Hot Duda Dan Seksi Mama

Hot Duda Dan Seksi Mama
Perasaan yang menggangu


__ADS_3

Mulan terus menggandeng tangan Bara berjalan menjauhi tempat itu. Sedikit memaksa, tetapi ia tak merasa kesulitan sebab suaminya tak memprotes pun menolak.


Setelah melewati lorong sepi salah satu sisi pabrik canggih itu, tiba-tiba langkah Mulan terhenti hingga membuat pria di belakangnya ikut berhenti.


Bara tak langsung bertanya. Ia justru mengernyit heran melihat istrinya celingukan memperhatikan area sekitar. Merasa penasaran lantaran istrinya seperti itu akhirnya ia angkat suara.


"Ada apa sih? Sebenarnya kita mau ke mana?"


Mulan menoleh. Air mukanya seketika itu ikut berubah saat menyadari suatu hal. Melihat Bara yang bertanya dengan raut wajah heran ia bukannya langsung menjawab. Perlu sedikit waktu hingga akhirnya wanita itu menjawabnya dengan pertanyaan sekaligus pengakuan.


"Ruangan Bapak yang tadi itu tempatnya di mana ya? Hehe, saya lupa."


"Astaga." Bara bereaksi dengan menggeleng tak percaya. Merasa geregetan dengan tingkah istrinya barusan.


"Ya maklum. Kan baru kesini sekali." Mulan berkilah. Masih menunjukkan senyum kecut menutupi rasa malu akibat kebodohannya kali ini.


"Kita salah arah, Mulan. Yang benar tempat itu ke arah sana."


Seketika kelopak mata Mulan melebar mengikuti arah telunjuk Bara. Bibirnya pun menyusul ternganga. Bagaimana tidak? Rupanya ia salah arah. Bukannya membawa Bara ke tempat yang benar, ia malah membawa suaminya ke arah yang berlawanan. Menyadari Bara menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca, ia hanya bisa meringis menunjukkan deretan gigi putihnya. "Hehe, maaf."


"Makanya jangan sok tau kalau memang nggak tau." Tak ada nada marah dari kata-kata Bara ketika memperingatkan Mulan. Hanya terdapat sedikit tekanan lantaran gemas pada tingkah istrinya.


Mulan hanya bisa menunduk malu. Namun, kemudian gadis itu sedikit tersentak ketika Bara menarik tangannya dengan gerakan pelan. Sambil melangkah mengikuti kecepatan Bara, wanita itu memperhatikan jalinan jemari mereka.


Sejak kapan Bara membalik posisinya? Jika di awal Mulan lah yang menggandeng tangan pria itu maka kini berganti Bara yang menggandengnya.


Diam-diam Mulan mengulum senyum. Dengan ikhlas dan suka rela ia membiarkan Bara membawanya ke mana pun juga.


Akhirnya mereka sampai di depan sebuah pintu berwarna coklat kayu. Mulan ingat betul jika pintu itulah yang beberapa lalu ia ketuk.


Bara menekan beberapa angka untuk memasukan nomor kodenya. Iya. Pintu itu akhirnya terbuka sesaat kemudian. Rupanya pria itu memberikan pengamanan ekstra untuk ruang istirahatnya. Bagaimana pun juga itu bukanlah ruang istirahat biasa.


Bukannya lantas mendahului masuk dan mengajak Mulan untuk ikut, Bara justru berbalik badan menghadap pada Mulan, lalu mengedikan dagunya ke arah pintu. "Masuk. Ruangan ini kan yang ingin kau tuju?"


"Saya?" Mulan malah menunjuk dirinya sendiri dengan bodohnya. "Ta-tapi kan saya tamu. Seharusnya Anda duluan yang masuk ke dalam, bukannya malah saya."


"Kenapa harus aku?" Bara memprotes. Matanya menyipit seperti tengah menyelidik. "Memangnya tadi siapa yang ingin kemari? Kamu, kan? Narik-narik orang sembarangan. Harusnya kamu biarin aku tetap di sana! Hajar orang itu sampai puas. Kalau perlu sampai mati sekalian!"


Perkataan Bara sukses mengingatkan niatan Mulan yang sempat terlupa. Bukankah ia mengajak Bara kemari agar bisa mengobati lukanya? Tapi kenapa setelah sampai depan pintu ia tadi malah bengong dan kikuk begitu?

__ADS_1


"Masuk." Mulan memegang tangan Bara, lalu kemudian menariknya masuk tanpa sungkan.


Dari raut wajah yang ditunjukan, sebenarnya Bara terlihat tidak suka. Namun, entah mengapa pria itu justru patuh-patuh saja pada keinginan Mulan. Ia duduk dengan tenang usai Mulan memberinya titah untuk duduk di sofa panjang.


"Tempat kotak obatnya ada di mana?" tanya Mulan sambil mengedarkan pandangannya. Ini bukan ruangannya, tentu saja ia tidak tahu letak apa-apa di sana. Namun, Bara justru menjawabnya dengan ketus.


"Nggak ada."


"Jangan bohong!"


Bara mendengkus. "Ada di lemari." Akhirnya ia mengakui meski menjawab tanpa memandang muka istrinya.


Mulan terus mencari hingga kemudian menemukannya. Wanita itu buru-buru menghampiri Bara lalu duduk di sisinya. Ditariknya tangan sang pria lalu ia perhatikan dengan seksama.


"Tuh kan, darahnya udah mengering." Mulan dengan cekatan mengambil kapas lalu membasahi dengan air alkohol yang sebelumnya sudah ditaruh dalam sebuah wadah kecil. "Luka itu jangan dibiarkan. Harus segera dibersihkan. Dan bagian yang paling penting tentu saja dikasih obat."


"Apaan. Luka kecil doang." Masih dengan nada kesal Bara menyahuti.


"Biarpun cuma luka kecil. Ini bisa bikin infeksi tau."


Bara hanya mendengkus menanggapi nasihat Mulan. Meski memalingkan muka, tetapi ia membiarkan Mulan melakukan apa saja.


Bara yang mendengar itu merasa tak terima. Ia memutar lehernya, menatap Mulan tajam, lalu kemudian berujar dengan marah. "Hey, ini pabrik saya ya! Jadi terserah saya mau berbuat apa. Apalagi melenyapkan makhluk yang meresahkan!"


"Tapi nggak gitu juga, kali!"


"Gampang banget ngomel-ngomel kayak gitu! Sok-sokan menasihati tanpa merasa berdosa sama sekali. Masih nggak merasa kalau kamu penyebab utamanya?"


"Kok saya?" protes Mulan dengan wajah polosnya. Ia menghentikan gerakan tangan lalu menatap Bara dengan mimik tak terima.


"Iya lah!" sahut Bara. "Sudah tahu ini tuh pabrik. Tempatnya orang kerja! Tapi masih nggak tau dirinya berdua-duaan sama mantan. Di tempat sepi pula. Pake pegang-pegangan tangan! Kamu pikir kayak gitu dilihat bagus?"


"Ih siapa juga yang pegang-pegangan tangan?" protes Mulan tak terima. Saking tak terimanya ia sampai berbicara dengan nada menggebu-gebu. "Reno-nya aja tuh yang iseng! Maksa-maksa!"


"Tapi kamu senang, kan!" tuding Bara.


"Enggak!"


"Senang!" bantah Bara. "Kalian sengaja cari tempat sepi agar bisa berduaan. Coba aja aku terlambat datang. Mungkin kalian sudah–"

__ADS_1


"Apa?" Mulan memotong kata-kata Bara dengan sikap tak terima. "Jangan ngomong sembarangan ya! Asal Anda tahu saja, saya nggak sengaja jalan ke arah sana. Saya juga juga baru pertama kali ke pabrik ini, ya pastinya saya belum paham mengenai tempat ini. Anda tadi lihat sendiri kan, saya salah arah. Kalau tidak ada Anda mungkin saya sudah nyasar."


Mulan menghela napas pelan sementara Bara masih diam. Pria itu seperti enggan menatap Mulan. Andai saja Mulan tidak cemburu saat Alexa mendekati Bara tadi mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.


Mulan yang sempat mengubah posisi duduknya kini kembali memegangi tangan Bara untuk melanjutkan mengobati luka yang sempat tertunda.


Luka yang dialami Bara sendiri berasal dari pukulan yang sengaja diarahkan tepat pada lantai marmer. Jika tidak mungkin tulang hidung Reno sekarang sudah patah. Tapi anehnya pria itu sama sekali tak terlihat kesakitan saat Mulan obati. Bahkan terkesan seperti tak merasakan apa-apa. Bara mati rasa kah? Tatapannya tetap lurus ke depan dengan kilatan amarah yang belum hilang.


Bara diam lebih tepatnya tengah merenungi perbuatan yang dilakukannya beberapa saat lalu. Perasaan yang menggangunya saat ini. Bukankah Mulan dan Reno hanyalah seorang mantan? Tapi kenapa ia tidak terima saat tadi Reno melakukan kontak fisik dengan istrinya? Hatinya merasa panas. Padahal ia tahu, kejadian tadi bukanlah keinginan Mulan. Reno yang memaksa meskipun Mulan sudah memberikan peringatan.


Benar atau tidaknya perkataan Mulan mengenai Reno yang jika sejak dulu adalah pria iseng yang suka berbuat jahil pada temannya. Namun, perlukah sampai mengganggu kenyamanan orang. Mulan tidak suka, dan itu membuatnya tidak rela! Tak bisakah Reno lihat-lihat tempat dan keadaan? Tak bisakah Reno menerima jika memang Mulan sudah menjadi istri orang? Dan bodohnya lagi dirinya sudah terpancing dan melakukan kekerasan.


"Sok-sokan mau bunuh orang." Mulan menyeletuk memecah keheningan. Nadanya kali ini terdengar seperti mengejek Bara. "Memangnya sudah siap kalau nanti ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara? Memangnya sudah siap ninggalin istrinya yang cantik jelita? Nggak khawatir ya, istrinya ini dideketin mantan?"


Bara refleks menoleh pada Mulan dan menatap wanita itu dengan tajam. Kalimat yang diuraikan wanita itu kembali sukses memantik amarahnya.


Alih-alih takut dan menyesali kata-kata yang diucapkan, Mulan justru tersenyum nakal pada Bara yang terlihat tak terima.


"Maksud kamu apa ngomong gitu?" tanya Bara penuh emosi.


"Apa? Apa sih, nggak ada maksud apa-apa." Tawa Mulan menggelegar. Entah mengapa ia merasa puas hanya dengan melihat reaksi kemarahan suaminya. Dan tahukah kalian jika tawa Mulan itu membuat Bara semakin tidak nyaman.


Bara berdecak. "Malah ketawa. Yang lucu itu apa coba? Oh aku tau. Jadi benar kalau kalian masih ada perasaan! Makanya tanpa dosa kamu ketawa sekencang-kencangnya?"


Mulan menghentikan tawa dan melirik Bara penuh arti. "Kami ini hanya manusia biasa Tuan Bara Aditama, tentu saja kami punya perasaan. Perasaan cinta. Perasaan sedih. Perasaan marah. Karena apa? Karena kami bukan patung. Kami makhluk bernyawa!" Mulan menunjuk satu persatu jemarinya saat memberikan contoh beberapa perasaan. Sepertinya ia sengaja berbuat demikian demi membuat Bara kesal.


Mulan menjeda ucapannya. Ia menaruh salep luka yang baru dioleskannya pada luka Bara, memindahkan kotak obat ke atas meja, lalu menggeser duduknya makin mendekat pada Bara.


Mata Bara mengerjap pelan melihat tingkah istrinya. Ada sedikit kebingungan yang tersemat di hatinya. Seperti ada yang aneh. Benarkah istrinya kali ini tampak berbeda dari biasanya?


"Apa?" ketus Bara. Lebih tepatnya untuk menutupi kegugupan. "Kenapa mendekat? Kenapa melihatku seperti itu?"


"Tuan Bara Aditama." Mulan sengaja menyebut nama lengkap Bara dengan nada nakal sambil menarik dasi mahalnya. Mulan tahu Bara sebenarnya merasa panik, tetapi pria itu terlalu pintar menutupi hingga dirinya tetap terlihat tenang. "Jujur sama saya. Apa Anda merasa tidak terima Reno dekat-dekat saya? Apa Anda merasa tidak suka Reno pegang-pegang tangan saya?"


"Tidak! Saya hanya nggak suka dia buat keributan di pabrik saya."


"Oh ya?" Mulan tersenyum meragukan. "Tapi ... entah kenapa, yang saya lihat kok nggak gitu ya."


"Apa? Nggak gitu gimana maksudnya?"

__ADS_1


"Jujur sama saya. Anda cemburu kan?" Mulan memainkan alisnya sambil tersenyum. Dan sikap penuh percaya diri Mulan itu membuat Bara tak bisa berkata-kata.


__ADS_2