
"Selamat pagi ...."
Meski Mulan menyapa dengan mimik cerita dan sikap ramah tamah, tetapi rupanya hal itu mampu membangkitkan aura mencekam dan keterkejutan hebat di ruang makan itu.
Hal itu terbukti dengan reaksi spontan semua yang ada di sana. Bukan hanya Bima, Meylisa, dan Alexa yang menoleh dan terperanjat, tetapi beberapa orang pelayan yang terlihat berjaga di sana. Bahkan Mulan sampai harus menahan tawa lantaran keluarganya itu terlihat ketakutan seperti melihat setan.
Mulan hanya tersenyum melihat mata ketiga orang itu terbelalak dengan mulut yang ternganga. Mereka memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga kepala. Mungkin mereka akan lari terbirit-birit andai saja kaki jenjangnya tak berpijak dengan sempurna pada lantai marmer di bawahnya.
"Mulan?" Alexa yang berhasil menguasai diri akhirnya dapat bersuara setelah menelan ludahnya dengan kasar. Tampaknya gadis itu masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Iya. Ini aku." Mulan menjawab santai sebelum kemudian melangkah mendekati meja makan dengan gaya elegan. Wanita dengan penampilan nyaris sempurna itu akhirnya menempati salah satu kursi kosong yang ada di sana.
"Ma-mau apa kau datang?" Akhirnya pertanyaan terbata itu terlontar juga dari mulut Alexa. Bibir gadis itu bergetar. Matanya tak henti mengamati setiap gerakan Mulan yang masih sama seperti tujuh tahun silam. Hanya saja, hari ini wanita itu terlihat jauh lebih angkuh dan berani. Terang saja ia meragu sebab Mulan yang dulu tidaklah setegar itu.
"Barusan kamu nanya apa, Alexa? Mau apa aku datang?" Mulan memasang wajah polos lalu kemudian tertawa kencang dengan nada meremehkan. "Yang benar saja kamu ini," ujarnya sembari mengibas-kibaskan tangan. "Bukankah pertanyaan yang kamu ajukan itu salah ya? Haruskah kuingatkan lagi jika semua yang ada di sini itu sesungguhnya itu milikku?"
"Kau ini apa-apaan, Alexa. Sudah barang pasti Mulan pulang lantaran rindu pada rumahnya. Bukan begitu, Mulan?" Melihat sikap berbeda dan senyum sinis yang ditujukan Mulan, cepat-cepat Bima menengahi pembicaraan kedua wanita itu sebelum benar-benar terjadi pertengkaran besar. Jelas, itu akan berakibat fatal bagi dirinya. Mulan tentu saja akan merebut semua milik kakaknya yang belum berhasil ia kuasai. Ya. Harta yang ia nikmati sekarang adalah milik Kakak kandungnya. Papa Mulan.
Mulan hanya mendengkus lirih menanggapi keramahtamahan palsu yang ditujukan Bima. Namun, sepertinya pria itu tak mempedulikan sikap sinis keponakannya. Atau entah kalau ternyata Bima nekat menebalkan muka. Alih-alih tersinggung dan marah pada Mulan, Bima pria dengan balutan stelan jas mahal itu memberi titah tegas pada pelayan yang ada di sana.
"Apa yang kalian tunggu? Cepat, siapkan sarapan untuk nyonya rumah ini!"
Mulan segera mengangkat tangan sebagai bentuk penolakan. Para pelayan yang melihat itu segera kembali ke posisi awal dengan sikap patuh mereka. Salah satu sudut bibir Mulan tertarik ke atas hingga membentuk sebuah seringai. Ternyata dirinya masih dianggap nyonya rumah sekalipun lebih tujuh tahun tak berada di sana.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku tidak ingin berlama-lama berada di sini. Aku hanya ingin bicara dengan Om Bima sebentar saja." Mulan menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Bima dengan serius.
"Baguslah. Lebih cepat kau pergi, maka itu lebih baik," dengkus Alexa. Bahkan belum genap lima menit Mulan pulang ke rumahnya, ia sudah menunjukkan sifat aslinya.
"Aku memang akan pergi, Alexa," ucap Mulan dengan seringai jahatnya. "Tapi untuk kembali lagi dan mengambil semua milikku."
"Milikmu?" Alexa berdecih setelah mengulang kata-kata terakhir dari kalimat sepupunya itu. "Kau bahkan sudah menghilang selama lebih dari tahun tahun, Mulan! Kau pikir selama itu perusahaanmu bisa berkembang dan berjalan semestinya tanpa kerja keras papaku!"
"Alexa!" tegur Bima pada putrinya dengan tatapan mata yang tajam. Membuat Alexa menggeram kesal lalu memeluk mamanya untuk meminta perlindungan.
Sementara itu, untuk menunjukkan wibawanya sebagai tuan rumah, Mulan hanya tersenyum penuh kemenangan pada Alexa, terlebih lagi oleh sikap lembut dan ramah yang ditunjukkan pamannya. Terlepas dari sifat buruk pria itu di belakangnya, Mulan tak peduli untuk sementara ini. Setidaknya sampai pernikahannya digelar nanti, sebab dirinya masih membutuhkan sosok Bima untuk menjadi wali nikahnya beberapa hari lagi.
"Jadi, apa yang yang bisa Om Bima bantu, Mulan?" Bima akhirnya bertanya sopan dengan tatapan sungguh-sungguh pada Mulan.
"Nikah?" Tiga orang itu membelalak bersamaan. "Dengan siapa?" desak Alexa yang terlihat paling penasaran.
Sejenak Mulan merasa bingung harus menjawab apa. Ini bukanlah pernikahan yang diidamkannya. Ia bahkan belum bertatap muka secara serius dengan calon suaminya. Tidak ada acara lamaran romantis, atau pertemuan dua keluarga yang meriah dan hangat. Namun, lantaran masih mengakui mereka sebagai keluarga, ia akhirnya mengatakan siapa calonnya.
"Bara Aditama," ujarnya pelan. Namun, Mulan langsung tersentak melihat respon Alexa yang berlebihan.
"Bara Aditama? Serius kamu mau nikah sama dia?" tanya Alexa seperti tak percaya.
"Tentu saja. Memangnya kenapa?" jawab Mulan dengan polosnya yang membuat Alexa langsung tertawa kencang.
__ADS_1
"Astaga, Mulan! Kenapa kau memilih pria seperti itu sebagai suami, hah? Seperti tidak ada pria lain saja!" Alexa masih tak berhenti tertawa seolah-olah pengakuan Mulan seperti lelucon yang jenaka. Bahkan ia sampai menitikkan air mata karena saking gelinya.
Sementara Mulan hanya bisa mengernyit bingung lantaran tak tahu menahu seperti apa latar belakang calon suaminya. Seburuk itukah Bara Aditama itu sampai-sampai Alexa menertawakan seheboh itu? Ya, kehilangan Rayyan membuatnya ambyar. Ia bahkan tak menyelidiki dulu seperti apa sosok Bara Aditama itu.
Ini memang salahnya yang memutus kontak dengan dunianya yang lama sejak tujuh tahun lalu. Dengan niatan menyembunyikan Rayyan dari mantan suaminya, ia menonaktifkan seluruh akun sosial media. Mengubah penampilan. Bahkan mengasingkan diri di tempat yang jauh dari rumahnya. Membuka lembaran baru kehidupannya bersama Rayyan, tepatnya di pinggiran kota yang selama lebih tujuh tahun ini menjadi tempatnya pulang.
Hal ini tentu saja membuatnya sedikit kelimpungan. Ia mulai berpikir keras untuk mencari akal. Jangan sampai terlihat bodoh di depan sepupunya dan menjadi bahan tertawaan.
"Dari rumor yang kudengar," lanjut Alexa sambil mengusap sudut mata dan menghentikan tawanya. "Bara itu adalah pria angkuh yang suka melakukan kekerasan. Dia itu duda, kan? Dia diceraikan istrinya lantaran melakukan KDRT! Sifatnya yang tempramental itu disebabkan oleh vonis man–"
"Hanya rumor, kan?" potong Mulan yang sukses menginterupsi kata-kata Alexa. Diamnya Alexa seolah-olah membenarkan tudingan Mulan.
Terang saja Mulan tersenyum angkuh karena satu step merasa menang. Meskipun sebenarnya hal itu ia lakukan hanya untuk menutupi keterkejutannya.
Jujur, jika dibiarkan berkelanjutan, bisa-bisa Mulan termakan oleh kata-kata Alexa. Ia takut hal itu akan membuatnya goyah dan membahayakan putranya di sana. Mulan tidak mau itu terjadi.
"Apa kau pernah bertatap muka langsung dengan dia?" tanya Mulan dengan senyum meremehkan yang seketika membuat Alexa bungkam. "Makanya. Jangan menjudge orang sebelum tahu fakta yang sebenarnya! Dan Om, Bima." Mulan mengalihkan pandangan pada pria itu.
"Iya, Mulan," sahut Bima penuh kesiapan.
"Selanjutnya tunggu kabar dariku dulu. Dan ingat," tegas Mulan penuh penekanan. "Aku tidak mau kalian datang dengan pakaian yang glamor. Aku ingin kalian tampil sederhana sebab di mata suamiku aku adalah wanita miskin yang tak punya apa-apa. Mengerti?"
Meski masih bingung, Bima memutuskan mengangguk saja agar urusan cepat kelar. Setidaknya ia sudah melihat satu titik lemah sang keponakan, pemilik asli harta kekayaan yang ia dan keluarganya nikmati selama ini. Yaitu dengan menikahi dengan pria tempramental bernama Bara itu.
__ADS_1