masih sama-sama bungkam hingga Rayyan terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1