
Mulan berjalan mondar-mandir dengan gelisah di dalam ruangannya sambil sesekali menatap pintu yang masih dalam keadaan tertutup rapat. Entah apa yang ia tunggu. Tak biasanya dia begitu.
Tak lama kemudian, pintu itu terbuka dari luar. Mulan yang menyadarinya seketika menghentikan langkah dan menoleh. Sosok Cyndi yang tengah tersenyum padanya ia dapati kemudian.
"Bagaimana, Cyndi? Apa dia masih ada di sini?" tanyanya penasaran. Mata indah itu bahkan sampai menatap sang sekretaris seperti mendesak.
"Tuan Bara sudah tidak ada di sini, Bu Mulan. Dan saya bisa pastikan, beliau sudah meninggalkan tempat ini usai kita meeting tadi," jawab Cyndi.
"Kau serius, Cyndi?"
"Serius, Bu Mulan." Cyndi mengangguk dalam seraya tersenyum demi meyakinkan Mulan.
"Syukurlah." Seketika Mulan menghela napas lega dan itu membuat Cyndi merasa heran.
"Ibu baik-baik saja?" Cyndi memilih bertanya untuk memastikan.
"Iya. Aku baik-baik saja," balas Mulan tanpa menatap wajah Cyndi. Kini ia malah kembali ke meja kerja lalu kemudian sibuk berkemas-kemas. "Cyndi. Aku ada perlu di rumah dan harus cepat pulang. Kau bisa kan, urus semuanya selagi aku tidak ada?"
Cyndi mengangguk patuh meski dirinya masih merasa heran. "Baik, Bu. Saya akan selesaikan hari ini juga."
"Terima kasih Cyndi," ucap Mulan.
"Sama-sama, Bu," balas Cyndi sebelum kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan. "Ibu nyetir sendirian? Perlukah saya antar sampai rumah. Saya lihat hari ini Ibu sangat lelah."
"Oh tidak Cyndi. Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Mulan menjawab cepat. Demi apa coba? Tentu saja untuk menyembunyikan tempat tinggalnya dari siapa saja. Belum saatnya mereka tahu tentang statusnya sebagai istri Bara.
"Baik, Bu. Hati-hati di jalan."
Mulan hanya mengangguk. Ia lantas pergi meninggalkan ruangan dengan pengawasan Cyndi dari belakang.
***
Mulan mengemudikan mobilnya masih dengan pikiran gelisah. Namun, meski demikian ia tetap memfokuskan perhatian pada jalanan dan sekitar. Bagaimanapun juga keselamatan di jalan raya itu yang utama, sekalipun keselamatannya di rumah Bara Mulan sudah merasakan sebuah ancaman besar.
Entah apa yang akan kelak ia dapatkan. Mulan bahkan sudah mempersiapkan dirinya mulai dari sekarang.
Memasuki gerbang utama dan memberhentikan mobilnya di pelataran, Mulan melihat mobil Bara telah terparkir cantik di sana. Pria itu sudah lebih dulu kembali ke rumah ternyata.
Jika tadi Mulan meninggalkan rumah dengan tergesa dan penuh semangat, maka beda cerita dengan sekarang. Wanita itu turun hati-hati dari mobil, lalu melangkah masuk dengan pelan dan penuh antisipasi. Ia memasang kewaspadaan tingkat tinggi. Barangkali saja pria itu memasang banyak ranjau untuk menjebaknya di sekitar sini.
Aman. Hingga memasuki lorong menuju kamarnya ia sama sekali tak mendapati hambatan. Bahkan suasana di kamarnya juga terasa lengang seperti tidak ada seseorang. Lalu di mana Bara sekarang?
Merasa tidak tenang melakukan aktivitas seperti biasanya, Mulan memutuskan mencari keberadaan Bara.
Rupanya tak semudah itu menemukan suaminya. Di beberapa ruangan yang ia tahu adalah tempat kesukaan Bara, Mulan bahkan tidak menemukan pria itu di sana. Di ruang kerja, ruang gym dan kamar lain yang sempat Bara gunakan untuk beristirahat juga tidak ada.
Mulan mendesah putus asa. Sepertinya Bara tidak ada di mana-mana. Berniat pergi ke taman belakang untuk bersantai ia malah berjumpa dengan salah satu asisten rumah tangga.
"Nyonya Mulan sudah pulang?" Wanita dengan pakaian stelan hitam itu menyapa.
"Iya. Kau dari mana?" tanya Mulan usai membenarkan. Ia mengerutkan kening melihat nampan kosong yang dibawa sang pelayan.
"Dari taman belakang, Nyonya. Mengantarkan secangkir kopi untuk Tuan Bara."
Seketika mata Mulan membeliak. Yang dari tadi dicari ternyata ada di taman belakang.
"Ya sudah. Pergilah." Mulan mempersilahkan.
__ADS_1
"Apa Nyonya juga ingin kopi atau teh?" tawar wanita itu.
"Tidak. Terima kasih," balas Mulan.
Sang pelayan akhirnya mengangguk patuh sebelum akhirnya berpamitan. Mulan sendiri cepat-cepat berjalan ke arah pintu sliding kaca yang menghubungkan langsung antara tempatnya dengan taman belakang. Ia berdiri di sana, menatap ke arah luar demi memastikan suaminya ada di sana.
Benar saja. Sesosok pria tengah duduk di kursi santai dengan posisi membelakanginya. Meski wajahnya sama sekali tidak nampak, tetapi Mulan hapal betul dia siapa.
Pantas saja dicari-cari tidak ada, ternyata di sini dia. Eh, apa yang sedang dia lakukan? Benarkah dia sedang bersantai?
Mulan menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangan. Benar. Dari tempatnya berdiri, kelihatan sekali jika Bara tengah membolak-balik pelan halaman per halaman sebuah majalah sambil sesekali memperhatikan isinya.
Apa begitu cara dia meredam kemarahan? Bersantai sambil minum kopi?
Mulan yakin tadi Bara sangat marah melihat jati diri aslinya. Memang, pembawaan Bara saat itu terlihat sangat tenang. Namun, Mulan tahu tatapan matanya seperti mengancam, sampai-sampai ia tak bernyali untuk membalas tatapan pria itu meskipun mereka tadi terlibat pembicaraan serius mengenai pekerjaan.
Mulan juga yakin jika kini pria itu sedang menunggunya untuk memberikan klarifikasi. Benarkah hanya menunggu klarifikasi, atau justru menunggunya untuk perang dan baku hantam?
Oh tidak. Tiba-tiba Mulan merasa ngeri sendiri. Tangannya bahkan tanpa sadar sampai meremas pegangan pintu. Rumor buruk mengenai Bara kembali terngiang. Bayangan Bara yang gemar melukai istri dan melakukan kekerasan menghantui pikirannya. Mungkinkah kini gilirannya?
Mulan merasakan kakinya mendadak lemas. Jantungnya berdebar-debar. Niatan untuk menemui sepertinya harus ditunda sementara. Demi apa pun ia merasa belum siap.
Namun, ketika berbalik badan dan berniat untuk pergi, sebuah suara pria menyapa gendang telinganya dan itu sukses membuat Mulan membeku seketika.
"Mau kabur ke mana? Aku tau kau di sana."
Terang saja Mulan terkejut. Itu adalah suara Bara, bahkan pria itu berucap tanpa sedikit pun menatapnya. Mulan merasa curiga, jangan-jangan pria itu mempunyai empat mata? Dua di depan, dan dua lagi di belakang. Jika tidak, bagaimana bisa pria itu menyadari keberadaannya?
Mulan menghela napas panjang. Ia memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya. Sudah tertangkap basah. Mau tak mau ia harus berbalik arah dan menghampiri Bara. Ia bukanlah seorang pecundang yang bisa lari dari masalah dengan mudah. Jika memang Bara akan melakukan kekerasan, ia tinggal melawan saja sebab dirinya memiliki tenaga untuk melawan. Simpel, kan?
Mulan akhirnya berjalan pelan dan berhenti tepat di depan Bara. Ia berdiri di sana. Namun, yang membuatnya merasa kesal, sudah mematung agak lama tapi Bara belum juga menyapanya. Pria itu malah sok sibuk dengan majalah bisnisnya yang menampilkan foto pria tampan di bagian sampulnya.
Iya, aku tahu kamu sukses dan tampan. Tapi nggak gini juga, kan?
"Kenapa diam?"
Ucapan tak terduga dari bibir Bara itu membuat Mulan sontak menatapnya dengan alis yang terangkat.
"Saya?" Bodohnya Mulan yang justru balik bertanya sambil menunjuk ke arah dirinya.
"Memangnya siapa lagi yang akan memberikan klarifikasi?" balas Bara dengan pertanyaan pula. Ia mengangkat pandangannya, lalu kemudian menatap Mulan dengan ekspresi datar. Majalah di tangan juga ia tutup, lantas meletakkan pelan ke atas meja di depannya. Masih dengan pembawaan tenang, ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, lalu mulai memfokuskan perhatian pada sosok cantik itu.
"Se-sebenarnya saya ingin memberikan klarifikasi. Namun, melihat Anda sedang sibuk dengan majalah itu, saya pikir saya perlu menundanya sebentar dan membiarkan Anda fokus," jelas Mulan jujur. Namun, sepertinya ia harus siap merasa jengkel sebab seketika itu juga Mulan mendapatkan bantahan dari Bara.
"Alasan. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Tapi kau malah buang-buang waktu dengan mematung seperti itu."
Seketika mulut Mulan ternganga. Apa tadi yang Bara katakan? Ia membuang waktunya? Apa tidak salah ya? Bukankah Bara sendiri yang membuang waktu dengan membolak-balik halaman majalah tidak jelas itu?
"Kenapa? Mau protes?" Bahkan Bara sudah bisa menebak sebelum Mulan melayangkan aksi protesnya. Terpaksa, wanita itu hanya bisa menghela napas sabar lali mencari-cari alasan mengelak demi keselamatan dirinya.
"Ah, tidak. Mana ada saya protes. Saya malah ngira Anda sedang sibuk. Jadi mana berani saya menganggu."
"Katakan. Apa yang kau inginkan." Tegas. Bukan hanya dari nada bicara saat bertanya, tetapi dari tatapan mata juga. Sepertinya Bara tak ingin membuang waktu lagi, makanya memilih serius ketika berkomunikasi.
Ternyata Mulan menyadari itu. Senyum kecut yang semula tersungging kini perlahan memudar berganti wajah tegang penuh kecemasan. Namun, karena dirinya merasa benar akhirnya Mulan berani memberikan perlawanan sekalipun lirih dan terdengar pasrah.
"Tidak ada. Semuanya terjadi begitu saja."
__ADS_1
Bara mendengkus pelan. Kendati diucapkan dengan penuh keyakinan, tetapi jawaban Mulan belum memberikan kepuasan.
Bara adalah orang yang jeli dan otaknya sangat cerdas. Sangat sulit baginya memberikan kepercayaan jika sudah merasa dikecewakan. Tak pandang bulu, sekalipun pada istrinya sendiri. Lebih-lebih lagi mereka menikah bukan berdasarkan rasa cinta.
Bara bahkan tak habis pikir jika wanita polos yang selama ini menjadi Nyonya di rumahnya adalah wanita bermuka dua. Siapa yang menyangka jika wanita yang berasal dari kampung tanpa latar belakang jelas justru ternyata seorang pemilik sekaligus pemimpin perusahaan besar.
Ceroboh. Bisa-bisanya ia kecolongan. Seharusnya Bara sudah curiga di hari pernikahan mereka, di mana Mulan yang sebelumnya ia ketahui buruk rupa tiba-tiba berubah cantik jelita. Jika bukan karena unsur kesengajaan, lalu bisakah wajah seseorang berubah karakter hanya karena riasan semata?
"Terjadi begitu saja? Bisa begitu ya?"
Mulan tertunduk lesu, sementara Bara justru menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai. Jelas sekali jika seringai itu tersungging lantaran dirinya meragukan pengakuan Mulan barusan. Gampang sekali wanita itu bicara setelah melakukan semuanya.
Kembali memasang wajah datar, Bara melanjutkan lagi kata-katanya. Nadanya pelan memang. Namun, penuh dengan tekanan. "Kau adalah penipu ulung yang berhasil mengelabuiku. Kau adalah wanita bermuka dua. Apa kau pikir dengan pura-pura menjadi istri yang baik itu bisa membuatku terpikat padamu? Jangan bermimpi, Mulan Jenica."
"Cukup, Tuan. Cukup!" pekik Mulan yang merasa tak tahan lagi. Ia menatap Bara dengan mata yang memerah. Jemarinya terkepal kuat menahan amarah.
Demi apa pun, tuduhan Bara teramat kejam terhadapnya. Bara jelas-jelas mengada-ada karena bukan begitu fakta sebenarnya.
"Tolong jangan bicara yang tidak-tidak jika Anda tidak tahu faktanya, Tuan. Anda melukai perasaan saya dengan tuduhan tidak benar itu!"
"Luka? Kau merasa terluka? Lantas bagaimana dengan aku yang sudah ditipu mentah-mentah? Kau pikir aku tidak punya perasaan!" balas Bara lebih keras.
"Lantas apakah tindakan saya merugikan Anda?" balas Mulan cepat. "Tidak, kan? Memangnya Anda rugi apa? Apakah saya mengatur hidup Anda? Apakah Anda terpisah dengan anak Anda seperti saya? Tidak, kan? Lantas di mana letak penipuan yang Anda maksudkan, hah? Di mana!"
Bara hanya diam, sementara Mulan terisak setelah membentak. Pertahanan yang sejak tadi ia bangun akhirnya runtuh juga. Sekuat-kuatnya mental yang dia punya, ia tetap wanita lemah yang mudah menitikkan air mata.
Tak butuh waktu lama bagi Mulan untuk larut dalam penderitaan. Sekarang ia bukan lagi Mulan yang lemah seperti dulu. Apalagi hanya karena pria seperti Bara itu. Bagaimanapun juga kini ia memiliki kekuatan. Mulan yang sekarang memiliki kekuasaan. Mulan yang sekarang tidak boleh ditindas lagi.
"Kenapa sekarang Anda diam?" Mulan mengangkat wajah lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kembali menunjukkan wajah tegar setengah menantang. "Ayo hakimi saya! Puas-puaskan Anda menuduh saya! Puas-puaskan Anda memojokkan saya! Jika bisa memilih, saya tidak ingin ada di sini sekarang! Saya tidak ingin terjebak pernikahan tanpa rasa cinta. Lebih-lebih lagi harus hidup dengan Anda. Terpisah dari Rayyan! Apa Anda pikir saya bahagia menerima takdir ini? Tidak, Tuan. Saya terpaksa. Saya tersiksa! Tapi saya tetap harus bertahan demi masa depan Rayyan. Dan Anda tahu apa yang Anda lakukan? Anda seperti pecundang yang bisanya menekan orang!"
Mulan terdiam saat dilihatnya Bara mengambil sebilah pisau yang ada di atas meja. Matanya tanpa sadar membelalak, menatap Bara dengan wajah syok. Kemurkaannya kini berbaur dengan kecemasan. Apa mungkin ia sudah keterlaluan melampiaskan kemarahan? Jangan-jangan sikapnya tadi sudah memancing kemarahan Bara hingga membuat naluri psikopatnya meronta-ronta. Lantas bagaimana jika pria itu berniat membunuhnya?
"Apa yang Anda lakukan? Anda mau apa?" Mulan bertanya ngeri ketika Bara menatapnya dengan tajam. Lebih-lebih lagi saat suaminya mengeratkan genggaman pada pisau itu.
"Kemari." Baru juga dipikirkan sudah menjadi kenyataan. Bara menitahkan Mulan untuk mendekat.
"Tidak mau!" Mulan menolak cepat. Tentu saja ia tidak mau. Yang benar saja. Mana ada orang yang dengan sukarela mau menyerahkan nyawanya. Sepertinya ia harus mencari tempat perlindungan agar tidak menjadi sasaran belati Bara.
"Mulan Jenica. Kau istriku! Aku memerintahkanmu untuk kemari! Jangan berniat untuk lari!" Kini suara Bara terdengar sangat lantang dan penuh paksaan.
"Tidak mau," lirih Mulan sambil menggeleng. Namun, meski demikian ia tidak memiliki keberanian untuk beranjak. Wanita itu dalam dilema. Memiliki dua pilihan yang sama-sama tak mengenakkan. Lari dan dilempar belati, atau maju dan dihunus pisau. Mantap kan. Dua-duanya sama-sama bisa merenggut nyawa.
"Mulan!" panggil Bara lagi penuh penekanan. Sayangnya, kali ini Mulan tak dapat menolak. Panggilan Bara sudah seperti tarikan magnet bagi Mulan. Ia melangkah maju meski dengan wajah ngeri. Keringat dingin bercucuran, dan tubuh gemetaran. Lebih-lebih lagi dirinya kini berada di bawah tatapan mata elang Bara.
"Duduk." Bara mengisyaratkan setelah Mulan dekat. Meski takut, tetapi wanita itu tak memiliki daya untuk menolak. Walaupun ingin menangis tapi Mulan mematuhi perintah Bara dengan duduk di sisinya.
Seperti terdakwa yang duduk di meja hijau, Mulan seperti pendosa yang tengah menanti hukumannya. Dasar lemah. Mulan bahkan lupa caranya melakukan perlawanan. Kenapa dirinya tiba-tiba jinak di bawah kendali Bara?
"Jangan bunuh saya!" pekiknya takut ketika Bara menggerakkan tangannya. Wanita itu bahkan sampai memejamkan mata dan menaruh tangannya di depan wajah seolah-olah menjadikannya perisai perlindungan.
Bara yang melihat itu seketika mengernyit bingung. Memangnya siapa yang mau bunuh orang?
"Mulan," tegur Bara seperti menyadarkan. Ia menarik lembut tangan Mulan demi bisa menatap wajah istrinya. "Mulan. Buka matamu. Lihat aku. Memangnya siapa yang mau membunuhmu?"
"Kau!" Mulan menjawab cepat, lalu menuduh Bara dengan kesal. "Kau ingin membunuhku dengan pisau itu kan?"
Bara sontak menatap pisau di tangannya. Namun, seketika ia tertawa keras setelah menyadari kesalahpahaman Mulan.
__ADS_1
"Astaga. Siapa juga yang berniat membunuhmu. Aku hanya ingin minta tolong kupaskan buah-buahan ini untuk aku. Kau tidak tau sejak tadi aku belum makan? Aku kelaparan, Mulan," jelas Bara dengan nada setengah merengek.